Dalam kamar mandi mewahnya, Marvin saat ini baru saja selesai menuntaskan hasratnya yang menggila karena melihat gadis berbadan tipis itu terlentang di atas sofa. Untuk kali ini, Marvin merasa sesuatu yang salah telah terjadi dalam kepalanya dan membuat ia begitu tergoda oleh gadis yang brandalan seperti Zeze.
“Ini gila! Ini terjadi hanya karena aku tertekan dengan adanya gadis itu. Tidak lebih!” gumam pria itu di bawah guyuran air dingin, berharap semuanya akan kembali normal dan burung emasnya tidak berulah lagi.
Entah berapa kali Marvin melakukannya, namun pria itu sudah cukup lama berdiam diri dalam kamar mandi mewahnya itu. Dengan sedikit desahan dan erangan saat ia berhasil mendapatkan keinginannya, tapi nyatanya apa yang ia rasakan sangatlah tidak senikmat yang ia bayangkan.
Pikiran mesumnya kembali berkelana, membayangkan bagaimana tubuh ramping Zeze berada di atasnya dan ia kuasai dengan penuh.
“Sepertinya mengangkat tubuhnya sangat mudah, ohhh... s**t! Sepertinya aku harus pergi menemui Tania.”
Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya dan keluar dengan handuk yang melingkar dipinggangnya. Memperlihatkan seluruh bagian berotot Marvin yang sering dielu-elukan para wanita yang rela menyerahkan diri pada pria itu, sama seperti Tania.
Ini adalah kamarnya dan tentu saja ia tidak harus meminta ijin pada siapapun untuk melakukan hal ia inginkan. Tapi kenyataan itu sedetik kemudian berubah total, bahkan terjadi kebisingan karena ia keluar dengan bertelanjang d**a di hadapan anak gadis orang.
“Aaaaaa... Dasar m***m, pria otak s**********n, nggak tahu malu...” teriak Zeze dengan membalik badan menghadap pintu. “Pake baju lo, cepat!!”
“Diam!! Kenapa kau masuk kemari jika tidak ingin melihatku saat bertelanjang d**a seperti ini, hmm?” tanya Marvin dengan wajah kesalnya.
Melihat reaksi Zeze yang berlebihan, membuat Marvin memilih untuk mendekati gadis itu dan berdiri tepat dibelakangnya. Alih-alih bersiap dengan cepat, Marvin memilih untuk menggodanya sebelum pergi menemui Tania.
“Dasar pria m***m nggak ada akhlak, bisa-bisanya dia keluar nggak pakai baju dengan santai? Benar-benar memalukan,” gerutu Zeze saat Marvin tepat ada dibelakangnya.
“Tidak usah menggerutu! Dasar bodoh.”
‘Apa katanya! Bodoh? Helooo... Gue rasa yang bodoh di sini itu dia, bukan gue,” batin Zeze tidak terima.
Dengan cepat ia berbalik dan sontak saja membuat kening Zeze membentur d**a bidang yang terpampang nyata di hadapannya. Gadis itu menunduk, dan hal pertama yang ia lihat adalah sebuah handuk yang bertengger dipinggang dengan sesuatu yang terlihat menonjol dibagian tengah sana. Dalam kepalanya ia membayangkan seberapa besar ukuran yang menonjol itu, sampai membuat handuk itu benar-benar... sedikit terangkat.
Rasa gugup menyergap Zeze, membuat ia dengan cepat mengangkat wajahnya dan mundur, berniat untuk kabur dari tempat ia berdiri saat ini. Alarm bahaya menyala, tapi ia masih bisa merasa tenang karena syarat yang ia ajukan harus ditepati oleh pria yang ada dihadapannya itu.
Grap...
Dengan cepat Marvin menahan lengan Zeze, membuat gadis itu mau tidak mau harus mendongak dan menatap pria tinggi yang kini ada dihadapannya. Zeze menelan salivanya dengan susah payah, ada rasa takut yang menyelimutinya saat sadar jarak mereka yang sangat dekat.
“Lepas! Lo udah melanggar syarat pertama yang gue ajukan,” tegas Zeze mengingatkan.
“Oh ya? Tapi sayangnya semua syarat itu hanya berlaku pada Reno, bukan padaku!” kata Marvin dingin.
Zeze terbelalak, terkejut dengan apa yang baru saja terlontar dari bibir seksi milik Marvin. Ternyata ia salah karena sudah mempercayai perkataan mereka. Salah besar.
“Ternyata lo sama Reno sama-sama busuk!”
Dengan satu hentakan keras, ia mengangkat satu kakinya hingga lututnya menekan burung emas milik Marvin kuat dan bukan hanya itu, ia juga mendaratkan kakinya tepat diatas kaki Marvin, membuat pria itu langsung meringis dan memegangi benda pusaka pemuas para wanita itu untuk meredam rasa sakitnya.
“Apa kau sudah gila, hah? Ini adalah alat vital, aku bisa mati jika benda ini terluka!” dengan wajah meringis ia menatap Zeze, tapi sayangnya perempuan itu hanya bersikap bodo amat dan langsung keluar dari kamar tersebut.
Dibalik pintu, Zeze mulai mengatur napasnya. Ia bisa bersikap tenang dengan menekan dirinya sendiri, tapi pada kenyataannya saat ini ia membayangkan betapa besarnya ukuran benda pusaka milik Marvin yang ia rasakan dengan lututnya yang begitu nyata.
Dengan cepat ia berlari menuju dapur dan mengambil air dingin untuk menetralisir pikiran gilanya. Degup jantungnya benar-benar menggila, dan ini sudah melewati batas maksimal.
“Gue harus bisa keluar dari tempat ini secepatnya, sebelum pria itu maksa gue buat tidur sama dia. Gue nggak bisa bayangin gimana besarnya ‘anu’ milik pria kutub itu,” gumamnya tanpa sadar.
“Kok jadi mikirin gimana besarnya ‘anu’ Marvin sih? Arghh... Ini benar-benar salah!” Lanjutnya lagi dengan menggelengkan kepalanya.
Setelah seharian ia tidak memakan apapun, saat ini perut gadis itu mulai terdengar ribut dan memalukan. Tidak ingin menyiksa dirinya sendiri, Zeze kembali membuka lemari pendingin dan melihat ada bahan apa saja yang bisa masak untuk mengisi perutnya. Setidaknya ia akan membuat Marvin kesal dengan menghabiskan seluruh isi kulkasnya itu dan membebaskannya dengan mudah dari sangkar emasnya ini.
Dengan cepat, ia mengelurkan telur, brokoli, daging, dan beberapa bahan lainya yang ada. Untung saja ia tipe gadis pamakan segala, sehingga membuatnya bisa bertahan dalam kondisi darurat seperti ini.
***
Dalam kamarnya, seiring dengan berkurangnya rasa sakit pada benda pusakan miliknya itu, ia mulai bangkit dan berjalan menuju lemari untuk mengabil pakaiannya. Setidaknya niatnya untuk menemui Tania akan tetap ia lakukan, demi sebuah kenikmatan.
Bisa saja ia menghubungi model itu untuk menyambangi apartemannya, tapi sayangnya kehadiran Zeze membuat ia harus berusaha lebih untuk mendapatkan kenikmatan itu.
Penampilannya benar-benar sempurna, dengan menggunakan pakaian santai ia keluar dari dalam kamarnya. Matanya kini melihat sekeliling, ia begitu terkejut saat tidak mendapati Zeze di atas sofa. Dengan tergesa, ia berjalan menuju sumber suara yang ada dalam dapurnya.
“Jangan merusak apapun! Karena semua kerusakan itu harus kau ganti dengan manambah masa kerja mu di sini,” seru Marvin dengan berjalan mendekati gadis yang sedang sibuk dengan pisau dapur.
“Jangan mendekat! Kalau nggak, gue bisa lupa diri dan bisa jadi lo gue ‘sunat’ lagi,” Zeze melirik bagian tengah milik Marvin dan mulai mengangkat kedua alisnya dengan menatap pria itu.
Mendengar kata ‘sunat’ Marvin bergidik ngeri dan tanpa kata ia langsung meninggalk dapur tersebut. Bukan hanya dapur, pria itu juga meninggalkan apartemen tersebut dan membuat gadis itu hanya sendirian.
Zeze bersorak senang, karena saat ini ia akan mencoba untuk melarikan diri dari tempat ini. dengan cepat ia meletakan pisau dan berlari menuju pintu. Beberapa kali ia mencoba untuk membuka pintu tersebut, sampai tiba-tiba sebuah dering telepon membuat gadis itu terkejut bukan main. Dengan cepat, ia berjalan menuju telepon tersebut dan menjawabnya.
“Hallo, dengan saya yang saat ini terkurung dalam sangkar emas. Ini siapa?” cerocos Zeze tanpa ragu.
“Jangan pernah mencoba untuk lari! Karena jika kau melakukan itu, kedua bodyguard ku akan siap sedia untuk menikmati setiap inci tubuh tipismu itu.”
DEG
‘Dia tahu kalau gue berniat kabur, tapi dimana ia menyimpan kamera CCTV, di sini tidak ada satu kamerapun?’ batin Zeze dengan melirik ke sana kemari.
“Kau tidak akan pernah menemukan apapun! Jadi diam dan menurutlah jika kau ingin selamat.”