Bab 20

1323 Kata
Jika dilihat oleh orang lain yang tidak mengenalinya, tidak ada yang akan tahu apa yang baru saja dilalui dan sedang dirasakan oleh wanita yang sejak tadi berjalan dan duduk bersama orang- orang lain yang ada di pusat kota. Tidak ada yang mencolok dari Nadira sekarang. Tidak ada raut patah hati ataupun kesedihan di wajahnya. Hanya saja terlihat jauh lebih dingin dari biasanya. Penampilan Dira biasanya cenderung datar tapi kali ini nampak berbeda jika yang melihatnya orang yang benar- benar mengenalinya. Bagi orang lain, Dira sama seperti pengunjung taman kota lainnya yang jika datang sendirian pastinya diam saja dan jadi pengamat riuhnya bocah- bocah yang sedang menikmati sore dengan mencoba berbagai macam permainan yang disediakan oleh para pedagang kaki lima. Dira mungkin terlihat ikut menikmati suasana seperti yang lainnya, tapi nyatanya fikirannya tidak berada ditempat yang sama. Tidak bisa dipungkiri kalau perhatiannya tertuju pada masalah rumah tangganya. Meskipun dirinya sudah memutuskan untuk berpisah saja tapi dirinya masih punya kegamangan sendiri tentang kehamilannya. Kehamilan yang bahkan belum sempat ia beritahukan kepada Zachary. Niat hatinya yang ingin menjadikan kabar bahagia tersebut sebagai kejutan tidak mungkin lagi dia lakukan. Zachary yang justru memberikan kejutan serupa padanya dengan kehamilan Laura. Dira jadi berfikir kapan tepatnya dua orang itu kembali bersama sampai bisa menghadirkan janin itu. Bagaimana bisa dirinya bisa dikhianati oleh Zachary begitu mudahnya. Entah feelingnya yang kurang sebagai seorang isteri ataukah memang suaminya yang terlalu pandai memainkan peran. Tapi apapun itu, kesimpulannya tetap sama bagi Dira; Dirinya bukanlah pilihan! Sedihkah ia? Dira tidak tahu manakah yang paling membuatnya sedih saat sama- sama tidak menjadi pilihan bagi orang yang dia harapkan. Ditolak ibunya ataukah saat ini??? Keduanya sudah pernah Dira rasakan kini. Dira ingin mengatakan kalau saat ditolak dan diabaikan oleh ibunya adalah saat paling sulit baginya tapi hati kecilnya berkata kalau bukan! karena saat itu dirinya belum pernah merasakan perasaan memiliki seutuhnya terhadap ibunya berbeda dengan sekarang yang terasa jauh lebih sakit karena dirinya sempat terlena dengan mengira kalau Zachary adalah miliknya. Dira sudah terlanjur menyerahkan jiwa dan raganya pada pria berlesung pipi itu. Dirinya sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Zachary bagaimanapun dia membentengi dirinya. Hatinya begitu mudah menerima perhatian dan kasih sayang yang diberikan Zachary padanya. Perhatian paling besar yang belum pernah didapatkan dari pria lain. Zachary adalah pria pertama dan baru satu- satunya yang telah menyentuhnya tanpa batas. Jiwa dan raga mereka bahkan sudah melebur berkali- kali sampai tak terhitung lagi. Dira bahkan pernah mengira bahwa Zachary adalah segalanya. Tapi nyatanya.......... Dira mengalihkan pandangannya ke tempat lain saat dirasa air matanya mau keluar karena terlarut dalam kenangannya. Pemandangan bocah laki- laki yang berlarian saat dikejar oleh orang tuanya mengalihkan perhatiannya. Sebersit senyuman terbit dibibir Dira melihat kebahagiaan keluarga tersebut tapi kenyataan kalau anak yang sedang dikandungnya yang mungkin saja tidak akan mengalami pengalaman yang serupa membuatnya kembali termenung. Dira masih bisa mengendalikan perasaannya agar tidak menangis ditengah keramaian seperti ini. Bukan karena dirinya merasa malu hanya saja tidak ada gunanya lagipula sejak dulu Dira tidak terbiasa menjadi pusat perhatian orang lain. Seperginya dari rumah Zachary yang menjadi kediamannya juga, Dira tidak langsung pulang kerumahnya. Bukan tanpa alasan, bukan pula karena dirinya mau menghindar dari kemungkinan dicari sang suami..... ___Dira tidak yakin Zachary akan mencarinya. Dira hanya perlu waktu untuk menata emosinya terlebih dahulu sebelum pulang kerumah dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada sang nenek. Dira tidak mau membawa energi negatifnya kerumah. Tidak sepantasnya orang setua neneknya merasakan emosi yang sama dengan dirinya. Pasti sang nenek akan kecewa dan bersedih saat ia bercerita nanti tapi yang paling penting Dira tidak ingin terlihat hancur didepannya. Atau Dira akan membuat sang nenek lebih hancur lagi daripada dirinya. Puas melihat- lihat suasana di taman kota, Dira tidak langsung pulang kerumah. Rasanya dia masih belum siap juga untuk menghadapi sang nenek. Setelah menimbang, pilihannya adalah mencari penginapan saja untuk malam ini. * Keesokan harinya barulah Dira pulang ke rumahnya. Sepertinya dirinya sudah ditunggu bukan hanya oleh sang nenek tapi juga oleh pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. " Darimana saja kamu?" tanya Zachary dengan nada menyelidik dibandingkan cemas. Dira tidak menjawab pertanyaan Zachary. Perhatiannya tertuju pada sang nenek. Sekali lihat saja Dira tahu kalau Zachary sudah cerita apa yang terjadi tapi entah sejauh apa. " Nenek masak apa? Dira lapar." tanya Dira sambil berlalu ke dapur. Nek Romlah ikut menyusul Dira ke bagian belakang rumah. Sejak subuh nek Romlah sudah masak walaupun perasaannya sedang risau memikirkan keberadaan sang cucu. Meskipun Dira tidak menghubunginya namun hati kecilnya tetap yakin kalau sang cucu akan segera pulang. Hanya dengan menyediakan masakanlah dirinya bisa menunjukkan kasih sayangnya pada Dira. Nek Romlah juga tidak bisa mengabaikan saja keberadaan Zachary yang tidak kunjung pergi dari rumahnya. Pria itu masih cucu mantunya. Dira menatap hidangan yang tersedia diatas meja. Mampu menggugah seleranya. Baru saja Dira duduk. Kursi di sampingnya ikut bergerak. Zachary ikut duduk. Dira tidak mungkin melarang Zachary untuk ikut makan. Ketiga orang dewasa beda usia tersebut akhirnya makan dalam diam. Saat Dira menyodorkan gelas berisi air putih pada Zachary, suapan tangan Zachary sempat terhenti. Tatapannya terpaku sejenak pada Dira. Perhatian Dira padanya membuat Zachary kian gelisah. Sungguh dirinya tidak mau kehilangan perhatian yang selalu diterimanya dari Dira. Dira terlihat cuek melihat reaksi Zachary. Dira merasa apa yang dia lakukan karena kebiasaan semata. Tidak mudah untuk merubah kebiasaan yang sering kita lakukan sebelumnya. Anggap saja apa yang dia lakukan kini sebagai kali terakhir. Selesai makan Dira beranjak menuju kamarnya sambil menarik koper yang sejak tadi tergeletak tidak jauh dari pintu kamar tidurnya. Lagi- lagi Zachary mengekorinya sampai ke dalam kamar. " Kamu ngapain lagi kesini? Ntar urusan surat- surat bisa diurus belakangan. Atau kamu saja yang memasukkan gugatan karena yang lebih butuh surat itu adalah kamu. Aku ngikut aja." kata Dira bermaksud mengusir Zachary dari kamar dan juga rumahnya. " Aku nggak butuh surat itu. Aku nggak mau kita pisah." " Kamu butuh." sangkal Dira," orang kamu yang mau nikah lagi." " Aku nggak butuh surat itu buat nikah lagi." Dira tergelak," see... kamu mau bilang mau nikah siri sama dia? apa ada konsep seperti itu diluaran sana?" Zachary terdiam. " Atau kamu merasa nikah nggak perlu surat- surat juga....??? I know, tak ada bedanya juga mau nikah atau nggak kan?" sindirnya pedas. " Terserah kalian saja, aku juga tidak peduli. Yang penting statusku jelas, itu saja!" " Status kamu itu isteri aku, kurang jelas apalagi?" suara Zachary terdengar sedikit meninggi karena mulai terpancing untuk mempertahankan keinginannya sendiri. " Kamu juga sudah sangat jelaskan kalau aku tidak mau lagi menjadi isterimu." balas Dira tak kalah tingginya. " Aku hanya ingin memilih jalanku sendiri? apa aku salah?" tanyanya getir dengan nada melemah. Zachary merasa ada yang menampar hatinya hingga rasa ngilunya membuat lidahnya kelu. " Apa keinginanku untuk menjadi isterimu satu- satunya terlalu berlebihan?" tanya Dira mulai bergetar. " Kalau aku saja tidak cukup buatmu... aku mau kamu lepaskan saja aku.... Kejarlah kebahagiaanmu dengan dia dan calon anak kalian. Kamu sudah terlalu lama menunggunya, kan? Mungkin ditempat lain ada kebahagiaan lain yang sedang menantiku juga." ucap Dira penuh makna. Dira menekan perasaan bersalahnya pada calon anaknya sendiri yang mungkin tidak akan pernah mengenal ayahnya sendiri. Dari pengalamannya, Dira rasa akan lebih baik bagi anaknya untuk tidak kenal Zachary sama sekali daripada nantinya merasakan perasaan diabaikan seperti dirinya dulu. Tidak punya lebih baik daripada punya tapi tidak bisa memilikinya. " Kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Zachary yang langsung diangguki oleh Dira. " Apa kamu tidak akan menyesal nantinya?" " Tidak perlu nanti, sekarang saja aku sudah merasakan penyesalan itu. Kehilangan pekerjaan, masa muda dan status untuk masa depan. Apa kamu bisa mengembalikan semua itu padaku?" Zachary terkejut mendengar pertanyaan Dira yang tak disangkanya. Dira tersenyum miring," Bukan salahmu juga dengan apa yang terjadi padaku dimasa lalu." jelasnya kemudian. " Karena apa yang akan terjadi nanti adalah rahasia Ilahi jadi biarkan saja aku yang menanggungnya jika nanti sampai merasa menyesal dengan keputusanku saat ini. Cukup ceraikan aku dan setelah itu kita bukan siapa- siapa lagi" Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN