Bab 7

1151 Kata
Seminggu kemudian Dira bisa kembali ke tanah air bersama suami dan kedua mertuanya. Ternyata sebelum pulang ke kediaman keluarga mama Dewi, Zachary memutuskan untuk menginap dulu beberapa malam di sebuah hotel ternama atas saran dari orang tuanya. " Aku mau pulang saja kerumah." kata Dira sepeninggal mertuanya. " Kenapa?" tanya Zachary terkejut dengan perubahan sikap Dira padahal saat mamanya mengusulkan untuk memperlama sewa kamar, Dira cuma diam jadi Zachary berfikir kalau Dira setuju dengan rencana tersebut. " Cutiku sudah habis, besok aku harus kembali masuk kerja." Zachary kian terkejut mendengarkan penuturan Dira yang masih bekerja. Setahunya, Dira sudah resign dari kantornya seperti yang ibunya katakan. " Kamu belum berhenti kerja ya?" Dira menggeleng," Semuanya begitu mendadak jadi aku tidak bisa memutuskan dalam kondisi seperti itu." Zachary membenarkan pilihan Dira yang berhati- hati dalam mengambil keputusan terlepas dari keputusan mereka menikah tentunya. " Kalau begitu kita ke rumahmu saja." " Jangan.... " tolak Dira. Jelas sekali dia enggan mengajak Zachary ke rumahnya. Zachary tidak mengerti kenapa Dira menolaknya. Zachary ingin tahu juga tempat tinggal Dira selama ini. " Kamu sebaiknya tetap tinggal di hotel saja." Zachary menatap Dira kecewa. Penghalang tak kasat mata yang dibangun oleh Dira membuat perasaannya kembali tak nyaman. Zachary menganggap hubungan mereka sudah berjalan dengan semestinya dengan saling membuka diri. Namun Dira mungkin menganggapnya tidak demikian... mungkin belum... " Nanti bagaimana kalau mama sampai menanyakan kamu?" Hanya itu yang bisa Zachary jadikan alasan untuk mencegah keinginan Dira pulang ke rumahnya sendirian. " Bilang saja sejujurnya." Zachary kembali tak menyangka dengan jalan fikiran sang isteri. Apa yang akan difikirkan oleh keluarganya nanti kalau mereka sampai tahu. Pengantin baru kok pisah rumah. Zachary juga tidak mau tidur sendiran di hotel. Dia sudah mulai terbiasa memeluk perempuan itu. " Aku tidak bisa bilang begitu nanti mama pasti rewel dan mencari jawaban sendiri. Dia pasti mengira aku tidak mau menemani kamu pulang kerumah." Dira tampak berfikir. Melihat karakter sang mama mertua, sangat mungkin hal tersebut bisa terjadi. Tidak heran kalau mama Zachary akan datang ke rumahnya nanti. " Kamu benaran mau ke rumahku saja?" tanya Dira ragu. Zachary mengangguk," Tentu saja, Rumahmu juga berarti jadi rumahkukan?" Rasa antusiasme yang di tunjukkan oleh Zachary terasa berlebihan oleh Dira. Tapi Dira tetap menganggukkan kepalanya. " Baiklah kamu ikut saja ke rumah, kalau nanti kamu nggak nyaman kamu bisa kembali ke hotel menunggu sampai keberangkatan ke rumah mama." Dira mengalah saja. Ada baiknya ia mengajak Zachary saja untuk dikenalkan pada nek Romlah serta melihat seberapa mampu pria itu beradaptasi dengan kehidupan sederhana yang selama ini Dira jalani. # Sesampainya mereka di rumah, Dira dan sang nenekpun berpelukan haru. Zachary juga melakukan hal yang sama. Memeluk tubuh wanita tua yang sangat berjasa pada sang isteri. " Apa kabar, nek?" tanya Zachary ramah membuat nek Romlah menatap heran. Dira tersenyum tipis pada sang nenek. " Dia bisa kok bahasa Indonesia, sangat bisa malah," kekehnya," Dia itu cuma separuh bule, separuh lagi orang Indonesia." Nek Romlah tersenyum lega. Dia sempat khawatir tidak akan bisa berbicara dengan cucu mantunya andai yang bersangkutan tidak bisa berbahasa Indonesia karena kalau mengharapkan dirinya bisa berbahasa Inggris tentu saja tidak bisa. Berbahasa Indonesia saja dirinya tidak terlalu fasih. Zachary turut tersenyum melihat interaksi Dira dan neneknya. Zachary bisa merasakan betapa dekatnya hubungan keduanya. " Kalian istirahat saja dulu. Nenek mau ke dapur buat masak. Kalian datangnya dadakan jadi nenek belum masak sama sekali." " Tidak perlu masak segala nek, nanti malam kita makan di Balai kota saja." sebut Dira mengacu pada tempat mangkalnya para penjual aneka makanan saat malam hari. " Iyakah? apa kita tidak makan dirumah saja?" " Iya nek, sekalian mau ngajakin Zachary melihat- lihat daerah sini." " Zachary? kamu manggil suamimu nama saja toh? mana boleh begitu? nggak sopan." Dira menatap neneknya dan Zachary bergantian. Dira tahu Zachary menahan senyuman geli mendengar nasehat sang nenek. " Aku sudah minta dia manggil mas... tapi Diranya belum mau padahal aku ini setengah Indonesia, lho..." Dira melongo menyadari omongan Zachary yang sedang menggodanya. Sepertinya Zachary orangnya tidak sekaku yang Dira duga, terbukti beberapa kali dia menggoda Dira. " Ikutin kata suamimu biar nggak kualat." ucap nek Romlah sebelum menghilang ke balik dinding dapur. Dira menatap Zachary sejenak. Dira tidak jadi mengeluarkan kalimat protesnya karena merasa tidak perlu juga toh sang nenek sudah pergi. " Ayo masuk, kamu perlu lihat kondisi kamarku dulu sebelum memutuskan mau menginap disini atau balik lagi ke hotel." Zachary mengikuti langkah kaki Dira yang memasuki kamar pertama di rumah sederhana tersebut. Tampaknya cuma ada dua kamar saja Selain ruang tamu dan ruang keluarga yang merangkap jadi satu serta ruangan tempat sang nenek menghilang yang dipastikan sebagai dapur. Kamar tidur tersebut tentu saja tidak pernah dilihat oleh Zachary sebelumnya. Selain karena ukurannya yang sangat mini juga karena sebelumnya Zachary tidak pernah punya kenalan yang tinggal di rumah sangat sederhana seperti rumah Dira. Selain ada tempat tidur ukuran queen, ada juga sebuah lemari baju serta sebuah meja yang merangkap sebagai meja belajar dan meja rias. Sangat sederhana namun tertata rapi dan bersih. Membuat mata nyaman melihatnya. Sebagai pendingin udara ada sebuah kipas angin yang menggantung diatas plafon. Zachary langsung merebahkan tubuh besarnya diatas tempat tidur Dira yang terlihat semakin kecil saja. " Nyaman kok... aku mau disini saja." ucap Zachary sambil tersenyum. " Kalau kamu tidak nyaman jangan dipaksakan ntar nggak bisa tidur." " Aku nyaman- nyaman saja, apa kamu yang merasa terganggu?" Meski tidak yakin dengan jawaban Dira akan jujur namun Zachary tetap tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. Dira tidak segera menyangkal berarti dugaan Zachary tidak salah. " Bukan terganggu seperti yang kamu fikirkan." Jelas Dira," Kamu pasti belum pernah berada ditempat seperti ini sebelumnya jadi wajar kalau aku merasa ragu saat kamu bilang nyaman." Zachary tersenyum, setidaknya keraguan Dira tidak bermaksud untuk mendorongnya pergi. Diraihnya tangan Dira yang menggantung karena posisi Dira yang berdiri sejak tadi. Zachary menggenggamnya pelan," Aku oke, kamu tidak usah mengkhawatirkan hal yang tidak perlu begitu. Aku malah nggak sabar untuk mencoba tempat tidur kamu ini." Dira melototkan matanya," Stt... jangan ngomong begituan, ntar orang lain dengar." Zachary pasti tidak kefikiran kalau suaranya bisa saja didengar bukan hanya oleh sang nenek tapi juga tetangga yang lain karena rumah mereka yang jaraknya sangat berdekatan. " Ingatkan aku nanti untuk tidak membuatmu bersuara ya." sebut Zachary yang langsung dihadiahi pukulan oleh Dira. Pembicaraan macam apa itu. " Kamu nggak lupakan kalau suaramu itu sangat keras saat sedang bergairah." bisik Zachary masih cukup terdengar tanpa mendekatkan telinga. " Hentikan..." peringat Dira geram bercampur malu," suaramu juga tak kalah kerasnya." ucap Dira tertahan. " Kamu benar, aku mengakuinya nyonya." jawab Zachary tak tahu malu. " Abisnya rasamu' enak banget." Zachary mengucapkan kalimatnya dengan menaik turunkan alisnya. Dira merinding mendengar kalimat m***m yang keluar begitu mudah dari mulut Zachary. Dira harus membiasakan dirinya untuk sering mendengarkan kalimat semacam itu mulai sekarang. Dira yakin tidak apa-apa baginya mendengarkan kalimat tersebut asalkan cuma berasal dari Zachary saja, suaminya sendiri. Bersambung....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN