Akhirnya pestapun usai. Dira kembali ke kediaman barunya. Menjalani perannya sebagai seorang isteri. Mengurus rumah dan sebisa mungkin melayani kebutuhan sang suami.
Pagi- pagi sekali, Dira akan bangun dan menyiapkan sarapan lalu membangunkan Zachary agar tidak terlambat ke kantor. Selagi Zachary mandi, Dira akan memilihkan pakaian yang akan dipakai oleh Zachary. Tak jarang Dira membantu Zachary berpakaian. Kebiasaan baru yang tanpa sadar dilakukannya karena keinginannya sendiri dan sepertinya disukai oleh suaminya terbukti saat Dira lupa melakukannya, Zachary yang memintanya lagi.
Dira semakin nyaman dengan peran barunya dan merasa nyaman berada disisi Zachary. Dira juga terbiasa menjadi seperti apa yang diinginkan oleh Zachary, bukan karena Zachary yang memaksanya tapi karena Dira yang senang melakukannya.
Perlahan Zachary merasa mulai menikmati perhatian Dira padanya. Zachary tanpa sadar merubah kemandiriannya dengan bergantung pada sang isteri. Jika dulu semuanya bisa dia lakukan sendiri sekarang rasanya ada yang kurang pas kalau tidak dibantu oleh Dira.
Disisi lain, Zachary berusaha menunjukkan pada Dira kalau dia mampu menjadi tempat bagi Dira untuk berlindung.
Zachary mulai memahami apa yang telah dialami oleh Dira selama ini. Mamanya menceritakan betapa dinginnya hubungan antara Dira dan ibu kandungnya sendiri. Bagaimana penolakan yang diberikan oleh tante Astari karena keadaan ekonomi dan juga hubungannya yang memburuk dengan suaminya pasca dia melahirkan. Tante Astari merasa tidak mendapat dukungan dari sang suami. Ketakutannya akan masa depan Diralah yang membuatnya tega meninggalkan Dira begitu saja. Tapi ada satu hal yang tidak bisa difahami oleh Zachary dan juga mamanya. Jika memang yang ditakutkan oleh tante Astari masalah ekonomi kenapa dia tidak menyambung kembali hubungannya dengan Dira setelah dia punya uang dan keluarga baru. Bukankah kesempatan selalu ada baginya untuk merangkul Dira saat kehidupannya sudah lebih baik?
Jika ditinjau dari sisi seorang ibu jelas sekali tindakannya tidak bisa dibenarkan.
" Masak apa hari ini?" tanya Zachary begitu mereka tiba diambang dapur.
Dira membuka tudung saji yang dia gunakan untuk menutup makanan saat ditinggal ke kamar tadi.
" Nasi liwet? rajin amat sih kamu." ucapnya tanpa menutupi binar kegembiraan di wajahnya.
Siapa sangka selera Zachary begitu cepat berubah menyesuaikan selera Dira. Dirinya yang biasanya enggan makan makanan berat saat pagi hari kini malah menjadi orang Indonesia sejati yang punya tagline belum kenyang jika belum makan nasi.
" Kok bisa kamu masak beginian dipagi hari bukannya masaknya lama ya?"
Dira tersenyum mengiyakan," sudah aku prepare sejak kemarin jadi pagi ini nggak repot lagi."
" Kamu tahukan aku suka banget makanan ini jadi ya aku tidak akan menolaknya." kelakar Zachary.
" Aku akan terus memasaknya sampai kamu bosan." balas Dira setelah duduk berhadapan dan mulai menyendok makanannya sendiri.
" Enak... " gumam Zachary sambil mengunyah.
" Benaran?" tanya Dira antusias.
Zachary mengangguk.
" Ini resep nenek tapi aku ruba sedikit menyesuaikan dengan selera kamu."
Zachary menanggapi ucapan Dira dengan senyuman. Kadang Dira fikir Zachary ini terlalu murah senyum.
" Bagaimana Nenek? jadikan dia mau menginap disini nanti malam?"
Balas Dira yang mengangguk sambil tersenyum.
" Jangan lupa gunakan kesempatan yang ada untuk merayunya agar mau pindah kesini."
" Kamu serius dengan ucapanmu waktu itu?" tanya Dira.
" Tentu saja." jawab Zachary," Aku juga ingin dia tinggal sama kita biar kamu tidak kefikiran lagi."
" Lagipula aku juga sudah menganggapnya sebagai nenekku sendiri."
Dira terharu mendengar perkataan Zachary," Makasih ya..." bisiknya dengan mata berkaca- kaca.
Zachary tersenyum melihat Dira yang begitu gampang tersentuh.
" Aku akan coba lagi, mudah- mudahan kali ini hatinya bisa luluh." ucap Dira lebih pada dirinya sendiri," Heran kok dia teguh banget."
" Sama seperti seseorang yang kukenal."
" Siapa? aku?"
Zachary mengangkat bahunya acuh.
Sengaja menggoda Dira.
" Siapa dia? apa aku kenal?" tanya Dira penuh selidik.
" Mungkin."
" Sepertinya aku nggak kenal." putus Dira menahan diri. Aslinya Dira sangat kesal sekali pada tingkah usil suaminya tapi kali ini dia mengalah saja.
" Kamu kenal kok." kata Zachary masih ingin menggoda.
" Nggak, aku nggak kenal." jawab Dira mulai sewot.
" Kalau gitu nanti aku kenalin."
" Nggak usah, nggak minat..."
Zachary tidak bisa menahan ketawanya. Begitu mudah baginya untuk tertawa saat sedang bersama dengan Dira. Kalau bukan karena kewajibannya untuk segera berangkat ke kantor, Zachary tidak akan segan untuk menjahili Dira lebih lama lagi.
Begitu makanan dipiringnya habis, Zachary pun berdiri dan menghampiri Dira. Dikecupnya kepala isterinya sebelum berkata," Aku berangkat dulu, kamu lanjut saja makannya nggak usah antar aku ke depan."
Tapi Dira tidak akan menuruti ucapan Zachary. Dia ikut berdiri dan melewati Zachary supaya lebih dulu sampai di kamar. Mengambil tas yang biasa dibawa Zachary ke kantor serta membawakan kunci mobilnya ke depan.
Zachary hanya tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Dira. Dira mengurus dirinya dengan begitu telaten.
" Nanti aku suruh orang untuk jemput nenek." ucapnya sambil memeluk Dira erat.
Kebiasaan Zachary sebelum meninggalkan rumah. Dira membalasnya dengan menekan semua rasa canggungnya yang kadang masih kerap muncul.
#
Sopir yang ditugasi oleh Zachary untuk menjemput nek Romlah baru saja tiba saat Dira baru selesai memasak. Biasanya Dira tidak masak untuk makan siang karena Zachary yang tidak pernah pulang untuk makan siang. Khusus hari ini Dira masak untuk menyambut kedatangan neneknya. Sengaja Dira masak makanan kesukaan neneknya. Bukan dalam rangka merayu tapi karena Dira ingin neneknya makan dengan lahap. Dira rindu untuk makan berdua lesehan di lantai. Kebiasaan mereka saat tinggal berdua. Kebiasaan yang belum diperkenalkan oleh Dira pada Zachary.
" Nek.... Dira rindu." ucapnya dalam pelukan sang nenek.
" Rindu kenapa toh, baru juga pisah." kata nek Romlah tak urung balas memeluk Dira dengan erat.
" Bagiku itu lama..." ucap Dira sok lebay padahal aslinya itu yang ia rasakan.
" Lama apanya? jangan cengeng udah punya suami masa masih begini?"
Nek Romlah berusaha melepas pelukan cucunya.
" Makanya nenek pindah kesini biar Dira nggak rindu."
" Kalau nenek pindah siapa yang jaga rumah kita. Nanti cepat rusak kalau nggak ditempati."
" Kan bisa kita kontrakkan sama orang lain."
Nek Romlah menatap Dira lekat," Orang lain belum tentu bisa menjaga barang kita dengan baik."
Dira termangu mendengar ucapan neneknya. Ada benarnya juga. Rumah itu begitu berarti bagi mereka berdua. Harta yang paling berharga karena didapat dengan susah payah. Bahkan hanya rumah tersebut yang benar- benar miliknya.
Bersambung.....