Waktu berjalan sesuai kehendaknya, pun begitu juga dengan kehidupan rumah tangga Zachary dan Dira yang tahun ini menginjak tahun kedua. Tidak banyak yang berubah dari rutinitas harian mereka. Setiap hari Zachary berangkat ke kantor pagi- pagi sekali dan pulang ke rumah menjelang malam bahkan tak jarang hingga tengah malam. Dira sendiri mengisi hari - harinya selain mengurus suami dan rumahnya dengan mengikuti beberapa kursus online. Setelah menyelesaikan kursus bahasa inggrisnya kini Dira mengikuti kursus memasak. Tidak ada tujuan tertentu yang mendorongnya untuk mengikuti kursus- kursus tersebut, Dira hanya ingin mengisi kekosongan waktunya saja. Zachary melarangnya bekerja di luar rumah makanya Dira memilih melakukan hal yang dia sukai di rumah saja. Hanya sesekali saja Dira keluar rumah, itupun lebih sering bersama dengan Zachary.
Seperti sore ini, Dira keluar rumah bersama Zachary untuk mengunjungi mertuanya yang sedang berada di Indo. Mereka memang sering bolak -balik.
" Benaran kita mau nginap disana?" tanya Dira sekali lagi mengingat tidak biasanya Zachary mengajaknya menginap di rumah orang tuanya sekalipun sudah larut malam mereka akan tetap kembali pulang ke rumah sendiri. Walaupun sudah dibujuk oleh mamanya berulangkali namun Zachary tetap ngotot menolak.
" Iya." jawabnya singkat.
Dira mengerutkan dahinya tapi memilih tidak mengutarakan rasa penasarannya.
Dira mengangkat tote bag tempatnya membawa baju ganti buatnya sedangkan baju Zachary masih ada disana jadi tidak perlu dibawa lagi.
Satu lagi yang terasa mengganjal dan diluar kebiasaan yang disadari oleh Dira adalah kebisuan diantara mereka selama perjalanan. Zachary seperti sedang melamun dan berada didunianya sendiri padahal biasanya kesempatan di dalam mobil begini dimanfaatkan oleh Zachary untuk ngobrol dan berbincang dengannya.
Harusnya Dira yang mengambil inisiatif untuk memulai obrolan tapi tidak mudah baginya berbicara begitu saja meskipun sudah lama bersama. Setiap melihat Zachary terdiam saat bersamanya, Dira justru sibuk dengan fikirannya sendiri. Menerka- nerka apa kesalahannya sampai membuat mood Zachary berubah.
Rasa rendah diri sudah melekat dengan kuat dalam diri Dira makanya tetap ada walaupun sudah coba dibuangnya sejak menjadi seorang isteri.
Dira tidak bisa lepas begitu saja dari perasaan tidak enakan yang selalu dirasakannya saat bersama orang lain. Perasaannya sangat sensitif dan mudah terpengaruh dengan interaksi orang lain padanya. Dira juga sangat memikirkan perasaan orang lain begitu juga dengan pendapat orang lain tentang dirinya. Memang tidak pendapat semua orang karena yang berpengaruh padanya hanyalah penilaian dari orang terdekatnya saja.
Rasa rendah diri, cemas dan was- was tersebut selalu ada dialam bawah sadarnya.
Dira tahu bahwa hal tersebut terjadi karena dampak buruk kehidupannya dimasa lalu. Penolakan dari sang bundalah yang melahirkan luka tersebut. Dira sudah coba berdamai dengan masa lalunya sehingga tidak terlalu berdampak saat dirinya membicarakan tentang ibunya sendiri tapi tidak serta merta membuatnya menjadi pribadi baru yang lebih percaya diri. Selalu ada saat- saat dirinya tidak bisa bersikap lepas dan yakin dengan dirinya sendiri. Perasaan tidak pantaslah yang selalu muncul menghantuinya.
Dira bukannya tidak mau menjadi pribadi yang lebih positif tapi dirinya tidak bisa. Bukannya tidak pernah mencoba tapi selalu gagal. Rasa rendah diri lebih menguasai dirinya.
Dira hanya bisa tenang saat sendirian saja. Jika bisa meminta rasanya Dira ingin tidak perlu bertemu dengan orang lain saja. Harus berbasa- basi dengan orang yang dikenal sangat melelahkan baginya. Perasaan berbeda justru terjadi saat ia berinteraksi dengan orang yang tidak dikenalnya. Dira bisa berbicara dengan tenang dengan orang lain yang baru dikenalnya. Entah itu kasir minimarket atau ibu- ibu temannya sama- sama mengantri di suatu tempat. Orang asing terasa lebih aman baginya daripada orang yang dia kenal ataupun mengenalinya.
#
Bukan hanya Zachary saja yang lebih banyak diam, tapi Dira merasa mertuanya juga, terutama mama mertuanya. Tidak ada canda dan tawa yang hadir diantara mereka. Hanya papa mertuanya yang sempat bertanya kabar sebentar sebelum berlalu ke ruang kerjanya. Selebihnya mereka lebih banyak diam saja. Keheningan juga terasa saat makan malam berlangsung.
Dira merasa tidak nyaman dengan keadaan yang diluar kebiasaan tersebut tapi apa daya dirinya tidak tahu caranya mencairkan suasana apalagi bertanya apa yang sebenarnya terjadi.
Rasa penasaran dan bingung membuat Dira jadi over thinking. Dira ingat bahwa diawal pernikahan dirinya sempat berfikir akan ada Fase seperti ini tapi tidak tahu untuk alasan apa.
Dira memandangi pintu kamar dari tadi. Menunggu Zachary yang tidak kunjung masuk. Tadi Zachary bilang hanya mau keluar sebentar tapi hingga tengah malam belum juga kembali. Hal tersebut tentu saja membuat Dira semakin berprasangka buruk.
Capek menunggu, Dira mematikan semua lampu dan naik ke atas tempat tidur untuk istirahat saja.
Baru saja tertidur Dira kembali terbangun oleh suara berisik dari luar kamar.
Perasaannya kian tak karuan jadinya karena tidak menemukan Zachary di sampingnya.
Dira mengambil ponselnya untuk melihat jam. Belum sempat melihat dengan jelas karena pandangannya yang kabur karena baru bangun, pintu kamarnya tiba- tiba terbuka, lampupun menyala...
" Happy birthday to you..... happy birthday to you..... happy birthday..."
Nyanyian ulang tahun menggema ditelinga Dira membuatnya tak bisa berkata- kata.
Zachary tersenyum melihatnya. Kejutannya berhasil. Lihatlah berapa shocknya wajah Dira.
" Sayang.... selamat ulang tahun." ucapnya setelah sampai di dekat Dira yang masih terduduk diatas tempat tidur.
Dira tidak menyangka kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya. Selama ini tidak pernah ada perayaan sama sekali apalagi kejutan seperti yang dilihatnya di film- film.
" Dira.... selamat ulang tahun ya, semoga kamu panjang umur dan sehat selalu." Kali ini mama Dewi yang mengucapkan sambil memeluknya erat.
Papa Zachary juga mendekat," Happy birthday Nadira... wish you all the best."
Sungguh Dira terharu mendapatkan perlakuan semanis ini dari suami dan keluarganya.
" Bagaimana kejutannya? nggak bangetkan?" Weli menyeruak diantara beberapa orang sepupunya," Dibilangin dari tadi kalau udah nggak zaman lagi kejutan kek gini, tapi dianya tetap maksa." cerocosnya dengan tangan masih memegang cake ulang tahun.
Dira tersenyum pada Weli yang tampil acak- acakan khas orang bangun tidur.
" Untung dirimu nggak jantungan ya mbak." lanjutnya masih kesal karena dibangunkan oleh Dio tiba- tiba padahal tadi sore dia masih sempat bertemu dengan Zachary tapi pria itu tidak memberitahu tentang rencana malam ini sama sekali. Jadi bukan hanya Dira yang dapat kejutan tapi dirinya juga.
" Harusnya isteri ulang tahun tuh diajak dinner atau staycation bukannya dikejutin kek gini. Dasar suami nggak modal."
" Bacot aja... kasih tuh kue nya." sergah Dio yang jengah melihat Weli masih ngomel. Tadi saja saat dibangunkan dirinya kena semprot oleh Weli, baru setelah dijelasin kalau Dira ulang tahun wanita cerewet tersebut manyun.
Zachary mengambil kue tersebut dari Weli dan mengarahkan ke hadapan Dira.
" Make a wish dulu." bisiknya.
Dira pun menutup matanya dan melafaskan sebait doa dalam hatinya.
Setelah meniup lilin, Dirapun memotong kue untuk semua orang yang ada di kamarnya. Tidak semua keluarga hadir disana. Oma tidak ada karena dia yang memang sudah tua dan tidak bisa naik ke lantai dua. Selebihnya karena memang tidak dibangunkan oleh Zachary mengingat para sepupu yang masih kecil harus sekolah keesokan harinya.
Kue pertama diberikan Dira pada Zachary.
" Makasih." jawab Zachary sambil mengunyah dan setelahnya mencium bibir sang isteri. Kebiasaan Zachary yang tidak bisa dilarang oleh Dira meski dirinya merasa malu.
Setelahnya Dira memberikan kue pada mama dan papa mertuanya.
" Maafin mama ya sayang udah nyuekin kamu...Zachy yang minta."
Dira mengangguk dan membalas pelukan mama mertuanya. Tidak bisa dipungkiri kalau hatinya lega sekali.
" Papa nggak ikut- ikutan, jadi papa nggak perlu minta maafkan?" canda Thomas wolverstone.
Kembali Dira mengangguk. Tanpa bisa dicegah sejak tadi air matanya mengalir begitu saja. Rasa haru membuncah di dadanya.
Sepeninggal semua orang Dira menatap Zachary meminta penjelasan tapi Zachary pura- pura tidak tahu kalau tatapan Dira menyiratkan sesuatu. Zachary merebahkan tubuhnya dan bersiap untuk tidur.
" Kamu sudah mau tidur?"
" Iya, aku ngantuk."
" Kamu nggak merasa utang penjelasan sama aku, mas? kamu nyuekin aku terus."
Akhirnya Dira mengutarakan juga isi hatinya.
Zachary tidak bisa tidak tersenyum jadinya. Kenapa sulit sekali bagi isterinya untuk bersikap terbuka padanya. Zachary ingin juga jadi sandaran dan dipercaya. Bukan cuma sebaliknya saja.
" Kita bicarakan besok saja ya?" ulurnya sengaja.
" Nggak bisa sekarang saja?" tanya Dira kembali terlihat ragu untuk mengkonfrontasi Zachary.
" Kalau kamu sepenasaran ini kenapa nggak nanya saja dari tadi?"
Dira menatap Zachary ragu.
" Aku...."
Dira tidak jadi melanjutkan ucapannya.
Zachary bangkit dan duduk berhadapan dengan Dira.
" Jika kamu ingin tahu maka bertanyalah..." katanya tegas," Kamu itu isteri aku, menantu di keluarga ini jadi kamu punya hak untuk bertanya. Jangan disimpan sendirian." katanya menahan diri agar tidak kelepasan bicara dengan nada tinggi.
Sebenarnya Zachary sudah sangat marah dengan Dira yang masih sering tarik ulur dengannya selama ini. Membuatnya merasa tak menentu dan sulit menempatkan diri. Terkadang dirinya merasa sangat dicintai dan diinginkan oleh Dira namun tak jarang pula dia merasa kalau apa yang dilakukan Dira padanya hanyalah sekedar tanggung jawab semata.
" Kamu boleh marah jika aku buat kamu marah." lanjutnya lagi.
Dira tak tahan melihat Zachary seperti itu karena sikapnya yang penuh keragu-raguan selama ini maka satu- satunya yang bisa Dira lakukan adalah menghamburkan diri kepelukan sang suami. Dira menumpahkan tangisnya disana. Tak peduli air matanya sampai membasahi baju kaos yang dipakai Zachary.
" Maaf, mas..." cicitnya teredam oleh suara tangisnya sendiri.
Zachary membalas pelukan Dira tak kalah eratnya.
Bersambung....