Dira mencium Zachary dengan sangat lembut dan ada sedikit keraguan. Membuat Zachary ingin mengambil alih d******i pada wanita yang memang masih amatiran itu namun sekuat daya ditahannya karena nyatanya cara yang awalnya terasa asing tersebut justru membuat Zachary merasakan sensasi lain yang sangat memabukkan. Dengan cepat Zachary harus mengakui kalau ciuman Dira mampu membuat tubuhnya jadi bergejolak hebat dan begitu menginginkan dirinya kembali memasuki wanita itu. Dira sudah menjadi candu baginya. Aroma manis yang menguar dari leher Dira bisa membuat Zachary jadi pening seketika. Zachary akhirnya menyerah. Sudah cukup baginya. Zachary benar- benar takluk pada kelembutan ciuman Dira yang penuh perasaan, yang mengikis keraguan yang dirasakan olehnya sendiri.
Zachary mengangkat kedua tangan Dira keatas kepalanya dan menekannya sedikit ke daun pintu tanpa melepaskan tautan dibibir keduanya. Zachary hanya melepaskan bibirnya sebentar agar Dira bisa meraup nafas sebentar sebelum kembali mengulum bibir yang mulai membengkak itu dengan rakus. Lenguhan Dira lolos saat Zachary mulai mengabsen satu persatu giginya. Belum puas dengan posisi mereka sekarang, Zachary membawa tangan Dira ke belakang lehernya dan dalam sekali gerakan membawa kaki Dira melingkar pada pinggangnya. Semua kegiatan intim itu dilakukan oleh Zachary tanpa melepaskan mulutnya,cuma mengalihkan kebagian yang dia inginkan saja. Puas bermain- main dengan leher dan tulang selangka Dira, Zachary membawa tubuh Dira keatas tempat tidur. Setelah menidurkan Dira dengan hati- hati, Zachary mulai membuka satu pesatu kancing kemeja sang isteri dan tak lupa melepaskan kaitan bra Dira, yang kebetulan berada dibagian depan sehingga sangat memudahkan pekerjaan Zachary. Begitu kaitan bra merah Dira terlepas, mencuatlah kedua bukit kembar Dira yang langsung menjadi salah satu bagian favorit zachary. Bohong! Zachary menyukai semua yang ada di badan Dira. Rambut. hitam lebatnya, mata bening, bibir sensual bahkan hidung kecilnya yang menggemaskan. p******a padat Dira selalu mengundang mulut dan jari Zachary untuk berlabuh disana. Menghisap, memilin serta meremas keduanya adalah kegiatan ternikmat lainnya yang bisa Zachary dapatkan selain memompakan k*********a di liang senggama Dira.
Cara Zachary mencumbui dan berhubungan badan dengannya membuat Dira merasa begitu diinginkan dan dipuja sekaligus.
Sempat terlintas dibenak Dira diawal mereka berhubungan intim, apakah yang dirinya dan Zachary lakukan adalah hal yang pasti dialami oleh semua pengantin baru?
Bagaimana bisa mereka yang baru bertemu dan tidak saling mencintai mempunyai hubungan s*x seindah ini? Dira berani menyatakan begitu karena bukan hanya dirinya yang awam dalam persoalan s*x saja yang merasakan kepuasan setelah menjalani ritual wajib pasutri tersebut tapi Zachary juga. Dira tidak seawam itu sampai tidak bisa melihat betapa bahagianya Zachary setiap mereka selesai melakukannya.
Mungkinkah karena mereka melakukannya disaat usia mereka yang sudah matang dan benar - benar menginginkan hal tersebut serta juga karena hubungan yang telah sah dihadapan Tuhan?
Pekikan dan Geraman tertahan keduanya menjadi pertanda bahwa mereka sudah sampai ke puncak kenikmatan.
#
Dira terbangun keesokan paginya dengan perut kelaparan. Selain melewatkan makan malam, Dira juga lupa mengabari sang nenek kalau mereka tidak pulang. Dengan terburu, Dira mencari tasnya untuk mengambil ponsel tapi malah menemukan ponselnya sudah terletak diatas nakas samping tempatnya tidur. Dira merasa ada yang aneh, seingatnya dari kemarin ia belum sempat memegang ponselnya sama sekali.
