Zeze Angelin, gadis itu saat ini sedang mempersiapkan diri untuk malam kemenangannya. Senyum di bibirnya terus saja merekah, membayangkan ia akan mendapatkan apapun setelah malam ini terlewati.
Sama seperti malam-malam yang telah lalu, malam ini perempuan itu telah menggunakan jaket hitam andalannya, celana jeans robek dan rambut yang sengaja di kucir kuda semakin menambah pesona dari perempuan itu.
Dengan santai, ia mulai keluar dari kost tersebut dan langsung mengetuk pintu kost Ajun, satu-satunya sahabat yang selalu bisa ia andalkan. Selalu pandai menjaga rahasia, dan selalu menjadi orang yang bisa ia pinjam pundak dan sofanya untuk perempuan itu menginap.
“Ajun...” panggil Zeze lembut.
“Gue di sini,” sahut Ajun dari belakang Zeze. Pria itu memang sudah lebih dulu keluar dari tempat kostnya dan memanaskan mesin motor untuk siap meluncur di jalanan yang panas yang dipenuhi dengan uang.
“Siap menang?” Ajun menatap Zeze.
“Tentu saja siap! Kalau gue menang malam ini, lo adalah orang pertama yang akan gue kasih bonus. Oke gak?”
Ajun hanya mengacungkan jempolnya dan tersenyum sangat lebar. Ia menyerahkan helm SNI full face pada perempuan itu dan sarung tangan untuk melindungi jemari mulus Zeze. Selama ini, Ajun adalah pria yang selalu memberikan semua keamanan untuk perempuan itu. Bahkan tanpa Zeze sadari, hal kecil sekalipun tidak pernah luput dari perhatian pria itu.
“Ze, ayo naik!” saat ini Ajunlah yang mengendarai motor tersebut menuju tempat yang sudah disetujui oleh Reno dan Zeze. Akhirnya perempuan itu naik dan memeluk Ajun dengan erat, yang sontak saja membuat jantung pria itu bergemuruh hebat.
Tidak bisa dipungkiri, selama ini ia menyimpan rasa yang berbeda. Bukan hanya sebatas sahabat, tapi Ajun memiliki perasaan khusus yang selalu saja dianggap sebuah perhatian biasa oleh perempuan itu. Sudah sejak lama rasa itu hadir, namun sayangnya setiap kali Ajun mengatakan perasaannya, Zeze hanya menanggapi semua itu dengan senyuman dan tidak pernah jelas pada akhirnya.
Menolak atau menerima. Semua perasaannya itu seakan menguap dan hilang tertiup angin. Tidak ingin fokusnya berkurang, Ajun melepaskan pelukan Zeze dengan alasan yang sederhana. Sangat sederhana.
“Ze, lepasin tangan Lo, geli rasanya kalau lo meluk gue seperti ini.”
Gadis itu hanya mendesis pelan dan langsung melepaskan pelukannya. Kini tangannya hanya ia simpan di samping pinggang Ajun, dan tidak berpindah kemanapun sampai akhirnya motor melaju dengan kecepatan tinggi menuju jalanan yang sudah mereka setujui.
***
Di tempat yang sudah disepakati, saat ini Marvin sedang duduk dalam mobil mewah keluaran Eropa itu. Matanya terus saja berpedar, mencari sosok gadis yang sudah siap ia masukan dalam sangkar emas dengan semua peraturan yang sama sekali tidak boleh dilanggarnya.
Tidak jauh dari tempat mobil mewah milik Marvin terparkir, saat ini Reno sedang mengatur rencana untuk membuat jagoannya menang. Malam ini, Reno tidak ingin terjadi kesalahan apapun dan apa yang sudah mereka rancang harus berjalan dengan lancar.
“Ingat! Jangan sampai terjadi kesalahan apapun. Kalahkan perempuan itu dan semua akan menjadi milikmu sesuai yang tertera dalam pernjanjian itu.”
“Lo tenang saja, malam ini dia pasti akan menjadi nomor dua.”
Setelah percakapan itu selesai, suara motor begitu menggema mendekati mereka. Sosok Ajun dan Zeze semakin jelas, dan gadis itu benar-benar terlihat berbeda saat ia baru saja turun dari atas motor gedenya.
Dengan gaya khasnya, Zeze melepaskan pelindung kepalanya dan berjalan mendekati Reno. Sekilas ia menatap lawannya, dan mengulurkan tangan sebelum mereka turun dan bersaing. Tapi sayangnya uluran tangan Zeze hanya di balas oleh angin malam yang berhembus. Pria itu sama sekali tidak membalas uluran tangan Zeze dan memilih untuk menantang perempuan itu.
“Ternyata kamu sangat muda jika di lihat dari dekat. Malam ini aku akan mengalahkan mu, dan nikmati kekalahan mu!” katanya dengan nada mengejek.
“Balapan belum dimulai, tapi lo sudah sesombong ini?” Zeze tersenyum, “Kita lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi pemenang.”
Tidak ingin membuat moodnya hancur, Zeze memilih untuk mendekati Reno dan menyapanya. Setidaknya Reno terlihat berbeda, segar dan tentu saja ketampanan pria itu muncul kepermukaan dengan pakaian santainya.
“Hallo Pak Reno?”
“Hai Ze, Jun. Apa kamu sudah siap melawan anak didik saya?” tanya Reno.
“Tentu saja siap! Ini sama sekali tidak sulit dan aku yakin kalau aku bisa menang.”
“Wowww... Sangat percaya diri sekali! Tapi aku suka dengan rasa percaya diri yang seperti ini.”
Setelah merasa cukup menyapa Reno, Zeze segera mendekati Ajun dan mulai kembali memakai pelindung kepala yang ada di tangannya. Bukan hanya itu, malam ini Zeze sengaja memakai beberapa pelindung pada bagian tubuh lainnya.
Pukul 22.00, Zeze sudah duduk diatas motor gede milik Ajun dan tentu saja disampingya sudah ada motor yang akan menantang perempuan itu. Suara bising mulai saling bersahutan, menunjukan bagaimana garangnya mereka malam ini.
Karena malam ini hanya ada mereka, Ajunlah yang memandu. Ia berdiri di depan, ditengah jalanan dengan membawa sebuah kain. Pandangannya menatap lurus pada Zeze dan penantang asing itu, dan dalam hitungan ketiga kedua motor itu melaju dengan kecepatan tinggi. Suara bisingnya mulai tidak terdengar, hanya debaran jantung Ajun yang bergemuruh khawatir jika gadis itu terluka.
Beberapa menit telah berlalu, dari kejauhan terlihat dua buah cahaya lampu menyoroti Ajun dan Reno, tapi sayangnya mereka belum bisa memastikan siapa yang akan menjadi pemenang.
***
Sedangkan dalam mobil mewahnya, saat ini Marvin duduk dengan tenang menunggu kabar baik dari Reno. Tidak bisa ia pungkiri, jika gadis itu benar-benar menarik saat duduk di atas motor gedenya. Jantungnya tiba-tiba saja bergetar melihat hal itu, tapi sayangnya pria itu segera menepis perasaan itu.
Sebuah pesan masuk dalam gawai yang ia genggam. Tentu saja pesan itu berasal dari Reno, dan sebuah kabar baik akhirnya ia dapatkan. Zeze Angelin kalah telak, dan Reno segera meminta Marvin untuk bersiap.
Sementara tidak jauh dari tempat Marvin berada, saat ini Zeze benar-benar menundukan kepalanya. Tangannya mengepal kuat saat ia berhasil dikalahkan oleh penantangnya. Semua harapannya musnah seketika dan gadis itu terpaksa harus mengakui kekalahannya pada Reno dan pria itu.
Dengan menghela napas kasar, Zeze melepas pelindung kepalanya dan langsung mengulurkan tangan. “Selamat, lo emang pantas jadi pemenang,” kata gadis itu dengan suara yang sedikit tertahan.
“Ajun, ayo kita pulang. Semuanya sudah selesai!”
Pria itu mengangguk, dan langsung bersiap mengambil helm, memakainya cepat. Tapi suara vokal Reno berhasil mengehentikan langkah Ajun dan Zeze.
“Tunggu! Kenapa terburu-buru, kita masih harus menyelesaikan sesuatu.”
“Sesuatu? Bukannya aku tidak harus memberikan apapun?” tegas Ajun.
“Memang benar, tapi Zeze harus menandatangani surat perjanjian ini.”
Kening Ajun berkerut, semua ini sama sekali tidak pernah dikatakan Reno saat pertama mereka bertemu. Tapi Ajun ingat benar, jika Zeze kalah semua akan dibicarakan di arena balapan saat itu juga.
Tanpa membaca terlebih dulu, gadis menarik map dari tangan Reno dan itu langsung membubuhkan tanda tangannya, dengan cepat ia kembali menyerahkan surat perjanjian itu pada Reno.
“Apa kamu tidak mau membaca dulu semua isinya, nona cantik?”
DEG
‘Kenapa aku bisa lupa membaca isi surat perjanjian itu?’ batin Zeze.
Tapi saat Zeze berniat untuk mengambil kembali benda tersebut, Reno melarangnya dan langsung berjalan menuju mewahnya yang ada disebarang jalan.
“Sampai jumpa besok, nona cantik.”