Dalam ruang kerjanya, Marvin saat ini duduk terpekur sendiri. Rangkaian kejadian yang begitu cepat membuat semua itu menjadi fuzzel yang sulit untuk dirangakainya.
Zeze Angelin, gadis itu baru memasuki kehidupan Marvin dalam hitungan hari, tapi nyatanya gadis itu mampu merubah beberapa kebiasaan Marvin yang begitu dingin. Siang ini, Marvin bahkan menunjukan senyumnya setelah dipagi hari ia seperti macan yang sedang mencari mangsanya. Ganas dan tidak ada ampun.
Tapi siang ini berbeda, Marvin keluar untuk menikmati makan siangnya dan dengan indah ia memberikan senyum mahalnya dihadapan semua karyawan. Meskipun ada rasa kesal yang menyelimuti rongga dadanya, tapi nyatanya rasa kesal itu menjadi kenangan tersendiri untuk pria itu.
Kamar mandi, malam itu menjadi sebuah awal baru untuk Marvin. Pria ini mungkin menganggap semua yang ia lakukan dan ia dapatkan adalah sebuah anugrah, meskipun ia harus mendapatkan memar karena terbentur lantai.
Lantai, bukan botol sabun!
Karena kelakuan bodohnya, tadi malam ia berniat untuk mengerjai Zeze dengan memasukan tangannya ke dalam air, namun ia sama sekali tidak berniat untuk menyentuh bagian apapun dari tubuh mungil gadis yang digadang-gadang akan menjadi calon istrinya itu.
“Tidak macam-macam, cukup satu macam saja!”
Satu kalimat ini nyatanya mampu membuat Zeze ketakutan luar biasa. Zeze adalah gadis cukup umur yang tentu saja tahu hal mengenai ‘itu’ yang sering disebut perang ranjang, pergulatan dan pacuan kuda penuh kenikmatan itu. Meskipun ia belum pernah merasakan hal itu, namun ia tahu segalanya karena pergaulannya yang cukup luas.
Tadi malam, setelah Marvin memberikan seringaian nakalnya, otak dewasa Zeze panik dan sontak saja membuat gadis itu berteriak. Tanganya refleks mendorong Marvin, tapi karena tubuh pria itu lebih besar darinya, ia tidak mampu menahan beban dan akhirnya Marvin jatuh ke dalam bathub, yang dimana ada Zeze yang saat itu sedang bersembunyi dalam gumpalan busa-busa halus itu.
Terkejut karena semua tidak berjalan sesuai kehendaknya, tangan kekar itu menyentuh apa saja yang ada didekatnya dan sungguh, ada dilema yang melanda hatinya.
‘Apa ini sebuah keberuntungan atau sebuah kesalahan?’ batinya saat tanpa sengaja satu tangannya berpegang bukit kembar milik Zeze yang masih begitu padat dan kencang.
“Aaaaa... jangannn...” Zeze berteriak keras dan langsung mendorong tangan Marvin, membuat kening Marvin terbentur lantai yang dingin itu dengan sangat keras.
***
Makan siangnya begitu biasa saja, namun saat mengingat apa yang terjadi padanya tadi malam sungguh membuat bibirnya tidak berhenti untuk menghilangkan lengkungan indah itu.
Selama ini, dalam kehidupan seorang Marvin Anggoro Putra, hanya berputar pada kesenangan dan kepuasan. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, jika sekarang ia harus berurusan dengan makhluk bernama wanita bahkan ia harus mengurungnya dalam apartemen pribadi miliknya.
Ini bukanlah sebuah aib, namun tentu saja Marvin tidak ingin ada orang lain yang mengetahui semua ini, kecuali orang-orang yang sudah ia libatkan dalam rencannya untuk memberikan pelajaran yang berharga pada gadis itu.
Ting
Zeze : “Beliin gue baju sama pembalut. Cepetan dan gak pake lama!!”
Marvin : “Merepotkan sekali!”
Tanpa menunggu lama, ia langsung bergegas meninggalkan kafe tersebut dan meninggalkan beberapa lembar uang. Hari ini, untuk pertama kalinya ia akan berbelanja semua kebutuan wanita. Bra, underware, bahkan pembalut. Luar biasa.
Benda keramat yang selalu saja membuat para pria enggan untuk membeli dengan sebuah alasan gengsi dan malu dengan benda tersebut.
***
Sebagai seorang CEO, tentu saja Marvin tidak harus meminta ijin dan menunggu jam pulang kantor untuk bisa pergi kemanapun ia ingin. Sama seperti yang ia lakukan saat ini, tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk sampai disebuah pusat perbelajaan besar.
Langkahnya begitu cool dengan setelan pakaian kantor yang begitu rapih. Jangan lupakan wajah tampan yang dibalut dengan kaca mata hitam dengan harga fantastis itu semakin membuat pria itu terlihat menggoda bagi kaum hawa dan lagi-lagi Marvin hanya menanggapi decak kagum mereka dengan santai.
‘Resiko jadi orang ganteng, kemanapun aku pergi pasti di sana mereka akan memujaku dari atas kepala hingga ujung kaki,’ batin Marvin saat melihat tatapan lapar para wanita-wanita itu.
Setelah melihat cukup lama, akhirnya ia memasuki sebuah toko khusus pakaian dalam wanita. Kedatangan Marvin sontak saja membuat seisi toko itu heboh, pasalnya pria berwibawa seperti itu rela masuk pada tempat yang bukan ranahnya, dan itu artinya ia adalah sosok suami ideal yang selalu di incar oleh perempuan manapun.
“Wahhh... Aku yakin istrinya pasti sangat bahagia punya suami romantis seperti dia. Sudah tampan dan uhh... lihat penampilannya, cool abis,” celoteh salah seorang pengunjung.
“Aku yakin dia adalah ikatan suami takut istri, mana ada pria pake jas begitu mau beli daleman, hihihi...” timpah salah satunya lagi.
Tapi semua perkataan itu hanya masuk kuping kiri dan keluar kuping kanan. Marvin sama sekali tidak perlu menanggapi perkataan tidak penting itu dan lebih fokus pada apa yang akan ia beli.
“Selamat datang di toko kami, ada yang bisa saya bantu, Tuan?” sambut salah seorang penjaga toko tersebut.
“Saya membutuhkan itu, itu dan itu satu lusin.”
“Baik Tuan, size apa yang Tuan inginkan?”
Marvin terdiam. Mana tahu ia dengan ukuran size Zeze, melihatnya saja belum, lalu bagaimana ia bisa tahu berapa size yang dipakai gadis itu. Ingin menghubungi, namun rasanya malas dan akhirnya ia hanya menebak saja, berharap itu adalah ukuran yang pas.
“M” katanya dengan cepat, “Mungkin, saja ukuran ini pas untuk gadis menyebalkan itu,” gumam Marvin pelan.
“Baik Tuan akan segera saya siapkan. Kalau begitu silahkan anda kebagian kasir dan menyelesaikan administrasi.”
Dengan cepat Marvin melangkah menuju bagian kasir. Sudah cukup baginya mendengar perkataan para wanita yang sibuk menelanjangi dirinya dengan tatapan menjijikan.
Semua selesai, sekarang ia hanya perlu menemukan sebuah butik untuk mencari pakaian yang cocok untuk Zeze. Marvin bisa saja mendapatkan semua itu dengan hanya menjentikan jarinya, namun ia tidak ingin mengambil resiko dan lebih baik melakukan semuanya sendirian.
Dari kejauhan ia melihat sebuah butik ternama, ekslusif dan tentu saja orang yang memasuki tempat tersebut hanya dari kalangan tertentu. Tanpa membuag waktu, ia lantas masuk dan mulai mencari apa yang ia inginkan.
Entah berapa uang yang ia keluarkan dalam butik tersebut, bahkan saat ini belanjaan pria itu harus di antarkan langsung menuju mobilnya karena terlalu banyak yang ia beli. Mungkin saja ia membeli semua pakaian dibutik tersebut untuk gadis cantik bernama Zeze, yang baru saja beberapa hari sudah membuat wajah tampannya itu memar.
“Vin... tunggu...” suara itu begitu khas, membuat Marvin menghentikan langkahnya cepat.
“Tania? Sedang apa kamu di sini?” seharusnya pertanyaan itu tidak Marvin berikan pada Tania, model ternama yang saat ini sedang naik daun itu tentu saja sedang shopping dan bersenang-senang.
“Helooo... Kamu kenapa? Aku di sini, tentu saja sedang berbelanja, Vin,” sahut perempuan itu dengan tangan yang mulai bergelayut manja pada tangan kekar Marvin.
“Lepas! Aku harus pergi sekarang,” ia hanya memberikan wajah datarnya, dan segera menepis tangan Tania dengan kasar.
Bayangan yang ia lihat malam itu sungguh membuat Marvin muak. Bahkan ia tidak ingin bersentuhan dengan perempuan itu untuk waktu yang cepat.
Jijik? Mungkin saja itu terjadi padanya, tapi ada hal lain yang saat ini menjadi prioritas pria itu.
Setelah mendapatkan sikap kasar dari Marvin, perempuan itu hanya bisa berdiri menatap kepergian Marvin. Tapi timbul sebuah pertanyaan yang benar-benar mengusik model ternama itu.
“Untuk siapa Marvin membeli semua pakaian yang ada dibutik itu?” gumam Tania dengan kesal, “ Aku harus mencari tahu, wanita mana yang sudah berani menggeser posisiku di hati Marvin!” lanjutnya lagi dengan kembali masuk pada butik tersebut.
***
Sementara di apartemen, Zeze saat ini masih berkutat dengan kemeja panjang milik pri kutub itu dan sudah hampir satu jam ia hanya berdiam diri dalama kamar mandi.
Darah yang terus mengalir dipangkal paha menuju betisnya membuat ia tidak bisa melangkah bebas. Saat ini Zeze hanya bisa menunggu Marvin pulang dengan membawa apapun yang ia butuhkan.
“Kenapa gue harus datang bulan sekarang sih... ihhh...”
Zeze kembali melirik ponsel mahal yang sengaja Marvin berikan kepadanya untuk keperluan mendesak, dan benar saja ia membutuhkan ponsel tersebut. Hawa dingin yang semakin nyata membuat Zeze merasa tidak tahan, sampai akhirnya terdengar suara ketukan pintu dan seseorang yang memanggilnya.
“Si cowok kutub udah balik...”