Apartemen itu kembali sunyi saat Reno dan Marvin memilih untuk meninggalkan tempat tersebut, kini tinggalah Zeze seorang diri. Seakan menjadi seorang penguasa dalam sangkar emas yang telah mengurungnya itu.
Gadis itu nyatanya mulai terbiasa dengan kesendirian yang ia miliki, meskipun terbersit rasa rindu pada hati kecilnya. Ocehan Krisna dan bujuk lembut Melisa benar-benar membuat ia rindu pada masa itu.
‘Anak gadis kok sukanya keluyuran! Bukannya belajar masak sama Mama di dapur,’ suara itu begitu terngiang sampai membuat air mata gadis itu tak terasa menetes.
“Dasar cengeng lo, Ze! Gitu aja kok pake nangis sih,” ucapnya pada diri sendiri. Dengan cepat ia mengusap air matanya dan kembali tersenyum.
Pikirannya saat ini berkelana pada kedua pria yang sudah menjebaknya sampai terkurung dalam apartemen ini—Reno dan Marvin.
Sudah selarut ini, kedua makhluk tampan itu sama sekali belum menampakan batang hidungnya. Rasa bosan mulai hinggap, membuat Zeze memilih untuk kembali ke ruang tengah dan menyalakan televisi, berharap bisa menemukan tayangan yang membuatnya terhibur.
Dan benar saja, tepat pukul 11 malam, acara pertarungan bebas yang diselenggarakan oleh negara luar begitu menggoda untuk ia lirik. Benar-benar membuat matanya melebar dengan sempurna.
“Hajar... tendang, sekali lagi... desss...” gadis itu bersorak dengan begitu bersemangat dan tidak lupa tangan dan kakinya ikut bergerak heboh melihat jagoannya menang.
Tiba-tiba saja otak kriminalnya berjalan dengan begitu cepat. Balasan yang cocok untuk Marvin karena berani menciumnya telah ia siapkan dengan matang. Senyum nakalnya mulai terlihat mengerikan, entah apa yang akan terjadi pada Marvin saat pulang nanti.
Acara itu kembali berlanjut, dan gerakan demi gerakan ia perhatikan dengan seksama. Semua yang telah ia pelajari malam ini, akan ia praktikan pada sosok pria berotak kotor itu.
Zeze tentu saja tidak akan dengan mudah memberikan bibir sucinya pada pria arogan itu. Janjinya telah ternoda, dan siapa yang menodainya harus mendapatkan sebuah hukuman yang sesuai.
Beberapa menit kemudian, suara teriakan itu mulai mereda dan yang terdengar hanya dengkuran halus yang muncul dari bibir gadis itu. Tanpa sadar, Zeze tertidur di atas sofa. Sangat lelap, bahkan ia tidak menyadari jika saat ini televisilah yang sedang menyaksikan dirinya yang tertidur.
Rasa dingin yang mulai menyergap membuat gadis itu merapatkan tubuhnya pada dinding sofa dan memeluk bantal kecil itu dengan erat.
Tepat pukul dua dini hari, terdengar derap langkah yang mulai mendekati ruangan tersebut. Dengan sisa kesadaran yang ia miliki, pria yang tidak lain adalah Marvin menggerutu saat melihat televisi besarnya itu masih menyala dengan suara yang begitu keras.
“Kenapa televisi ini masih menyala? Apa aku lupa mematikannya?” sejenak ia berpikir.
Matanya mulai berpedar, mencari benda kecil dengan tombol yang begitu banyak untuk mematikan televisinya. Tapi karena ia ‘sedikit’ mabuk, benda yang tepat dihadapannya itu sama sekali tidak ia temukan.
Dengan sedikit sempoyongan, Marvin berjalan mencari kabel dan langsung menariknya, seketika benda pipih dan lebar itu berubah gelap. Marvin melepar kabel hitam itu dan berbalik menuju kamarnya, dengan memegangi kepalanya ia melewati sofa. Tapi langkahnya terhenti, keningnya berkerut dan kakinya mengambil langkah mundur.
“Wanita? Di sini?”
Dengan perlahan, Marvin menundukan kepalanya dan menelisik wajah cantik yang begitu natural dan polos dengan mata yang terpejam. Tiba-tiba saja tangan kekar itu terulur dan menyelipkan anak rambut itu pada telinganya yang putih, dihiasi anting yang berkilau diterpa cahaya lampu.
“Cantik...” Marvin membelai pipi itu dengan lembut, membuat sang gadis sedikit menggeliat manja dan menikmati belaian di wajahnya.
Lambat, akhirnya ia menyadari jika sejak beberapa hari ia hidup bersama seorang gadis yang begitu tidak tahu aturan, bahkan dengan berani menghinanya habis-habisan.
Tidak ingin peduli lagi dengan Zeze, Marvin menarik tangannya dan melangkah untuk meninggalkan tempat itu, sampai akhirnya gadis cantik itu menarik pakaiannya dan tiba-tiba saja ia terisak dalam tidurnya.
“Hiks... Jangan pergi, Ze takut ma... Ze takut sendirian,” lirihnya dengan mata yang masih terpejam.
“Anak manja!” cetus Marvin.
Tapi lain di bibir lain di hati. Meskipun bibirnya berkata demikian, hatinya berkata lain sampai akhirnya membuat pria dingin itu duduk di atas karpet lembut sekitar sofa dan menemani gadis itu. Dengan sisa-sisa kesadarannya, tangan kekar itu kembali terulur dan memeluk gadis itu erat dan mengecup kening Zeze mesra.
***
Pagi menjelang, cahaya matahari mulai menerobos masuk melalui celah gordeng yang tidak tertutup dengan sempurna, membuat sang gadis menggeliat dan perlahan membuka matanya.
Perlahan ia mulai membuka matanya, dan tersenyum saat mengingat apa yang ia rencanakan tadi malam. Tapi keningnya berkerut seketika saat ia merasakan sebuah tangan yang memeluk perutnya erat. Zeze hampir saja melojak kaget saat ia melihat tangan kekar itu adalah milik pria yang sudah mengambil kesucian bibirnya.
Tapi seketika semua berubah saat matanya melihat betapa indahnya pemandangan pagi ini. Saat membuka mata, ia melihat wajah tampan Marvin yang terlelap di dekatnya, bahkan tangannya masih saja ia bisarkan bersandar pada perut ratanya.
Entah sihir apa yang terjadi pada Zeze, sampai gadis itu enggan untuk memalingkan wajahnya dan terus menatap Marvin yang masih terlelap. Rambutnya yang berantakan semakin menambah kesan menawan pada pria itu.
Rahang tegas, dengan jambang yang mulai terlihat membuat ia ingin sekali menyentuh pipi pria yang sudah mencuri ciuman pertamanya itu.
“Gue baru sadar kalau ternyata cowok nyebelin ini ganteng juga,” katanya dengan wajah yang tersenyum begitu lebar.
Pagi ini terada ada yang berbeda, meskipun rasanya snagat aneh saat ia begitu nyaman dengan pelukan yang diberikan Marvin padanya. Tanpa ingin mengusik Marvin, dengan perlahan Zeze mulai melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya dan ia beringsut turun dan menyangga kepala pria itu dengan bantal.
“Mungkin setelah pagi ini kita akan bisa menjadi sahabat,” bisik Zeze dengan berlalu pergi meninggalkan sofa tersebut. Zeze langsung bergegas menuju kamar dan membersihkan diri sebelum ia memulai harinya.
***
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk gadis itu membersihkan diri dan seketika ia mematut dirinya di depan cermin. Meskipun tanpa polesan make up, wajah Zeze terlihat sangat segar dan semakin menarik dengan pakaian yang ia pilih. Benar-benar sangat cantik.
“Pagi ini aku akan menyiapkan makanan spesial, setidaknya ini akan menjadi awal baru untuk kita sebagai sahabat.”
Dengan cepat, ia berjalan menuju dapur dan mengeluarkan beberapa bahan makanan. Meskipun ia tidak bisa memasak banyak hal, paling tidak ia akan berusaha untuk menyiapkan hidangan istimewa dengan ikan sebagai menu utamanya.
“Sepertinya ikan kuah kuning cocok,” ucapnya saat melihat ikat segar.
Tiga puluh menit ia bergelut dalam dapur, dan akhirnya ikan dengan kuah kuning sudah tersaji. Serta tempura udang yang masih mengepul, siap untuk di santap.
Dengan cepat, ia melepas celemek yang masih menggantung dan segera mendekati pria yang masih tertidur dengan posisi yang telah berubah.
“Marvin... bangun,” bisik Zeze pelan.
Gadis itu kembali mengulangi hal itu, tapi sekarang dengan guncangan yang sedikit lebih keras. Gemas karena pria itu tak kunjung terbangun, Zeze membawa segelas air dan mencipratkannya beberapa kali.
“Hujann....!!!” teriak Marvin yang langsung bersembunyi pada kedua kaki jejang milik Zeze.
“Hahahaha... Hujan? Helooo... Lo itu ada di dalam ruangan, dan lo pikir kalau atap gedung ini bocor gitu,” cibir Zeze dengan gelak tawanya.
Marvin tersadar, dengan kepala yang pusing ia berdiri dan menatap tajam pada gadis yang sudah terlihat sangat segar dihadapannya. Tapi sayangnya tatapan tajam itu berubah seketika saat kedua bola matanya berubah haluan dan menatap bibir ranum gadis itu.
Dalam hitungan detik, Marvin mendekati Zeze dan langsung saja menempelkan bibirnya pada bibir gadis yang seakan menjadi candu baginya. Bau minuman begitu mendominasi, membuat Zeze merasa sesak dengan apa yang dilakukan Marvin.
Kedua tangan Marvin mulai berpindah pada pinggang ramping Zeze, dan bibirnya terus saja meminta ciuman itu untuk semakin dalam, tapi Zeze menolak dan memilih untuk memberikan pelajaran yang berharga pada pria menyebalkan itu.
Tanpa diduga, Zeze langsung menginjak kaki pria itu dengan sekuat tenaga, dan sontak saja Marvin memekik kesakitan dan langsung menjatuhkan tubuh besarnya di atas sofa.
“Apa yang kau lakukan?!”