18. Sosok yang berbeda

1310 Kata
Dalam hati, gadis itu bersorak riang saat mendengar langkah kaki di kamar tersebut. Siapa lagi kalau bukan Tuan Marvin yang berotak kotor dan kurang ajar itu. Meskipun begitu, Zeze merasakan kebaikan dari seorang Marvin yang begitu dingin dalam pandangan setiap orang. Malam itu, untuk pertama kalinya ada pria yang berani mendekatinya bahkan dengan terang-terangan menyentuh kedua bukit kembarnya. Malu, kesal, dan terkejut bercampur menjadi satu saat tangan itu menangkup dadanya. Meskipun gadis itu sudah mendorong Marvin dengan kuat dan membuatnya terluka, tapi pria itu tetap memberikan handuk pada Zeze dan memintanya untuk segera keluar dari dalam kamar mandi. Denyut rasa yang berbeda mulai hadir, dan menunjukan rasa berbeda. Sampai akhirnya, Marvin juga memberikannya t-s**t besar dan celana olahraga panjang yang tentu saja membuat gadis itu terlihat seperti orang-orangan sawah dengan pakaian serba besar. Tapi Zeze tidak menyangka, jika pria menyebalkan itu memiliki perhatian juga. “Makasih,” ucapnya malam itu menutup situasi yang tidak nyaman di antara mereka. “Hmmm...” jawab Marvin dengan pergi meninggalkan Zeze. “Tunggu...” Marvin memutar tubuhnya dan menatap Zeze dengan tatapan yang dingin, sama seperti biasanya. “Gue mau pinjam gunting.” “Untuk apa?” “Ishh... Apa lo nggak lihat, celana ini panjang banget dan gue nggak bisa tidur kalau pake celana kaya orang-orangan sawah gini,” ceroso Zeze tanpa sungkan. “Jadi kau berniat untuk menggunting celana ku, yang bahkan tidak akan pernah bisa kau beli dengan satu bulan gaji mu jika kau bekerja di sini?” Tanpa ragu, gadis itu mengangguk cepat dan  menatap Marvin. “Baik, aku akan memberikan mu gunting dan kau boleh sesuka hatimu untuk melakukan apapun. Tapi ingat! Harga celana itu adalah lima juta dan kau harus bekerja lebih lama di sini. Bersama ku.” Zeze terbelalak, bagaimana bisa harga celana seperti ini saja sampai lima juta rupiah. Sedangkan ia bisa mendapatkan barang seperti ini dengan harga lima ratus ribu rupiah saja. Orang kaya benar-benar keterlaluan. Tapi bukan Zeze namanya, jika ia takut dan tertekan dengan perkataan Marvin. Gadis itu justru memilih untuk mencari gunting dan tetap memtong celana mahal Marvin yang konon katanya berharga ‘lima juta rupiah’ itu. “Masa bodo! Gue nggak mau semakin tersiksa dengan memakai pakaian seperti ini,” gumamnya setelah Marvin keluar dari dalam kamar tersebut. Dan akhirnya, Zeze tidur dengan menggunakan celana ‘mahal’ yang sudah ia potong pendek, sampai memperlihatkan kaki jenjangnya. Setelah berendam cukul lama, ia merasa sanat mengantuk dan membiarkan semua kekacauan yang telah ia buat. *** Marvin mengetuk pintu kamar mandi itu perlahan, memanggil Zeze dengan keras dan suara sama persis seperti Krisna ‘sang ayah’ saat ia berteriak untuk membangunkannya. “Zeze!! Keluar dan pilih pakaian mu.” “Gue nggak bisa keluar! Gue butuh celana dalam sama pem...” suara gadis itu tertahan saat pintu kama mandi terbuka dan muncul tubuh tinggi yang kini menatapnya penuh curiga. Terkejut, Zeze langsung mendorong pintu hingga tubuh besar itu terjepit. “Apa kau sudah gila, hah?” teriak Marvin dengan mendorong pintu tersebut, sebelum pisang emasnya benar-benar terjepit pintu. “Lo itu memang nggak ada akhlak ya jadi cowok? Harus lo permisi dulu, kalau gue lagi nggak pake baju gimana?” “Ck! Aku sama sekali tidak akan tertarik pada tubuh tipis mu itu.” ‘What? Dia bilang badan gue tipis? Wahhh... ini namanya penghinaan,’ batin Zeze geram. Darah yang semakin mengalir membuatnya tidak nyaman, ia segera mendorong Marvin keluar dan kembali menanyakan barang khusus yang sudah ia pesan. Tanpa kata, gadis itu mengulurkan tangannya ke luar pintu dan menunggu pria kutub. Tapi sayangya yang ia dapatkan hanya sebuah pakaian, underware dan bra kupu-kupu yang sering ia lihat menggantung di toko-toko. Keningnya berkerut saat ia membolak balik pakaian yang ia terima. Dress dengan atas terbuka, dan panjangnya harga sekitar satu jengkal dari lututnya. “Ini baju apa... dan... mana pembalut yang gue minta tadi?” gumamnya saat melihat apa yang Marvin berikan. “Cowo kutub! Mana pembalut yang gue minta? Jangan bilang kalau lo lupa beli,” tebak Zeze. ‘Pembalut?’ Marvin kembali membuka pesan yang dikirimkan oleh gadis itu dan ternyata ia benar-benar melewatkan satu barang itu. Saat ini pria itu hanya bisa merutuki dirinya sendiri dan modar-mandir di depan pintu kamar mandi. Ia bisa saja keluar dan turun dari unit apartemennya menuju minimarket yang ada di lantai bawah, tapi bagaimana ia menyembunyikan wajahnya saat begitu banyak orang memandangnya dengan tatapan luar biasa. Seorang Marvin yang tidak memiliki adik ataupun kakak perempuan, membeli sebuah pembalut. Tentu saja ini akan menimbulan pertanyaan dan hot news untuk para pencari berita. “Tidak, tidak! Aku tidak akan turun dan membeli benda itu,” katanya dengan bingung. Sampai akhirnya ia menemukan cara untuk mendapatkan benda itu dengan cepat.   *** “Ini... Gara-gara benda ini, harga diriku jatuh!” seru Reno saat tiba di apartemen Marvin. Dengan cepat, Marvin langsung mengambil alih benda tersebut dan kembali mengetuk pintu. Tok, tok, tok “Ini benda yang kau minta,” katanya tanpa berniat untuk mengintip. “Lama banget sih, gue kan udah kedinginan...” ketus Zeze dengan mengabil benda itu kasar. “Bukannya berterima kasih, kau malah memarahiku.” Bukan ucapan terima kasih yang Marvin dengar, justru suara pintu yang ditutup kasar di hadapannya. Dalam ruangan yang sama, Reno terus saja memperhatikan interaksi Marvin dan seseorang yang masih ada dalam kamar mandi tersebut dan Ia yakin sosok itu tidak lain adalah Zeze. Tawanya hampir saja pecah saat melihat jarak pintu dengan hidung sahabatnya itu hanya berjarak beberapa ‘cm’ saja. Wajah kesal Marvin semakin menambah kebahagian Reno, dan akhirnya tawa itu pecah tidak terkendali. “Ah-ha-ha-ha... Vin, vin! Jadi seperti ini cara mu mempelakukan dia dan ini...” Reno menunjuk belajaan pria itu yang semua berisikan baju dan pakaian dalam wanita. “Ini sungguh lucu, apa semua ini kau beli sendiri, hah? Ha-ha-ha-ha...” “Diam!! Kau sama sekali tidak membantuku.” “Tapi ini sungguh lucu, Vin. Bukannya kau mengurung gadis itu untuk melayani mu? Tapi sekarang... Coba kamu lihat dirimu? Justru kau yang... Ah-ha-ha-ha...” Tidak bisa lagi mendengar ocehan sahabatnya itu, Marvin dengan cepat berlari dan mendorong Reno di atas ranjang, mencekiknya pelan untuk memberi peringatan para teman sekaligus orang kepercayaannya itu. Posisi Marvin saat ini menindih Reno, dan mereka terlihat ‘sedikit’ mesra dalam posisi tersebut. Tidak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka dan gadis cantik itu sudah siap dengan penampilan barunya. “Apa yang lo berdua lakukan? Gue benar-benar nggak nyangka kalau kalian penyuka adu pedang,” sindir Zeze keras. “Jaga bicara mu nona cantik! Ini hanya salah paham saja.” “Tidak masalah! Jika kalian memang ‘seperti itu’ aku merasa aman jika tidur dalam ruangan ini bersama pria cowok kutub itu.” Marvin menatap Zeze dengan tajam, tapi seketika tatapan itu berubah menjadi tatapan yang berbeda. Zeze yang keluar dengan menggunakan dress yang ia berikan terlihat berbeda, rambut yang ia kuncir kuda memperlihatkan leher jejangnya gadis itu yang putih dan mulus dan begitu menggoda. Dengan teliti, Marvin memperhatiakn setiap inci dari gadis feminim yang ada di ambang pintu kamar mandi saat ini. Dengan perlahan, ia mulai turun dari atas tubuh Reno dan berjalan mendekati Zeze. Tanpa sadar, Marvin menarik Zeze dan melihat kiri-kanan, bahkan bagian belakang ia perhatikan dengan seksama. “Tinggi sama, panjang rambut sama, tapi kenapa sekarang badan mu terlihat berisi? Jangan-jangan kau sedang mengandung?” tuduh Marvin dengan jari telunjuk yang mengenai hidung mancung Zeze. “You crazy? Helloo... mana ada cewek lagi dateng bulan hamil. Pak Reno, tolong periksakan cowok kutub ini, gue takut dia salah minuma obat.” Jemari lentiknya Zeze menyentuh pundak Marvin, tapi sayangnya hal itu bukan untuk melakukan adegan mesra bak sinetron korea yang sedang hits. Hanya sebuah godaan untuk mendorong tubuh besar itu agar tidak menghalangi jalannya untuk meninggalkan ruangan tersebut. “Oh iya... Kalau rumah sakit penuh, langsung aja ke rumah sakit jiwa.”  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN