Bab 11

1149 Kata
Setelah selesai dengan urusan kepindahan mereka ke rumah baru, Dira dan Zachary mengunjungi keluarga besar mama Dewi yang masih berada di kabupaten yang sama cuma beda kecamatan saja. Karena jarak rumah yang saling berdekatan dan dalam kompleks yang sama maka Dira tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk bersilahturahmi pada anggota keluarga Zachary yang belum dikenalnya karena tidak datang pada saat ijab kabul, terutama Oma shinta yang memang sudah sangat sepuh. Kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk bepergian jauh. Untuk berkegiatan sehari- hari saja dia harus dibantu kursi roda. " Oma, Zachy datang...." ujar Zachary sembari menyalami tangan keriput Shinta. Wajah tuanya langsung berbinar menyambut cucunya yang tidak bisa sering ditemuinya karena tinggal berbeda benua. " Kamu datang? mana isterimu?" Pertanyaan Oma Shinta membuat Zachary cemberut," Oma kok nggak nanyain kabar aku dulu? Oma udah nggak sayang lagi sama aku ya?" Jika Zachary langsung mendapatkan tamparan lembut dari Omanya setelah mengucapkan kalimat lebay tersebut, Dira justru susah payah menahan ketawanya. Selain karena ke alay an sang suami juga karena melihat sang nenek yang terlihat kesal pada cucunya. Dira tidak menyangka kalau Zachary punya sisi lebay juga. " Tuh kan, Oma memang sudah nggak sayang lagi buktinya Oma mukul aku." Ya Tuhan, Dira tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Dira rasa Zachary punya bakat jadi aktor komedi. Lihatlah akting merananya yang bisa membuat orang lain tertawa. " Dah, keluar jiwa alaynya.... sifat kok ya nggak cocok sama wajah. Malu aku lihatnya mas." ucap seorang wanita cantik berambut pirang yang tadi mengaku bernama weli. Dia adik sepupu Zachary yang baru lulus kuliah. " Oma tanya mana isterimu? nggak kamu ajak?" Selain udah tidak bisa berjalan, pengliatan Oma juga mulai kurang awas sehingga tidak bisa melihat kehadiran Dira dibelakang Zachary yang duduk menjongkok didepan Oma. " Mama... ini Dira, isterinya Zachy." panggil mama Dewi. Dira ikut berjongkok disamping Zachary untuk menyalami Shinta. " Nadira, Oma..." ucapnya memperkenalkan diri. Shinta tersenyum memandangi cucu mantunya," Nadira ya... cantik... tapi kok mau sama cucu Oma?" Nah lho... nggak susah nyari dari mana turunnya sifat kolokan Zachary. Pasti dari Oma Shinta yang deman guyon juga. " Memangnya aku kenapa, Oma? aku ganteng dan rajin menabung." Oma Shinta berdecih, pura- pura menghina Zachary," kamu tidak sehebat yang kamu fikirkan anak muda!" Zachary tertawa yang ditelinga Dira terdengar sedikit sumbang. Kenapa Dira merasa kalau apa yang ditampilkan oleh Zachary didepan keluarganya tidak sama dengan apa yang dia rasakan sesungguhnya. Pria itu seakan menyimpan perasaan getirnya sendirian. Apa karena dirinya yang ditinggalkan oleh Laura begitu saja? " Jelas saja aku seorang pria yang hebat Oma, buktinya aku bisa mendapatkan isteri yang cantik." ucapnya sambil memandangi wajah Dira. Dira sendiri kaget mendengar pujian dari Zachary yang meskipun ia yakini sebagai candaan tapi mampu membuatnya tersipu malu. " Alah, gombal aja lu, bro.... mending tanding sama kami dibelakang." Pria seumuran Zachary datang dari arah belakang rumah. " Hai, Dira... salam kenal. Aku Dio." ucapnya sambil mengulurkan tangan. Dira menyambut uluran tangan Dio sambil tersenyum ramah. " Zach, ayo! kamu nggak takut kalahkan?" Dio memanasi Zachary yang belum terlihat akan beranjak dari posisinya. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk bermain billiard bersama saat sedang berkumpul dan selalu memaksa yang kalah untuk mengikuti kemauan yang menang. " Takut apaan, biasanya yang kalah juga elu." " Mungkin aja kali ini lu kalah, maklum udah nggak perjaka lagi jadi lututnya udah kopong," " Dio..." ucap mama Dewi mengingatkan keponakannya yang mulai bicara diluar norma kesopanan. Jika dibiarkan akan keluar istilah - istilah berani yang berhubungan dengan tempat tidur nantinya. Dio terkekeh," Maaf tan, bercanda aja..." " Lu, sih! bercandanya nggak lihat tempat." kata Zachary," Ayo tanding, gue nggak takut." ucapnya pada Dio lalu menoleh lagi pada Dira," kamu mau ikut kebelakang?" Dira menggeleng," Aku tunggu disini saja." " Nggak apa-apa?" Dira menggelengkan kepala meyakinkan Zachary. " Biarin aja napa sih, Nggak bakal hilang bini, lu." ejek Dio belum puas. " Brisik, sana lu, go out!!." " sok british lu!" " Dio.... Zachy." Mama Dewi memperingatkan kedua pria dewasa itu seperti memperingatkan anak kecil yang bandel saja. " Sorry, tan...." " Kalau bosan, ke belakang saja ya." pesan Zachary sebelum menyusul Dio yang lebih dulu menghilang. Dira mengangguk sebagai jawaban. Dewi tersenyum melihat interaksi anak dan menantunya. Orang yang tidak tahu asal usul pernikahan keduanya pasti tidak akan menyangka kalau mereka menikah karena di jodohkan. Tidak lama kemudian Oma Shinta meminta diantar ke kamarnya untuk beristirahat. Dewi mengajak Dira untuk melihat rumah sebelah yang tak kalah luasnya. Jika tadi tempat mereka berkumpul adalah rumah Oma Shinta yang sekarang mereka masuki adalah rumah mama Dewi sendiri. " Sebenarnya mama berharap kalian akan tinggal di rumah ini tapi Zachy pasti nggak mau." Dira tidak tahu harus menjawab apa toh itu juga bukanlah sebuah pertanyaan. " Mama mengerti kenapa dia menolak, selain karena dia sudah punya rumah sendiri disini juga terlalu banyak orang takutnya nanti bisa mengganggu privasi kalian." ucap Dewi berterus terang," Tapi bolehkan mama minta pada kalian untuk menginap disini sesekali?" " Tentu saja boleh, ma." jawab Dira ragu. Boleh atau tidaknya tentu tergantung pada Zachary. Dia yang akan memutuskan. Dira melihat- lihat rumah Dewi dengan takjub karena sejak pertama masuk ke kawasan kompleks tersebut rumah itu terlihat berbeda dari yang lainnya. penampakan luarnya terlihat lebih etnik. Selain mengadaptasi gaya tradisional yang kental pada bangunan, pemilihan bunga- bunga pada halaman yang dipenuhi oleh rumput yang hijau juga mengingatkan pada rumah tempo dulu. Pemandangan tersebut mengingatkan Dira pada masa kecilnya saat setiap hari melewati rumah yang hampir mirip dengan rumah sang mertua. Meski tidak benar- benar mirip karena rumah yang sering dilihatnya tidak sebesar dan semegah rumah yang sekarang dimasukinya. Tapi secara umum gaya arsitekturnya sama. Rumah yang ada dikampung Dira dulu adalah rumah seorang tengkulak yang membeli hasil panenan warga. Walaupun seringkali kesana untuk menjual hasil berkebunnya dengan sang nenek tapi Dira tidak pernah masuk sekalipun kerumah tersebut. Hanya sebatas teras belakang saja karena disana tempat situan rumah menerima hasil panen mereka. Dira selalu penasaran seperti apa bentuk di dalam rumah yang paling mewah di kampung mereka tersebut tapi tidak pernah kesampaian. Tidak pernah ada yang menawarinya untuk masuk, tidak juga anak pemilik rumah yang merupakan teman sekolah Dira. Anak perempuan seusianya itu terlihat tidak bersahabat setiap kali Dira datang. Tapi sekarang, Dira tidak hanya bisa masuk dan melihat rumah yang jauh lebih bagus dari yang dulu, dirinya bahkan ditawari untuk menginap dan tinggal disana. Benarkah ini sebuah kenyataan atau halusinasi semata? " Mama dan Papa tidak pernah lama disini, makanya akan lebih baik jika Zachy mau kalian tinggal disini saja. Toh rumah ini juga akan jadi milik kalian juga." Dira menatap Dewi tak percaya. Kenapa semudah itu baginya memberikan sebuah rumah, seolah cuma memberikan sebuah permen saja? Apa karena Zachary adalah anak mereka satu- satunya? Dira tersenyum miris. Tentu saja karena itu, Dira! Kata kalian yang diucapkan Dewi pastinya cuma merujuk pada Zachary saja, kenapa Dira jadi ke ge eran?? Sadar Dira..... sadar!!! peringatnya pada diri sendiri. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN