6. Putraku yang tidak laku

1081 Kata
Mendengar kata ranjang, Reno seketika terbelalak. Ia menggelengkan kepalanya cepat saat mendengar kegilaan Marvin masih saja sama, bahkan pada calon istrinya sendiri.   “Jangan gila, Vin! Jadi kamu akan membuka ‘itu’ sebelum kalian menikah?” Reno menekankan kata itu, karena mereka sama-sama tahu bagaimana kebiasaan satu sama lain.   “Kita lihat saja nanti! Tapi jika aku sudah tidak tahan, mau tidak mau dia harus...”   Bibirnya mengatup seketika saat pria bertubuh tinggi dan masih terlihat gagah di usianya itu masuk dan menatap tajam ke arahnya. Marvin langsung berdiri, memberikan kode untuk Reno agar segera meninggalkan ruangannya.   “Ada apa Pa? Kalau ada hal penting, harusnya Papa langsung telepon aku dan tidak susah-susah datang kemari,” Marvin langsung bersuara dan menghampiri Anggoro, tentu saja hal itu untuk berkamuplase dari niatnya itu.   “Ck! Sejak kapan sikapmu jadi seperti ini, Vin?” Anggoro melirik Reno sekilas, “Apa dia salah minum obat siang ini, Reno?” cibirnya secara terang-terangan.   “Reno! Keluar, aku ingin bicara empat mata dengan putra ku yang tidak laku ini,” cibir Anggoro pada Marvin.   “Baik Pak!”   Dengan cepat pria itu keluar dari ruangan CEO tersebut. Di balik pintu, ia hanya bisa menghela napas, berdo’a, semoga niat Marvin tidak tercium oleh Papanya. Semoga. Pria itu lantas kembali pada ruangannya, tentu saja untuk mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda karena ia harus pergi keluardan mencari informasi secara langsung mengenai gadis bernama Zeze itu.   Sedangkan diruangannya. Setelah kepergian Reno, Anggoro langsung duduk di kursi kebesaran Marvin, sejenak memejamkan matanya. Di sanalah Marvin emlihat apa yang selama ini tidak pernah ia lihat. Wajah Anggoro yang semakin menua terlihat jelas saat ia menutup mata. Nampak tenang, namun membuat Marvin sadar jika selama ini ia terlalu acuh dan tidak melihat betapa orang tuanya semakin menua setiap harinya.   “Apa kamu tahu Marvin, perjodohan ini tidak akan pernah putus! Papa sudah berjanji akan menjodohkan mu jika anak Krisna perempuan. Dan jika anaknya laki-laki, Papa akan menjadikan memberikan kehidupan dan pekerjaan untuknya,” jelas Anggoro dengan mata yang masih tertutup rapat.   “Tapi kenapa, pa? Kenapa Papa bisa mengambil keputusan sebesar ini tanpa berunding dulu denganku?” Marvin akhirnya duduk dan mencoba untuk mencari tahu kenapa semua ini terjadi padanya.   “Tiga puluh tahun yang lalu. Saat Mama akan melahirkan mu, mobil Papa mengalami rem blong, tapi saat itu jalanan sedang sepi dan Papa hanya berdo’a semoga pilihan papa menabrakan mobil pada pohon tidak akan berakibat fatal untuk kalian,” Anggoro terdiam, membayangkan bagaimana malam petaka dan pertemuan pertamanya dengan Krisna terjadi.   Marvin akhirnya duduk tepat di depan mejanya sendiri, ada rasa penasaran yang besar saat melihat Anggoro begitu menghayati ceritanya itu.   “Lalu apa yang terjadi setelah itu?”   “Mobil itu papa benturkan pada sebuah pohon tua, dan benturan itu membuat Mama mu syok dan mengalami perdarahan. Tapi di saat yang tepat Krisna datang dan langsung membawa Mama mu ke rumah sakit. Dan lahirlah kamu, anak nakal yang suka bergonta-ganti wanita,” ujung ceritanya sungguhu membuat Marvin mendengus kesal.   “Jadi Papa datang kemari hanya untuk menceritakan itu saja?” tanya Marvin.   Anggoro lantas membuka mata dan kembali menatap tajam putra semata wayangnya itu. Ia hanya menggeleng saat melihat Marvin masih saja belum mengerti dengan tujuan mengapa ia menceritakan kisah itu.   “Kamu seorang CEO muda, harusnya kamu mengerti!” Anggoro ingin putranya sedikit lebih peka, tapi ternyata ia gagal. “Papa ingin kamu tidak berulah, sampai Zeze mau menerima perjodohan ini. Ingat pengorbanan Mama mu dan kebaikan dari Krisna.”   Tidak ingin emosinya naik, Anggoro memutuskan untuk meninggalkan ruangan putranya dan kembali ke kediamannya. Setidaknya ia sudah menyampaikan apa yang harus diketahui dan dipatuhi oleh putranya itu.   “Arghh...!! Kenapa aku harus terjebak dengan semua hal mengenai gadis kecil itu?” Marvin hanya bisa menggerutu kesal setelah Anggoro memintanya untuk tidak berulah.   ***   Sementara itu, Zeze saat ini baru saja menggeliat dan mulai membuka matanya. Gadis itu melirik jam dinding dan ia cukup terkejut saat tahu berapa lama ia tertidur. ‘Kenapa gak ada yang bangunin gue,” gumamnya dengan merapihkan rambutnya.   Tidak berselang lama, terdengar sebuah ketukan pada pintu dan ia melirik sekilas siapa yang ada di balik pintu itu.   Tok, tok, tok... “Ze, lo udah bangun belum?” “Hmmm...” sahutnya singkat. Mendengar adanya jawaban, Ajun memilih untuk membuka pintu lebar dan segera masuk. Tapi baru saja ia masuk satu langkah, sebuah bantal sudah mengenai kepalanya dengan cukup keras. “Keluar lo!! Siapa yang suruh lo masuk?” “Lo tega banget sama gue Ze,” Ajun kembali mundur dan tetap diam dibalik pintu. “Ze, emang lo lagi nagapain di dalam? Jangan-jangan lo nggak pake baju ya?” “Jangan mikir yang jorok-jorok! Mau gue cuci pake detergen anti noda tuh otak lo?” teriak Zeze dari dalam. Mendengar perkataan Zeze, pria itu hanya tertawa terbahak. Otaknya ternyata disamakan dengan kain yang harus dibersihkan oleh detergen anti noda. “Lo lagi ngapain sih Zezee...” “Gue baru bangun, Jun! Belum sempet cuci muka, emang ada apa sih, Jun?” Lagi-lagi Ajun tertawa. Selama ini ia tahu betul bagaimana gadis itu, tidur, bangun, bahkan sisa-sisa tidurnya saja ia tahu. Dan sekarang, hanya karena ia belum mencuci mukanya sampai harus melempar ia dengan sebuah bantal. Sungguh tega! “Emang apa bedanya Ze? Lo udah cuci muka atau belum itu sama aja. Lihat lo ileran juga gue udah pernah, jadi buat apa lagi lo malu-malu gajah!” “Sial! Kenapa gue bisa lupa kalau selama ini gue sering numpang tidur di kostnya dia. Arghh...” Dengan malas dan wajah bantalnya, akhirnya Zeze keluar dari ruangan tersebut dan berdiri dihadapan Ajun. Menatap pria itu dengan tajam dan mengangkat alisnya beberapa kali. “Ada apa? Cepetan, gue mau ke kamar mandi?” “Ini, tadi ada orang yang dateng ke sini, katanya dia butuh orang buat lawan anak didiknya!” Ajun memberikan kartu nama yang Reno berikan padanya. “Terus, gue harus ngapain?” Bukannya menjawab, Ajun menatap gemas Zeze dan langsung menjentika jarinya di kening gadis itu. “Sakit, Ajun! Lo apa-apaan sih?” ia mengusap keningnya yang terkena pukulan Ajun, dan menggerutu kesal dengan sikap kasar sahabatnya itu. “Cuci muka!! Kalau isi otak lo udah balik lagi, cari gue di depan!” Akhirnya Ajun memilih untuk kembali berkumpul dengan yang alinnya dan memeriksa beberapa motor yang baru saja tiba. Sedangkan Zeze, gadis itu memutuskan untuk membasuh wajahnya untuk menyegarkan diri. “Dasar Ajun! Gue baru bangun udah di bikin pusing. Nyebelin!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN