19. Hukuman gaya Marvin

1274 Kata
Reno tertawa terpingkal saat melihat Zeze berkata tanpa beban untuk menghina Marvin. Dan pria itu hanya bisa bergeming, menatap kepergian gadis itu dari dalam kamarnya. “Kau!! Berani-berani kau mengatakan aku gila...” teriak Marvin saat Zeze sudah menghilang dibalik pintu. Tanpa menunggu lama, Marvin yang tidak terima dengan perkataan Zeze segera menyusul kemana gadis itu melangkah. Emosinya benar-benar meningkat, dan lagi-lagi ia harus menghadapi gadis ini dengan gaya khasnya yang dingin. “Selamat bertekuk lutut pada gadis itu, Vin...” “What the fu... !! Arghh... Kita lihat saja, aku atau gadis itu yang akan bertekuk lutut.” Setelah itu, Marvin melangkah dengan kaki lebarnya dan meninggalkan Reno yang masih tak kuasa menahan tawa, geli dengan yang terjadi pada Marvin. Dihina, diperintah, bahkan seorang Marvin harus rela membagi kamar tidurnya, yang bahkan pada Reno sendiri ia tidak ingin membaginya. “Aku sangat yakin, suatu hari nanti kau akan kalah dengan perempuan pemilik segitiga berenda kupu-kupu ini,” gumam Reno dengan mengangkat uderware berwarna merah muda, dengan renda kupu-kupu di bagian depannya. Tidak ingin melewatkan drama yang akan dibuat Marvin bersama Zeze, Reno langsung berlari mengekori kemana pria itu melangkah. Matanya celingukan mencari keduanya, namun ia belum bisa menemukan dimana Marvin berada. Reno adalah orang yang sangat tahu bagaimana sifat Marvin sesungguhnya. Ia sama sekali tidak pernah ingin berkomitmen dengan wanita manapun. Ia lebih suka bermain dan berganti wanita sesukanya, tidak ada yang pernah ia gunakan berulang kali. Setelah ia puas, maka mereka akan terhempas bagai debu jalanan tertiup angin. Hanya satu wanita yang selalu dengan berani mendekati pria itu ‘Tania’. Perempuan itu rela menjadi b***k ranjang dari Marvin, hanya untuk hidup dalam ketenaran dan bergelimang kemewahan. Tapi karena desakan yang timbul dari Anggoro, Marvin harus menundukan kepalanya dan menuruti apa yang di inginkan ayahnya itu. Beberapa kali Anggoro mengajukan para gadis dari berbagai kalangan, bahkan ia tidak segan menunjukan gadis itu di hadapan Marvin, tapi sayangnya mereka semua sama sekali tidak berhasil mendapatkan hati pria itu. ‘Mereka hanya ingin uangku dan itu sangat membuatku muak,’ katanya, setelah ia melihat semua wanita itu berlengak-lenggok. Dan detik itu juga Marvin memilih untuk meninggalkan Anggoro dan semua wanita berkedok kecantikan itu.   ***   “Kenapa lo malah nyamperin gue? Bukannya lo mau main kuda-kudaan sama ‘itu’...” tanya Zeze saat melihat Marvin yang sudah berdiri di hadapannya. Setelah itu, Zeze memilih untuk tidak menghiraukan keberadaan pria kutub yang dingin itu dan memilih sibuk memilih makanan dalam lemari pendingin. Hal itu tentu saja membuat Marvin semakin murka. Sebelum Zeze berhasil mengambil makanannya, dengan cepat Marvin menarik lengan gadis itu dengan kasar dan menjadikan mereka saling menatap. “Apa sihh... Bisa nggak, lo jauh-jauh dari gue? Please ya, lo itu bukan cowok tipe gue, jadi lo jangan deketin gue karena semua usaha lo akan jadi sia-sia saja,” cerocos Zeze tanpa melihat bagaimana reaksi Marvin saat ini. Marvin memilih diam dan hanya menggunakan matanya untuk mengatakan jika gadis itu harus segera bersiap-siap, karena apa yang ia lakukan saat ini sama sekali tidak bisa diterima oleh Marvin. Dengan cepat, Marvin memegang erat kedua lengan Zeze, sedikit mencengkram dan pada akhirnya tatapan mata keduanya saling bertumbukan. Menatap begitu dalam manik hitam satu sama lain. Zeze merasa ada yang salah dengan dirinya. Dalam dadanya mulai terjadi sebuah letupan-letupan kecil yang membakar hati, beriringan dengan detak jantung yang mulai tak beraturan. “Lepasin gue! Kalau enggak, gue bakalan bikin lo... hmmfft...” Tanpa ba-bi-bu lagi, Marvin langsung membungkam bibir merah muda yang tidak berhenti bicara itu dengan bibirnya. Hanya menempel, dan seketika hal yang Marvin lakukan mampu membuat Zeze bergeming dan membelalakan kedua matanya. Seolah tersihir, Zeze hanya mampu terdiam menatap mata Marvin dan saat bibir pria mulai bergerak, melumat dengan lembut bibir ranum itu tiba-tiba saja dengan perlahan mata Zeze tertutup. Sudut bibir Marvin sedikit terangkat saat melihat Zeze telah kalah dan mungkin juga ia tidak akan membuang kesempatan untuk membalas semua perkataan Zeze dengan sentuhan bibirnya yang begitu menggoda. Gemuruh dalam dadanya semakin menggila saat gerakan bibir Marvin mulai terasa semakin memabukan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia merasakan sensasi yang sangat luar biasa. Sengatan-sengatan listrik terasa mengalir di seluruh tubuhnya, membuat darahnya kian mendidih. “Hmmm... Lepas,” katanya di sela permainan bibir yang Marvin pimpin. Tapi sayangnya perkataan Zeze sama sekali tidak dihiraukan oleh pria itu. Seorang pemain seperti Marvin tentu saja dapat mengalahkan gadis polos seperti Zeze dalam hitungan detik, dan itu terbukti. Bukannya melepaskan pagutannya, Marvin memilih untuk memperdalam semuanya. Lidahnya mulai menggoda bibir itu agar sedikit terbuka, tapi Zeze masih mempertahankan semua itu dan menahan diri. Marvin melepaskan cengkramannya pada lengan gadis itu, dan perlahan tangan kekar itu mulai berpindah pada punggung Zeze dan bergerak dengan lembut, membuat tubuh gadis itu semakin meremang. ‘Yeahh... Jangan pernah bermain-main dengan ku,’ batin Marvin. Ia bersorak dalam hati saat merasakan bibir itu terbuka. Dengan cepat Marvin mulai menyerang rongga mulut Zeze dengan ganas. Lidahnya mengeksplor setiap inci milik Zeze, sesekali ia menggoda lidah gadis itu untuk membalas permainanya, tapi sayangnya Zeze hanya diam dan hanya bisa meremas jas yang masih melekat pada tubuh kekar Marvin. Lututnya mulai terasa lemas seiring dengan serangan Marvin yang semakin menggebu. Tangan yang kini mulai bergerak turun pada bagian belakang Zeze yang berisi, dengan gerakan s*****l Marvin meremas bagian itu tanpa bisa ia kendalikan lagi. Marvin merasakan hal yang berbeda, seakan rasa dahaga yang ia tahan tertuntaskan sudah dengan mereguk manisnya bibir Zeze. Desah napas keduanya kian memburu dan semakin lama semakin menarik mereka dalam hasrat yang semakin menggila. “Hmmm... hhhh... stop...” lirih Zeze dengan sisa-sisa kesadarannya. Marvin menggeleng. Sejenak ia melepaskan bibirnya dan menjauh dari wajah cantik yang kini sudah merah padam karena rasa panas yang menyergapnya. “Ini adalah sebuah hukuman untukmu,” kata Marvin dengan tegas. Dan lagi, pria itu langsung mendaratkan bibirnya pada bibir Zeze yang seakan menjadi candu baginya. Marvin melumat itu dengan ganas, bibir atas dan bawah ia permainkan dengan cepat, membuat Zeze kewalahan dan hampir saja kakinya tidak sanggup lagi untuk berdiri jika saja Marvin tidak menahan tubuh ramping itu. Desahan pelan mulai terdengar mengiringi permainan panas itu, sampai akhirnya Marvin memilih menyudahi semuanya sebelum ia lepas kendali dan melakukan hal yang tidak seharusnya. “Ingat ini baik-baik! Jaga sikapmu, karena hukuman ini akan berlaku setiap kali kau melakukan satu kesalahan.” Setelah itu, Marvin memilih untuk pergi meninggalkan Zeze yang masih mengumpulkan kesadarannya. Sisa desiran itu masih terasa nyata, bahkan ia masih merasakan jika bibir pria dingin itu masih menempel pada bibirnya. “I-ini... Dia—berani-berainya dia cium gue,” gumam Zeze dengan sadar. Ingin rasanya ia mengamuk, tapi debaran jantung dan kaki yang terasa lemas membuat ia bertahan ditempat. Mulai mengatur napas, setelah itu Zeze mendekati kran air dan membasuh wajahnya. Menggosok bibirnya untuk menghilangkan jejak-jejak kemesraan Marvin. Dengan menumpukan kedua tangannya pada tempat mencuci tangan, Zeze melihat pantulan wajahnya yang seperti kepiting rebus. Beberapa kali ia menggeleng, berusaha untuk menghmepaskan aroma dan sapuan lembut bibir Marvin yang membuatnya hampir saja kehilangan akal sehatnya. “Ini salah! Semua ini melanggar perjanjian, tapi...” Zeze kembali teringat dengan perkataan Marvin yang mengatakan, jika semua syarat yang ia ajukan sama sekali tidak berarti apapun dan semua itu terucap, tanpa ada bukti nyata. “Kenapa gue jadi bodoh gini sih... Aaahh... ini benar-benar bikin gue—“ “Gue menikmati semua cumbuan Marvin,” sergah Reno. Zeze terbelalak, ia sama sekali tidak menyadari kehadiran makhluk satu itu saat ia melakukan ‘itu’ bersama Marvin. Dengan memasang wajah biasa saja, Zeze langsung bergegas pergi menuju kamar mandi yang tidak jauh dari dapur, dimana ia berdiri saat ini. “Gue sama sekali nggak menikmati apapun!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN