Bab 12

1043 Kata
Dira pov, Pesta yang dihelat kali ini tidak jauh berbeda rasanya dengan pesta ijab kabul yang lalu. Terlalu ramai dan gemerlap. Pesta yang katanya diadakan di rumah saja namun tak ada bedanya dengan perhelatan di hotel berbintang. Terlalu banyak dekorasi dan hidangan serta hiburan. Sehingga tetap membuatku merasa tenggelam. Diantara sekian banyak undangan hanya sebagian kecil saja yang kukenal. Sebenarnya Mama Dewi menyuruhku mengundang semua keluarga, kerabat, tetangga dan teman- temanku, tapi aku menolaknya karena memang tidak banyak yang bisa aku undang. Dia bahkan mengatakan kalau aku boleh mengundang lebih banyak tamu ketimbang dirinya, yang katanya tidak ingin mengundang terlalu banyak orang. Namun kenyataannya tetap saja yang banyak datang adalah keluarga, tetangga dan kenalan orang tua Zachary. Ukuran banyak mama Dewi denganku tentu berbedakan? Disaat seperti inilah perasaanku kembali terganggu. Aku merasa bahwa kehadiranku disini tidak lebih sebagai pajangan semata. Pengganti Laura yang entah kemana. Mau aku atau orang lain yang berdiri disamping Zachary, pestanya akan tetap berlangsung. Sebenarnya aku selalu ikut saat rapat tapi tentu saja pendapatku tidak benar- benar diperlukan karena akhirnya yang diputuskan adalah apa yang mereka inginkan. Jadi, kehadiranku saat rapat dengan vendor hanya sebagai formalitas semata. Sialnya saat rapat tidak sekalipun Zachary ikut karena alasan pekerjaan. Dia dengan entengnya mengatakan akan menyerahkan keputusan sepenuhnya padaku sebagai mempelai wanita. Jujur aku merasa kesal sekali padanya. Aku yakin dia tahu bahwa akhirnya pendapat mama dan keluarganya yang akan mutlak. Jadi sebenarnya kehadiranku tidak diperlukan disetiap rapat tersebut. Harusnya aku tidak membuang- buang waktu tapi aku jelas tidak punya alasan tidak datang seperti alasan yang dipakai oleh Zachary. Semua orang bahkan sudah tahu kalau aku telah berhenti kerja. Aku ingat dengan jelas saat Zachary mengatakan pada semua orang kalau aku sudah resign dan dia merasa bangga karena dengan aku yang berhenti bekerja, dia merasa lebih diprioritaskan. Mama Dewi bahkan sampai mengatakan kalau aku sudah mengambil keputusan yang tepat. Menurutnya, aku bisa melakukan hal yang aku sukai tanpa memikirkan soal finansial. Tapi jika yang aku suka adalah bekerja, bagaimana dong? " Selamat ya, bro. Siapa sangka kamu berjodoh dengan orang yang ku kenal." Akhirnya aku kenal dengan tamu yang datang. Ternyata Zachary memang kenal dengan Bos Muda. " Dira, selamat ya... semoga sakinah." ucapnya padaku yang kusambut dengan senyuman. " Aku nggak tahu lho kalau selama ini selera kamu bule, kalau tahu sudah aku kenalin dengan teman buleku sejak lama." Candaan bos muda langsung diiringi oleh gelak tawa teman- temanku. Rupanya mereka datang rombongan. " Teman kamu itu pasti akukan?" Zachary balik bercanda. " Bisa ya bisa tidak sih." jawab bos muda sambil tertawa. " Diraaa...."panggil Reina. Dari tadi sebenarnya aku sudah melihat kedatangannya tapi tentu aku tidak bisa memanggilnya begitu saja dan mengabaikan tamu undangan yang lainnya. Rasanya dari tadi tanganku nggak berhenti menyalami para tamu undangan. Tiba giliran Reina yang menyalamiku, kamipun berpelukan sebentar. " Suamimu cakep, Dir." bisiknya yang kuharap tidak didengar oleh Zachary. " Kamu utang penjelasan padaku lho. Dari kemarin aku tunggu- tunggu tapi blom ada kabar juga." Aku cuma tersenyum tipis. Aku tidak tahu harus cerita apa lagi padanya. Terlalu banyak bercerita hanya akan membuka hal- hal yang selama ini aku tutupi. Hubunganku dengan tante Astari juga tidak serta merta membaik dengan pernikahan ini. Buktinya sekarang saja dia tidak datang ke acara resepsi pernikahanku. Aku baru tahu lagi bahwa hubungan yang mereka jaga mati- matian itu dengan tetap melangsungkan pernikahan ini hanya berlaku disana saja. Disini tampaknya tidak ada urgensinya. Tapi.... entahlah.... Aku sadar diri kalau aku memang tidak cukup tahu banyak hal tentang masalah yang bahkan aku sendiri ada didalamnya. " Silahkan nikmati hidangannya.... semoga suka." Aku mendengar mama Dewi selalu mengucapkan kalimat yang sama pada tamu yang kurang atau tidak dia kenal. Kalimat yang dia ucapkan pada teman- temanku juga tentunya. Hari semakin malam tapi tamu masih berdatangan meski sudah tidak seramai tadi. Aku memutuskan untuk duduk sebentar. " Capek ya..." tanya Zachary yang ikut duduk. Aku mengangguk sambil menggerakkan kakiku yang masih dibalut heels dua belas senti yang sangat menyiksaku. Aku terpaksa memakainya untuk mengimbangi perbedaan tinggi badan kami yang cukup mencolok. " Mau dipijit?" " Nggak usah." gelengku cepat. Ada- ada saja yang ditawarkannya. " Kenapa? kamu malu?" " Nggak." " Terus kenapa?" Begitulah tipikal Zachary yang akan selalu bertanya sebelum mendapatkan jawaban. Kecuali dia melihatku tidak akan menjawab barulah dia mengalah itupun aku bisa tahu kalau dia tidak puas dengan jawabanku dan akan bertanya lagi dilain waktu. Kadang aku sempat berfikir karena merasa aneh dengan sikap Zachary yang begitu cepat dekat denganku. Dia begitu mudah peduli dan memberikan perhatian padaku. Sikapnya menunjukkan kalau dia suami yang sebenarnya? Suami yang menyayangi isterinya. Rasanya sangat tidak masuk akal jika begitu cepat baginya melupakan pacarnya yang sudah bertahun- tahun bersamanya dan menerima aku begitu saja. Aku jelas tidak bisa percaya begitu saja tapi disisi lain aku juga tidak bisa membohongi perasaanku kalau aku tersentuh dengan perlakuannya padaku dan nenekku beberapa hari belakangan ini. Aku memang tidak punya pengalaman menjalin hubungan dengan pria lain selama ini. Relasiku hanya sebatas rasa suka saja tidak pernah berlanjut ke tahap pendekatan apalagi sampai pacaran. Bukannya tidak ada yang naksir padaku tapi aku tidak punya keberanian menerima perhatian dan rasa suka dari orang lain karena rasa malu dan minder yang menghantuiku. Aku selalu merasa tidak pantas saat ada yang mengajakku ketemuan. Selain karena aku merasa wajahku biasa- biasa saja, aku juga malu karena penampilanku yang sangat sederhana. Jika teman- temanku selalu gonta- ganti baju setiap ke kampus, aku selalu memakai pakaian yang itu - itu lagi. Belum lagi jika ada cowok yang ingin datang kerumahku, aku lebih dulu menolaknya. Untuk urusan datang kerumah aku tolak bukan karena aku malu karena sebenarnya aku sangat bangga dengan rumah mungil kami, hanya saja, aku tidak terbiasa menerima kunjungan orang lain di rumah kami. Sangat canggung rasanya jika ada yang tiba- tiba datang bertamu. Hal tersebut tidak terjadi pada Zachary. Rasa canggungku bukan karena kehadirannya tapi lebih karena perasaan sungkan harus memaksanya beradaptasi dengan kondisi rumahku saja. Aku tidak merasa harus menutupi apapun darinya. Aku tidak takut atau malu saat memperlihatkan keadaanku yang sesungguhnya. Saat bersama dia aku merasa nyaman dan menjadi diri sendiri. Tapi rasa itulah yang membuatku takut. Aku takut semuanya hanya mimpi. Aku takut apa yang kurasakan tidak akan bertahan lama. Rasanya terlalu sempurna, sehingga sulit untuk menjadi nyata. Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN