13. Sangkar Emas

1179 Kata
Setelah menolak semua yang dikatakan Marvin, akhirnya Zeze memilih untuk bersikap tenang dan mengikuti apa yang dikatakan pria dingin itu kepadanya. Setidaknya, gadis itu mulai menyusun rencana untuk bisa keluar dari sangkar emas ini. Ya, saat ini ia bagaikan burung hasil buruan dan dimasukan ke dalam sangkar emas yang sama sekali tidak ia inginkan. Terkekang dan terpenjara dengan segala kemewahan yang ada. Saat ini, gadis itu duduk disebuah sofa single dan dihadapannya terdapat sebuah minuman dan sebuah map biru yang menyita perhatiannya, membuat Zeze terus saja menatap map tersebut dengan intens. Membuat si pria kutub yang dingin itu salah paham. “Ck! Apa kau tidak pernah melihat minuman mewah? Sampai-sampai kau harus melebarkan pupil matamu itu?” cibir Marvin. “What? Lo pikir gue suka sama minuman menjijikan itu? Sorry, tapi gue bukan yang suka mengkonsumi alkohol!” tegas Zeze dengan memutar bola matanya jengah. “Pendusta!” ‘Apa? Dia bilang gue pendusta? Keterlaluan, apa dia tidak lihat siapa yang jadi pendusta di sini,’ batin Zeze kesal. Tanpa menunggu persetujuan Marvin, gadis itu lantas meraih map biru dengan cepat dan mulai membukanya. Keningnya berkerut seketika saat ia membaca poin-poin yang ada di dalamnya. Benar-benar licik dan tidak manusiawi, dan menurutnya semua ini melanggar hak asasi manusia. “Kenapa semua yang ada dalam surat perjanjian itu sangat merugikan gue?” “Merugikan? Aku rasa tidak!” ucap Marvin dengan santai. “Tidak?! Apa lo nggak bisa baca, atau gimana sih?” Zeze berdiri dan melempar map itu pada Marvin. “KAU...” Marvin ikut berdiri, memegang pundak Zeze dan langsung menekannya agar gadis itu kembali duduk dengan tenang. Zeze sama sekali tidak ingin kalah dari beruang kutub itu. Ia ingin kembali mendapatkan kebebasannya dan pulang. Ia berjanji dalam hati, tidak akan membantah apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya. Tapi sayangnya semua sudah terlambat, saat ini ia sudah berada dalam kurungan Marvin dan sangat sulit baginya untuk lepas dari sangkar emas ini. “Dengar! Kau akan tinggal bersamaku di sini selama 30 hari...” “Gue nggak mau!” bentak Zeze. “Silahkan kau menolak! Tapi bersiaplah untuk tidur dalam jeruji besi dan kedinginan. Bahkan aku dengar, seorang gadis seperti mu akan menjadi santapan untuk para penghuni lama dan kau harus melayani mereka,” jelas Marvin dengan suara yang mengintimidasi. Semua yang dikatakan pria itu sama sekali tidak benar, tapi ia mengatakan semua itu hanya untuk membuat gadis itu takut dan patuh dengan apa yang ia katakan. ‘Aku yakin kau akan takut gadis kecil!’ Marvin menyeringai saat melihat raut ketakutan di wajah Zeze. Gadis itu tidak bisa berpikir dengan jernih dan pada akhirnya ia menyetujui semua perkataan Marvin. Tapi dengan berani ia mengajukan sebuah persyaratan. Ia menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan, sepersekian detik pandangan mereka saling bertumbukan dan ada sesuatu yang berbeda di sana. “Oke, gue akan tetap di sini tapi dengan sebuah syarat.” Mendengar hal itu, wajah Marvin berubah menjadi sangat dingin dan tidak bersahabat. Di sini, ia adalah orang yang berhak memutuskan segalanya, dan tidak ada lagi tawar menawar.   ** Sementara di depan mini bar, saat ini Reno da Robert terus saja menyaksikan drama romantis secara live. Meskipun tidak ada kontak fisik yang terjadi, tapi ini cukup menarik untuk mereka saksikan. “Jadi siapa yang menang?” tanya Robert disertai kekehan kecilnya. “Aku rasa diantara kita tidak ada yang menjadi pemenang, hahaha...” Reno tertawa keras, membuat Marvin yang mulai kehabisan akal kesal dan langsung berteriak. “Diam!” Damn Reno dan Robert seketika terdiam dan menutup bibir mereka rapat-rapat. Melihat Marvin yang seperti ini membuat Reno mengerti apa yang harus ia lakukan, agar membuat beruang kutub itu jinak kembali. “Ssstt... Kau mau kemana?” tanya Robert pelan. Sedangkan Reno, pria itu hanya menjawab dengan lirikan matanya dan tentu saja lirikan itu ia tujukan pada tempat dimana Marvin dan Zeze duduk. Robert hanya bergidik dan menolak, ia tidak ingin dilahap bulat-bulat oleh Marvin dan memilih untuk tetap diam di mini bar tersebut. “Baiklah, jadi apa yang terjadi? Apa kalian sudah menemukan kata sepakat untuk tinggal satu atap?” Reno saat ini langsung mengambil alih situasi. “Big no! Kalau ‘dia’ tidak bisa memenuhi syarat yang gue ajuin,” jelasnya dengan keras. “Dan lo! Suatu hari nanti gue pasti bisa bikin lo menyesal karena bawa gue ke tempat dimana orang gila ini berada,” tunjuknya pada Reno. Tapi sayangnya pria itu hanya memasang senyum tanpa dosa di hadapan Zeze. “Katakan! Syarat apa yang kau minta nona cantik?” Reno mengedipkan matanya pada Marvin dan meminta pria itu untuk tenang. “Gue nggak mau ada kontak fisik dalam hukuman yang gue terima, itu yang pertama.” Marvin sudah bersiap untuk menerkam Zeze, tapi Reno memintanya untuk tetap tenang, paling tidak agar semua bisa selesai dengan cepat. “Yang kedua, gue nggak mau kalau harus satu kamar dengannya.” Reno sedikit menganggukkan kepalanya beberapa kali, ia menatap Marvin dan meminta pria itu untuk menyetujui semua permintaan Zeze. Tanpa harus memasukan semua pemintaan gadis itu ke dalam surat perjanjian. “Nona cantik, aku harus membicarakan ini terlebih dulu dengan Tuan Marvin. Silahkan nikmati minuman itu, tapi jangan berpikir untuk berusaha keluar dari tempat ini. Karena setiap sudut ruangan ini dipenuhi oleh CCTV dan diluar sana...” Reno menunjuk pintu, “Dua bodyguad Tuan Marvin siap menyentuh mu jika berani melangkah keluar dari pintu itu.” Marvin saat ini sudah duduk dalam ruang kerjanya. Di balik meja persegi, ia mulai menggeram kesal karena menghadapi sebuah kenyataan dimana calon istrinya adalah gadis yang keras kepala, sama sepertinya. “Kenapa kau membiarkan gadis itu memberikan syarat padaku?” “Tenang Vin, kenapa kamu terlihat takut jika dia bisa menguasai mu, hmm? Kemana Marvin yang selalu tangguh di hadapan wanita...” ejek Reno. “Setujui saja semua keinginannya, tapi itu hanya sebatas dibibir mu saja. Bukan dalam surat perjanjian itu,” otak Reno sangat cerdas, membuat Marvin senang bukan main.   ***   Dihadapan Zeze, Reno dan Marvin melakukan sebuah sandiwara. Menyetujui semua syarat yang diajukan Zeze, membuat perempuan itu tersenyum puas saat menatap Marvin yang juga sedang tersenyum. Setelah semua masalah selesai, Reno dan Robert tentu saja memilih untuk pergi meninggalkan Marvin dengan gadis itu. Entah apa yang akan terjadi, pria itu hanya berdo’a semoga Marvin tidak langsung melanggar syarat yang diajukan Zeze karena tidak tahan dengan melihat tubuh indah gadis itu. “Kenapa gue bisa sampai terjebak dalam sangkar emas ini?” gumam Zeze dengan merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sementara dari dalam kamarnya, Marvin saat ini memperhatikan setiap hal yang dilakukan Zeze. Tapi siapa sangka, hal yang tidak terduga justru terjadi padanya. Dalam apartemen ini hanya ada satu kamar dan dua kamar mandi. Lalu bagaimana ia berada dalam satu ranjang bersama Zeze, sedangkan belum genap 24 jam saja ia mulai kelimpungan. Pria itu berdiri, mondar-mandir di depan ranjang mewahnya dengan bertelanjang d**a. Memperlihatkan betapa indahnya tubuh atletis Marvin dengan perut yang kotak dan bulu-bulu halus yang bergaris lurus masuk hingga kedalam celana pria itu. “s**t! Kenapa burung emasku tidak mau tidur? Arghh... sepertinya aku harus segera menuntaskannya.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN