8. Aku ini pria dewasa

1157 Kata
“Jangan sentuh aku! Menjauhlah,” ucapnya dingin.   Tangan yang mulai bermain menyusuri d**a bidang Marvin seketika menjauh dna mundur perlahan, memberikan akses jalan untuk Marvin meninggalkan tempat tersebut.   Untuk malam ini ia akan pulang menuju kediaman Anggoro. Sudah sucuk lama ia meninggalkan rumah tersebut, dan malam ini entah angin apa yang membawa Marvin untuk pulang.   Selama perjalanan menuju kediaman Anggoro, Marvin tanpa sengaja melihat sebuah kerumunan orang yang begitu mencurigakan tapi ia sama sekali tidak ingin turun dan melihat ada hal apa yang terjadi di sana. Kepalanya sudha cukup berat, dan bisa saja mereka adalah orang-orang yang ingin melakukan tipu daya.   “Dasar manusia tidak berguan! Malam-malam seperti ini mereka masih saja berkumpul di jalanan,” gumamnya dengan kesadaran yang mulai menurun. Dan tanpa ia sadari, ia pun sama seperti mereka yang ada di jalanan itu.   Satu jam berkendara, akhirnya Marvin sampai di kediaman Anggoro. Ia hanya tersenyum lebar saat para penjaga langsung membuka gerbang saat melihat kedatangan mobil mewah milik pria itu.   “Selamat malam Tun Marvin.” “Malam, apa Mama dan Papa ada di rumah?” “Ada Tuan, mereka baru saja tiba setelah menghadiri pesta pernikahan,” jelas sang penjaga.   Mendengar kata pernikahan, Marvin mengumpat keras. Malam ini seharusnya pria itu turut hadir dalam resepsi tersebut, tapi nyatanya pikirannya teralihkan oleh gadis muda bernama Zeze Angelin. “s**t! Kenapa aku bisa sampai lupa jika malam ini acara resepsi itu berlangsung,” gumamnya kesal.   Tanpa banyak berkata lagi, Marvin segera memarkirkan mobilnya dan berusaha untuk setenang mungkin dihadapan kedua orang tuanya. Meskipun ada satu hal yang tidak bisa ia tutupi, bau alkohol dan senyum nakalnya.   ***   Anggoro saat ini sedang duduk bersantai diruang kerjanya, ada beberapa file yang baru saja ia terima dan harus ia periksa segera. Pintu yang sedikit terbuka memperlihatkan jelas, jika ada sebuah bayangan yang melewati ruangan tersebut, membuat sudut bibirnya terangkat seketika.   “Anak itu...” gumam Anggoro.   Tidak ingin mengganggu putranya itu, Anggoro memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Karena Putra semata wayangnya itu akan ia urus belakangan.   Sedangkan Marvin, dengan langkah yang perlahan pria itu memasuki kamarnya. Ia sudah cukup lelah, dan tidak ingin mendengar ocehan dari kedua orang tuanya karena ia tidak menghadiri pesta.   Tanpa melepaskan sepatunya, pria bertubuh kekar itu langsung melempakan tubuhnya pada ranjang mewah dan empuk miliknya. Matanya sudah semakin berat, dan rasanya sudah tidak mungkin baginya untuk melakukan apapun lagi.   Entah apa yang terjadi pada pria itu, sekarang pikirannya terbagi pada sosok yang seharusnya ia benci, bahkan seharusnya ia melakukan pembalasan pada gadis itu, bukan justru berniat untuk membuat gadis itu menjadi lebih baik.   Apa mungkin ini yang dinamakan jodoh?   Semua akan terjawab seiring dengan berjalannya waktu. Karena setelah Zeze membubuhkan tandatangannya pada surat perjanjian yang Marvin buat, sudah dapat dipastikan jika gadis itu tidak akan bisa lepas begitu saja darinya.   Baru saja ia bisa terlelap, tiba-tiba sebuah tengan mengguncang tubuhnya dan membuat Marvin mau tidak mau harus membuka matanya.   “Hmmm... Ada apa sayang?”   “Sayang?!” teriaknya keras. “Bangun lo!! Ingat ya, di sini gue yang jadi majikan lo,” sambungnya lagi.   “Apa? Majikan? Sejak kapan aku hidup dibawah tangan orang lain?” gumam Marvin dengan mata yang masih tertutup.   Dengan cepat ia membuka matanya, dan ternyata itu hanya sebuah cuplikan mimpi yang sangat terasa nyata. Bahkan sentuhan tangannya begitu membekas, membuat Marvin segera duduk dan menatap nanar jam dindingnya.   “Sial! Ternyata ini sudah pukul delapan pagi,” gerutu Marvin dengan mengacak rambutnya.   Dengan malas, pria itu bangun dari ranjangnya dan mulai berjalan menuju kamar mandi. Kepalanya yang sedikit berputar sama sekali tidak menjadi penghalang baginya untuk melakukan aktifitas dan menunda pekerjaannya.   Marvin duduk di atas kloset, cukup lama ia melakukan hal tidak berguna itu dan terus berdiam hingga beberapa saat. Penggalan mimpi yang berhasil membangunkannya benar-benar membuat ia bingung, apa mungkin hidupnya akan seperti dalam sepenggal mimpi itu?   Setelah pikirannya melayang jauh, membayangkan bagaimana jika sampai Zeze berani berulah dan menindasnya? Mengerikan dan tentu saja membuat Marvin bergidik ngeri, bagaimana bisa ia membayangkan dirinya akan di tindas oleh gadis itu. Tidak mungkin, karena pria sepertinya tidak akan pernah mudah untuk luluh dan bertekuk lutut pada seorang gadis sepertinya.   “Dia mungkin saja berani, tapi kita lihat saja nanti apa yang bisa aku lakukan padanya,” gumam Marvin disela duduknya itu.   Sudah cukup lama ia duduk di sana, dan akhirnya pria itu memutuskan untuk segera menyegarkan tubuhnya, sebelum suara melengking dari ibunda tercinta menyakiti telinganya.   ***   Di meja makan, saat ini Anggoro dan Karina sedang menikmati sarapan pagi mereka. Tidak ada hal penting yang mereka perbincangkan pagi ini, hanya sebuah kejutan kecil dari kedatangan putra tunggal mereka di meja makan.   “Pagi Ma, Pa?”   “Vin! Kapan kamu pulang? Mama nggak liat kamu semalam,” Karina menarik kursi kosong di sampingnya dan meminta Marvin duduk tanpa berkata apapun.   “Gimana Mama mau lihat Marvin, orang anak ini pulang larut malam. Teler juga, jadi ya langsung ngeloyor saja masuk ke kamar,” jelas Anggoro mendahului putranya.   Marvin terbelalak, semalam ia sama sekali tidak bertemu dengan siapapun tapi bagaimana bisa Anggoro mengetahui kedatangannya. Tapi Marvin tetaplah Marvin, pria dingin yang tidak pernah terpengaruh oleh perkataan siapapun.   Dengan santai, Marvin mulai mengambil beberapa lembar roti dan mulai mengolesi roti tersebut dengan selai kacang. Tidak ingin terlalu menanggapi Anggoro, pria itu justru sibuk menikmati sarapannya   “Marvin...” suara Karina sedikit meninggi.   “Ada apa Ma?” sahutnya dengan mulut yang penuh dengan roti.   “Apa benar yang Papa kamu bilang? Jawab mama Vin.”   Marvin segera menghabiskan makanan dalam mulutnya. Tapi sayangnya pria itu tidak langsung menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Karina. Hanya memilih untuk menghabiskan orange jus yang ada di hadapannya.   “Aku semalam pergi bersama Reno, dan ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan sampai akhirnya aku melupakan hal lainnya,” jelas Marvin.   “Lalu kenapa kamu harus sampai mabuk? Jangan bilang kalau kamu main perempuan!” Karina menarik tangan Marvin, agar ia bisa menelisik langsung pada kedua bola mata putranya itu.   “Ck! Aku ini pria dewasa, normal, dan tampan. Tapi aku sama sekali tidak melakukan itu semalam. Hanya sedikit minum dan setelah itu kami pulang.”   “Kalau sampai Mama dengar kamu main perempuan diluar sana, jangan harap mama akan mengakui kamu sebagai anak Mama.”   Bukan menjawab, Marvin memilih untuk meninggalkan meja makan dan langsung bergegas menuju kantor, kembali bergelut dengan pekerjaan yang tiada akhir. Tapi Marvin justru menyikai hal itu dan semua hal yang berbau dengan tantangan.   Dalam perjalanan menuju kantor, tiba-tiba saja suara dering ponsel menyita perhatiannya. Jalanan yang cukup padat, membuat pria itu memiliki kesempatan untuk menerima panggilan yang ternyata dari orang kepercayaannya—Reno.   “Hallo?”   “..............”   “Ingin bertemu? Kenapa mendadak seperti ini? Kalau begitu kirimkan saja alamatnya, aku akan memantau kalian dari jauh. Aku tidak mau sampai gadis itu tahu segalanya sebelum dia kalah dan menandatangani surat perjanjian itu,” jelas Marvin.   “...............”   “Aku tidak mau tahu! Jangan sampai dia curiga. Titik!”        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN