Perceraian
Di sebuah lokasi konstruksi di Kota JC, terlihat seorang pria sedang bekerja dengan begitu keras.
“Damar! Angkut semennya!” teriak seorang mandor ke arah salah satu bawahannya.
Damar, pria yang diperintahkan itu, terlihat sedikit menyedihkan. Dia mengenakan sebuah rompi yang memperlihatkan kulitnya yang terbakar matahari. Otot kekar terpampang jelas dari lengannya yang terbuka, terlebih lagi ketika dirinya sedang memanggul lima kantong semen sekaligus.
Ini adalah tugasnya pagi ini, untuk memindahkan kantong-kantong semen dari truk besar di gerbang lokasi konstruksi ke lokasi yang ditentukan. Untuk pekerjaan semacam itu, dia dihargai 800 ribu. Di sampingnya, seorang wanita berambut pendek dengan tubuh yang begitu menggoda terlihat mengikutinya.
Selagi tangannya bergerak-gerak mengisyaratkan emosinya, wanita itu menjelaskan kepada Damar dengan serius setengah membujuk. "Pak Damar, percaya pada saya. Saya bukan pembohong! Anda memang anggota terpenting dari pasukan rahasia kami, “Night Watcher".” Wanita itu mengerutkan kening, menyadari Damar tak meliriknya sedikit pun. Namun, dia terus melanjutkan, “Anda adalah senjata terkuat dari Penjaga Malam. Hanya saja di tengah sebuah misi tiga tahun lalu, kau menghilang. Sekarang, tampaknya kamu dulu terluka parah karena misi itu dan kehilangan ingatan!”
Dengan tumpukan kantong semen yang hampir mencapai 400 kilogram, Damar tidak terlihat kesulitan sama sekali. Pria itu berjalan dengan mudah, seperti tak membawa apa-apa. Namun, karena halangan wanita itu, dia terpaksa berhenti.
Mata Damar melirik wanita itu dan dia berkata, “Jangan tunda pekerjaanku, oke?"
Di dalam hatinya, Damar tahu bahwa wanita ini benar. Ingatan Damar hanya berjangka dari tiga tahun terakhir, dia tidak bisa mengingat apa pun sebelum itu. Namun, entah kenapa dia enggan menghadapi wanita itu.
Wanita misterius itu terkejut melihat tatapan yang Damar berikan padanya. Pria itu melewatinya seraya memindahkan semen, membuatnya sedikit kesal bercampur sedih melihat keadaan Damar sekarang. Seorang pahlawan yang begitu kuat dan ditakuti di seluruh dunia … sekarang berubah menjadi seorang pekerja konstruksi dengan gaji rendah!
"Pak Damar, selama Anda bersedia kembali dengan saya, tim akan menemukan cara untuk membantu Anda mengingat semuanya,” wanita itu menggelengkan kepala. “Anda tidak perlu bekerja keras di tempat ini, Anda akan memiliki kekayaan yang tak terhitung jumlahnya!"
Damar tidak repot-repot memperhatikan wanita ini, dia hanya mulai berjalan dan melakukan tugasnya.
Wanita cantik itu mengerutkan bibir dan menggertakkan giginya, "Pak Damar, pikirkanlah dengan baik, saya akan datang untuk menemui Anda lagi besok!"
Damar mengabaikan wanita cantik itu, ia fokus dengan memindahkan semen ke tempat yang ditentukan. Setelah sampai, pria itu melemparkan semen ke tanah, memercikkan debu yang tak terhitung jumlahnya, membuatnya terlihat semakin kotor.
Namun, itu adalah keseharian Damar, dan dia sudah terbiasa. Pria itu menyeka keringat dari dahinya dan terus berjalan menuju pintu.
Pada saat ini, tidak jauh dari tempat Damar berada, sebuah mobil berhenti. Seorang wanita paruh baya berpakaian cerah keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya.
Wanita itu mengenakan masker sambil berjalan dengan hati-hati di setiap langkah. Sepertinya, wanita itu sangat takut sepatu hak hitamnya akan kotor.
Melihat wanita itu, Damar menunjukkan sedikit ketegangan di wajahnya. Dia memanggil dengan cepat, “Bu!”
Orang itu adalah ibu mertuanya! Amelia Putri!
“Jangan panggil aku ‘Ibu’!” Amelia memandang Damar yang kotor dengan jijik. Dia lalu mengeluarkan dokumen dari tasnya dan berkata, “Ini adalah perjanjian perceraianmu dengan Sisy, tanda tangani secepatnya!”
Wajah Damar berubah pahit. Dengan kening berkerut, pria itu bertanya, "Ini ... kenapa?"
Semua bermula dari Damar yang kehilangan ingatan. Saat itu, dia diselamatkan oleh ayah Sisy dan suami Amelia, Adrian Raharjo. Di bawah restu Adrian, dia dan Sisy menikah. Namun, sungguh tragis bagaimana Adrian meninggal tiga bulan setelah pernikahan mereka.
Dalam tiga tahun terakhir, Amelia dan Sisy tidak pernah menganggap Damar sedikit pun. Meski keduanya tak bekerja, tapi mereka mengandalkan Damar yang bekerja di lokasi konstruksi untuk menafkahi keperluan mereka. Bahkan setelah semua yang Damar lakukan, keduanya masih begitu tak tahu diri terhadap Damar. Mereka merasa bahwa Damar hanyalah seorang yang tak berguna.
"Kenapa? Bukan kenapa-kenapa. Hanya saja, kamu tidak bisa berikan kami berdua kehidupan yang kita inginkan. Apa yang kamu miliki kecuali tenaga, hah?" Amelia menatap Damar dengan alis meninggi. "Pacar baru Sisy adalah anak orang kaya. Kamu lihat tas ini? Harganya 60 juta dari menantu baruku. Tidak hanya itu, dia juga akan kasih Sisy sebuah BMW hari ini,” dia menyombong. “Bagaimana denganmu? Sudah berkotor-kotor setiap hari, tapi hasilnya apa? Beli tas saja tidak bisa.”
Ada emosi yang menggebu-gebu di hati Damar. Selama tiga tahun terakhir, dia telah bekerja keras dan memberikan setiap lembaran yang dia peroleh kepada ibu mertua dan istrinya itu. Namun, tak hanya tak dianggap, dirinya masih direndahkan begitu rupa! Bahkan sang istri tak pernah memperlakukannya seperti seorang suami!
“Sudah, deh. Jangan banyak tanya. Tanda tangani cepat!” Amelia mencibir, “Setelah menandatangani perjanjian ini, kamu dan kami berdua tidak ada hubungannya lagi. Aku sudah mengemasi barang-barangmu dan mengirimnya ke pos keamanan depan gerbang lokasi konstruksi. Ambil sendiri!"
"Seluruh uangku telah diberikan kepada kalian. Satu sen pun tidak kumiliki sekarang, dan kau mau mengusirku?" ekspresi Damar menjadi semakin jelek.
“Rumah itu milik kami, jadi sudah sewajarnya kamu tidak boleh tinggal setelah perceraian,” Amelia berkata dengan jijik.
Damar mengertakkan gigi, "Aku yang membeli rumah itu!"
Amelia tersenyum menghina, "Nama di sertifikat adalah nama Sisy, tidak ada hubungannya denganmu. Oleh karena itu, cepatlah tanda tangani perjanjian perceraian ini! Terlalu lama berdiam di tempat ini akan membuatku kotor!”
Damar mencoba untuk menahan amarahnya. Dia mengepalkan tangannya sekuat tenaga untuk melakukan hal tersebut.
Demi janjinya pada ayah Sisy, Adrian, Damar telah bekerja keras selama tiga tahun. Pria itu berjuang untuk memenangkan hati ibu mertua dan istrinya. Tak hanya itu, dia juga berjuang untuk menafkahi keduanya setelah kepergian penyelamatnya itu.
Namun, sekarang sudah tak diperlukan lagi!
Damar mengambil perjanjian itu dan segera menandatanganinya. Dia memberikan surat itu kepada Amelia dengan ekspresi gelap.
“Bagus! Ternyata, kamu masih sadar diri!” Amelia melirik ke arah Damar dengan jijik. “Anggap saja Sisy sial karena pernah menyandang status sebagai istrimu. Untungnya, sekarang sudah berakhir, dan dia bisa terus mengejar kebahagiaannya sendiri.”
Damar mencibir dalam hatinya, “Kebahagiaan? Lebih tepatnya, kalian mengejar uang!”
Sebelum pergi, Amelia tidak bisa menahan diri untuk tidak menghina Damar, “Sudah, ya. Mulai sekarang, kami tidak akan ada hubungan denganmu. Jangan repot-repot mengganggu kehidupan kami. Melihatmu membuat mataku kotor!”
Melihat Amelia pergi, Damar merasakan darah di dalam tubuhnya mendidih! Dunia ini hanyalah dunia kotor yang mengakui uang!
Ketika memikirkan hal tersebut, Damar teringat oleh tawaran wanita cantik yang belum lama menemui dirinya. Pria itu mengertakkan gigi dan berlari menuju gerbang lokasi konstruksi dengan cepat!
Di pintu gerbang, terlihat wanita cantik itu masih berdiri di pinggir jalan. Sepertinya, dia sedang menelepon seseorang. "Oke, Bos, saya akan segera ke sana!"
Wanita itu mematikan panggilannya dan memasukkan ponselnya ke dalam saku. Karena sudut matanya menangkap pergerakan, dia melirik dan mendapati sosok Damar sedang menghampiri dirinya.
Melihat Damar datang, wanita itu terbelalak, "Pak Damar!"
Damar menghela napas dan berkata, "Apakah ucapanmu tadi sungguhan?"
Mata wanita itu membesar, seakan merasa keberuntungannya telah mencapai puncak. “Saya tidak mungkin berbohong kepada Anda!” Dia berkata dengan gembira, “Apakah Anda bersedia untuk ikut dengan saya?”
"Tidak,” Damar menggelengkan kepalanya. “Sebelum aku ikut denganmu, kamu harus buktikan padaku bahwa ucapanmu adalah kebenaran,” mata pria itu memancarkan kecurigaan. “Kamu bilang, selama aku bersedia untuk ikut bersamamu, aku akan mendapatkan kekayaan yang tak terhitung jumlahnya,” dia teringat janji si wanita. “Tolong buktikan kepadaku. Mungkin, kau bisa mengirim ratusan juta ke kartu bankku sekarang juga."
Wanita cantik itu mengerutkan kening mendengar permintaan Damar, sepertinya dia tak menyangka akan mendapatkan persyaratan semacam itu dari pria tersebut. Akhirnya, setelah beberapa saat terdiam, wanita itu mengeluarkan sebuah kartu dari tasnya.
Jari-jari lentik wanita itu menjepit sebuah kartu dan menyodorkannya ke arah Damar. "Saya masih memiliki tugas, dan saya harus segera melaksanakannya,” tutur wanita itu dengan penuh penyesalan. “Begini saja.” Matanya berbinar. “Seharusnya, Bapak memiliki sebuah kartu berlian dari Bank Royal. Kata sandi kartu itu adalah ulang tahun Anda,” wanita itu memberi tahu Damar sandinya. “Aset yang Bapak miliki tidak pernah disentuh oleh pihak kami. Dengan begitu, Bapak bisa pergi ke bank kapan saja untuk memeriksanya!"
Ekspresi Damar berubah. Dia memang memiliki kartu seperti itu. Namun, kalau bukan karena penjelasan wanita itu, Damar sepertinya tak akan tahu bahwa kartu tersebut merupakan kartu bank! Lagi pula, wujudnya sungguh tidak terlihat seperti kartu bank!
Selama sesaat, Damar membeku di tempatnya. Dia kemudian memandang wanita cantik itu, terkejut mengenai pengetahuan wanita itu mengenai dirinya.
Detik berikutnya, Damar dengan cepat berbalik dan berlari menuju pos keamanan. “Jangan sampai kartu itu hilang!” batinnya dalam hati.
Ketika dirinya sudah mulai dekat dengan pos keamanan, seorang pria paruh baya yang merupakan penjaga keamanan tempat tersebut keluar. “Damar, seorang wanita baru saja mengirimimu paket! Dia bilang itu punyamu!” cetus pria itu dengan sebuah senyuman ramah.
Walau penjaga keamanan itu berkata kalau Damar menerima paket, tapi sebenarnya wujud paket itu lebih mirip dengan sampah yang dibuang. Dengan kantong sampah hitam, Amelia membungkus barang-barang Damar. Dus saja tidak rela wanita itu berikan ketika dia mengusir menantu yang telah berjuang menafkahinya selama ini!
Damar tersenyum masam, lalu mengobrak-abrik kantong sampah di hadapannya. Hanya ada beberapa potong pakaian di dalam kantong sampah, dia tak melihat benda lain.
Tak lama, Damar pun melihat saku salah satu pakaiannya terselip sebuah benda pipih. Dia menjulurkan tangannya dan menarik keluar benda tersebut. Sesuai dugaannya, benda pipih itu adalah sebuah kartu.
Kartu di tangan Damar itu memiliki warna biru yang sudah mulai luntur. Ada hiasan berlian di beberapa sisi permukaan kartu tersebut.
“Ini kartu berlian yang wanita itu maksud, ‘kan?” batin Damar dengan mata berbinar. “Pak, aku titip barang-barangku di sini dulu! Aku akan segera kembali!” serunya selagi berlari pergi.
“Tidak masalah, tapi jangan lama-lama.” Penjaga keamanan itu berkata, “Ada satu truk semen besar yang jadi tugasmu. Kalau kamu lama, nanti mandor memarahimu lagi!” dia berniat baik untuk mengingatkan.
Damar tidak membalas ucapan penjaga keamanan itu, otaknya masih terlalu sibuk memikirkan ucapan wanita itu. Mana ada waktu bagi dirinya untuk memikirkan soal semen yang harus diangkut?!
Saat ini juga, Damar harus pergi ke Bank Royal untuk memastikan kebenaran kartu tersebut!
Bersambung