Melihat reaksi Marvin yang begitu marah dengan apa yang dilakukannya, Zeze diam membeku dengan wajah yang berubah total. Suara Marvin begitu menggema, dengan tatapan yang begitu tajam pada sosok cantik itu. Niatnya untuk menjalin persahabatan dengan Marvin justru berujung dengan kemarahan pria itu.
“Gu-gue... Lo yang salah! Kenapa setiap kali ketemu gue, lo harus ngelakuin itu? Lo sentuh gue, lo samain gue sama cewek-cewek murahan yang lo perlakukan sesuka hati. Jadi ingat baik-baik, sekali lagi lo berani cium gue, rasa sakit yang lo terima akan lebih dari ini,” tegas Zeze dengan gaya yang tidak ingin terintimidasi oleh pria tampan itu.
Zeze mengungkapkan isi hatinya, ia benar-benar tidak rela dengan sikap Marvin yang sesuak hatinya. Zeze mungkin terlihat seperti gadis nakal yang sering menemani Marvin di ranjangnya, namun faktanya berbanding terbalik. Gadis bernama lengkap Zeze Angelin hanya seorang gadis biasa, dari keluarga sederhana yang sangat menyukai dunia malam.
Meskipun begitu, Zeze adalah seorang gadis yang memiliki prinsip untuk hidupnya. Hal itu jugalah yang menjadi penyebab gadis itu murka. Sejak lama ia menjaga diri, bahkan bersumpah untuk menyerahkan segalanya hanya untuk suaminya. Lalu tanpa rasa malu atau bersalah sedikitpun, Marvin malah merenggut kebanggaan diri gadis itu, bahkan ia mengulangi hal yang sama pada Zeze.
“Kesalahan mu sudah cukup banyak! Jadi pagi ini aku menghukum mu lagi,” balas Marvin tidak mau kalah.
“Kesalahan?” tanya Zeze dengan kening yang sedikit berkerut. “Sepagi ini, kesalahan apa yang gue lakuin?”
Marvin terdiam. Ia sendiri sama sekali tidak tahu kesalahan apa yang dilakukan gadis itu pagi ini, sampai ia harus memberikan sebuah hukuman padanya. Dengan cepat Marvin memutar otaknya, karena sangat tidak mungkin jika ia mengatakan apa yang dilakuaknnya hanya semata-mata karena ia tergoda dengan bibir merah muda milik Zeze.
Di hadapannya, Zeze masih setia menunggu jawaban yang akan dilontarkan Marvin. Dalam hati ia merasa sangat gemas, dan ia sadar jika ternyata pria itu hanya beralasan memberikannya hukuman hanya untuk mencium bibirnya lagi, lagi dan lagi.
“Lo nggak bisa jawab ‘kan?” sergah Zeze cepat.
“Tentu saja bisa!” jawab Marvin tidak kalah cepat. “Kesalah pertama, semalam televisi tidak dimatikan. Kedua, kamu sudah menarikku untuk menemani mu tidur di tempat yang tidak layak ini dan ketiga...”
“Cukup!! Alasan apa itu? Semua yang lo bilang barusan sama sekali tidak benar dan gue yakin lo hanya mengada-ngada saja untuk melancarkan akal bulus lo. Ayo ngaku...”
Kesal, Marvin kembali berdiri dihadapan Zeze dan sedikit mencengkram lengan gadis itu. Tatapannya memang dingin, namun ia melihat sesuatu yang selama beberapa hari ini sama sekali tidak pernah ia lihat dari pria itu.
Terlihat sorot mata yang sedikit lembut, bahkan menunjukan kasih sayang yang selalu ia lihat pada mata sang papa—Krisna.
“Ingat ini baik-baik gadis kecil! Aku sangat tidak suka dengan perempuan arogan dan kasar. Mulai detik ini, aku tidak ingin lagi mendengar ada kata ‘lo-gue’. Dan ya, mulai hari ini kamu harus memanggilku dengan Tuan Marvin. Ini yang terakhir, selama kamu tinggal di sini bersama ku jaga mata dan hatimu, jangan sampai kau jatuh cinta padaku!”
Buknnya marah, lagi-lagi Zeze tersihir dengan sosok itu saat jarak mereka bahkan sangat dekat, bahkan hidung mancung keduanya hampir saja saling bersentuhan saat Marvin berkata demikian.
Gemuruuh dalam dadanya tiba-tiba saja menjadi-jadi saat jarak itu semakin dekat, bahkan terlalu dekat, membuat Zeze merasa gugup dan tidak tahu harus berbuat apa. Lari atau justru ia harus jatuh dalam pelukan pria arogan yang menyebalkan itu?
“Gue....”
CUP
Satu kecupan kembali mendarat pada bibir gadis itu, dan untuk kali ini Zeze hanya terdiam, perlahan ia menutup matanya rapat saat sapuan bibir pria itu kian terasa memabukannya.
Saat Zeze mulai terasa melambung tinggi dengan desiran yang baru beberapa kali ia rasakan, tiba-tiba saja pria menyebalkan itu menghentikan ciumannya dan menatap Zeze dengan lekat. Lembut, bahkan sangat lembut.
“Aku sudah mengatakan, tidak ada lagi ‘lo-gue’ dan jika kata itu kembali terucap dari bibir ini, maka aku akan kembali melakukan hal yang sama atau bahkan berkali lipat dari hukuman pagi ini,” pria itu berkata setengah berbisik, membuat bulu kuduk Zeze berdiri terkena napas hangat Marvin yang tepat berada di bawah telingnya.
Dengan perlahan, cengkraman itu terlepas dan Marvin langsung bergegas menuju kamar tidurnya. Tubuhnya terasa sangat lengket setelah ia menikmati malamnya bersama Reno dan tentu saja ditemani oleh para wanita yang benar-benar luar biasa dari kalangan model.
Bagi Marvin, mereka para wanita yang pernah menghabiskan satu malam bersamanya hanyalah sebuah selingan untuk melepaskan dahaga dikala rasa lelah dan jenuh menghampirinya. Berbagai tipe telah ia rasai dan tentu saja mereka bukanlah para gadis yang selalu menggoda ke sana kemari. Para wanita yang selalu menemani malamnya adalah para wanita ekslusif dan setelah ia puas maka mereka akan menjadi santapan para p****************g lainnya.
***
Dengan perlahan, Marvin melepaskan kain-kain yang menutupi tubuh atletisnya. Kulit putihnya benar-benar kontras dengan tanda merah pada leher dan d**a kekar pria itu. Dengan santai, Ia berjalan dalam kamarnya hanya dengan menggunakan segitiga hitamnya, yang menyembunyikan sesuatu yang terlihat membengkak di dalam sana.
Seharusnya ini sama sekali tidak terjadi, setelah apa yang ia lakukan semalam. Tapi nyatanya dahaga pria itu masih saja belum terpuaskan oleh ‘mereka’ para wanita ekslusif.
Pria itu hanya mendengus dan sedikit mengintip pisang emasnya yang bersembunyi dibalik segitiga hitam branded itu. Perlahan, ia mengeluarkannya dan mematut dirinya secara utuh di depan cermin, tentunya dengan pisang emas yang sengaja ia pamerkan.
“Pisang emasku, sebenarnya apa yang kau inginkan? Kenapa sepagi ini kau sudah terbangun dan meminta seeorang untuk melahapmu,” katanya dengan sedikit mengusap miliknya itu. Sebenarnya Marvin berharap, jika daging tanpa tulang yang sudah mengeras itu akan kembali melunak dan tenang, bukan tegang.
Dengan segala tingkah konyolnya pagi ini, Marvin benar-benar memperhatikan detail dari badannya sendiri. Ia melihat ke kiri dan kanan, tersenyum saat pandangannya melirik pisang emas yang masih kekar itu.
Dan lebih dari itu, Marvin semakin penasaran dengan ekspresinya sendiri saat ia melakukan fantasi gilanya. Tidak ingin mati penasaran, Marvin mulai menyentuh pisang emasnya, dan memainkannya secara perlahan. Begitu menghayati, sampai ia sempat memejamkan mata dan tiba-tiba saja bayangan Zeze yang terlintas untuk menjadi objek fantasinya.
“Ohhh... rasanya nikmat sekali saat kau yang memainkannya, jangan berhenti sampai aku yang memintamu untuk berhenti,” katanya dengan kembali membuka mata.
Niatnya untuk mengetahu bagaimana wajah tampannya mengerang nikmat, justru kalah dengan sensasi yang ia dapatkan. Semakin lama ia semakin menikmati, sampai akhirnya tiba saatnya untuk pria itu sampai pada puncak kenikmatannya.
Di ambang pintu, tanpa di sadari oleh pria itu, saat ini Zeze melihat apa yang sedang dilakukan Marvin. Ia bahkan bisa melihat betapa besarnya ukuran ‘itu’ milik Marvin dari pantulan cermin besar dihadapan Marvin.
Jantungnya benar-benar tidak terkontrol, membuat Zeze harus menarik napas dalam sampai d**a gadis itu terlihat kembang kempis saat melihat semuanya.
Setelah semua yang dilakukan Marvin usai, Zeze langsung membalik badannya dan memegangi dadanya sendiri karena terlalu terkejut. Lebih tepatnya ia melihat sebuah kegilaan yang membuat ia bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana ‘benda besar itu’ menusuk bagian bawah miliknya.
Kini gadis itu hanya bisa merutuki dirinya sendiri, seharusnya ia langsung berbalik sebelum ia melihat apa yang seharusnya belum pantas untuk ia lihat.
“Sakit...” lirihnya tanpa sebab.
Seketika suara itu berhasil menyadarkan Marvin, jika ternyata ada orang lain yang telah menyaksikan kegilaannya itu. Tanpa berniat memakai pakaiannya lagi, pria itu berjalan tanpa ragu mendekati Zeze, bahkan tiba-tiba saja ia meraih pinggang gadis dan memeluknya erat.
DEG
‘Kenapa Marvin malah peluk gue? Terus, itu... dibelakang bemper apa yang gerak-gerak?’ batin Zeze bertanya-tanya saat ia merasakan sebuah benda keras menusuk pinggangnya.
“Jadi diam-diam kamu suka mengintip?” bisik Marvin.
Zeze tentu saja menggeleng. Ia benar-benar tidak berniat untuk mengintip, apalagi sampai harus ingin melihat benda pusaka milik pria itu.
Setelah apa terjadi, Zeze masuk ke kamar itu hanya untuk mengajak Marvin sarapan dan melanjutkan niatnya untuk bersahabat dengan pria arogan itu. Tapi setelah ini, Zeze tidak tahu apakah Ia masih ingin bersahabat dengan Marvin atau justru menjadikan pria itu musuhnya.
“Gue cuman mau...”
“Apa? Gue...” Marvin mengulangi kata ‘gue’ dengan menarik dan memeluk pinggang itu semakin erat.
“A-aku hanya ingin kita melakukan... Bukan melakukan!” Zeze meralat kembali perkataanya. “Ayo kita berteman.”