Dira merasa ada yang berubah dengan sikap suaminya, bukan hanya sekedar perasaannya saja tapi ia yakin sekali dengan hal itu tapi setiap kali ditanya, Zachary selalu mengelak dan beralasan tidak terjadi apa- apa. Semuanya sedang baik- baik saja. Pria itu malah menyebut Dira yang terlalu sensitif akhir- akhir ini.
Dira yang tidak punya bukti kongkret selain pengamatannya saja yang diasumsikan oleh Zachary sebagai prasangka semata terpaksa menelan kecurigaannya.
Untuk urusan botol parfum Dira tidak berani mengungkitnya.
Karena tidak mau kecurigaannya berubah menjadi petaka diantara mereka terpaksa Dira menahan diri dengan mengafirmasi diri sendiri bahwa suaminya baik- baik saja. Bahwa suaminya tidak sedang menyembunyikan sebuah rahasia dibelakangnya. Toh selama mereka menikah tidak pernah terjadi hal- hal yang diluar kewajaran. Mungkin memang cuma dirinya yang sedang sensitif seperti ucapan suaminya.
Mungkin pengaruh hormon karena akhir- akhir ini jadwal menstruasinya yang sedang tidak lancar. Penyebabnya bisa jadi karena Dira yang baru melepas alat kontrasepsinya.
Dira dan Zachary memang sedang berencana untuk memiliki momongan setelah sebelumnya sepakat menunda sambil mempersiapkan mental mereka. Memiliki anak butuh kesadaran dan tanggung jawab yang besar dan mereka sadar kalau mereka belum begitu siap. Lagipula mereka ingin saling mengenal terlebih dahulu. Setelah dirasa waktu berkenalan sudah cukup barulah mereka ingin memiliki seorang anak diantara mereka.
Oleh karena hal tersebut maka hari ini Dira memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan untuk memeriksakan dirinya. Meskipun belum hamil dirinya mau berkonsultasi saja. Banyak hal yang ingin ditanyakannya dari segi medis agar dirinya merasa semakin siap dalam menyambut kehadiran seorang anak nantinya.
Disinilah Dira sekarang, di sebuah klinik dokter obgyn yang terletak tidak terlalu jauh dari rumahnya .Dengan menggunakan taksi online sampailah Dira disana.
Selama menunggu Dira melihat tidak ada yang datang sendirian seperti dirinya. Hampir semua ditemani oleh suaminya dan ada juga yang datang bersama teman atau saudara. Yang pasti selalu ada yang mendampingi.
Dira tidak berkecil hati melihatnya, dirinya yang sengaja datang sendirian. Mungkin kalau sudah hamil nanti dirinya akan meminta ditemani juga. Tanpa sadar Dira tersenyum sendiri membayangkan saat itu tiba.
" Ibu, Nadira Puji Astuti..."
Tiba saat namanya dipanggil, Dira segera berdiri lalu mengikuti perawat yang membawanya masuk ke dalam ruangan praktek dokter.
" Selamat siang, ibu... ada keluhan apa?"
Dira tersenyum canggung.
" Silahkan duduk dulu, Nadira.... kenapa sendirian Zachy mana?"
Dira terpaku mendengar pertanyaan sang dokter, panggilannya pada suaminya terdengar akrab, harusnya dia menyebut kata suami saja kan?
Dokter Petra tersenyum melihat raut bingung isteri sahabatnya itu," kamu pasti tidak ingat saya maklum kita baru bertemu sekali pas acara pernikahan kalian. Saya teman Zachy sejak di London." ucapnya ramah.
" Salam kenal,dok." balas Dira tak kalah ramahnya.
" Jadi apa keluhannya? atau mau langsung kita cek dulu?"
Dokter Petra memeriksa berkas yang ada dihadapannya. Disana belum ada keterangan kalau pasien sudah berbadan dua.
" Sebaiknya kita lihat dulu kondisi rahimnya." sarannya sambil berdiri menuju meja pemeriksaan untuk kemudian duduk kembali didepan layar monitor untuk membaca hasil laporan mesin ultrasonografi. Seorang perawat membantu Dira untuk mencari posisi tidur yang pas lalu mengangkat kemeja yang Dira pakai dan mengolesi dengan gel kemudian meletakkan sebuah alat untuk mendeteksi keadaan di dalam tubuh Dira.
Dira menatap ke monitor yang ada dihadapannya karena penasaran seperti apa bentuk rahim itu karena ini kali pertama dirinya melakukan pemeriksaan medis.
" Kamu yakin belum periksa sama sekali?"
Dira mengalihkan perhatiannya dari monitor ke wajah dokter. Dira bisa melihat kalau kening dokter Petra sempat berkerut sejenak dan matanya memicing beberapa saat.
" Selamat Dira, kamu sedang hamil sekitar 5 minggu."
Dira tidak segera merespon ucapan sang dokter. Dirinya terlalu bingung dengan situasi yang dialaminya.
" Sepertinya kamu belum tahu ya?" Sang dokter tersenyum maklum. Selama menjadi dokter sudah berbagai macam ekspresi yang dilihatnya saat momen membahagiakan itu datang.
" Akhirnya usaha dan kerja keras kalian membuahkan hasil." candanya ," Sayang sekali calon Papanya nggak datang. Kemana dia?"
Dira yang sempat merasa malu dengan candaan dr. Petra cepat merubah mimik wajahnya begitu keberadaan Zachary dipertanyakan.
" Saya sengaja tidak mengajaknya dok, niatnya tadi cuma mau konsultasi saja."
" Oh begitu, berarti ini bisa jadi kejutan baginya nanti."
Dira mengangguk dengan senyuman yang tak lepas dari bibirnya.
Setelah memberikan beberapa pesan untuk menjaga kandungan dan memberikan contoh asupan gizi yang baik untuk ibu hamil, Dirapun dipersilahkan keluar untuk antri obat- obatan dan vitamin.
Dira sudah tidak sabar pulang kerumah dan mengabarkan berita bahagia tersebut pada suaminya tapi mengingat sekarang belum jam pulang kerja Zachary maka Dira masih punya waktu untuk membungkus fhoto usg- nya terlebih dulu.
Dira memutuskan untuk mampir ke supermarket saja terlebih dahulu sekalian dirinya ingin membeli s**u ibu hamil seperti saran dokter tadi.
Tiba di supermarket, Dira disambut aroma yang menggugah selera dari deretan penjual berbagai macam makanan di food court. Dira pun memutuskan untuk makan dulu sebelum berbelanja.
Langkah Dira tiba- tiba tertahan saat sudut matanya menangkap sosok yang dikenalnya sedang duduk tak jauh dari sana. Senyumnya mengembang lebar begitu melihat suaminya juga berada ditempat yang sama. Sungguh sebuah kebetulan yang menyenangkan.
Tangan Dira sudah terangkat dan bersiap untuk memanggil nama Zachary namun mulutnya jadi kelu seketika dan senyumnya langsung memudar karena bukan hanya Zachary yang dilihatnya tapi juga wanita itu..... Bagaimana bisa wanita itu muncul disini? bersama Zachary pula. Apa mungkin mereka sudah sering bertemu sebelumnya?
Apa parfum itu memang milik wanita itu?
Kepala Dira mendadak pening membayangkan segala kemungkinan yang terjadi dibelakangnya.
Dengan perasaan kacau Dirapun meninggalkan tempat tersebut.
Sempat terfikir olehnya untuk tidak pulang ke rumah Zachary tapi ke rumahnya saja tapi Dira masih takut kepulangannya akan membuat neneknya jadi bertanya- tanya dan Dira belum siap dengan jawabannya.
Sampai dirumah Dira langsung masuk kamar dan menyurukkan badannya ke balik selimut dan menumpahkan tangisnya disana.
Dira merasa perasaannya begitu sedih padahal ia sendiri tahu bahwa seharusnya ia simpan air matanya untuk nanti setelah mendengarkan penjelasan dari suaminya. Entah untuk apa wanita itu kembali dan entah seperti apa hubungan mereka kini. Dira belum bisa memastikan apapun tapi air matanya tetap saja keluar begitu saja karena disisi lain, dari apa yang Dira lihat keduanya terlihat begitu akrab seperti tidak pernah ada masalah sebelumnya sehingga Dira merasa de javu.
Pemandangan seperti tadi sudah sering dilihatnya dimasa lalu.
Bersambung....