12. Diculik

1275 Kata
Di atas ranjang besar, tubuh mungil gadis itu nampak menggemaskan. Dengan berbalut selimut tebal, Zeze nampak semakin lelap dan sempat menggeliat mencari kenyamanan yang lebih di atas ranjang asing itu. Bulu mata lentiknya mulai bergerak, seiring dengan cahaya yang mulai mengusik tidurnya. Dengan perlahan, ia meraba ranjang dan bergerak begitu lambat, seakan ia begitu menikmati semuanya. “Emmm... Kenapa ranjangku tiba-tiba berubah menjadi sangat empuk? Dan selimut ini, akhh... sangat hangat dan lembut,” gumam Zeze dengan mata yang masih tertutup. Tapi semua itu tidak bertahan lama, mata indah milik Zeze terbuka lebar dan melihat sekeliling. Putih, bersih dan berkelas, setiap sudut kamar itu dipenuhi dengan barang-barang mewah dan tentu saja ini bukanlah kamar kostnya yang sederhana. “Dimana aku? I-ini... Semalam aku, aku di depan dan—aku dibekap! Aku di culik!” serunya dengan sedikit histeris. Sadar jika dirinya dalam bahaya, Zeze menyibakan selimut tebal itu dengan kasar dan berlari menuju pintu. Ia memukul pintu tersebut dengan kasar, berteriak dan meminta siapapun untuk membuka pintu tersebut. Dug, dug, dug.. “Ada siapa di sana? Buka pintu ini!! Buka...” Zeze berteriak. Sedangkan diluar sana, saat ini Marvin, Reno dan seorang pengacara sedang duduk berbincang, membahas surat perjanjian yang sudah ditandatanganni oleh Zeze. Marvin tidak ingin sampai gadis itu bisa lepas dan meninggalkan apartemennya begitu saja. Marvin dan Reno saling bertukar pandang saat mereka mendengar suara teriakan dari kamar tidur milik Marvin, begitu juga dengan pengacara yang sedang duduk bersama mereka. “Apa kamu mengurung gadis itu di sini, Vin?” tanya sang pengacara. “Tentu saja, dia adalah tawananku dan tidak mungkin aku menitipkannya di apartemen milik Reno,” jawabnya santai. “Aku sama sekali tidak percaya pada seekor kucing pemangsa sepertinya,” lanjut Marvin dengan melirik Reno. Pengacara yang tidak lain adalah Robert sahabatnya sendiri, hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Ia tidak menyangka jika Marvin masih saja gila, sama seperti dulu. Marvin sengaja tidak menggunakan pengacara perusahaan. Hal itu sangat berbahaya, karena apa yang ia lakukan bisa langsung diketahui oleh Anggoro dan ia tidak menginginkan hal itu terjadi. “Jadi ini sebabnya kau memanggilku kemari, hah? Sungguh menggelikan!” cibir Robert dengan wajah yang benar-benar sangat geli. “Jangan memasang wajah seperti itu! Aku akan membayar kerja sama kita.” Robert hanya menghembuskan napasnya dan kembali menyesap minuman yang sudah disediakan oleh kawan lamanya itu. “Reno! Buka pintu kamar itu dan biarkan gadis kecil itu keluar.” “Apa kau yakin, Vin?” “Hmmm... Untuk apa aku tidak yakin?” Marvin menatap tajam Reno yang saat ini duduk di sampingnya. “Oke, oke! Tapi jika gadis itu mengamuk, aku tidak ingin ikut campur.” Marvin hanya mengedikan bahunya dan duduk dengan santai. Salah satu tangannya masih saja sibuk dengan gelas berisi wine mahal yang selalu ia simpan dalam lemari khususnya. Tentu saja bukan hanya wine, beberapa minuman ternama lainnya terpajang indah di sana dan begitu menyilaukan mata. Reno segera berjalan menuju pintu kamar Marvin, kunci itu diputar dua kali dan secara kasar pintu itu ditarik dari dalam, membuat Reno yang sudah siap mendorong pintu ikut tertarik dan tersungkur di hadapan Zeze. “Ssshhhh... Sial, kenapa kamu membuka pintu ini dengan kasar, hmm?” Reno meringis kesakitan, dan menatap gadis itu dengan tajam. “Pak Reno? Sedang apa anda di—jadi lo yang nyulik gue? Ayo ngaku...” teriak Zeze di depan Reno yang saat ini justru berbalik menatap sosok dingin yang sedang duduk melihat drama komedi secara live itu. Reno tidak menjawab, ia memilih diam dan mengalihkan pandangannya pada sosok Marvin yang saat ini sedang menatap mereka dengan tajam dan aura dingin pria itu benar-benar mendominasi. Zeze Angelin, akhirnya mengikuti kemana arah mata Reno tertuju, dan ia semakin tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. ‘Kenapa bisa ada pria kutub itu di sini? Apa mungkin Si Reno ini akan menjualku dan menjadikan ku b***k nafsu pria buncit dan botak?’ batin Zeze. Perempuan itu bergidik ngeri, membayangkan bagaimana ia harus melayani pria-pria yang seusia dengan papanya sendiri. ‘s**t!! Dasar pria-p****************g tidak tahu malu,’ umpatnya dalam hati. Tanpa menghiraukan Reno yang masih terdiam, Zeze dengan cepat keluar dari kamar tersebut dan langsung menuju pintu, tapi lagi-lagi gadis itu hanya bisa mengumpat dalam hatinya saat melihat satu-satunya pintu keluar yang ia miliki terkunci dan hanya bisa dibuka dengan kode khusus. “Buka pintu ini! Gue mau keluar. Cepat buka...” teriak Zeze dengan kasar pada semua yang ada di sana. “Kalian—gue pastiin kalian semua akan menyesal karena melakukan ini semua!!” lagi ia berteriak. “Hey!! Aku ini tidak tuli, jadi tidak usah berteriak seperti orang gila,” Marvin akhirnya membuka bibir seksi dan menggoda itu, membuat Zeze diam seketika. Sudut bibir pria itu sedikit terangkat saat melihat Zeze terdiam. Senang, karena ternyata sangat mudah untuk membuat singa betina ini diam dalam satu kali perintah. Marvin kembali tersenyum tipis, bahkan sampai tidak terlihat jika pria itu saat ini sedang tersenyum. Melihat Zeze yang berjalan menuju ke arahnya tanpa berkata apapun. Kalah. “Oke, gue tunjukan bagaimana cara orang gila ini menghabisi kalian para p****************g!” gumam Zeze saat ia semakin dekat dengan sosok Marvin yang saat ini duduk sendirian. Reno saat ini memilih untuk duduk di mini bar, disusul oleh Robert yang tidak ingin terkena imbas dari kelakuan gila Marvin yang mengurung gadis berusia 20 tahun itu. “Mau bertaruh?” kata Reno pada Robert yang saat ini sama-sama menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. “Sepertinya menarik! Apa taruhannya?” sahut Robert cepat. “Siapa yang akan menang? Marvin atau gadis bernama Zeze itu? Jika aku kalah, aku akan mengirim satu wanita spesial untuk memuaskan mu di ranjang. Tapi jika aku menang, aku ingin cincin berlian itu jadi milikku. Deal?” tunjuk Reno pada sebuah cincin yang melingkar di jari Robert. “Deal” *** Zeze saat ini hanya tinggal berjarak dua langkah dari posisi Marvin duduk, tapi sayangnya posisi mereka yang sudah sangat dekat sama sekali tidak memuat Marvin gentar. Zeze yang geram, akhirnya dengan gerakan cepat  menarik rambut Marvin dan membuatnya berantakan. “Rasakan ini... Dasar p****************g! Suka sama anak remaja, makan ini serangan gue...” “s**t! Apa yang kau lakukan? Wait, semua bisa dijelaskan!!” teriak Marvin dengan tangan yang berusaha untuk menghentikan gerakan tangan gadis itu dikepalanya. “Lo pikir gue bodoh! Gue tahu kalau lo hanya butuh—“ Suara gadis itu tercekat saat Marvin akhirnya melepaskan tangan Zeze dari kepalanya, dan berdiri dengan cepat, menghimpit tubuh mungil gadis itu pada tembok dingin bernuansa coklat muda itu. Dengan susah payah Zeze menelan salivanya sendiri, jaraknya yang terlalu dekat membuat gadis itu bisa merakan segala hal tidak pernah ia rasakan. Wangi yang menguar dari tubuh Marvin mampu menyihir Zeze, tapi sayangnya hanya mampu beberapa menit saja. Tubuh Zeze yang mungil saat ini begitu terintimidasi oleh tubuh Marvin yang tinggi, besar dan berotot. Lagi-lagi ia menelan salivanya dengan susah payah, ada rasa takut dan getaran lain dalam dadanya saat ini. ‘Kenapa seperti ini? Nggak, dia p****************g dan gue harus beri dia pelajaran,’ batin Zeze. “Diam! Jika tidak, aku akan melakukan sesuatu yang sama sekali tidak pernah bisa kau bayangkan,” ujarnya dengan memberikan tatapan yang mengintimidasi. “Gue nggak takut! Karena gue akan kasih lo sebuah hukuman yang nggak mungkin bisa lo lupain seumur hidup!” Zeze balik mengancam Marvin. “Oh ya? Tapi sebelum kamu melakukan itu, lebih baik kamu membaca dulu surat pernjajian yang sudah kamu sepekati semalam.” Zeze bergeming. Ia mulai merangkai semua kejadian, namun sayangnya ia tidak bisa menemukan titik terang karena semua ini terjadi sangat cepat. “Apa mau lo?”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN