Dira masih menunggu penjelasan dari Zachary dengan perasaan tak menentu. Meski perasaannya kacau namun dirinya tidak berani bertanya langsung. Dira merasa takut untuk alasan yang tidak ia fahami.
Rasa penasaran yang mengganggunya berubah menjadi kecemasan setelah lewat beberapa hari tapi Zachary tidak kunjung memberikan penjelasan yang diharapkan oleh Dira. Haruskah Dira melawan rasa takutnya dengan bertanya langsung pada sang suami? Rasanya wajarkan kalau dirinya ingin tahu dengan apa yang terjadi. Zachary suaminya tentu dirinya berhak tahukan?
Dira juga ingin tahu alasan yang membuat Laura kembali serta tujuan pertemuan mereka?
Apakah kembalinya Laura akan merubah apa yang telah terjadi diantara mereka kini?
Dan, alasan lainnya yang mengganggu ketenangan dirinya.
Dira juga tidak mungkin abai dengan sikap Zachary yang berubah akhir- akhir ini. Tidak jarang pria itu termenung saat mereka sedang bersama. Beberapa kali malah tidak nyambung saat diajak bicara.
Tapi kembali lagi.... nyali Dira langsung ciut sebelum menuntaskan rasa penasarannya.
Jadilah Dira hanya sibuk dengan pikirannya sendiri.
Zachary sendiri tidak menunjukkan tanda- tanda akan memulai pembicaraan tentang hal tersebut sehingga Dira jadi ragu dengan dirinya sendiri.
Benarkah yang terjadi seperti apa yang ia fikirkan? ataukah hanya dugaannya semata? Mungkinkah dirinya yang salah menilai?
Apakah mungkin wanita yang dirinya lihat saat itu bukanlah Laura tapi orang lain yang mungkin saja adalah rekan atau teman Zachary saja?
Dira tidak habis fikir dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Dira hanya bisa berserah saja pada sang pencipta dengan memperpanjang sujud dan doa- doanya kala menghadap sang pemilik.
Hingga keraguan Dira terjawab pada suatu ketika. Begitu cepat dirinya mendapatkan jawaban saat berkunjung kerumah mertuanya tanpa pemberitahuan sebelumnya. Entah apa yang mendorongnya untuk datang kesana pada hari itu. Tiba- tiba saja Dira ingin berkunjung tanpa perencanaan seperti biasanya.
Dengan membawa rantang berisi masakan buatannya Dira berjalan masuk karena pintu depan yang sedang terbuka.
Rasanya jantungnya nyaris copot saat menemukan pemandangan yang begitu melukai hati dan perasaannya.
Di sana, di meja makan tempat mereka biasanya bersantap dan bercengkerama bersama sedang duduk Zachary bersama Laura dan orang tua mereka!
Bukan hanya ada mama Dewi tetapi juga ada tante Astari.
Ke empat orang tersebut tidak menyadari kehadiran Dira sampai suara Art terdengar gugup saat menyapa Dira.
" Non Dira...."
Dira mendengar tapi tidak menoleh ke sumber suara karena tatapannya terpaku ke sebuah titik saja.
Dira bisa melihat bahwa bukan hanya Zachary yang terkejut melihat kedatangannya tapi juga mama Dewi dan yang lainnya.
" Sayang...."
" Dira...."
Betapa kagetnya suara yang keluar dari mulut Zachary dan mamanya yang membuat Dira semakin merasa tersakiti mendengarnya.
" Hai Dira, apa kabar?" tanya Laura kelewat santai.
" Aku rasa kita memang perlu bicara, beruntung kamu datang kesini."
Dira tidak bergeming mendengar pertanyaan Laura.
Saat Zachary dan mamanya berdiri dan mencoba mendekat, Dira mengangkat tangannya didepan dadanya. Melarang keduanya untuk mendekatinya.
Dira tidak butuh penjelasan dari keduanya. Setidaknya bukan sekarang.
Matanya masih menatap pada Astari dengan satu kesadaran pasti, ternyata sia- sia dirinya menganggap kalau wanita itu sudah berubah dan sedikit berfihak padanya. Rupanya dia masih orang lain bagi Dira.
Dira hanya bisa tersenyum pahit pada Astari sebelum berbalik dan pergi.
" Dira, tunggu..." kejar Dewi dengan perasaan tidak enak. Menantunya pasti sedang marah padanya.
" Cepat susul!" suruhnya gusar sambil berteriak pada Zachary yang terlihat bengong.
Zachary tidak menunggu lama untuk menyusul Dira yang sayangnya sudah menghilang begitu cepat dari pandangannya.
Zachary mengeluarkan handphonenya dan mendial nomor kontak Dira secepatnya.
Panggilannya masuk tapi tidak diangkat. Dira pasti sengaja tidak mau menganggkat panggilan darinya.
Zachary tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumahnya sendiri dan berharap menemui sang isteri disana.
Untungnya Dira memang pulang kerumah sehingga Zachary tidak perlu mencarinya kemana- mana.
Dira sedang duduk di ruang makan sambil termenung. Diatas meja, Zachary melihat ada gelas yang terisi separuh yang menandakan kalau Dira baru selesai minum.
Dira masih asyik dengan lamunannya sampai tidak menyadari kehadiran Zachary di ruangan yang sama dengannya.
Saat Zachary menarik kursi yang ada dihadapannya barulah Dira tersadar dengan suara deritan kaki kursi yang beradu dengan lantai.
Dira menatap Zachary lekat. Zachary menatap Dira gugup.
Sejenak keduanya hanya saling pandang tanpa bicara.
" Dia sudah datang ya?"tanya Dira akhirnya bersuara," Kenapa lama sekali? sampai aku terlena dan merasa sudah memiliki?" tanyanya pelan lebih pada dirinya sendiri.
Zachary menatap Dira intens. Mencoba memahami pertanyaan Dira yang terdengar sulit karena mengandung diksi tersembunyi.
Melihat keterdiaman sang suami, Dira kembali bertanya," Sejak kapan dia datang?"
" Baru tadi pagi."
Dira tersenyum tak percaya," Untuk apa dia datang?"
Zachary terlihat ragu untuk menjawab.
" Tidak mungkin untuk bersilahturahmi saja, kan?"
" Dia datang untuk minta maaf."
" Hanya untuk itu?"
Zachary mengangguk tapi tentu tidak dipercayai begitu saja oleh Dira.
" Apa kamu tidak mau memaafkannya sehingga dia harus menemuimu berulang kali?"
Raut kaget dari wajah Zachary tidak luput dari perhatian Dira.
" Aku sudah lihat pertemuan kalian tempo hari jadi tidak perlu mencari alasan untuk mengelak. Aku bahkan yakin kalau pertemuan kalian tempo hari bukanlah pertemuan yang pertama." Sindir Dira telak," Jadi, mas.... tolong jujurlah.... Apa yang sebenarnya kalian rencanakan? Apa yang sudah kamu sembunyikan dariku?" tanya Dira pilu.
Pertanyaan Dira membuat Zachary tertohok. Dirinya tidak menyangka kalau Dira tahu lebih banyak daripada yang ia duga. Kalau Dira sudah tahu tentang kedatangan Laura kenapa dia diam saja? Kenapa dia tidak bertanya sejak awal?
" Sebagai seorang isteri aku bisa merasakan kalau kamu menyimpan sesuatu dibelakangku, mas. Tapi aku tidak mau kecurigaanku membuat hubungan kita jadi terganggu. Aku ingin kejujuran itu lahir dari dirimu sendiri bukan karena aku yang memaksa."
Zachary tetap diam mendengar perkataan Dira.
" Sekali lagi aku tanya, sudah sejauh mana hubungan kalian? apa kamu ingin kembali bersama dengannya?"
" Aku bukan ingin kembali padanya tapi harus kembali padanya." pelan sekali bahkan nyaris tak terdengar tapi bagai ledakan dahsyat di telinga Dira. Zachary sadar sudah tidak bisa lagi bersembunyi sekarang.
" Laura sedang hamil anakku"
Satu lagi ledakan yang mengguncang Dira.
" Bagaimana bisa mas? wanita itu tiba- tiba hamil anakmu?!" tanya Dira memekik. Matanya nyaris melotot.
" Aku khilaf.... kami sudah berbuat dosa sampai bayi itu hadir."
Dira menggelengkan kepalanya tak percaya. Rasanya mustahil bisa terjadi begitu saja.
" Sejak kapan kalian kembali bersama?" tanya Dira dengan nafas memburu.
Zachary tidak menjawab. Dia hanya menyugar rambutnya gusar.
" Berarti sudah cukup lama, ya?" tanya Dira tak peduli dengan jawaban Zachary.
" Ternyata kamu sudah berselingkuh selama ini"
" Maafkan aku..." ucap Zachary.
" Aku nggak bisa." jawab Dira cepat," aku nggak mau maafin kamu. Tidak sekarang...."
Zachary menatap Dira nanar. Dibandingkan menangis dan meluap- luap, sikap Dira terlihat begitu tenang namun tetap memancarkan raut kecewa dan terluka.
Dari dadanya yang turun naik dengan cepat menunjukkan betapa emosinya sedang tidak stabil namun tetap berusaha dikendalikan oleh Dira sebaik mungkin. Pemandangan itu tentu membuat Zachary merasa begitu miris. Betapa brengseknya dirinya yang telah menyakiti wanita sebaik Dira. Kenapa dirinya yang harus membuat Dira kembali menahan dirinya seperti itu setelah selama ini membuat Dira lebih lepas dalam mengekpresikan emosi dan perasaannya?
" Kamu berhak untuk tidak memaafkan aku, tapi biarkan aku menunggu maaf darimu."
Dira kembali menatap Zachary sambil tersenyum tipis," Silahkan saja.... tapi aku harap kamu tidak melakukannya."
" Kenapa?"
" Tidak akan ada gunanya. Kelak dikemudian hari kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi."
" Maksudmu?"
" Kamu memilih untuk memulai hubungan dengan orang lain. Lebih tepatnya kembali ke masa lalumu. Aku anggap itu bentuk lain dari kamu yang ingin mengakhiri hubungan kita."
" Aku tidak bilang begitu." sangkal Zachary cepat.
" Aku yang menerjemahkan demikian, mas."
Zachary menggeleng cepat," Nggak! kamu nggak boleh bilang begitu. Kita akan tetap sama- sama sampai mati."
" Kita? Kamu, aku dan dia? maksudnya kamu mau poligami, mas?"
Dira langsung terkekeh melihat anggukan sang suami.
" Jangan konyol kamu. Aku nggak mau. Kamu juga nggak cocok dengan peran itu."
" Aku terpaksa, hanya cara itu yang paling pas untuk kita lakukan sekarang."
" Jangan bilang kamu sudah membicarakan hal itu dengan mereka juga?"
" Gila, kamu!" geleng Dira benar- benar tidak habis fikir dengan apa yang sudah terjadi dan sedang dijalani oleh Zachary dan keluarganya.
" Dia setuju?"
Rasa penasarannya harus segera Dira tuntaskan agar tidak ada lagi yang mengganjal didadanya.
" Kami sedang membicarakannya tadi. Kami sepakat kalau memang cara itu yang terbaik. Toh pada dasarnya kita semua memang sudah menjadi keluarga juga."
" Egois kamu, mas." bisik Dira," tega kamu. ternyata aku salah menilaimu selama ini."
" Aku memang salah, maafkan aku."
Tidak ada pembelaan atas perbuatannya dan Zachary menyesali perbuatannya tapi disisi lain dia tidak punya banyak waktu untuk menyesalinya karena dirinya harus cepat bertanggung jawab atas perbuatannya. Andai Dira tidak keburu datang dan mengetahui sendiri apa yang sedang terjadi, Zachary sendiri sudah berniat akan jujur padanya. Zachary bahkan sudah meminta bantuan orang tuanya untuk menemui Dira juga agar bisa memberikan pengertian padanya. Sayangnya usahanya tidak berjalan dengan lancar. Dira seperti dituntun untuk tahu sendiri.
" Aku mau kita cerai saja, itu solusi terbaik dariku untuk kita semua."
Bersambung......