Bab 13

886 Kata
Zachary pov, Bagiku, Hubungan kami sudah sangat dekat sekali meskipun secara waktu masih terbilang singkat. Hubunganku dengannya melebihi hubunganku dengan wanita lainnya, termasuk dengan Laura, teman masa kecil dan cinta pertamaku tapi sepertinya tidak bagi dia,isteriku sendiri Nadira... Dira sepertinya masih terganggu dengan bayang-bayangan Laura yang tak lain adalah saudara tirinya sendiri. Jika dengan wanita lain aku tidak pernah melewati hari dari pagi sampai pagi lagi, dengan Dira aku bahkan sudah melewati hampir sebulan bersama. Dari bangun tidur hingga bangun lagi tak pernah ada hari yang kami lewatkan. Kami bahkan sudah berbagi peluh bersama. Berhubungan intim yang meski bukan yang pertama bagiku tapi yang paling sakral tentunya. Aku bukanlah penganut faham freesex meski tak bisa kupungkiri kalau akhirnya aku juga tidak bisa menjaga diri dengan baik. Gejolak jiwa mudah membawaku pada rasa penasaran hingga lepas kendali pada masa itu. Laura yang menggodaku namun bukan salahnya jika sampai aku melakukannya. Akulah yang tidak pandai menjaga diri padahal mama dan papaku sudah mengingatkan berulang kali. Selain membawa- bawa dalil agama, mama juga membawa faham ketimuran dari tempatnya berasal. Mama selalu bangga dengan akar budayanya yang bagiku dulu terasa sedikit kolot. Pemahamanku sedikit demi sedikit berubah karena papa yang mengingatkan kalau aku juga harus bangga karena fahamnya baik dan berguna bagiku kelak. Beranjak dewasa aku memang mulai menyadari kalau beragama itu memang baik. Agama ada karena cinta Tuhan pada makhluk-Nya. Kembali pada Dira, Isteriku itu belum menerimaku seutuhnya. Raganya memang sudah menjadi milikku tapi hatinya aku tidak tahu. Dira terlihat masih menahan perasaannya. Dira seakan sengaja membiarkan ada batasan diantara kami yang semestinya tidak perlu ada. Dira membuatku harus terima disaat apa yang aku lakukan dimaknai berbeda olehnya. Dulu, saat pertama dikenalkan oleh mama pada keponakan tante Astari, aku fikir dia akan menjadi temanku juga sama seperti hubunganku dengan Laura tapi hal tersebut tidak pernah terjadi karena setiapkali mama mengajakku ke kediaman mereka, Dira tidak pernah menunjukkan dirinya. Pernah juga aku bertanya tentang keberadaan Dira pada Laura tapi Laura terlihat enggan membahasnya. Akupun tidak bertanya lagi karena tidak mau membuat mood Laura memburuk. Bagaimanapun yang jadi temanku selama ini adalah Laura. Tidak mungkin aku merusak pertemanan kami dengan kehadiran orang baru yang memang tidak disukai olehnya. Tapi kini, keadaan begitu cepat berubah. Bukan Laura yang menjadi isteriku tapi Dira. Laura pergi meninggalkanku demi pria lain. Mungkin orang lain tidak tahu apa alasan Laura pergi tapi aku tentu tidak sebodoh itu sampai tidak tahu seperti apa sepak terjang Laura dibelakangku. Hanya karena kami belum terikat hubungan yang sah makanya aku menahan diri. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri akan bertindak tegas padanya setelah dia sah menjadi isteriku. Tapi tampaknya Laura mundur sendiri. Dia mungkin memang tidak benar- benar mencintaiku sehingga dia memilih menyerah. Aku tentu tidak punya pilihan lain selain melanjutkan hidupku sendiri. Cara paling ampuh mengobati rasa patah hati dan penghianatan adalah dengan mencari gantinya. Benarkah aku yang terlalu cepat menerima kehadiran orang baru? Apakah penerimaanku terlihat seperti aku yang menjadikan dia sebagai pelarian? Benarkah nama Laura sudah hilang dari hati dan fikiranku? Apakah pertanyaan serupa yang ingin ditanyakan oleh Dira padaku? Jika dia sampai menanyakan hal tersebut apa aku bisa menjawabnya tanpa rasa ragu? Kenapa aku tidak yakin bisa menjawabnya tanpa merasakan keraguan sedikitpun? Apakah namanya masih membekas dan rasaku belum benar- benar pergi? Tapi Aku bisa mengatakan dengan tegas kalau apa yang kulakukan pada Dira tulus adanya. Perhatian dan kepedulianku padanya bukanlah kepalsuan. Bukan hanya karena aku yang menjadi orang pertama baginya saja tapi juga karena alasan yang tidak bisa aku gambarkan. Aku menerimanya begitu saja. Tidak pernah ada penolakan dari dalam diriku seperti pada wanita lain selama ini. Ku akui kalau selama ini tidak punya banyak pengalaman dengan wanita tapi Laura juga bukan satu- satunya wanita yang pernah dekat denganku. Meski tidak sampai punya komitmen dengan wanita lain tapi aku cukup sering kencan dengan mereka setiap kali hubunganku merenggang dengan Laura. Bedanya, setiap kali dekat dengan wanita lain, aku tidak sepenuhnya menjadikan mereka sebagai atensiku karena aku yakin akhirnya Laura lah tempatku berlabuh. Masa depan dalam bayanganku hanyalah Laura. Jadi kehadiran yang lainnya hanya sebatas selingan semata. Kini, aku baru tersadar bahwa apa yang aku bayangkan tentang masa depan adalah semu. Tidak ada yang pasti jika menyangkut nasib kita dikemudian hari. Ada Zat yang lebih berkuasa diatas segalanya. Jadi aku menerima kehadirannya dengan hati yang lapang bahkan kini aku merasa ada yang kurang saat aku bangun tidak ada dia dalam pelukanku. Begitu nyamannya perasaanku saat bersamanya membuatku merasa sedikit kecewa saat tahu kalau dia tidak merasakan hal yang sama. Apa yang aku harapkan dari seseorang yang dipaksa menikah dengan orang asing? Aku tidak buta sampai tidak melihat muka kebingungan Dira saat pertama kali tiba di rumahku sebelum ijab kabul bahkan kurang dari tiga hari! Aku mungkin terluka dengan penderitaanku sendiri tapi aku juga tidak bisa menutup mata dari penderitaan orang lain yang aku ikut andil didalamnya. Hanya karena ingin menutupi lukaku sendiri aku telah menorehkan luka pada orang lain. Aku berharap lukaku segera sembuh dengan kehadirannya tanpa peduli seberapa dalam luka padanya. Aku ikut bersalah padanya makanya aku akan mengobati lukanya sampai tidak ada lagi bekasnya dan dia akan lupa pernah punya luka itu. Tapi mungkinkah??? Perjalanan panjang ini butuh kerja sama dua orang. Aku butuh Dira yang mau menerimaku seperti aku yang menerimanya. Aku ingin Dira bisa melihat kesungguhanku padanya dan pada pernikahan kami. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN