9. Nona Cantik

1131 Kata
Pukul sepuluh pagi, Reno sudah duduk sendirian di sebuah kafe yang tidak jauh dari bengkel milik Ajun. Sebenarnya ia tidak ingin berada ditempat ini, tapi karena Ajun dan Zeze ingin bertemu dengannya akhirnya ia memaksakan diri untuk datang ke tempat itu, tentunya dengan Marvin yang sudah siap dalam posisinya.   Berjarak satu meja dari Reno. Marvin saat ini duduk dengan santai, memegang sebuah majalan yang ia angkat sampai menutupi sebagian wajahnya, tentu saja ia melakukan itu hanya karena ingin tahu mengenai mangsanya.   “Pak Reno...”   “Ya, oh kalian. Ayo, silahkan duduk,” Reno melihat Ajun dan seorang gadis cantik berdiri di depannya.   “Terima kasih, Pak.” Reno hanya mengangguk sebagai balasan.   Dengan cepat, Reno memanggil seorang waiters dan membiarkan kedua tamunya itu memilih apapun yang mereka sukai. “Ayo, silahkan pesan apapun yang kalian suka. Jangan khawatirkan solah biayanya.”   Ajun mengangguk, sedangkan Zeze, gadis itu memesan makanan sesukanya, bahkan membuat Reno sempat terbelalak mendengar begitu banyaknya makanan yang dipesan Zeze. Tapi tentu saja pria itu hanya menyembunyikan rasa keterkejutannya, dan tetap tersenyum.   “Ze! Lo jangan malu-maluin gue dong. Jangan mentang-mentang ditawarin, lo pesan sesuka hati lo,” bisik Ajun pada Zeze.   “Diem Jun! Gue nggak mau nolak rejeki,” sahutnya cepat.   Ajun hanya bisa tersenyum kaku pada Reno, yang sejujurnya ia malu saat melihat sikap Zeze saat ini. Sedangkan gadis itu hanya tersenyum santai, seakan apa yang ia lakukan hal yang biasa saja.   “Sebenarnya waktu saya tidak banyak,” Reno mulai bicara, untuk membuat mereka Ajun dan Zeze mengerti betapa sibuknya ia.   “Maafkan saya pak Reno, sebenarnya tidak ada hal pentig. Hanya saja Zeze mau bertemu dengan Pak Reno, katanya dia mau bicara secaraa langsung,” jelas Ajun.   “Jadi begitu, apa ada hal yang tidak—“   “Dari mana anda tahu kalau saya suka jadi joki?” todong Zeze dengan wajah serius. Tentu saja hal itu membuat Reno semakin yakin dengan sesuatu mengenai gadis yang ada dihadapannya itu.   “Ahahah... Jadi hanya itu?” Reno balik bertanya. “Anak yang saya didik pernah beberapa kali keluar dan melihat mu menjadi Joki, sampai akhirnya dia mulai mencari tahu siapa dan bagaimana caraya agar ia bisa melawan anda nona cantik.”   Zeze tersipu malu, kedua pipinya merah merona saat mendnegar Reno memanggilnya nona cantik, tapi tidak berselang lama ia kembali menormalkan ekspresi wajahna. Sedangkan di meja samping, Marvin yang mendengar Reno menggoda Zeze hanya bisa berdecak kesal. Ia menggerutu, bagaimana mungkin sahabatnya itu bisa memuji dan memanggilnya dengan ‘nona cantik’, karena kata-kata itu sangat tidka cocok untuk perempuan seperti Zeze.   ‘Apa yang dia katakan, nona cantik? Mendengarnya saja aku ingin memuntahkan semua isi perutku,’ batin Marvin. Perbincangan terus berlanjut, bahkan diluar ekspektasi Reno. Sikap ceria yang ditunjukan gadis itu menular pada Reno, membuat suasana terasa berbeda. Sesekali mereka melempar canda, dan entah apa yang terjadi sampai akhirnya pria yang sedang membaca majalah bisnis itu akhirnya memutuskan untuk bergabung.   “Pak Reno...” sapa Marvin tiba-tiba berdiri tidak jauh dari Reno.   “P-pak Marvin, sedang apa anda di sini?” sadar akan kesalahannya, Reno mulai gelagapan.   “Saya sedang menunggu seseorang, tapi sayangnya orang itu tidak datang sampai saya harus menghabiskan kopi sebanyak dua gelas,” sindir Marvin.   “Bagaimana kalau saya ikut bergabung? Tentunya anda tidak akan keberatan bukan?” Marvin memberikan tatapan tajamnya pada Reno dan seketika pria itu mengangguk tanpa meminta persetujuan dari Zeze ataupun Ajun.   Setelah Marvin duduk, hawa disekita merek berubah dingin dan tidak ada lagi yang bicara, sampai tiba-tiba gadis itu mendesis pelan, kesal menunggu makanan yang tidak kunjung datang. “Bagaimana bisa pelayanan di sini begitu lama, gua udah lapar banget,” gerutu Zeze.   “Zeze, lo itu malu-maluin.”   “Biarin, memang benarkan kalau gue laper Jun?” Zeze membela diri.   Sedangkan Ajun hanya bisa geleng kepala dan tersenyum tipis pada dua pria yang ada di hadapannya. Sampai akhirnya dua orang waiters mendorong sebuah troli dan mulai menghidangkan semua pesanan Zeze di atas meja.   “Woahhhh... akhirnya datang juga,” seru Zeze dengan mata yang berbinar.   Marvin terbelalak, meja sudah sangat penuh dan semua makanan ini tidak akan mungkin habis meskipun mereka berempat memakan bersama-sama. Dengan perlahan, Marvin melirik Reno dan hasilnya ia hanya diberikan kedikan bahu, dan senyuman lebar dari Reno.   “Apa anda yang memesan semua ini Pak Reno?” tanya Marvin.   “I-iya Pak Marvin, saya sengaj—“   “Jangan bohong! Sebenarnya makanan ini gue yang pesan, bukan dia. Jadi kalau kita makan sama-sama gimana?” seru Zeze dengan wajah yang sudah tidak sabar ingin menyantap setiap hidangan yang tersedia.   Marvin menggeleng, ia memilih pergi. Sedangkan Reno harus tetap berada di sana dan menyelesaikan semuanya, setidaknya ia ingin menyanksikan bagaimana gadis kecil itu menghabiskan makanan sebanyak ini.   ***   Di luar kafe, Marvin saat ini sedang berjalan cepat. Sesekali ia terlihat menggelengkan kepalanya, tapi kakinya tetap melangkah menuju mobil yang tidak jauh.   Pria itu tidak habis pikir, bagaimana Papanya (Anggorro) bisa berpikir untuk menjodohkan seorang CEO muda yang karismatik sepertinya, pada seorang gadis remaja yang sama sekali tidak memiliki aturan, bahkan terlihat dengan jelas jika gadis itu berbicara dengan gaya yang tidak pernah ia sukai.   “Aku akan menolak perjodohan ini,” gumam Marvin dengan membuka pintu mobil dan meninggalkan kafe tersebut.   Tapi dalam perjalanan, surat perjanjian yang telah ia buat menjadi tidak berarti sama sekali jika menemui Anggoro dan menolak perjodohan ini secara langsung. Marvin kembali mengubah rencananya dan melaju menuju kantor.   Pria itu sempat melirik gawai yang ada dihadapannya, muncul sebuah pesan yang dikirimkan oleh Reno. Tapi Marvin sama sekali tidak menghiraukan pesan itu dan memilih fokus pada jalanan. Cukup santai ia berkendara, sampai ia berhenti karena lampu telah merah. Sesekali ia melirik kiri-kanan, dan akhirnya ia melihat sosok perempuan cantik yang sedang b******u mesra dalam sebuah mobil tanpa menghiraukan rasa malunya.   “Ck! Perempuan itu,” gumam Marvin dengan perasaan jijik.   Lampu telah hijau, dengan cepat ia menginjak gas dan melesat membelah jalanan pagi menjelang siang itu. Setibanya di kantor, Marvin langsung melempar kunci mobil mewahnya pada penjaga yang berdiri menyambut kedatangannya.   “Jika Reno sudah kembali, katakan padanya untuk langsung ke ruangan ku!” titah Marvin pada penjaga tersebut.   “Baik Tuan, akan saya sampaikan jika Pak Reno sudah tiba.”   “Bagus.”   Marvin mulai melangkah memasuki lobi gedung tinggi tersebut. Ia langsung di sambut oleh senyum ramah resepsionis dan beberapa stafnya yang memenga berada di sana. Semua orang yang melihat kedatangan Marvin seketika membungkukan tubuhnya, ada pula yang tersenyum berusaha untuk menggoda, namun yang mereka dpaatkan hanya sebuah tatapan tajam yang mengerikan.   Suara hentakan sepatu Marvin begitu menggema saat ia mendekati kotak besi yang khusus digunakan oleh para petinggi. Wajahnya masih saja tidak bersahabat, dingin dan mengerikan.   “Aku akan pastikan sikap kasarnya itu akan hilang setelah ia tahu siapa Marvin sebenarnya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN