Kiran kemudian menutup kotak tersebut dan membawanya sambil berjalan menuju ruangan Abian. Bahkan ia langsung membuka pintu ruangan Abian tanpa mengetuk terlebih dahulu. Abian yang sedang menyesap kopinya menatap Kiran yang kini sudah berada di dalam ruangannya dengan ekspresi yang sulit untuk ia baca. " Kamu nggak mau dengerin aku, jadi aku putusin untuk menulis aja. Karena kamu pasti bakalan membacanya." ucap Abian dengan tersenyum hangat masih dalam posisi duduknya. Kiran menatap Abian yang terlihat tulus dan mengangguk dengan samar hingga tak sadar matanya berkaca- kaca. Ia tidak menyangka Abian akan begitu peduli dengan pendapat dan perasaannya. Abian lalu berdiri dan mendekati Kiran ketika melihat mata indah kekasihnya tersebut nampak basah dan seolah akan menangis. " Sayang, ka

