Kiran

1401 Kata
Abian sedang berada di sebuah makan malam bersama keluarganya ketika ia sedang bosan mendengarkan sang kakak yang terus memberikan nasehat agar ia cepat menikah dan tidak terlalu sibuk dengan pekerjaan. " Aku juga nggak enak sama Winny kalau kamu nggak jelas gini Bi. Dia tuh kebingungan sendiri pas tahu kamu udah ada disini tapi nggak pernah menghubungi dia." " Mbak, aku cuma liburan 1 tahun di luar dan baru pulang lebih dari seminggu ini. Aku nggak sempat" bela Abian pada dirinya. " Kamu nggak sempat atau memang nggak mau?" tanya Arisa sinis. " Aku nggak mau sempat" jawab Abian cuek. " Bian! Kamu nggak boleh gitu! Winny itu calon yang pas buat kamu, dia cantik, mapan, ka---" " Bentar mbak, aku harus telepon ke kantor dulu" sela Abian sambil menelepon ke kantornya yang ia yakini bahwa seluruh karyawan telah pulang. " Selamat malam" sapa Abian ramah dan mencoba menjauh dari meja makan dimana saudari dan keponakannya kembali menikmati hidangan di piring mereka. " Selamat malam pak" " Bagaiman laporan kamu? Sudah selesai? Hari ini tinggal tersisa beberapa jam lagi" ucap Abian mengejek. " Oh... Iya pak. Tentu saja sudah. Saya juga baru saja keluar dari kantor." ucap Kiran berbohong sambil menatap penampakan meja kerjanya yang sangat berantakan. " Oh ya? Kalau begitu bisa saya periksa besok pagi?" tanya Abian curiga namun ia yakin Kiran berbohong padanya. " Bi... Bisa pak. Bisa" jawab Kiran sambil menepuk keningnya dengan pelan. " Bagus. Sampai jumpa besok pagi. Selamat malam" ujar Abian akhirnya sambil menggelengkan kepala dan tersenyum. Ia lalu kembali menekan nomor telepon lainnya sebelum kembali duduk dan melanjutkan makan malamnya. " Ya ampun Kiran. Ini kapan selesainya?" ucap Kiran pada dirinya sambil mengikat rambutnya untuk kembali melanjutkan pekerjaan yang seolah tak kunjung usai. " Permisi mbak Kiran. Ini kopinya" ucap seorang security yang tiba- tiba datang dengan segelas kopi di tangannya. " Maaf pak, tapi saya nggak minta kopi." " Iya mbak, saya disuruh pak Abian" " Pak Abian?" tanya Kiran dengan heran. " Iya mbak. Tadi pak Abian yang telepon" jawab si security. " Oh... Ka... Kapan pak Abian telepon?" tanya Kiran lesu. " Baru aja mbak. 5 menit yang lalu sepertinya. Saya tinggal ya mbak. Semoga kerjaannya cepat selesai" " Iya pak. Makasih ya" Kiran lalu menunduk lesu dan merapatkan keningnya di meja dan membenturkannya dengan lunglai. " Kiran bego... Malu- maluin aja" gumamnya. *** Kiran semakin mempercepat larinya menuju pintu lift yang hampir tertutup sambil memakai kartu identitas karyawannya dengan tergesa- gesa. " Ma--- af" ucapnya ketika ia berhasil membuat pintu lift tersebut kembali terbuka dan menampakkan sosok pria tinggi atletis dan tampan dengan mata coklat setajam elang tersebut. Abian tidak mengucapkan apapun namun ia hanya sedikit mengangguk pada Kiran. Kiran lalu masuk dan berdiri di samping Abian dengan mencoba terlihat tenang meski sebenarnya ia sangat gugup entah karena apa. Suasana hening sesaat sampai Abian melirik jam tangan mahalnya dan menatap pada Kiran yang berdiri dengan tenang di sampingnya. " Kamu terlambat" ucap Abian singkat dan tegas yang membuat Kiran langsung melihat pada jam tangan miliknya. " Tapi ini baru jam 8 pak." bela Kiran. " Jam 8 lewat 3 menit tepatnya. Jangan membantah dan jangan kamu ulangi lagi" Kiran bahkan menggigit bibir bawahnya menahan kesal dengan ucapan sang atasan barusan yang menurutnya sangat tidak masuk akal dan sangat menggemaskan untuk ia bantah. " Tidak akan pak" jawab Kiran akhirnya. " Bagus. Siapkan file yang kamu kerjakan semalam dan bawa ke ruangan saya. Sekarang" ujar Abian lagi sebelum akhirnya ia keluar dari lift dengan gagahnya namun membuat Kiran makin kesal. " Robot... Robot... Robot" gumamnya. Begitu keluar dari lift, Kiran tidak lagi membuang waktu dan dengan segera meletakkan tasnya dan mengambil map yang telah ia siapkan sejak semalam dan berjalan cepat menuju ruangan Abian. Tok Tok " Masuk" " Permisi pak, ini laporan yang bapak minta" Abian lalu membuka map yang Kiran sodorkan dan membacanya dengan seksama. Sambil menunggu Abian memeriksa laporannya dengan serius, Kiran menatap Abian dan tidak bisa memungkiri jika atasannya tersebut sangat tampan. Wajahnya perpaduan Eropa dan Asia dengan bentuk tubuh, kulit, dan wajah yang bagai artis ternama luar negeri. Dan satu lagi, pria ini sangat wangi dengan suara berat dan tatapan mengintimidasinya. Tanpa sadar Kiran memperhatikan Abian makin dalam. Rambutnya selalu tertata rapih yang membuat ia selalu nampak segar seperti orang sehabis mandi. Jas yang dipakainya selalu pas di tubuhnya bagai model yang memperagakan setelan jas mahal khas desainer ternama. " Sepertinya tidak ada masalah" ucap Abian sambil meneguk kopinya yang membuat lamunan Kiran terhenti. " Oh... Iya pak. Terima kasih" jawab Kiran sambil membereskan map di hadapan Abian. " Saya harap kamu tidak sampai harus begadang sampai pagi untuk ini" " Tidak pak. Saya tidak begadang sampai pagi" " Tapi kamu pasti pulang kemalaman. Bagaimana kopinya? Enak?" tanya Abian yang kini menatap Kiran tepat di manik matanya. " Ng... Pak... Saya... Saya benar- benar malu sama bapak soal semalam" " Andai kamu jujur, kamu tidak perlu malu kan? Sekarang kamu tahu kesalahan kamu kan?" " Iya pak. Maaf" jawab Kiran lesu. " Bagus. Minta data logistik per hari ini, dan masukkan ke dalam laporan kamu untuk pengecekan langsung." " Baik pak" " Hubungi Falcon Industry dan informasikan kalau kita masih mempertimbangkan tawaran mereka. Saya masih harus memeriksa beberapa hal dulu mengenai kerjasama ini" " Baik pak" " Tidak kamu catat dulu?" tanya Abian heran. " Tidak perlu pak. Saya bisa menghafalnya dengan cepat" Abian mengangguk paham. " Baik, itu saja... Dan jangan lupa jam 8 malam kamu sudah harus ada di Pyrus Hotel untuk pemberian plakat penghargaan karyawan" " Malam ini pak?" " Kiran, saya tidak suka mengulang ucapan saya dua kali. Jadi coba untuk mengerti di kali pertama saya berbicara." ujar Abian serius. " Saya mengerti apa yang bapak bilang tadi tapi saya hanya tidak mengerti sama bapak" jawab Kiran yang membuat Abian semakin menatapnya. " Maksud kamu?" " Mungkin saja bapak hanya tidak mau mendengar ucapan orang lain misalnya alasan mereka, sama seperti bapak tidak suka mengulang ucapan bapak pada orang lain." Abian mengangguk namun raut wajahnya masih serius pada Kiran. " Kamu cepat tanggap. Kamu bisa menjawab dengan cepat. Bahkan lebih dari yang diperlukan." " Maaf pak. Maaf kalau saya keterlaluan dan--" " Bagus. Dan kamu harus tahu kalau kamu tidak bisa bersikap seperti itu sama saya." " Kamu boleh pergi dan jangan sampai terlambat lagi malam ini" lanjut Abian. Kiran lalu menumpuk berkas di atas .eja Abian dan membawanya sambil berguman kecil di dekat Abian. " Saya tidak akan telat dan tadi pagi saya juga tidak telat" *** " Ya ampun, gimana ini? Kenapa sih mesti kasih tahu di jam- jam terakhir gini" keluh Lena sambil mencoba kembali menekan nomor ponsel yang ada di tangannya. " Ada apa Len? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kiara pada Lena yang duduk di depan kubikelnya. " Ini loh... Orang yang ngantar plakat ke hotel tiba- tiba mobilnya rusak. Aku coba telepon ulang tapi sepertinya teleponnya mati. Kalau sampai pak Bian tahu aku bisa kena marah" " Kenapa mesti marah? Kan bukan salah kamu" tanya Kiran yang membuat Lena memutar bola matanya. " Kamu kayak nggak tahu pak Bian aja" " Iya sih. Trus kita harus gimana?" " Aku juga sejak tadi nyari orang yang bisa bantuin aku tapi semua orang sibuk untuk acara nanti malam. Dan pak Bian nggak berhenti telepon untuk mastiin semua udah sempurna." " Ada yang bisa saya bantu?" tanya Kiran tulus karena memang saat ini pekerjaannya telah selesai dan dia tadinya hanya ingin pulang sebentar untuk berganti pakaian. Lagipula, acara penghargaan ini adalah untuk karyawan yang telah lama bekerja di perusahaan tersebut. Jadi ia tidak terlalu ikut andil dalam acara tersebut. " Gini... Aku tahu ini bukan tugas kamu. Tapi... Apa kamu bisa..." ucap Lena sedikit ragu. " Bisa... Saya bisa kok. Biar saya yang ambil." " Beneran? Kiran kamu yakin bisa?" " Iya... Kamu kirimin nama dan alamat tokonya. Biar saya langsung kesana dan akan bawa plakatnya langsung ke hotel" " Kamu yakin? Tapi kalau pak Bian tahu kita semua bisa dapat masalah" ujar Lena tidak yakin. " Ya ampun Lena, pak Bian mau tahu dari mana? Kamu pergi aja siap- siap, nanti kalau sampai di hotel, saya kabarin kamu" " Makasih banyak ya... Daritadi aku buntu banget. Lihat, Ivy telepon lagi." " Ya udah, saya jalan sekarang. Kirimin alamatnya ya." " Makasih ya... Makasih banyak" seru Lena ketika Kiran mulai berjalan menuju lift dan hanya melambaikan tangan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN