Setelah menyegarkan diri, gadis itu memutuskan untuk segara menemui Ajun. Selama ia berada dalam kamar mandi, Zeze mencerna perkataan sahabatnya itu dan mulai mengerti.
Dengan perlahan, ia mendekati Ajun dan mencolek lengan kekar pria itu sedikit. “Jun... heheh,” sapa Zeze dengan tersenyum lebar.
“Apa lo? Senyum-senyum, udah sadar sekarang?” bentak Ajun.
“Sensi banget sih, Jun!” seru Zeze santai. “Lagi PMS ya?”
“Berisik!”
Jangan panggil dia Zeze Angelin jika ia tidak bisa membuat sahabatnya itu kembali bersikap baik padanya. Karena itu adalah keahliannya. Tentu saja, Zeze adalah sahabat terbaik yang pernah dimiliki Ajun, dan ada sesuatu di dalam persahabatan itu.
“Ya udah, kalau gitu gue balik aja deh. Percuma saja kan ada di sini tapi kayanya kecoa yang dibenci,” ujarnya dengan melangkah.
“Arghhh... Zeze, tunggu!”
‘Yess...’ seru gadis itu dalam hati.
Pada akhirnya mereka berdua duduk bersama. Ajun menjelaskan apa yang telah dikatakan Reno, tapi ada perasaan aneh saat mendengar jika bayaran yang akan diterimanya jika menang bisa sesuai dengan keinginannya.
“Kalau menurut gue lebih baik lo tolak saja, Ze. Gue takut tuh orang punya niat nggak baik sama lo,” tukasnya setelah menjelaskan segalanya.
Tidak ada jawaban dari gadis itu. Zeze masih memikirkan tawaran yang menggiurkan itu dan ia sangat yakin jika ia meraih kemenangan, siapapun yang akan menjadi lawannya. Kesempatan tidak akan datang dua kali dan mana mungkin ia akan melewatkan hal baik ini.
“Gue siap, Jun! Lagipula lo tahu kan, sekarang ini gue butuh uang buat bayar kuliah dan yang lainnya. Lo tentuin aja, kapan dan dimana.”
“Lo yakin Ze?”
“Yakin banget!”
Ajun hanya bisa menghela napas berat saat mengetahu jika Zeze menerima tawaran pria asing bernama Reno itu. Dengan cepat ia menghubungi Reno dan memastikan waktu dan tempat dimana Zeze akan melawan anak didiknya itu.
Kesepakatan telah dibuat, dan itu artinya Zeze hanya harus bisa sampai digaris finish dan ia akan mendapatkan apapun yang ia inginkan.
***
Reno saat ini sedang berada disebuah rapat penting bersama Marvin. Mereka duduk berdekatan, untuk memudahkan Reno membantu Marvin menyiapkan apa yang ia butuhkan.
Rapat sore ini berjalan cukup alot, tentu saja membuat Marvin geram dan memberikan kode pada Reno agar semua kejenuhan ini bisa cepat diselesaikan.
Marvin mengirimkan sebuah pesan pada Reno. Untuk sejenak mereka beradu tatap, tapi tidak berselang lama Marvin memilih untuk menyudahinya dengan alasan yang sangat sederhana. Toilet. Sedangkan Reno, pria itu hanya bisa menggerutu kesal dalam hatinya. Lagi-lagi ia harus berhadapan dengan pria seperti Hartono.
Tidak berselang lama, gawai milik Hartono berdering dan entah apa yang membuat pria itu langsung menyudahi meeting mereka. Tapi sepertinya pria itu memiliki janji penting yang tidak bisa lagi ditunda olehnya.
“Maafkan saya Pak Reno, tapi sepertinya metting hari ini cukup sampai di sini dan untuk metting selanjutnya akan saya jadwalkan kembali,” jelasnya dengan tergesa.
“Tidak masalah Pak Hartono! Lagi pula urusan Bapak itu pasti sangat penting bukan? Jadi semoga semua urusan bapak berjalan dengan baik.”
“Terima kasih Pak Reno, kalau begitu saya permisi dan tolong sampaikan salam maaf saya untuk Tuan Marvin.”
“Sama-sama, pak. Nanti akan saya sampaikan.”
Selepas kepergian Hartono, Reno melonggarkan dasi yang sudah terasa mencekiknya. Ia menyandarkan punggungnya dan menarik napas dalam. Setidaknya ia butuh bersantai untuk beberapa menit.
Tapi sayangnya Reno tidak bisa merasakan hal itu. Baru saja ia terdiam beberapa menit dengan pikirannya yang mulai tenang, sebuah suara kembali mengganggunya dan membuat ia terpaksa harus membuka matanya lebar.
“Nomor tidak dikenal,” gumamnya pelan, ingin menolak tapi sayangnya ia tidak boleh melakukan itu karena bisa saja ini adalah telepon penting.
Dengan santai Reno menjawab panggilan tersebut, sudut bibirnya terangkat seketika saat ia mendengar jika kabar baik yang sudah ditunggu oleh Marvin. Tapi sayangnya ia harus mencari cara agar semua rencananya dengan Marvin berjalan sempurna.
“Kalau begitu tentukan tempat dan waktunya! Dan tolong pastikan jika tempat itu aman, setidaknya saya bisa menjamin anak didik saya agar tidak tertangkap polisi saat balapan nanti.”
Saat perbincangannya dengan Ajun telah usai, Reno bergegas bangkit dan menyusul Marvin ke ruangannya. Setidaknya ia tidak akan bicara lebih leluasa jika bertatap muka.
***
Reno saat ini sudah berdiri di depan ruangan Marvin. Ia lantas masuk dan sayangnya ruangan itu sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda dari keberadaan bosnya di ruangan tersebut.
Tidak ingin menerka-nerka, Reno akhirnya menghubungi Marvin. Entah apa yang saat ini sedang dilakukan Marvin, namun pria itu sama sekali tidak menjawab panggilan Reno.
“Lo dimana? Ada kabar baik, calon ibu bos masuk perangkap!”
Reno mengirimkan pesan itu. Setidaknya Marvin bisa membaca pesan yang Reno kirimkan pada ponselnya. Waktu jam pulang kantor sudah tiba, dan Reno memutuskan untuk pulang lebih awal dan pergi berkencan dengan wanita-wanitanya.
Setelah memutuskan untuk meninggalkan ruang rapat, Marvin memutuskan untuk pulang dan membersihkan diri. Setidaknya malam ini ia akan bersenang-senang sebelum ia sibuk dengan gadis bernama Zeze Angelin. Di apartemennya, Marvin saat ini sedang berusaha untuk menjaga jarak dengan seorang top model yang sedang naik daun. Pikirannya masih saja berputar pada lingkaran yang sama, pekerjaan dan rencananya bersama Reno.
Pria itu tanpa sengaja pernah mendekati sang model, tapi ia tidak menyangka jika Tania akan terus mendekatinya, bahkan dengan terang-terangan menawarkan diri padanya.
“Marvin... Apa kamu tidak ingin menikmati ranjang ini lagi dengan ku?” goda Tania.
Wanita itu terus saja bergelayut manja. Jemari lentiknya mulai menggoda, menyentuh d**a berotot Marvin dan mengusapnya lembut. Sangat lembut. Berharap jika Marvin akan membalasnya.
“Hentika ini Tania! Aku harus kembali bekerja sekarang,” Marvin beralasan.
“Bekerja?” ulang Tania dengan tubuh yang semakin ia rapatkan pada Marvin. “Kalau begitu aku juga ingin bekerja dengan mu, sekarang juga.”
Tania bisa dikatakan adalah wanita buas dan dominan. Wanita itu langsung menarik Marvin lebih dekat dan mendorong pria itu ke atas ranjang dengan alas putih yang terbuat dari sutra.
Tanpa basa-basi, Marvin sedikit bermain-main dengan Tania, tapi saat wanita itu benar-benar terlena ia dengan tega mencampakannya begitu saja. Bukan salahnya jika Marvin melakukan itu. Sudah sangat jelas, jika Ia harus bekerja. Bekerja untuk bisa membuat rasa Zeze masuk ke dalam perangkapnya."Marvin! Kamu mau pergi kemana?" Tania berusaha untuk menahan pria itu."Aku akan pergi bekerja! Bukankah sudah aku katakan sejak awal," jelasnya dengan nada yang dingin.Marvin menyambar jas miliknya, tapi sebelum itu ia mengambil sebuah kotak dari dalam lemari dan melempar kotak tersebut pada Tania."Aku harap benda itu bisa membantu mu!"Tania mendengus keras saat melihat Marvin meninggalkan Ia yang sudah hampir kehilangan kewarasannya.
***
Marvin dengan cepat pergi meninggalkan apartemen miliknnya untuk menghindari kontak dengan Tania. Selain itu, Marvin juga ingin mmebahas beberapa hal dengan Reno mengenai Zeze dan rencana untuk menjebak gadis itu.Ia semakin tidak sabar. Harga dirinya yang merasa ternodai karena penolakan gadis itu membuat Marvin semangat untuk bisa menaklukan gadis itu, dan setelah Ia jatuh dalam pesonanya, Marvin akan menghempaskan gadis itu begitu saja. Ini memang kejam, tapi sampai detik ini Marvin tidak berniat untuk memiliki seorang istri.Sesekali ia melihat kamera pengawas yang ia pasang dalam kamar partemennya. Marvin haya berdecak pelan saat melihat jika Tania masih berada dalam apartemen miliknya. Apa yang ia lihat pada layar benda pipih itu cukup membuat kepalanya pening. Tania masih saja bergulat dengan benda yang Ia berikan.
"Wanita itu! Seharusnya aku tidak mendekati ular betina seperti dia," gumamnya pelan.Marvin lantas mematikan video tersebut dan menghubungi Reno. Ia menunggu cukup lama, tapi sayangnya hanya nada dari operator yang menjawab panggilannya tersebut."Hah! Sibuk? Dia benar-benar keterlaluan."Marvin akhirnya mengirimkan sebuah pesan, paling tidak Ia bisa memberikan ancaman untuk Reno agar pria itu bisa datang dan menemaninya malam ini. Bukan hanya itu, Marvin memiliki tujuan lain, Ia merasa penasaran dengan sosok Zeze yang sudah berani menolaknya.Sosok gadis seperti apa yang menyukai dunia balap motor dan ugal-ugal di jalan tengah malam. Pikirannya sedikit negatif untuk Zeze, meskipun Ia tidak tahu bagaimana Ia sebenarnya.Karena tidak mungkin bagi Marvin kembali ke apartemennya, akhirnya Marvin memutuskan untuk pergi ke klab malam untuk sedikit bersenang-senang.Sudah lama ia tidak menikmati dunia malam, dan Ia merasa malam ini harus pergi ke tempat tersebut. Sesampainya di klab malam tersebut, Marvin meminta sang sopir untuk menunggunya. Mungkin malam ini Ia akan pulang dalam keadaan mabuk dan sangat berbahaya baginya jika Ia menyetir sendiri.Marvin langsung disambut oleh dentunam musik dan aneh yang bercampur dengan wewangian. Ia lantas masuk dan sosok pria seperti Marvin langsung menjadi incaran para wanita-wanita buas di tempat tersebut.**
Di jalanan, saat ini balapan sudah dimulai. Beberapa joki bahkan sudah berkumpul dan bersiap untuk mendapatkan uang, begitu pula dengan Zeze.Malam ini ia mencium wangi uang yang cukup besar, dan tentu saja Ia tidak akan melewatkan malam yang berharaga ini."Malam ini lawan mu berat!" bisik Ajun."Bodo amat!""Coba lihat di sana," Ajun menunjuk seornag pria berbadan besar yang siap untuk ikut balapan liar malam ini."Wow... Itu benar-benar lawan yang berat!" gelak tawa sudah tidak dapat dihindarkan lagi dan itu membuat mereka menjadi pusat perhatian."Malam ini jalanan rame banget, Jun! Gue yakin kita bakalan dapet banyak."