Marvin saat ini sedang duduk merayakan kemenangannya. Ia menyiapkan beberapa botol minuman kesukaannya dan Reno, tentu saja semua kemenangannya ini tidak lepas dari campur tangan sahabatnya itu.
Malam ini ia benar-benar puas dan tidak lama lagi ia akan semakin puas memberikan pelajaran pada gadis kecil bernama Zeze Angelin. Saat sedang sibuk melihat sesuatu dilayar tabletnya, sudut bibir pria itu sedikit terangkat, menyeringai dengan sangat mengerikan. Sampai akhirnya suara panggilan dari Reno membuyarkan senyum itu.
“Tumben beruang kutub senyum! Sepertinya ada hal istimewa yang sedang kau lihat Vin. Apa kau tidak mau berbagi dengan ku?” goda Reno dengan tangan yang meraih gelas berisi minuman.
“Cih, sejak kapan aku mau berbagi dengan mu? Jangan pernah berharap lebih dari kebaikanku,” balasnya acuh.
“Aku juga sama sekali tidak tertarik dengan gadis mu itu, meskipun tidak dapat dipungkiri jika Zeze sangat cantik dan seksi.”
Tidak ada kata terucap dari bibir Marvin, hanya sebuah tatapan tajam yang ia berikan sebagai jawaban ‘gadis itu adalah milikku’, dan tentu saja Reno mengerti dengan tatapan itu. Ia mengangkat kedua tangannya dan tersenyum dengan menggelengkan kepalanya perlahan.
Wajah cantik gadis itu saat ini terpampang jelas, bahkan membuat Marvin lupa dengan tujuan awalnya membuat Zeze kalah di arena balapan. Tentu saja, siapa yang bisa menolak pesona dari gadis berabut panjang, tubuhnya semampay dan wajah cantiknya.
“s**t! Untung saja aku mengirimkan mobil yang sudah aku pasang penghalang untuk kacanya. Jika tidak, gadis itu bisa melihat siapa yang ada di dalam mobilku,” umpat Marvin dengan keras.
“Apa terjadi sesuatu?” Reno mulai penasaran.
“Kau lihat saja sendiri,” Marvin menyerahkan tabletnya dan membiarkan Reno melihat apa yang sedang dilakukan Zeze pada mobil yang ia kirim untuk menjaga gadis itu. Lebih tepatnya berjaga-jaga, karena Marvin terlalu khawatir jika gadisnya itu melarikan diri dari tempatnya saat ini.
Wajah Reno berubah seketika, ia nampak serius saat melihat Zeze mendekati kamera, bahkan sempat menutupi semuanya. Tapi tidak berselang lama ia bisa melihat kembali jika Zeze mundur dan terdiam. Setelah melihat semua itu, Reno tertawa terbahak. Ia tidak menyangka jika sahabatnya itu akan melakukan hal seperti ini, bahkan meminta salah satu anak buahnya untuk berjaga di sana.
“Jadi kau mengirim—“ Reno menatap Marvin dengan menggelengkan kepalanya.
“Aku hanya berjaga-jaga! Tidak ada yang tahu bukan? Bisa saja gadis itu kabur, dan aku tidak ingin sampai semua itu terjadi setelah aku mengeluarkan banyak uang untuk membayar pembalap itu,” jelas Marvin dengan wajah yang sedikit tegang.
“Santai Vin, kenapa kau jadi tegang begitu, hmm? Atau jangan-jangan kau mulai tertarik pada gadis itu?”
“Tertarik? Pada gadis itu? Tidak mungkin,” elaknya cepat.
***
Setelah kepergian Reno, saat ini Zeze memilih untuk meninggalkan jalanan dimana ia berhasil dikalahkan. Bukan hanya kalah, malam ini Zeze benar-benar melakukan dua kebodohan dan entah apa yang akan terjadi besok.
Kebodohan yang ia lakukan malam ini benar-benar membuatnya pusing, sampai akhirnya ia tidak bisa memejamkan mata meskipun hanya satu menit. Bayangan senyum kemenangan Reno benar-benar membuat ia curiga, dan semua itu terekam jelas di ingatan Zeze.
‘Arghh... Lo memang bodoh Ze! Bodoh! Seharusnya lo baca dulu pa isi surat perjajian itu bukannya malah langsung setuju buat tandatangan,” gerutunya pada diri sendiri.
Jarum jam yang terus berputar semakin membuat Zeze tidak bisa memejamkan matanya. Sulit, menerima kekalahan dan kehilangan segalanya. Selama ini, ia selalu menjadi nomor satu dan malam ini ia harus menjadi nomor dua, sungguh ia tidak bisa menerima semua ini.
Merasa sesak terus berdiam diri dalam kamar kostnya, perempuan itu memutuskan untuk keluar dan mencari udara segar. Meskipun ia tahu jika hal ini sama sekali tidak baik untuk kesehatannya, tapi ia tetap melakukan semua itu.
Tapi siapa sangka, saat ia mulai melangkah keluar dari dalam kamar kostnya miliknya, gadis itu langsung dikejutkan oleh kehadiran sebuah mobil mewah terparkir, tepat beberapa meter dari ia berdiri saat ini. Keningnya berkerut, hatinya bertanya-tanya tanpa merasa curiga sedikitpun.
‘Orang kaya mana yang tersesat ditengah malam seperti ini?’ batin Zeze.
Rasa penasaran yang mulai menggelitiknya, mebuat gadis itu turun dari turun dari lantai kramik berwarna putih itu dan mendekati mobil hitam keluaran Eropa tersebut dengan perlahan.
Untuk sejenak, ia terdiam dan mengintip ke dalam mobil tersebut untuk melihat siapa yang ada dalam mobil itu. Tapi sayangnya hanya kegelapan yang terlihat, membuat Zeze mengumpat keras tanpa ia ketahui jika saat ini sebuah kamera mengawasi setiap gerak geriknya.
“Dasar mobil orang kaya, mau ngintip saja nggak bisa.”
Zeze memutuskan kembali duduk dilantai yang dingin dan berongkang kaki di sana. Angin malam yang menerpa, membuat rambut gadis itu berantakan dan menutupi sedikit bagian wajahnya, membuat ia terlihat cantik dan lebih dewasa.
Dinginnya angin malam ternyata bisa membuat Zeze mulai merasa mengantuk dan tanpa ia sadari matanya mulai terpejam dengan tubuh yang bersandar pada tembok. Seperti bayi kecil, ia mulai merapatkan tubuh mencari sebuah kehangatan, tapi sayangnya hal itu adalah sebuah kesalahan besar.
Dua orang pria besar berjalan mengendap mendekati Zeze yang sudah mulai terlelap, sangat pelan sampai derap langkah mereka tidak terdengar oleh perempuan itu.
“Dimana sapu tangannya?” tanya salah satu dari mereka.
“Ini, ada padaku,” jawab temannya.
Dan setelah dua pria itu saling memandang satu sama lain, tangan mereka bergerak cepat membekap mulut Zeze dan salah satu dari mereka menutupi kepalanya dengan sebuah kain hitam. Karena tentu saja mereka sudah dibayar mahal untuk melakukan ini semua, jadi mereka tidak ingin membuat kesalahan apapun.
“Dia sudah pingsan, buka pintu mobilnya!” seru salah satu pria itu dengan membopong tubuh mungil Zeze.
“Tubuhnya kecil, tapi aku tidak menyangka jika perempuan ini akan seberat ini,” gerutunya setelah berhasil memasukan Zeze ke dalam pintu bagian belakang.
“Ayo kita pergi, jangan sampai ada yang melihat kita membawa perempuan ini.”
Mobil itu akhirnya pergi dengan cepat, melaju membelah jalanan ibu kota dan mengantarkan perempuan itu ke tempat yang sudah di siapkan oleh tuan mereka.
Setibanya disebuah apartemen mewah milik Tuan mereka, dengan cepat kedua pria itu membawa Zeze menuju unit apartemen, karena Tuan mereka saat ini sedang menunggu kedatangan mereka.
Tidak lama, mereka sudah sampai di depan sebuah pintu dan langsung mengetuknya. Beberapa menit mereka menunggu, dan akhirnya pintu terbua lebar dengan Marvin yang berdiri di hadapan mereka.
“Tuan, dimana aku harus menidurkan gadis ini?”
“Di sofa saja, nanti aku yang akan mengurusnya.”
Kedua pria itu mengangguk dan langsung melakukan apa yang dikatakan oleh tuan mereka. Setelah semua pekerjaan mereka selesai, dengan cepat mereka pergi meninggalkan tempat tersebut tanpa berkata apapun lagi.
Dengan cepat sang Tuan menutup pintu, mengunci dan mengubah kode pintu yang sudah diketahui oleh sahabat dan jalang sialan itu.
“Kita lihat, sampai kapan kau akan kuat berada dalam tekanan ku.”