Setelah menemui Bosnya secara personal, Dira lalu menemui teman - teman kerjanya yang selama ini rutin bertemu dengannya setiap hari. Cara keluar dan masuk bekerja di kantor Dira memang tidak saklek seperti di perusahaan secara umumnya. Lebih mengedepankan cara kekeluargaan. Banyak sisi positifnya tapi tentu ada saja kelemahan kalau memakai konsep seperti itu. Salah satu contohnya adalah kewajiban tak tertulis bagi semua staf kantor untuk tahu job desk rekan kerja yang lain untuk memudahkan transfer pekerjaan saat ada yang sakit atau mengundurkan diri. Beruntung perusahaan mereka tidak termasuk perusahaan yang terlalu sibuk meski tetap beromset tinggi setiap bulannya.
" Kenapa berhenti tiba- tiba, Dir?" tanya kak Wati mewakili rasa penasaran yang lainnya," Apa ada yang membuatmu tidak nyaman disini? atau kelakuan kami yang menyakitimu?" lanjut nya benar - benar tak menyangka kalau Dira berhenti mendadak. Reina dan Soni mengangguk tanda memiliki pertanyaan yang sama.
Dira tersenyum sebelum menjawab," Nggak ada kak, semua orang baik kok, cuma aku harus berhenti saja. Ada pekerjaan lain yang harus aku lakukan."
" Kamu dapat pekerjaan di tempat lain? dimana?" kali ini Reina yang bertanya.
Dira menggeleng," Aku nggak kerja di kantoran lagi."
" Trus kamu mau kerja dimana?"
" Kamu mau menikah ya?" goda Wati bukan hanya buat Dira seorang tapi juga pada Soni yang selama ini seperti menyukai Dira.
" Aku sudah menikah , kak..." jawab Dira yang disambut pekikan tak percaya Reina.
" Demi apa?? kamu pasti bohongkan,Dir?"
Dira menggeleng pelan melihat muka kepo teman- temannya. Diangkatnya tangannya yang memakai cincin kawin. Dira tidak berani lagi melepasnya setelah kena hukuman dari Zachary.
Reina meraih tangan Dira dengan cepat," Cantiknya..." gumamnya takjub tapi cuma sebentar saja muka takjub terlihat diwajahnya begitu cepat berganti dengan kesal dan geram," Ini pasti bercanda. Kamu tidak mungkin menyembunyikan pacarmu selama ini."
" Aku memang nggak menyembunyikan apapun dari kalian. Pernikahannya mendadak jadi aku tidak sempat ngasih tahu saja."
" Jangan bilang kamu menikah pas libur kemarin?" tanya Wati tepat sasaran. Dira meringis sambil mengangguk.
Reina mendengus kesal," Teganya kamu menikah nggak ngundang- ngundang."
" Bukannya aku nggak mau ngundang kamu dan yang lainnya,Ren. tapi aku nikahnya nggak disini."
" Dimana? Di luar kota?"
Dira bingung untuk menjawab dengan jujur karena pastinya kejujurannya akan menambah rasa penasaran mereka yang harus ia jawab.
" Memangnya dimana sih, Dir? sampai kami nggak bisa datang?"
" Di tempat ibuku." jawab Dira cari aman.
Wati dan Reina salin berpandangan. Seingat keduanya Dira sudah tidak punya orang tua lagi. Jadi ibu mana sebenarnya yang Dira maksud?
" Tapi aku janji pas resepsi nanti akan ngundang kalian semua."
" Kapan resepsinya?" Akhirnya Soni bersuara juga setelah dari tadi menjadi pendengar saja. Soni tahu kalau sepertinya Dira kesulitan untuk menjawab pertanyaan Kak Wati dan Reina yang begitu menggebu-gebu.
" Masih dirundingkan, belum ada tanggal pastinya tapi yang jelas akan diadakan disini kok." kata Dira ingin cepat- cepat menyelesaikan pembicaraan tentang pernikahannya.
" Suamimu itu orang mana?" tanya mbok Karmi yang baru ikut bergabung," mbok lihat kayak bukan orang kita."
Dira kaget jadinya," Mbok lihat dimana?"
" Yang ngantarin kamu dua hari inikan?"
Bukan hanya Dira yang terkejut tapi teman- temannya juga.
" iya mbok, tapi kok mbok bisa lihat, diakan nggak pernah keluar mobil."
" Tadi sempat keluar dia, malah bicara sebentar sama bos muda."
Dira jadi bingung kenapa Zachary menyapa bosnya. Apa mereka saling mengenal? Tapi sepertinya tidak karena tadi saja saat Dira menghadap, bosnya tidak menyinggungnya sama sekali.
" Jadi seperti apa rupa suami Dira itu, mbok? gantengkah?"
mbok Karmi mengangguk," makanya mbok tanya dia orang mana?"
" Orang luar, mbok."
" pantes."
" Pantes apa?"
" luar mana, Dir?"
" Wong suaminya tampang-nya bule gitu."
" Dira..!!" pekik Reina heboh.
" Benaran Dir?" kak Wati tak kalah hebohnya dengan Reina.
Dira cuma bisa diam saja mendengar teriakan kedua temannya itu.
" Kamu kenal dimana, di dating apps ya?" tanya Soni yang tak dimengerti oleh Dira maksudnya. Dira menahan diri untuk tidak berburuk sangka pada pria tersebut.
" Bukan, dia anak teman ibuku."
Reina seakan ingat sesuatu," kamu dulu pernah tinggal di London kan ya, Apa dia anak teman tantemu yang disana?"
Dira mengangguk. Dira baru sadar kalau sejak tadi menyebut tante Astari dengan kata Ibu, pantas saja temannya lama baru mengerti.
" Iya, dia sebenarnya keturunan Indonesia juga. Mamanya asli Jawa."
Reina dan kak Wati tampak mengangguk.
" Kalau gitu aku pamit dulu ya... ntar kita kabar- kabaran lagi."
Dira berdiri dan menyalami mereka bergantian. Tidak semua rekan kerjanya bisa Dira temui jadi Dira berniat akan mendatangi dan mengucapkan selamat tinggal saat membagikan undangan resepsi pernikahannya nanti.
" Ingat ya jangan ada lagi nanti cerita lupa atau lain sebagainya," ancam Reina sebelum melepas kepergian Dira. Reina akan benar- benar marah jika tidak diundang lagi kali ini.
Sepertinya Reina harus menahan rasa penasarannya karena Dira yang belum mau bercerita banyak. Lagipula Reina merasa tidak enak juga bertanya terlalu dalam didepan semua orang.
#
Dira tidak banyak bertanya saat Zachary membawanya ke suatu tempat yang menurut pengakuan Zachary adalah rumah tempat mereka akan tinggal nanti. Perihal tempat tinggal memang sudah diputuskan kalau Dira akan ikut bersama Zachary, yang jadi masalah adalah nek Romlah yang tidak mau ikut pindah bersama mereka. Nek Romlah bersikeras mau tinggal sendiri saja dan berharap Dira dan suaminya mau mengunjunginya sesekali. Hal tersebutlah yang menjadi buah fikiran bagi Dira. Bagaimana dirinya bisa tenang kalau tinggal berjauhan dari sang nenek?
Memaksakan kehendak pada nek Romlah juga tidak akan bisa. Selain keras kepala, nek Romlah juga punya trust issue pada hal yang berhubungan dengan tempat tinggal dan kesenjangan sosial. Entah orang lain akan mengerti atau tidak tapi Dira bisa memahami pilihan neneknya. Namun tetap saja, kalau boleh meminta, Dira maunya tinggal bersama selalu sampai ajal memisahkan mereka.
Zachary melirik Dira beberapa kali tapi ragu untuk membuka pembicaraan. Dirinya jadi serba salah. Membawa Dira tinggal terpisah dari nek Romlah pasti berat baginya tapi kalau mereka tinggal di rumah Dira, jujur saja tidak mungkin baginya. Bukan karena rumah Dira yang sangat sederhana saja dan membatasi aksesnya untuk bermesraan setiap saat serta selalu merasa cemas akan didengar tetangga, tetapi juga, orang tuanya tidak akan membolehkan. Tanpa dicoba saja Zachary sudah bisa membayangkan betapa shocknya orang tuanya.
Bukan karena keduanya yang suka memandang orang lain berdasarkan strata sosial dan ekonomi hanya saja tugas dan tanggung jawab yang memaksa mereka bersikap demikian.
Zachary sempat kefikiran untuk merenovasi saja rumah Dira agar memungkinkan untuk dikunjungi oleh keluarga dan koleganya tapi tidak ada lagi sisa tanah untuk dibangun dan dijadikan lahan parkir. Belum lagi jalan menuju komplek perumahan mereka yang sangat sempit dan tidak bisa di perlebar lagi.
" Nanti kita coba saja dulu mengajak nenek buat nginap semalam atau dua malam agar terbiasa, mana tahu lama- lama dia mau tinggal sama kita."
Dira menoleh pada Zachary, tersenyum kecil dan mengangguk lalu kembali menatap lurus kedepan.
Respon Dira membuat Zachary menghela nafas perlahan. Semoga setelah melihat rumah yang akan mereka huni nanti mood Dira bisa berubah menjadi lebih baik. Tidak ada orang yang tidak suka dengan barang atau benda mewah, apalagi orang itu berjenis kelamin wanita. Sudah banyak buktinya. Tidak jarang kaum hawa rela menjadi pelakor dan w************n lainnya demi mengejar kemewahan duniawi tersebut.
Walaupun Zachary tidak menanggap Dira bagian dari wanita tersebut tapi tetap saja, Dira adalah seorang wanita. Tidak mungkin dia tidak menyukai keindahan dan kemewahan.
Benar saja, wajah Dira terlihat antusias saat memasuki rumah mewah Zachary yang selama ini kosong karena setiap pulang ke Indo, Zachary selalu ke rumah mamanya yang ada didalam kompleks perumahan keluarga besar mereka.
" Bagaimana? kamu suka?"
Rumah dua lantai milik Zachary bergaya industrial.
Dira tidak segera menjawab. Pendapatnya tentu tidak terlalu diperlukan.
" Rumahnya baguskan?" Zachary merubah pertanyaannya.
" Bagus... tidak mungkin tidak baguskan?"
Bukan hal aneh tentunya. Jadi aneh kalau yang terjadi justru sebaliknya.
Zachary menggaruk tengkuknya bingung.
" Ini rumah kamu kan?"
" Sebelumnya iya, sekarang jadi rumah kita."..
" Nah kan, tentu saja rumah ini bagus karena pemiliknya kamu." canda Dira sarkas.
zachary tidak menanggapi candaan Dira, ia membuka pintu dan membawa Dira masuk untuk melihat ke dalam rumah.
Dira sendiri bukannya tidak mendengar kalimat Zachary secara utuh cuma dirinya hanya berpura tidak terpengaruh dengan kata kita yang diucapkan oleh zachary. Sekali lagi, Dira tidak mau terlalu menggantungkan harapannya pada Zachary, pria yang Dira tahu hatinya masih milik wanita lain.
Bersambung...