Bab 19

1073 Kata
Usai mengambil keputusan yang entah akan disyukuri atau disesalinya nanti, Dirapun meninggalkan Zachary yang masih shock di ruang makan menuju kamar tidur. Dira merasa tubuhnya sangat lelah sekali makanya ia ingin istirahat sejenak. Tenaganya terkuras begitu saja hingga nyaris tak bersisa. Separah itulah yang dirinya rasakan jika sedang memikirkan beban berat. Tubuhnya terlalu lemah untuk memikul masalahnya sendiri. Setibanya dikamar, Dira langsung berbaring diatas tempat tidur. Ia merasa harus menghenyahkan fikirannya yang sedang kalut untuk sementara. Tak lama setelah memejamkan matanya, Dirapun terlelap. Begitulah sisi lain dirinya yang mungkin tidak dialami ataupun bisa difahami oleh orang lain. Jika orang kebanyakan akan susah tidur saat dilanda masalah, dirinya tidak! Terkadang saat masalah tidak bisa lagi dihadapinya dengan fikiran terbuka maka Dira berhenti saja memikirkannya. Otaknya sudah tidak kuat lagi berfikir apalagi dengan perasaannya yang hancur berkeping- keping. Alam bawah sadarnya selalu membawanya pada pusaran masa lalu yang membuatnya harus sadar diri. Merasa kalau apa yang terjadi karena memang dirinya pantas menerimanya. Apa lagi yang bisa ia lakukan selain menyerah saja. Mengaku kalah malah membuatnya menjadi pemenang. Setidaknya menang dalam artian tidak membuat perasaannya semakin tersakiti oleh harapannya sendiri. Dira mengaku kalah. Bukan karena dirinya yang tidak mau berjuang tetapi karena sejak awal dirinya bukanlah pilihan. Dia bukanlah orang yang ikut bertarung di gelanggang tersebut. Dirinya hanyalah seorang pemeran pengganti yang harus siap kalau sang pemilik datang kembali. Zachary menyusul kepergian Dira dengan perasaan kacau yang didominasi oleh perasaan takut. Dia takut Dira pergi meninggalkannya. Padahal tak pernah terbersit olehnya akan mengalami hal seperti itu lagi. Ditinggalkan oleh orang yang disayang itu sungguh menyiksa dan Zachary tidak mau lagi mengalaminya. Ketakutan yang dirasakan oleh Zachary jadi sirna saat melihat Dira yang tertidur di kamar mereka. Tidak ada tanda- tanda kalau Dira akan pergi meninggalkannya. Meski merasa heran melihat sang isteri yang bisa tertidur setelah mengucapkan kalimat perpisahan padanya tapi tak urung membuat Zachary merasakan perasaan lega juga. Setelah Dira bangun nanti, Zachary berjanji akan membujuknya agar membatalkan niatnya tadi. Rasa kantuk pun mendera Zachary melihat Dira yang sudah pulas. Sepertinya mereka berdua sama- sama merasa kelelahan. Tidak heran karena pada dasarnya Zachary dan Dira bukanlah orang yang suka bersitegang. Mental keduanya tidak sekuat itu untuk saling beradu urat saraf apalagi beradu otot. # Zachary terbangun saat hari sudah mulai gelap. Berapa lama dia tertidur sampai tidak sadar bahwa siang sudah berganti menjadi malam. Saat meraba sisi tempat tidur Dira, Zachary tidak menemukan apa- apa. Hanya kekosongan yang ia rasakan. Bahkan rasanya sudah dingin seolah tidak pernah ditiduri dalam waktu yang cukup lama. Sontak Zachary bangkit dan melihat ke sekitar ruangan kamar. Lagi- lagi kekosongan yang ditemuinya. " Sayang!..." panggil Zachary panik sambil berjalan keluar kamar. " Dira, kamu dimana?" kembali Zachary berteriak sambil menyisir setiap ruangan yang ada di dalam rumahnya. Saat tak ada suara yang menyahut serta tak ditemukannya keberadaan Dira dimanapun barulah Zachary sadar kalau Dira benar- benar telah pergi meninggalkannya. Zachary merasa begitu bodoh kenapa ikut tertidur tadi, harusnya dia tetap terjaga sampai Dira terbangun. Zachary harus mencari Dira kerumah neneknya. Satu- satunya tempat yang menjadi tujuan sang isteri cuma disana. Kemana lagi dia pergi selain pulang kerumah sang nenek. Zachary menyambar kunci mobilnya lalu memacu kendraan roda empat tersebut menuju tempat yang kemungkinan besar didatangi sang isteri. Sayangnya Dira tidak ada disana. Keyakinan Zachary yang begitu besar akan menemukan Dira disana pupus begitu saja. Zachary tidak bisa memikirkan tempat lain lagi. Selama ini, setahunya tidak ada tempat lain yang pernah didatangi oleh Dira selain rumah neneknya serta rumah orang tua Zachary. Untuk tempat kedua jelas tidak mungkin karena Dira pasti merasa dikhianati oleh orang tuanya. Zachary tidak akan menyalahkan Dira yang akan berfikiran buruk terhadap orangtuanya meskipun kenyataannya Mamanya sendiri sudah menolak kehadiran Laura dan orang tuanya disana. Yang Zachary temukan di rumah sang nenek hanyalah pertanyaan dan kecaman yang membuatnya mati kutu. Tidak seharusnya dia langsung datang dan membawa kabar yang pastinya membuat sang nenek khawatir. Tapi Zachary sudah hilang akal sejak tadi. Dirinya tidak punya petunjuk lain kemana perginya Dira selain kerumahnya sendiri. Nomor telfonnya pun sudah mati sejak dari tadi siang. Entah Dira sengaja mematikan atau memang batrei hp nya yang sudah habis. " Kenapa dia bisa pergi? Pasti ada alasan yang membuatnya pergi? Jika bukan karena kamu yang menyakitinya tidak mungkin cucuku pergi begitu saja." Jelas sekali kekhawatiran diwajah renta itu. Zachary semakin didera perasaan bersalah jadinya. " Kamu tega sekali padanya." ucap wanita tua itu dengan bibir bergetar. Zachary tidak mungkin berbohong padanya. Tidak ada gunanya juga. Cepat atau lambat Dira pasti akan mengatakan hal tersebut pada sang nenek. " Nenek tidak menyangka kamu sanggup berbuat seperti itu padanya setelah apa yang dia korbankan untuk kalian semua." katanya," Kamu bahkan tahu dengan jelas jika dia tidak mendapatkan keuntungan apapun dari pernikahan kalian. Semua kerugian yang kamu tanggung bukan dia penyebabnya! Dia hanya wanita malang yang terlahir dari wanita kejam yang tak punya hati nurani. Sekarang kamu juga menjadi orang yang sama dengan iblis itu!" Zachary bisa menerima kemarahan sang nenek padanya. Selain Dira, pastinya neneknya yang paling kecewa dan marah dengan perbuatannya. " Dari dulu dia tidak pernah diinginkan oleh orang lain bahkan oleh ibu kandungnya sendiri ternyata sekarangpun tetap begitu. Andai aku tahu pasti pernikahan ini tidak akan pernah terjadi. Tidak sepantasnya dia diperlakukan sekejam ini. Setelah kalian lepas dari masalah kalian sendiri kalian melupakan dirinya. Apa sebegitu tidak berartinya dia bagimu?" " Dia sangat penting buatku, nek" jawab Zachary," aku hanya khilaf, tolong maafkan aku..." pintanya dengan nada memelas. " Kamu berbohong... Jika Dira penting buatmu tidak akan ada lagi cela untuk orang lain masuk ke dalam kehidupanmu sekalipun itu wanita yang sangat kau cintai!" sangkal nek Romlah. " Tidak seharusnya kamu memulai hubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya karena inilah akibatnya. Hubungan apa yang akan kamu bangun dengan Dira kalau kamu sendiri nyatanya masih terikat bayangan masa lalu. Jika benar Dira ingin bercerai darimu, nenek setuju.... tidak seharusnya dia membuang waktunya selama ini untuk hubungan yang tidak punya masa depan seperti ini." kata nek Romlah penuh kecaman membuat Zachary terhenyak. Inilah kesamaan dua orang yang selama ini begitu dekat dengannya. Sama- sama lemah lembut tapi juga sama- sama keras disaat yang bersamaan. Baik dari Dira tadi ataupun dari sang nenek kini tidak sedikitpun Zachary temukan keraguan dari keduanya saat berbicara soal perpisahan. Keduanya punya tekad yang kuat yang mampu membuat Zachary gentar. Mengapa tidak pernah dirinya fikirkan kalau akan tiba masa saat dirinyalah yang membuat orang terkasihnya ingin pergi? Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN