Dalam mobil mewahnya, saat ini Marvin hanya bisa tersenyum tipis. Melihat bagaimana terkejutnya gadis itu saat mendapat sebuah teguran dari orang yang sama sekali tidak ada di dekatnya.
Marvin benar-benar bersyukur, karena ternyata menyimpan kamera pengintai ditempat tersembunyi membuat benda itu aman dari tangan nakal Zeze Angelin.
Bukan hanya itu, Marvin juga sudah menyiapkan banyak hal sebagai kejutan untuk gadis bernama Zeze. Tekanan yang ia berikan pada gadis itu belum seberapa, karena ia akan membuat gadis itu semakin tertekan dengan semua peraturan yang ia berikan.
“Jangan berpikir untuk lari Zeze Angelin... Kalau tidak, kedua orang tua mu yang akan merasakan akibatnya,” tegas Marvin sekali lagi.
Ini hanya sebuah gertakan untuk Zeze, karena sangat tidak mungkin bagi Marvin melibatkan orang tua dalam urusan pribadinya. Tidak terbayangkan apa yang akan terjadi saat kedua orang tua mereka tahu, jika Marvin sengaja mengurung Zeze dalam apartemennya dengan ikatan nama hukum dalam sebuah perjanjian.
Marvin menutup sambungan panggilannya dan langsung melesat menuju tempat dimana sang model berada. Tidak sulit baginya untuk dekat dengan banyak wanita, tapi untuk saat ini Marvin membutuhkan seorang wanita yang sudah tahu bagaimana cara untuk memuaskan nafsu besarnya itu.
Marvin : “Bersiaplah, aku akan datang.”
Pesan itu meluncur cepat pada Tania, karena tentu saja Marvin ingin wanita itu bersiap untuk menyambut kedatangannya dan ia tidak harus menunggu apapun lagi.
Setibanya di depan apartemen milik Tania, pria itu masuk tanpa permisi dan duduk disofa. Apartemen ini cukup hening, sampai tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang begitu khas. Marvin semakin menajamkan telinganya dan mulai berjalan menuju sebuah pintu yang tidak tertutup dengan sempurna.
Tanpa suara ia mulai mendorong pintu tersebut, dan matanya seketika menatap tajam pada kedua insan yang sedang bergelut di atas ranjang yang begitu panas tanpa sehelai benangpun.
Larut dalam kenikmatan, keduanya sama sekali tidak menyadari jika ada orang lain yang saat ini menyaksikan pergulatan mereka. Hentakan dan rintihan kenikmatan semakin menjadi saat keduanya melayang dengan kenikmatan yang semakin nyata.
“Sepertinya kalian sangat cocok untuk menjadi pemeran utama dalam film panas,” seru Marvin tanpa ragu.
Bagaikan seekor kucing yang tertangkap sedang mencuri, pria yang sedang asik bermain diatas pahatan indah tubuh Tania itu melompat dan langsung melihat siapa yang ada di ambang pintu dengan memegang gawai dengan harga selangit itu.
“Siapa kau? Berani-beraninya kau masuk ke apartemen ini tanpa ijin dariku,” teriak sang pria dengan menutupi sesuatu yang menegang dibawah sana dengan menggunakan bantal.
Marvin enggan untuk menjawab, ia hanya memiringkan kepalanya dan menatap Tania yang sedang berusaha menutupi dirinya dengan tajam.
“Vin, aku bisa menjelaskan semua ini. Ini hanya salah—“
“Salah paham maksud anda, Nona Tania?” potong Marvin cepat. “Silahkan lanjutkan lagi permainan kalian, aku kemari hanya untuk mengambil sesuatu, tapi ternyata aku menjadi pengganggu.”
Tanpa menunggu persetujuan siapapun, Marvin kembali meninggalkan apartemen milik Tania dan satu-satunya tempat yang bisa ia datangi hanya club malam. Tapi malam ini ia sudah terlanjur muak dengan apa yang ia lihat dan memilih untuk melupakan kenikmatan apapun. Ia memilih untuk kembali pulang.
Malam ini, ia membelah jalanan ibu kota dengan kecepatan tinggi. Benar-benar memacu adrenalin dan membuat rasa kesalnya tersalurkan. Tapi Marvin telah melupakan sesuatu, dalam apartemennya saat ini ada seorang gadis tanpa memiliki pakaian satu helaipun, kecuali apa yang melekat pada dirinya sejak kemarin malam.
Tiga puluh menit berlalu, Marvin akhirnya sampai di sebuah gedung yang menjulang tinggi. Dengan cepat ia menuju kotak besi yang akan membawanya menuju unit apartemannya berada. Bayangan saat Tania sedang mendesah di atas ranjang bersama pria lain membuat ia tersenyum tipis, dan langsung membuat ia merogoh gawai yang ada dalam saku celananya.
Galeri video
Untuk kali ini ia melakukan sebuah kegilaan dengan merekam apa yang dilakukan Tania. Tentu saja semua ini tidak akan menjadi hal mudah untuk model yang sedang naik daun itu.
“Suatu hari nanti video ini pasti akan berguna untukku.”
Pintu lift terbuka, pria itu melenggang dengan gaya khasnya yang begitu menggoda. Rahang tegas dan dipadukan dengan jambang serta bibir merah yang tipis menggoda, membuat semua wanita enggan berkedip saat melihat pria yang baru saja keluar dari dalam kotak besi tersebut.
Beberapa dari mereka terang-terangan menyapa Marvin, tapi sayangnya pria itu hanya berjalan melewati para gadis tersebut. Jangankan tersenyum, untuk melirik mereka saja Marvin sangat tidak sudi.
“Apa terdengar sesuatu dari dalam?” tanya Marvin pada kedua bodyguardnya.
“Tidak Tuan! Sepertinya gadis itu sudah tertidur selepas anda pergi.”
Kening Marvin berkerut, sungguh aneh rasanya mendengar kata tertidur untuk gadis itu. “Kalian boleh pergi, bersenang-senanglah untuk malam ini.”
“Tapi Tuan...”
“Apa kalian meragukan diriku?”
Kedua pria itu menggeleng cepat dan langsung meninggalkan Marvin di depan pintu apartemennya.
Ia mulai menekan kombinasi angka untuk membuka pintu. Marvin mulai melangkah masuk dan langsung menutup pintu dengan cepat. Benar yang dikatakan kedua bodyguardnya itu, sangat sepi. Tapi seketika mata pria itu terbelalak saat melihat dapur mewahnya begitu berantakan.
Piring kotor, wajan serta perlatan lainnya tidak tertata dengan rapih, membuat Marvin menggeram kesal karenanya. Dengan cepat ia mencari keberadaan gadis bernama Zeze itu. Kesana-kemari, sampai akhirnya ia melihat pintu kamarnya terbuka dan tanpa menunggu lama ia segera memasuki kamarnya.
“Apa yang di lakukan dengan semua pakaianku?” gumam Marvin saat melihat kemeja kerjanya berserakan dilantai.
Dengan kesal ia memunguti satu-persatu pakaian dan barang-barang yang berserakan di lantai, meletakannya di atas ranjang agar terlihat sedikit rapi. Kepalanya berdenyut seketika saat melihat isi apartemannya seperti kapal pecah itu.
“Dimana gadis itu berada? Aku akan membuat ia membereskan segalanya detik ini juga.”
Marvin menajamkan telinganya, samar-samar ia mendengar suara gemerincik air dalam kamar mandinya. Sudut bibirnya sedikit terangkat, saat kelinci kecil yang ia cari ternyata ada dalam kamar mandi istimewanya.
‘Aku akan membuatnya sadar, dengan siapa saat ini ia sedang berhadapan. Sekarang aku harus masuk dan memberikan pelajaran padanya, tapi bagaimana kalau dia berteriak atau menendang pisang emasku lagi? Oh tidak, tidak... Aku akan membuatnya menyesal jika ia kembali melakukan itu,’ batin Marvin dengan berdiri di depan pintu kamar mandi.
Marvin akhirnya menjatuhkan diri pada sebuah keputusan yang benar. Matanya benar-benar dimanjakan oleh sosok cantik yang sedang bermain busa dalam bathub dengan begitu manja. Sesekali ia mengangkat kakinya dan mengusapkan gumapalan busa itu. Indah dan benar-benar menggoda.
Anggap saja jika saat ini Marvin sedang beruntung dan mendapatkan anugrah dengan melihat apa yang bisa ia lihat hanya setelah ia resmi menikah dengan perempuan itu. Tangan putih nan mulus, dan pundak yang samar tertutup oleh busa semakin membuat Marvin betah berlama memandang sosok Zeze yang nampak berbeda saat ini.
Tanpa ia sadari, pisang emas miliknya itu menegang sempurna dan tidak bisa ia cegah sedikitpun. Detak jantung menggila saat fantasi-fantasi liarnya berkelana kesana-kemari mencari, membayangkan sesuatu yang unik dibagian tengah gadis itu.
Tapi fantasinya lenyap seketika saat teriakan Zeze menggema, disertai dengan lemparan botol sabun yang mengenai wajah tampan Marvin.
“Pengintippp... Dasar cowok kurang ajar, tukang ngintip... Rasakan ini...” Tangan Zeze refleks meraih botol sabun yang ia letakan di dekatnya, dan tersenyum puas setelah ia melihat Marvin meringis kesakitan terkena leparannya.
‘Astaga... kenapa si cowok kutub itu nggak pergi, malah berjalan kemari? Oh... sumpah demi apa, ia semakin mendekat,’ batin Zeze khawatir saat ia melihat Marvin berjalan mendekat dengan satu tangan yang memegang keningnya. Jangan lupakan matanya, tajam dan seakan ingin menghabisi gadis itu detik ini juga.
Zeze yang tidak menggunakan sehelai benangpun hanya bisa bersembunyi dibalik gumpalan busa yang tebal itu saat Marvin semakin mendekatinya. Seringai jahat yang ditunjukan Marvin semakin membuat gadis itu ketakutan, bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa untuk lepas dari tatapan jahat dan dingin pria itu.
“Jangan coba-coba mendekat, kalau tidak—“
“Kalau tidak...” Marvin mengulangi perkataan gadis itu, dan berjongkok untuk mensejajarkan tinggi mereka. “Kalau tidak, kau akan keluar dari busa ini dan berjalan mendekati ku, setelah itu kau akan menghajarku tanpa memakain sehelai benangpun untuk menutupi bagian itu? Bukan begitu Nona Zeze Angelin?”
Gadis itu tersentak, Marvin ternyata bisa membaca pikirannya. Tidak ingin menujukan kekalahannya, Zeze memberanikan diri untuk menatap Marvin dan menunjukan taringnya.
“Ha-ha-ha... Aku kira kau akan takut saat aku mendekatimu. Tapi kali ini aku sangat yakin, kau akan takut dengan apa yang akan aku lakukan pada mu,” ia menyeringai dengan sangat mengerikan.
Marvin berdiri dan duduk ditepian bathub, tangan kekarnya mulai menyentuh busa lembut itu dan meniupkannya pada Zeze.
“Lo mau apa? Jangan berani macam-macam!!”
Tangan itu kembali menyentuh busa, tepat di depan leher gadis itu. Membuat Zeze mundur agar tangan itu tidak menyentuhnya. Tapi sayangnya tangan itu tidak kunjung keluar dari dalam busa, dan yang membuatnya aneh, Zeze juga sama sekali tidak merasakan ada sesuatu yang menyentuhnya dari dalam air.
“Tidak macam-macam, cukup satu macam saja!”
Alarm Bahaya
“Aaaaa... jangannn...”