Bab 8

1146 Kata
" Jadi apa alasanmu belum mau berhenti kerja?" tanya Zachary sambil menyetir menuju kantor Dira. Dira diam saja. Bingung harus menjawab apa. " Aku terlalu egois, ya? minta kamu berhenti dari pekerjaan yang kamu sukai?" Zachary ingin sekali Dira berhenti saja bekerja agar bisa ikut kemanapun dia pergi. Bukannya ingin memonopoli kehidupan sang isteri tapi Zachary punya alasan yang kuat kenapa menginginkan hal tersebut. Kehidupannya sering berpindah bukan hanya karena urusan pekerjaan tapi juga karena urusan keluarganya yang memang memilih gaya hidup yang seperti itu sejak dulu. Namun ada juga alasan lain iaitu egonya sendiri. Sebagai laki- laki, Zachary ingin Dira bergantung padanya. Zachary sangat percaya diri mampu menghidupi Dira dan neneknya dengan sangat layak. Zachary bahkan sudah berencana untuk memboyong keduanya ke rumahnya sendiri. " Kamu nggak percaya kalau aku bisa menghidupi kamu dan nenekmu?" tanya Zachary terdengar sangat lucu ditelinga Dira karena pastinya jika menilik dari segi ekonomi, Zachary lebih dari sekedar mampu untuk menghidupi mereka. " Kamu nggak egois kok dan aku percaya kamu bisa." jawab Dira tidak memuaskan Zachary. Bukan jenis jawaban seperti itu yang diinginkan oleh Zachary. " Nanti aku fikirkan lagi." sambung Dira. Zachary cuma tersenyum mencoba mengerti. " Kalau kamu masih tetap bekerja nanti kita harus LDR." Dira tidak masalah kalau harus tinggal terpisah dari Zachary. " Aku nggak mau kita berjauhan. Kita harus tetap sama- sama agar bisa menggantikan waktu pacaran yang tidak ada dalam hubungan kita." Ada benarnya juga. Tapi Dira tetap saja merasa berat jika harus segera berhenti sekarang. Tawaran dari Zachary sangat menggiurkan. Dira tidak perlu bekerja tapi tetap dapat jatah bulanan yang lebih besar daripada gajinya. Dira hanya perlu menjadi isteri Zachary saja, begitu yang Zachary katakan saat mereka baru sehari menikah. Zachary tidak akan menuntut Dira melakukan pekerjaan rumah tangga karena Zachary sudah punya orang yang akan melakukannya. Tugas di dapur dan di sumur sudah dia delegasikan pada orang lain, Dira hanya bertugas di kasur saja. Terdengar begitu indah seperti impian banyak wanita. Tapi Dira tetap tidak berani untuk memutuskan cepat- cepat menerima tawaran tersebut. Bukannya Dira mau sok jual mahal. Hanya saja Dira meragukan ada kehidupan seperti itu di dunia ini, terlebih dirinya yang akan menjalaninya. Dira merasa tidak pantas. Hal lainnya yang Dira takutkan adalah kemungkinan terjadi sesuatu yang bisa membuat rumah tangga mereka tidak berjalan lama. Bukan bermaksud berfikiran buruk pada Zachary namun sampai saat ini mereka belum membicarakan tentang Laura dengan tuntas. Selain dengan kenyataan kalau Laura pergi sebelum pernikahan dilangsungkan tidak ada lagi keterangan lainnya yang meyakinkan Dira kalau Laura tidak akan kembali meminta posisinya nanti. Menimbang banyak hal yang belum dibicarakan secara tuntas jadi wajar membuat Dira mengambang juga. Janji yang Zachary ucapkan saat malam pertama mereka tidak sepenuhnya menjawab semua tanya yang ada dibenak Dira. Dibandingkan mempercayai Zachary sepenuhnya, Dira lebih tepat disebut membayar tanggung jawab sebagai anak seorang Astari semata. Dira tahu dirinya tidak akan mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Astari tapi tidak punya keberanian juga untuk menanyakan secara detail pada Zachary maupun mertuanya. " Aku kerja dulu." pamit Dira setelah mobil menepi di depan kantornya. " Telfon kalau sudah selesai, nanti aku jemput." " Tidak usah, aku bisa pulang naik ojek." " Aku yang jemput." tegas Zachary tidak mau dibantah. " Tapikan kamu mau bertemu teman - temanmu, takutnya...." " Nanti aku jemput, Dira." potong Zachary tampak kesal. " Baiklah..." jawab Dira mengalah. Semakin lama Dira berdiri didepan mobil Zachary semakin besar kemungkinan dilihat oleh rekan- rekan kerjanya. Dira melambaikan tangannya sebelum beranjak. Zachary membalas dengan senyuman. Dia tidak langsung pergi tapi menunggu sampai Dira ruangan kantor yang sangat sederhana dimata Zachary. Dia tidak tahu kantor tersebut bergerak dibidang apa tapi sepertinya Zachary mengenali pemiliknya. # Menjelang malam barulah Zachary mendapatkan pesan dari Dira untuk dijemput. Dira bilang tadi sempat lembur sebentar karena pekerjaannya sedikit menumpuk gara- gara ditinggal beberapa hari. Dira tidak menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya sehingga minta libur mendadak. Dira cuma bilang ada urusan keluarga saja. Dira bahkan melepas cincin kawinnya agar tidak menjadi tanya bagi orang - orang, terutama bagi Reina dan kak Wati yang lumayan kepo. " Sudah nunggu lama ya?" tanya Dira begitu masuk ke dalam mobil. " Nggak, baru sampai." jawab Zachary yang langsung menghadiahi sebuah kecupan didahi Dira. Tubuh Dira sempat menegang sesaat sebelum kembali rileks. Dira masih belum terbiasa dengan sentuhan yang tiba -tiba padahal sudah sering mengalaminya bahkan rasanya Dira juga menyukainya. " Langsung pulang atau mau mampir dulu?" " Terserah kamu saja." jawab Dira menimbulkan senyum penuh makna di bibir Zachary. " Oke, terserah akukan?" " Memangnya kamu mau kemana? " Dira sama sekali tidak menduga kalau malah Zachary yang ingin mampir ke suatu tempat. Seharian pergi apa belum cukup baginya? " Lihat saja nanti." Dira menggerakkan bahunya pasrah. Salahnya juga yang mengatakan terserah tadi. Zachary memandang Dira geli. " Mana cincin, kamu?" tanya Zachary tiba- tiba. Dira menatap Zachary gugup," aku lepas tadi." jawabnya sembari mencari didalam tasnya. begitu menemukan cincin berlian bergaya solitaire itu, Dira buru- buru memasangkan dijari manisnya. Zachary membuang nafasnya kasar. Jelas sekali terlihat berusaha membuang rasa kesal yang muncul tiba - tiba. Dira sudah siap menerima ungkapan kekesalan ataupun kemarahan dari Zachary namun tidak kunjung terdengar. Zachary mengatupkan bibirnya dan mengarahkan pandangannya lurus ke depan. " Maaf..." cicit Dira menambah rasa kesal yang dirasakan oleh Zachary. Dugaannya benar kalau Dira sengaja melepasnya agar tidak dilihat oleh orang lain dan pastinya orang lain itu rekan kerjanya sendiri. Apa sebenarnya yang disembunyikan oleh Dira setelah sebelumnya dia bilang tidak sedang menjalin hubungan dengan seseorang. Zachary diam saja mendengar permintaan maaf dari Dira, ia justru mempercepat laju mobilnya kearah yang berlawanan dengan arah rumah Dira. Zachary menghentikan mobilnya tepat didepan hotel tempatnya kemarin menginap. Setelah memberikan kunci mobilnya pada petugas hotel, Zachary membuka pintu didekat Dira. Tanpa bicara Zachary menarik perlahan tangan Dira agar mengikutinya. Zachary tidak melapor ke petugas resepsionis tapi langsung saja masuk ke kamar. Dira jadi tahu kalau kamar tersebut masih disewa oleh Zachary. Begitu Dira masuk ke kamar yang sama dengannya, Zachary langsung menutup pintu dan menghimpit tubuh Dira ke pintu. " Zach, kau..." Dira tidak bisa menyelesaikan ucapannya karena Zachary sudah lebih dulu melumat bibirnya. Dira ingin berontak namun cepat menyadari kalau ego Zachary sedang terganggu. Pria itu perlu menyalurkan emosinya. Zachary akhirnya melepaskan pagutannya. Dira jadi tersenggal- senggal kehabisan nafas. " Aku merasa dirimu sedang menjaga jarak agar kita tetap berada ditempat yang sama Dira, selangkah aku maju maka selangkah kau mundur." ucapnya kecewa. Dira merasa bersalah melihatnya. Ia tidak bermaksud demikian. " Aku...." ucap Dira bergetar. Zachary membuang pandangannya. Tidak sanggup melihat Dira ketakutan. Tapi wajahnya kembali tertuju pada wajah wanita didepannya. Dira yang melakukannya. Dengan kedua tangan mungilnya, Dira memaksa Zachary menatap padanya. Zachary terpaku menerima perlakuan Dira. Bingung dengan apa yang akan dilakukan wanita yang telah berhasil mengobrak - abrik perasaannya. Rasa penasaran Zachary segera terjawab saat Dira menyatukan bibir mereka lalu mencium Zachary dengan cara yang sangat berbeda. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN