Bab 16

1069 Kata
Ini bukanlah kali pertama Zachary meninggalkan Dira untuk urusan pekerjaan. Bukan hanya pergi ke luar kota, pernah juga Zachary meninggalkan Dira ke luar negeri. Beberapa kali Zachary pernah mengajaknya tapi tak jarang Dira menolak karena tidak mau mengganggu urusan pekerjaan Zachary. Jadwal Zachary yang sangat padat memaksa Dira harus rela jalan- jalan sendirian atau berdiam diri di kamar tempat mereka menginap saja dan kedua pilihan tersebut sama- sama tidak disukai oleh Dira. Jadi tidak ikut adalah pilihan terbaik bagi mereka berdua. Ada kalanya sesekali Dira ikut, itupun karena Zachary merasa yakin bisa meluangkan waktu untuk menemani Dira jalan- jalan sebelum pulang. Pastinya hal tersebut sangat jarang terjadi karena sejak awal tujuannya memang untuk bekerja bukan untuk liburan. Tapi tidak pernah Dira merasakan perasaan seperti sekarang ini, setidaknya sejak malam itu. Malam dimana Dira dan Zachary memaknai sebagai satu lompatan bagi hubungan keduanya. Dira semakin membuka diri dan Zachary yang semakin menunjukkan perasaannya secara terang- terangan. Dira merasa yakin kalau hubungan mereka sudah settle dan kecemasannya selama ini tidak beralasan. Jika memang Zachary benar- benar bersungguh- sungguh pada pernikahan mereka tentunya Dira harus melakukan hal yang sama. Bentuk kesungguhan mereka salah satunya adalah dengan saling percaya satu sama lain. Sejak pagi Dira merasa jantungnya berdebar untuk alasan yang tak pasti. Perasaannya jadi tidak tenang seolah akan terjadi sesuatu yang buruk. Selain pada Zachary perhatian Dira selalu tertuju pada neneknya. Untungnya setelah menelpon sang nenek, keadaannya baik- baik saja. Suaranya terdengar sama seperti biasa. Dira mencoba menelfon Zachary tapi hanya terdengar tanda panggilan masuk. Mungkin Zachary sedang sibuk dan tidak sempat menjawab panggilannya. Dira mencoba bersabar sampai ditelfon balik oleh sang suami. Namun setelah seharian menunggu tidak ada tanda- tanda Zachary akan menelfonnya. Pesan yang Dira kirim juga belum dibaca. Sekali lagi Dira menelfon sang suami, kali ini bukannya tidak diangkat tapi telfonnya malah tidak aktif lagi. Sesibuk itukah suaminya? Keesokan paginya barulah Dira mendapat balasan dari Zachary yang mengabarkan kalau ponselnya kehabisan daya dan dia baru sempat mengecasnya. Buru- buru Dira menelfon kembali nomor Zachary tapi sayangnya nomor tersebut lagi- lagi tidak aktif. Sungguh aneh. Diluar kebiasaan Zachary. Dira hanya bisa pasrah dan berdoa semoga tidak terjadi hal buruk pada Zachary. Sehari berlalu tanpa ada kabar lanjutan dari Zachary. Keesokan harinya lagi barulah Zachary muncul dirumah mereka tanpa pemberitahuan sama sekali. Dira merasa memang ada yang aneh dengan suaminya. Selain lebih pendiam, raut wajahnya juga kelihatan bingung. Seperti sedang menanggung beban fikiran. " Kamu baik- baik sajakan?" tanya Dira. Zachary mengangguk sambil memaksakan untuk tersenyum. Membuat Dira berfikir sebaliknya. " Mau makan atau istirahat dulu?" " Mau lanjut ke kantor." Dira mengerutkan dahinya. Tidak biasanya sepulang dari bepergian Zachary langsung masuk kantor. Minimal dia akan istirahat dulu sehari atau paling tidak setengah hari. " Ada masalah di kantor ya?" tanya Dira hati- hati. Zachary menggeleng kemudian mengangguk. Sikap yang tidak mencerminkan dirinya sama sekali. " Ada rapat mendadak."jawabnya nggak yakin. Dira mengangguk meskipun merasakan ada yang lain. Dira membawa koper pakaian Zachary ke bagian belakang dapur. Ke tempat mencuci pakaian kotor. Selesai mengeluarkan pakaian kotor, Dira kembali ke depan untuk mengantar kepergian Zachary tapi ternyata Zachary telah berangkat tanpa berpamitan lagi padanya. Dirapun membawa koper Zachary ke kamar yang ada di lantai dua. Mengeluarkan pakaian bersih yang masih tersimpan di dalam pouch khusus. Dira sengaja menatanya terpisah untuk sekali pakai agar tidak tercampur dengan pakaian kotor. Saat mengeluarkan pakaian dari pouch, Dira melihat sesuatu yang asing didalam sana. Saat benda tersebut dikeluarkan terlihatlah sebuah botol parfum dari brand ternama. Bukan parfum baru karena isinya tinggal setengah saja. Dira membuka tutup botol itu dan mencium baunya. Jantung Dira berdegup kencang saat mengingat bahwa bau yang menguar dari sana mengingatkannya pada seseorang. Apa sebenarnya yang terjadi? kenapa bisa ada botol parfum tersebut di dalam tempat baju Zachary? Padahal sebelumnya Dira yakin sekali tidak pernah melihat atau memasukkan benda tersebut. Apa selama ini Zachary merindukan orang tersebut? ataukah Zachary masih berhubungan dengannya? Apapun sebenarnya yang terjadi tetap menyakitkan baginya. Dira mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Tapi sesak di dadanya tidak berkurang juga. # Zachary duduk melamun di sebuah bar. Dirinya tidak ke kantor seperti ucapannya pada Dira. Seharusnya bar belum buka dijam segini tapi Zachary memaksa pemiliknya yang tak lain adalah temannya sendiri untuk membiarkannya masuk. Fikirannya sedang kalut sehingga tidak bisa berfikiran jernih. Dia butuh tempat untuk menenangkan diri dari peristiwa yang terjadi begitu tiba- tiba. Wanita yang sudah pergi dan menghancurkan hati dan perasaannya tiba-tiba saja muncul dihadapannya setelah sekian lama berlalu. Zachary fikir dirinya akan baik- baik saja saat masa itu tiba tapi nyatanya tidak demikian. Hatinya kacau balau juga jadinya. Laura datang kembali padanya dengan membawa rasa penyesalan yang katanya selalu menghantuinya selama ini karena telah mengacaukan rencana masa depan mereka sejak kecil. Harusnya Zachary mengabaikan saja. Menolak untuk percaya lagi padanya bahkan menolak bertemu. Tapi entah kenapa Zachary tidak melakukannya. Terlalu sulit baginya untuk bertindak tegas pada wanita itu. Zachary merasa tidak menjadi dirinya saat ini. Kenapa dirinya tidak bisa bersikap tegas pada Laura dengan alasan statusnya saat ini ataukah kenapa dia tidak menampar Laura saja dengan perbuatannya dimasa lalu? Zachary tidak melakukannya. Dia diam saja mendengarkan semua ucapan Laura yang bercampur antara kenyataan dan kebohongan. Inikah dirinya yang sesungguhnya? begitu rapuh saat bersama wanita itu? Sampai matanya seolah hanya tertuju padanya saja walau statusnya kini tidak lagi sama. Dunia seolah kembali berputar ke masa lalu. Dimana Laura melakukan kesalahan dan dia selalu memaafkan lalu mereka kembali bersama lagi. Pertemuan pertama mereka kemudian berlanjut menjadi pertemuan kedua. Laura bahkan sengaja datang ke hotel tempatnya menginap. Katanya dia belum puas dengan permintaan maafnya. Wanita itu ingin mendapatkan maaf dari Zachary meski dia tahu kalau tidak akan ada tempat untuknya kembali karena tempat itu telah ditempati oleh wanita lain. Zachary tahu kalau dirinya sedang memantik api disaat dirinya membiarkan Laura masuk ke dalam kamarnya. Tapi dirinya tidak kuasa untuk melawan godaan didalam dadanya. Zachary merasa berhak mendapatkan penjelasan atas lukanya dimasa lalu. Zachary juga butuh permintaan maaf itu. Melihat kesedihan yang terpampang di wajah Laura membuatnya tak berdaya. Ternyata wanita itu masih begitu berpengaruh padanya. Jantungnya bahkan masih berdetak lebih kencang saat indra penciumannya membaui aroma tubuh Laura. Zachary merasa kehilangan kuasa atas dirinya sendiri. Bagaimana bisa dirinya begitu mudah terjebak nostalgia masa lalu? Apakah ini pertanda kalau selama ini dirinya belum mencintai Dira? Apakah rasa sayang dan bukti kepemilikannya selama ini belum berkembang ke arah rasa cinta? Zachary merasa frustrasi dengan dirinya sendiri. Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN