Ada beberapa meja kayu terletak di dalam halaman kecil itu. Dan ada empat orang duduk di salah satu meja.
Mereka adalah Wendy, Gladis, Diska, dan seorang gadis dengan berpakaian rapi.
Wendy memandang pada Sella, lalu bertanya dengan bingung, “Kok kamu bersama Damar?”
Sella tertawa dan menjawab, “Dia pergi ke warnetku dan membantuku menyelesaikan suatu masalah. Maka aku mengajaknya makan di tempat Pak Sarim, mudah-mudahan Pak Sarim bersedia memasak untuk kita.”
Kemudian, dia melirik ke dalam dan bertanya, “Di mana Pak Sarim?”
“Tadi kita sudah bertanya kepada muridnya, katanya Pak Sarim masih tidur, seharusnya sudah bangun sekarang,” jawab Wendy.
Damar bertanya, “Kita hanya beberapa orang saja, sewajarnya kita bisa mencicipi hidangannya.”
“Belum tentu juga,” Sella menghela napas lalu lanjut berkata, “Tergantung Pak Sarimnya bersedia memasak untuk kita apa tidak, dia tidak akan memasak jika dia tidak menyukai kita. Dan juga, mungkin kali ini dia rela menjamukan kita, tapi dia tidak mau lagi saat kali berikutnya.”
“Kenapa orangnya begitu aneh?” Damar tanpa daya, lalu berpikir dalam hati,” Sepertinya dia lebih aneh daripada kakek-kakek dan nenek-nenek yang ada di Night Watcher.”
Di sampingnya, Diska berkata, “Bukankah dia hanya seorang koki saja? Cukup kasih uang padanya. Aku tidak percaya dia tidak mau memasak untuk kita.”
Setelah dia berkata seperti itu, ekspresi orang-orang lain langsung berubah.
Wendy segera berkata, “Diska jangan berkata sembarangan, Pak Sarim bukan orang mata duitan, dan dia juga tidak kekurangan uang ...”
Diska mencibir, dia tidak melanjut berkata lagi karena tidak mau berargumen dengannya.
“Tadinya aku ingin menyiapkan dengan baik-baik untuk teman-temannya Wendy,” seseorang pria tua berkata pada saat ini.
Kemudian, seorang pria yang beruban dengan wajah yang memerah berjalan keluar dari kamar yang di samping. Pria ini memakai seragam koki putih, dan sampingnya diikuti oleh seorang pria paruh baya.
Meskipun dia datang dari dapur, namun seragam kokinya masih bersih dan putih.
Wendy tertegun, lalu dia berkata, “Kakek Sarim, dia tidak terlalu mengerti peraturan di sini, tolong abaikan dia saja!”
Pak Sarim menatap pada Diska, “Hari ini toko kami tidak buka, silakan kembali saja!”
“100 juta!” Diska menunjukkan satu jarinya pada Pak Sarim, “Jika kamu memasak untuk kami, aku akan memberimu 100 juta.”
Pak Sarim menoleh dan memandangnya.
Diska menyeringai, dia menatap wajah Pak Sarim yang sedang marah lalu berkata, “200 juta!”
“Si Bodoh ini!” Damar tidak menahan dan memakinya dalam hati.
Bagi anak muda seperti Diska, tidak mungkin ada orang yang tidak suka uang di dunia ini. Menurutnya, uang bisa menyelesaikan segala masalah, hanya masalah uang cukup atau tidak.
Wendy dan Sella mengerutkan kening. Tubuh Pak Sarim bergetar saat mendengar perkataan Diska.
“400 juta!” Diska terus menaikkan penawarnya.
Dia melirik Damar dan dia mencibir, “Pastinya kamu tidak mampu mengeluarkan uang sebanyak ini, bukan?”
“Dasar anak bocah, kamu benar-benar keterlaluan!” Pak Sarim memarahinya. Kemudian berbalik dan kembali ke kamarnya.
Pria yang berdiri di sebelah Pak Sarim memandang Diska dan berkata dengan suara dingin, “Guruku pergi istirahat karena hari ini tidak membuka toko, dan dia tidak bersedia memasak. Tolong kembali saja, dan kalian tidak perlu datang ke sini lagi, karena kami tidak akan melayani kalian semua mulai hari ini.”
Lalu, dia memandang pada Diska, “Anak muda, mungkin kamu sangat kaya. Namun, masih banyak hal yang tidak bisa dibeli di dunia ini. Kami tidak berani menyinggung orang kaya, tetapi kami memiliki hak untuk tidak memasak untuk kalian.”
Ekspresi Wendy dan yang lain langsung berubah.
Diska malah mengejeknya, “Bukankah kau hanya seorang koki saja? Ya sudah kalau tidak makan, mari kita pergi makan di tempat lain saja.”
Wendy dan Sella sudah tidak senang. Wendy melirik padanya dan berkata, “Kak Diska, kamu memang keterlaluan.”
Sella pun menghela napas, “Damar, ayo kita pergi, hari ini kita tidak beruntung.”
Diska masih terlihat tidak peduli sama sekali. Karena menurutnya, Pak Sarim ini sombong sekali, seorang koki saja berani bertingkah seperti itu.
“Aku ada cara, mungkin Pak Sarim akan bersedia memasak untuk kita,” Damar tiba-tiba berkata.
Yang lainnya memandangnya dengan cemas.
Diska mencibir, “Aku menawarkan 400 juta, dan itu pun tidak bisa membuatnya memasak untuk kita. Memangnya kamu bisa apa? Kamu ingin mengangkat barang untuk tempatnya ini?”
Gladis mengerutkan kening dan menoleh ke arah Damar. Dan Wendy lekas berkata, “Sudahlah Damar, Pak Sarim sudah tidak suka pada kita, jangan membuat masalah lagi.”
“Bagaimanapun, mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak akan pernah melayani kalian, dan hasil terburuk akan tetap sama,” Damar berkata sambil tersenyum.
“Ngomong-ngomong, aku baru saja melihat tangan kanan Pak Sarim terus gemetar. Apakah Pak Sarim pernah terluka saat muda?” tanya Damar dengan penasaran.
Pria paruh baya yang berdiri di pintu kamar mengerutkan kening ketika dia mendengar kata-kata pria muda ini.
Wendy menghela napas dan menjawab, “Ya, Pak Sarim dulunya adalah seorang koki di sebuah restoran Michelin. Ayahku bertemu dengannya dan menjadi teman baik. Kemudian, ayahku mengundangnya bekerja di Hotel Marriot ...”
Hotel Marriot adalah salah satu properti dari keluarga Kang.
“Setelah bekerja untuk kami, industri Kang telah berkembang pesat karena keahlian kulinernya. Namun pesaing kami saat itu, yaitu keluarga Dirga. Industri kateringnya telah terpengaruh. Mereka menawarkan pekerjaan untuk Pak Sarim ...”
Saat membicarakan hal ini, Wendy lanjut berkata dengan senyum masam, “Pak Sarim tentu tidak mau. Kemudian, tangan kanannya terluka dan dia tidak bisa lagi memegang pisau dapur ... Dia putus asa dan memilih untuk mengundurkan diri. Sesekali memasak di sini ...”
Damar mengangkat alisnya.
“Dia tidak bisa memegang pisau lagi, dan dia pasti tidak bisa memegang panci. Aku tidak percaya hidangannya enak,” Diska meremehkannya.
Wendy mengerutkan kening dan berkata, “Sekarang saat memasak di sini, semua bahan disiapkan oleh Pak Sarim, dan kemudian Pak Hadi akan membuatnya.”
“Pak Hadi adalah murid terbaiknya Pak Sarim ...”
Damar memandang pada pria itu. Pria paruh baya itu mendengus, dan tidak berbicara apa pun.
Diska juga menoleh, lalu berkata pada Damar, “Bukankah kamu bilang kamu ada cara supaya kita bisa makan? Kenapa kamu malah ingin tahu kisah sedihnya orang lain?”
Damar mengabaikannya, dia berlangkah maju ke depan pria paruh baya itu. Dia tersenyum dan berbisik padanya, “Apakah tangan Pak Sarim masih normal dalam kegiatan sehari-hari, namun tidak bisa mengeluarkan tenaga banyak?”
Hadi menoleh dan bertanya padanya, “Terus kenapa?”
“Kamu bisa masuk ke dalam untuk memberitahunya, aku ada cara untuk memulihkan tangannya. Tidak hanya memegang pisau dapur, memegang pedang pun tidak masalah,” kata Damar dengan yakin.
Hadi langsung tertegun, dia mencibir, “Setelah guruku terluka, aku sudah mencari semua dokter di kota dan desa, mereka tidak bisa melakukan apa-apa. Dan aku hanya mengetahui sebuah cara, namun cara ini sangat ekstrem.”
“Jarum Ghost Gate,” kata Damar.
Mendengarkan ini, Hadi menatapnya dengan terkejut, dia bertanya, “Kenapa kamu bisa tahu tentang ini?”
“Kondisinya disebabkan oleh kerusakan pada sistem saraf, dan perawatannya tentu adalah yang paling ajaib,” kata Damar dengan suara rendah.
Ekspresi Hadi mendung untuk sementara waktu, lalu dia menatap pria ini dan berkata, “Apakah kamu bisa?”
“Tentu saja aku tidak bisa, tetapi aku tahu seseorang yang akan melakukannya. Dan aku memiliki keyakinan penuh bahwa dia bisa disembuhkan,” kata Damar sambil tersenyum.
Bersambung