Krisna saat ini sedang duduk bersantai menikmati teh hijaunya di teras rumah, ditemani makanan khas daerah yang terbuat dari tepung dan gula aren. Manis dan empuk, sangat cocok dengan suasan pagi yang cerah.
Tidak ada wajah khawatir ataupun sedih di wajahnya karena kepergian putri sematawayangnya, sampai beberapa hari terakhir ia selalu saja mendapat omelan dari Melisa untuk mencari dimana putri mereka berada.
Tapi tentu saja Krisna sama sekali tidak menghiraukan ocehan istrinya itu. Bukan tidak peduli, namun ia tahu betul kemana anak gadisnya itu melarikan diri. Kemana lagi kalau bukan pergi menemui Ajun dan meminta bantuannya. Krisna mengetahui segalanya mengenai kelakuan absurd putrinya, sampai akhirnya sebuah berita datang dan sayanganya tidak semanis camilan yang ada dalam mulutnya pagi ini.
“Selamat pagi Pak Kris?” sapa seorang pria bertubuh tinggi.
“Selamat pagi, ayo... mari, silahkan duduk.”
Krisna menyambut kedatangan pria itu dengan baik, dan duduk bersama. Sementara Melisa yang sedang berada di dapur sama sekali tidak mengetahu prihal kedatangan pria jangkung itu.
“Sebelumnya saya minta maaf pak, hari ini saya ingin menyampaikan berita yang kurang baik,” ucapnya setengah berbisik, takut jika ada orang lain yang mendengar perkataannya.
Krisna mengerutkan keningnya, meraih gelas dan segera meneguk teh yang hanya tersisa sedikit lagi itu. Ia menatamkan indra pendengarannya dengan kepala yang sengaja sedikit ia condongkan.
“Neng Zeze tidak ada di kontarakannya Pak Kris, dan temannya yang bernama Ajun juga kelimpungan nyariin Neng Zeze.”
“Zeze hilang? Tidak mungkin dia hilang, aku yakin dia sedang bersembunyi dan membuat rencana baru agar batal dijodohkan,” ucap Kris.
“Tapi kenapa Si Ajun sampai kelimpungan pak?”
“Mana aku tahu! Begini saja, terus awasi mereka dan laporkan perkembangannya secepat mungkin.”
“Baik Pak, kalau begitu saya permisi.”
Setelah kepergian salah satu pegawainya, Krisna lantas nampak khawatir. Zeze adalah satu-satunya buah cinta yang lahir dari hubungannya bersama Melisa, lalu bagaimana jika terjadi sesuatu pada anak gadisnya itu?
Dengan cepat ia menepis kekhawatirannya, jangan sampai ada yang tahu dengan hal ini. Bisa jadi bahan perbincangan dan juga menimbulkan konflik bersama Melisa.
‘Semua masalah ini akan aku selesaikan tanpa melibatkan siapapun apalagi Melisa. Bisa-bisa aku harus tidur di luar dan kedinginan,’ batin Krisna.
“Papa kok ngelamun pagi-pagi?” sapa Melisa yang baru saja keluar dengan membawa pisang goreng.
“Eh... iya, ada apa Ma?”
“Kok ada apa? Papa lagi mikirin apa, sampai bengong kaya tadi?”
Melisa duduk dengan tenang di samping Krisna, dan menunggu jawaban dari suaminya.
“Itu... Papa lagi mikirin janda kembang yang kemaren lewat,” sahut Kris santai.
“Apa?! Janda!! jadi diam-diam Papa perhatiin janda itu?”
‘Haduh! Kenapa harus bahas janda, padahal tadi cuman mau buat pengalihan agar Mama tidak tahu kalau aku khawatir dengan Zeze. Tapi sekarang aku malah kena batunya,’ ucapnya dalam hati.
“Papa bercanda Ma, sebenarnya Papa lagi mikirin Zeze.”
“Beneran? Awas ya, kalau sampai Papa bohongin mama. Papa tahu ‘kan apa yang akan terjadi?”
“Iya ndoro, tahu...” Krisna menyantukan kedua tangannya dan sedikit membungkukan badan di depan Melisa, membuat keduanya sontak tertawa bersamaan dan kembali seperti biasanya.
***
Sementara di bengkel miliknya, Ajun saat ini sedang sibuk menanyakan pada tetangga sekitar. Teman bahkan anak buahnya yang selalu membantu ia bekerja di bengkel.
Sudah lebih dari 24 jam ia kehilangan kontak dengan Zeze, membuat ia semakin khawatir jika sesuatu terjadi pada gadis itu. Tentu saja khawatir, karena selama ini ia snagat menyangi gadis itu lebih dari arti sahabat, bahkan sangat dalam tanpa diketahui oleh siapapun.
“Zeze... lo dimana sih Ze?” gumam Ajun dengan memandangi ponsel ditangannya.
“Aji, beneran lo nggak ketemu sama si Zeze di tempat kostnya?”
“Sumpah Jun! Buat apa gue bohong sama lo.”
“Gue makin khawatir aja sama tuh anak, kalau bapaknya dateng ke sini nanyain dia gue harus jawab apa?” Ajun mengancak rambutnya yang sedikit panjang itu dan melupakan bengkelnya.
Ia mulai mengingat kapan terakhir kali ia bertemu dengan Zeze. Dan akhirnya yang terlintas dalam pikiran pria itu haya satu nama—Pak Reno.
Dengan tergesa ia mencari kontak milik Reno, dan sungguh sialnya ia sama sekali tidak menemukan kontak tersebut. Beberapa kali ia mencari dengan lebih perlahan, dan akhirnya nama pria itu terselim dalam deretan nama dari huruf R yang begitu banyak dalam daftar kontaknya.
Tanpa menunggu lagi, ia langsung menghubungi Reno. Panggilan pertama di abaikan, panggilan kedua pun sama. Tapi Ajun tidak ingin menyerah dan terus menghubungi Reno.
***
Di ruang kerja Marvin
“Sumpah Vin, aku tidak menyangka jika kau akan sampai dengan keadaan wajah... ha-ha-ha... biru seperti itu. Apa yang kau lakukan padanya, sampai dia menyiksa mu seperti ini, hmm?” Reno mengejek Marvin tanpa celah, bahkan ia merasa puas saat melihat Marvin sepagi ini sudah uring-uringan, sampai beberapa karyawannya menjadi korban mulut ganasnya itu.
“Sekali lagi kamu tertawa! Akan aku cabut cuti yang kamu ajukan,” ancam Marvin dengan tegas.
“Wehhh... Jangan dong Pak Boss, ini sudah deal!”
Marvin hanya mendelik kesal, dan menatap tajam pada pintu ruangannya. Bayangan yang terjadi tadi malam membuat ia tersiksa, belum lagi ia terpaksa harus tidur di atas sofa karena ulah Zeze.
Mengingt semua itu, membuat Marvin mengepalkan tangannya kuat menahan amarah. Tapi pria itu sama sekali tidak akan menyerah begitu saja. Penghinaan yang telah diberikan Zeze padanya akan terus ia ingat, sampai akhirnya gadis itu harus bertekuk lutut.
Saat sedang dalam mode marah, suara gawai yang terus berdering saja membuat marvin mengamuk dan hampir saja merusak benda pipih milik Reno yang baru saja ia beli.
“Matikan ponselmu, jika tidak aku akan mematikannya untuk selamanya.”
“Sabar Vin, ini cuman ponsel bukan Zeze!”
“Sekali lagi kau menyebut nama itu, akan aku hancurkan benda itu.”
Tapi sungguh naas, benda pipih itu tidak berhenti berdering karena Reno memang belum mematikan ponselnya. Keningnya berkerut seketika saat ia melihat siapa yang terus menghubunginya sejak beberapa menit terakhir.
“Vin! Ssstt... Si Ajun nelepon, gimana?”
“Terserah!”
Bukannya membantu, Marvin justru meninggalkan Reno dan memilih berdiri didepan dinding kaca yang begitu besar, memperlihatkan betapa padatnya jalanan dijam seperti ini.
‘Kalau dia bukan bos, sudah aku hajar. Dia yang dapat enak, aku yang dapat telepon. Nasib-nasih... beginilah nasibnya seorang anak buah,” gumam Reno dengan wajah nelangsa.
Ia akhirnya menjawab telepon dari Ajun, sengaja ia perbesar suaranya agar Marvin tahu apa yang ditanyakan pria itu padanya.
Reno : “Hallo, ada apa?”
Ajun : “Reno, dimana Zeze? Gue yakin lo yang udah nyulik dia kan?”
Reno : “Tenang saja, Zeze aman di apartemen menjadi asisten rumah tangga Tuan Marvin.”
Ajun : “Apa? Zeze jadi pembantu? Tolong lepaskan dia, gue pasti bayar berapapun yang Tuan itu minta.”
Reno : “Tidak bisa semudah itu! Malam itu Zeze sudah setuju untuk tandatangan dan itu tidak bisa dibayar dengan uang, kecuali kamu ingin melihat sahabatmu itu masuk penjara karena melanggar kontrak perjanjian.”
Reno rasa ia sudah cukup memberikan penjelasan pada Ajun. Tanpa menunggu jawaban dari Ajun, ia langsung mematikan sambungan teleponnya dan melirik Marvin yang saat ini ternyata sama sekali tidak peduli dengan kekhawatiran Ajun.
“Vin, kayanya ini akan jadi masalah besar.”
“Sebelum jadi besar, kamu harus kembali mengecilkan masalah ini.”