" Aku yang naruh disana, tadi malam nenek nelfon." kata Zachary yang baru terbangun karena merasa kehilangan tubuh hangat yang semalaman dia peluk. Dira menoleh ke sumber suara dan melihat Zachary masih memejamkan mataya.
Saat Dira berniat turun dari tempat tidur Zachary menahan tangannya, mau mengajak Dira tidur kembali.
" Aku mau pulang, harus ganti baju sebelum berangkat kerja."
" Masih pagi,Dira. Masih bisa tidur sebentar lagi."
" Tapi aku juga lapar..."
Zachary langsung duduk mendengar ucapan Dira. Zachary sadar siapa yang membuat Dira kelelahan semalaman dan tertidur pulas sampai pagi. Sebenanya Zachary sudah membangunkan Dira tadi malam tapi Dira tidak mau bangun dan memilih tidur saja. Zachary juga sudah memesan dua bungkus nasi untuk jaga- jaga seandainya dira terbangun tengah malam namun mereka malah bablas tidur sampai pagi.
" Mau sarapan apa?"
" Pulang saja dulu, nanti sarapannya pas di jalan arah ke kantor."
Zachary berdecak," katanya lapar, dipesanin malah nolak."
" Nanti terlambat, aku masih tahan kok."
Dira tahu Zachary berniat menahannya lebih lama lagi agar Dira tidak usah berangkat ke kantor. Dira tersenyum geli memikirkan cara kekanakan yang dipilihnya.
" Pokoknya hari ini aku harus masuk kerja dan tidak boleh terlambat." kata Dira tegas membuat muka Zachary kian tertekuk.
" Kamu nggak mau ngantarin aku, mas?"
Raut muka Zachary sontak berubah mendengarkan panggilan dari Dira," kamu bilang apa tadi? kamu panggil aku apa?"
" mas.... kamu kan bilang sama nenek mau aku panggil begitu."
" Kamu mau manggil aku, mas?"
Dira mengangguk," aku sih mau saja, mas... tapi kok yah nggak cocok ya, muka bule kok dipanggil mas." ledek Dira.
" Apa salahnya?"
Dira tertawa.
" Nggak salah, ntar aku panggil mas bule ya...?"
Zachary ikut tertawa mendengarnya.
" jadi gimana? kamu maukan ngantarin aku ?"
" Yang bilang nggak mau siapa sih?"
Dira tersenyum," Baguslah kalau kamu mau, kalau nggak ntar hadiahnya aku batalin."
" Mana bisa begitu? memangnya hadiah apa?"
" Hadiah yang sangat kamu inginkan pastinya, mas" ucap Dira sambil mengedipan matanya.
" kamu mau main rahasia- rahasiaan ya?"
Dira menggeleng," nggak. kamu mau tahu banget ya?"
Bukannya kesal ataupun marah Zachary malah tertawa melihat tingkah Dira yang bermain- main dengannya.
Zachary melihat sisi yang baru lagi dari Dira, lebih lepas... dan bebas.
Dira mendekatkan tubuh mereka lalu berbisik," aku akan berhenti kerja."
Setelah membisikkan kalimat tersebut Dira langsung melepas selimut yang sejak tadi dipegangnya dan melangkah berani menuju kamar mandi.
Tak butuh waktu lama bagi Zachary untuk menyusul Dira dan membalas langsung hadiah yang diterimanya. Mandi pagi kali ini sudah pasti akan berlangsung lebih lama dari biasanya. Dira tidak protes dan mengikuti semua keinginan Zachary karena ia berfikir tidak masalah datang sedikit terlambat untuk berpamitan pada teman- temanya.
Dira tidak tahu apakah keputusannya untuk berhenti kerja sudah tepat atau belum namun untuk saat ini, Dira hanya ingin mengikuti apa kata suaminya saja. Terlepas dari apapun yang melatarbelakangi pernikahan mereka, Dira yakin pernikahan mereka adalah sah dan benar adanya. Dira hanya sedang mencoba menyerahkan takdir hidupnya pada sang suami. Berusaha menjadi isteri yang baik saja. Sisanya biar Zachary dan Tuhan yang mengaturnya.
Bersambung...