Kindness

1762 Kata
" Ki, tau nggak kemarin aku ketemu siapa di restaurant?" tanya Tiara. " Siapa?" " Yang punya kontrakan!" seru Tiara heboh. Kiran yang masih sibuk menyetrika kemeja kantornya nampak cuek saja dan tidak begitu menaruh perhatian akan pembicaraan saudarinya tersebut. " Kirannn... Kamu dengerin nggak sih?" tanya Tiara gemas karena merasa tidak ditanggapi oleh adiknya. " Dengeeer... Trus kenapa emang kalau ada si ibu di restaurant kamu kerja? Kan dia emang orang kaya. Nggak heran kan kalau dia makan disana." " Iya, nggak heran. Tapi masalahnya, dia tuh kesana sama bapak- bapak!" " Lah trus? Kan dia juga udah ibu- ibu. Anaknya aja hampir seumuran kita. Apanya yang heboh sih?" tutur Kiran sambil.mulai mengenakan kemejanya dan mulai bersiap- siap. " Tapi nih Ki, masalahnya tuh dia datang sama laki orang. Bapak itu sering datang sama istrinya, kok." " Temennya kaliii..." " Ya kaliii, teman sambil sender- senderan. Trus dikasi diamond loh Ki. Aku lihat!" " Ya bagus dong" " Dan malamnya nih ya... Ibu itu tuh datang sama berondong" Kiran menatap Tiara dengan tatapan mengejek sambil tersenyum. " Kenapa?" tanya Tiara heran dengan ekspresi Kiran saat ini. " Ya habisnya kamu tuh kayak paparazzi aja. Kamu tuh kerja yang bener. Nggak usah jadi cctv berjalan dan perhatiin semua orang yang datang." jawab Kiran sambil mencubit lembut pipi mulus Tiara. " Ih tapi bener Ki..." " Ya ponakannya kali!" " Emang ponakan bisa dinner berdua sambil pegangan tangan? Sambil senyum- senyum malu gitu?" " Ya nggak tau..." " Aku yakin cowok itu tuh semacam gigolo deh. Tapi sumpah deh Ki, cakep banget. Bodynya bagus, ganteng, gagah. Pokoknya worth it banget kalau si ibu mau ngabisin duit buat dia." " Kenapa nggak nyari cowok modelan gitu juga?" " Aku???" tanya Tiara heran dan Kiran mengangguk sambil mengoleskan selai pada rotinya. " Kalau dia nggak kaya aku masih mikir- mikir" jawab Tiara dengan percaya diri dan membuat Kiran tertawa. " Pede banget" " Iyalah Ki. Aku tuh, eh maksud aku, kita tuh nggak jelek. Aku nggak terlalu butuh cowok yang cakep. Yang ada aku malah makan hati." " Trusss??" ejek Kiran. " Aku malah lebih pentingin cowok mapan cenderung kaya. Jelek ataupun tua juga nggak masalah selama dia bisa manjain aku. Aku nggak akan makan hati, kebutuhan kita terpenuhi, hidup kita lebih baik. Kamu juga bisa nyari kerjaan yang lebih santai dan lepas dari bos aneh kamu. " jawab Tiara dengan bangga. " Trusss???" " Ya kita jadi orang kaya deh..." " Oke. Sementara kamu asik mimpi. Aku mau ke kantor aja. Hari ini aku banyak kerjaan." " Ki, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." " Apaan?" " Aku... Aku udah putus" " Serius?" tanya Kiran sambil memakai sepatu kerjanya. " Iya. Dia bilang kalau kami nggak sama." ucap Tiara dengan lesu dan itu membuat Kiran tidak senang. Kiran lalu mendekatinya dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. " Berarti dia emang nggak pantas dan nggak baik buat kamu. Beruntung kamu lepas dari orang kayak gitu. Kalau dia beneran sayang sama kamu, dia nggak akan bilang hal itu sama kamu. Disini kamu bisa lihat, kaya itu nggak menjamin kamu bahagia" tutur Kiran dengan lembut dan bijak. " Iya, mama..." jawab Tiara dan mereka berdua malah tertawa bersama meski ada air mata di sudut mata keduanya. Mereka sama- sama tahu hal ini akan selalu terjadi pada mereka. Diremehkan, dihina, dan dipandang sebelah mata hanya karena status sosial mereka. *** " Halo, bu Elly..." jawab Kiran ketika menerima panggilan telepon dari sang mantan asisten. " Mbak Kiran, maaf saya ganggu..." " Oh nggak bu, saya baru aja sampai kantor." ucap Kiran sambil meletakkan tas miliknya dan menyalakan layar komputer di atas mejanya. " Ya ampun mbak Kiran... Saya nggak tahu harus ngomong apa" seru ibu Elly penuh semangat. " Kenapa bu? Ada apa?" tanya Kiran sedikit panik. " Semoga mbak Kiran sehat selalu, semoga urusannya selalu dimudahkan, semoga semua hal baik terjadi sama mbak. Saya senang banget mbak" " Ma... Makasih bu. Tapi ada apa?" tanya Kiran heran. " Ini saya udah di jalan mau berangkat kerja mbak. Semalam saya di telepon atas referensi mbak Kiran. Makasih banyak atas bantuannya mbak." jawab Ibu Elly girang. " Tapi... Tapi saya nggak ngerti maksud ibu. Pekerjaan apa yang ibu maksud?" " Pasti mbak nggak mau saya tahu kan kalau ini atas bantuan mbak karena mbak terlalu rendah hati. Tapi orang yang menelepon saya semalam bilang kalau ibu Kiran yang merekomendasikan saya. Terima kasih banyak mbak" Kiran semakin mengerutkan keningnya tidak mengerti karena seingatnya ia belum melakukan apapun untuk mencarikan ibu Elly pekerjaan baru. " Tapi pekerjaan apa bu?" " Perusahaan katering besar mbak. Yang biasa melayani urusan katering perusahaan mbak Kiran kerja. Anak saya dan saya juga ditanggung biaya kesehatannya, gajinya lebih dari cukup, dan pekerjaan ini memang cocok untuk saya mbak. Sekali lagi terima kasih. Saya senang banget." jelas ibu Elly yang Kiran yakini sekarang sedang tersenyum bahagia. " Syukurlah kalau begitu bu. Ibu hati- hati ya" ucap Kiran akhirnya karena mulai paham akan apa yang terjadi. " Iya mbak. Kalau gitu sudah dulu, mbak Kiran sehat- sehat ya mbak. Sampai jumpa mbak" " Iya, bu. Sampai ketemu lagi." Kiran lalu mematikan ponselnya dan mengulum senyumnya. Ia tahu ini semua perbuatan siapa. Dan iapun menyesali sikapnya pada orang tersebut semalam. Kiran lalu membuka ponsel miliknya dan membaca ulang pesan yang masuk untuknya tadi malam. -- Bagaimana asisten kamu?-- -- Sesuai kemauan bapak, sekarang dia sudah pengangguran-- Kiran lalu berjalan menuju pantry dengan niat ingin membuat secangkir kopi untuknya dan Abian sebagai tanda permintaan maaf dan perdamaian. Ia tahu ia seharusnya tidak bersikap seperti itu karena Abian adalah atasannya dan ia tidak boleh memaksakan pendapatnya pada pria tersebut. Setelah selesai, Kiran yang membawa nampan berisi kopi untuk Abian tersebut bertemu Ivy dan bertanya akan keberadaan atasan mereka saat ini. " Ada sih di ruangannya tapi bapak lagi sibul dan nggak boleh diganggu sama sekali." ucap Ivy sesuai permintaan Abian tadi sebelum masuk ke ruangannya. " Gitu ya..." ucap Kiran lesu. " Ya udah, ini kalau kamu sempat, tolong kasih ini ke pak Abian." ucap Kiran menyodorkan nampannya. " Kenapa? Kamu habis di marahin bapak ya?" " Saya yang udah marahin pak Bian soal asisten saya. Dan mungkin bapak masih marah karena saya nggak sopan." " Ya udah. Biar nanti saya bawa masuk." " Makasih ya..." ucap Kiran lalu kembali berjalan menuju meja kerjanya. Tanpa Kiran ketahui, Abian sejak tadi melihat gerak geriknya dari cctv yang berada tepat di atas meja kerja Ivy. Kiran duduk di meja kerjanya dengan tidak bersemangat. Ia membuka layar ponselnya dan melihat kembali pesan Abian semalam dan merasa semakin bersalah. " Kiran... Kiran... Bisa nggak sih kamu tuh ngomong seadanya aja? Kamu terlalu banyak omong tau nggak?!" bisiknya pada diri sendiri dan mulai bekerja meski ia sangat sulit berkonsentrasi hingga jam istirahat makan siang. Kiran lalu mulai berjalan menuju ruangan Abian dan melihat meja Ivy sedang kosong dan mencoba mendekati ruangan Abian dan membuka pintunya setelah mengetuk sebanyak dua kali. Ia senang karena Abian sedang duduk membelakanginya dan mulai melangkah masuk ke dalam. Namun Abian ternyata sedang berbicara dengan seseorang lewat telepon dan memutar kursinya menghadap Kiran yang nampak salah tingkah. Abian bahkan memberikan isyarat jika ia sedang menelepon dan meminta Kiran agar tidak menggangunya dulu serta datang lagi nanti saja. Kiran yang mengerti hal tersebut hanya bisa mengangguk lesu dan berjalan keluar dengan perlahan. Tepat disaat pintu ruangan tersebut sudah tertutup. Abian langsung meletakkan ponselnya di atas meja dan tersenyum simpul melihat tingkah Kiran hari ini. *** Beberapa orang karyawan nampak menyapa Kiran sebelum meninggalkan gadis tersebut di meja kerjanya meski mejanya sudah nampak rapih. " Pokoknya saya harus bicara sama pak Bian hari ini juga. Harus!" ucap Kiran lalu berdiri dari kursinya dengan penuh semangat. Ia lalu berjalan dengan cepat menuju ruangan Abian dan mengetuknya sekali serta langsung masuk meski belum dipersilahkan oleh Abian. " Pak Abian, saya mau bicara sama bapak." Abian yang melihat kedatangan Kiran langsung berdiri dan memasukkan ponselnya ke dalam saku bagian dalam jas yang ia pakai. " Maaf saya ada janji penting malam ini. Saya buru- buru" " Tapi pak, apa bisa bapak tunda sebentar? Saya sejak tadi menunggu untuk bisa bicara sama pak Bian. Sejak pagi, makan siang, habis meeting tadi. Tapi saya tidak bisa bicara sama bapak" ucap Kiran. " Baik. Kalau sangat penting, saya dengarkan" ucap Abian sibuk memakai jam tangan miliknya dan tidak begitu menghiraukan Kiran. " Sebentar saja pak... Sini saya bantu" jawab Kiran yang refleks menarik pergelangan tangan Abian dan membantunya memasang jam tangan miliknya tersebut. Hal yang membuat Abian tiba- tiba merasakan getaran yang aneh hingga matanya bahkan tidak berkedip menatap gadis tersebut. " Sudah pak" Abian lalu terhenyak dan kembali memasang wajah seriusnya pada Kiran yang nampak sangat berharap bisa bicara dengannya saat ini. " Baik, saya dengar. Ada hal penting apa?" " Ng... Ini penting tapi tidak begitu penting juga pak" Mendengar hal tersebut, Abian menaikkan sebelah alisnya. " Saya... Saya hanya mau bilang terima kasih dan saya minta maaf pak. Terima kasih atas bantuan bapak" " Bantuan? Bantuan apa?" tanya Abian. " Ng... Kenapa bapak tidak mau menunjukkan kebaikan bapak sama orang lain?" tanya Kiran tulus dan membuat Abian memutar tubuhnya untuk duduk di sisi meja kerjanya dan diikuti oleh Kiran yang berdiri tak jauh dari hadapannya. " Well, saya hanya nggak mau orang mengharapkan saya berbuat baik setiap saat." jawab Abian singkat. " Pak, saya tahu bapak yang merekomendasikan ibu Elly ke katering perusahaan dan bilang atas nama saya." " Dengar, Kiran... Ini bukan tempat yang cocok untuk ibu Elly. Kamu melakukan kesalahan dengan membawanya ke sini dan mempekerjakan dia. Tapi kamu sudah memperbaiki kesalahan kamu dengan memberhentikan dia bekerja. Kamu nggak sadar tekanan yang sudah kamu kasih ke dia. Dia sangat memaksakan diri melakukan hal yang tidak bisa dia lakukan dan sangat sulit untuk dia pelajari." jelas Abian dengan bijak dan lembut. Kiran hanya mengangguk membenarkan ucapan Abian. " Dan saya hanya mengarahkan dia ke satu tempat dimana saya tahu dia bisa lebih bisa bekerja dengan baik sesuai kemampuannya. Dan saya yakin dia pasti sangat senang dengan pekerjaan barunya." Kiran mengangguk dan tersenyum. " Iya pak. Dia senang. Sangat senang. Saya juga sangat senang." " Saya tahu." Mereka lalu hanya saling memandang beberapa detik dengan penuh makna tanpa ada yang mau berbicara lagi. Seolah mereka sama- sama saling menyelami diri satu sama lain. " Saya... Saya harus pergi. Saya ada janji" " Iya pak." Abian lalu melangkah menuju pintu ruangannya namun kembali menoleh ketika Kiran memanggilnya. " Pak Abian..." " Kenapa?" " Hati- hati pak..." (" Sure, baby...") batin Abian sambil tersenyum manis dan mengangguk singkat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN