Bank Royal adalah bank yang paling misterius di Negara X. Skala penyebaran bank mereka tidaklah besar, tapi dikatakan bahwa jumlah tabungan yang mereka terima tidak boleh kurang dari puluhan miliar.
Dengan kata lain, Bank Royal adalah bank yang hanya membidik orang kaya!
Bukanlah sebuah keanehan bahwa Bank Royal bisa bertahan bahkan dengan jumlah nasabah yang sedikit. Itu dikarenakan nasabah-nasabah mereka adalah penggerak ekonomi negara. Dengan pelayanan yang luar biasa, terutama dalam hal keamanan dan kerahasiaan, bank ini menjadi pilihan banyak orang kaya.
Setelah Damar berlari begitu jauh dan bertanya kepada beberapa orang di jalanan, dia akhirnya menemukan lokasi bank tersebut. Sungguh memalukan bila mengingat bagaimana orang-orang yang ditanyakan menatapnya seperti seorang yang gila. Dengan penampilan Damar, tentu saja mereka tak habis pikir mengenai urusannya dengan Bank Royal.
Sesampainya di hadapan pintu masuk Bank Royal, Damar menghembuskan napas dan berjalan masuk. Baru dua langkah Damar mendekati pintu bank tersebut, seorang penjaga keamanan menghentikannya di depan pintu.
Penjaga keamanan tersebut mengerutkan kening dan menatapnya, ada kewaspadaan dan tatapan merendahkan dari pandangannya. "Ini adalah Bank Royal. Orang yang tidak berkepentingan dilarang masuk!"
Damar berkata dengan cepat, "Saya di sini karena ada urusan."
“Urusan?” satpam itu memandang Damar sambil tersenyum. “Apa kamu tahu Bank Royal itu bank macam apa?” pandangannya menyorot penampilan Damar yang sangat tidak senonoh. “Kamu bisa ada urusan apa di sini?”
Sebagai penjaga keamanan Bank Royal, pria itu telah melihat berbagai macam nasabah bank tersebut. Ada yang datang ke bank untuk melakukan setoran, melakukan transfer, dan banyak lagi. Kesamaan yang dimiliki orang-orang tersebut adalah … pakaian mereka yang glamor serta kendaraan mewah yang mereka pakai. Tak ada barang tak bermerek yang melekat di tubuh para nasabah itu.
Lalu, bagaimana dengan Damar?
Damar baru saja keluar dari lokasi konstruksi, seluruh tubuhnya kotor, rambutnya berlumuran abu semen dan wajahnya terlihat kusam. Lihat saja pakaiannya! Rompi putih terlihat termakan usia dan mulai menghitam, sepatu yang dia pakai saja sudah begitu usang! Kalau ada yang bilang Damar adalah seorang pengemis, maka penjaga keamanan itu akan percaya!
Lalu, bisakah orang semacam Damar memiliki urusan dengan Bank Royal?
“Damar?” Pada saat ini, suara seorang wanita tiba-tiba terdengar di belakang Damar.
Mendengar suara ini, seluruh tubuh Damar sekejap membeku. Tangannya bergetar ketika meresap ke dalam otaknya mengenai pemilik suara tersebut.
Damar menoleh perlahan, dan benar saja, itu adalah istr— mantan istrinya, Sisy.
Terlihat tidak jauh dari sana, sebuah mobil mewah yang terlihat sangat baru berhenti di parkiran khusus. Seorang pria dan seorang wanita baru saja turun dari mobil tersebut. Penampilan wanita itu sangat cantik dengan riasan tipis yang menonjolkan fitur wajah rupawannya yang alami.
Sisy berjalan menghampiri pintu masuk Bank Royal sembari bergelayut manja pada lengan pria tampan di sebelahnya. Keduanya terlihat begitu intim!
Melihat hal tersebut, Damar merasa emosinya kembali menggebu-gebu. Sungguh luar biasa! Dari keintiman kedua orang itu, entah sudah berapa lama mereka berhubungan di belakangnya.
‘Tiga tahun menikah, tapi ujung jarimu saja tidak pernah kusentuh,’ batin Damar dengan pahit.
“Ini Damar?” Pria tampan berpenampilan seperti seorang eksekutif itu menatap Damar dengan senyum tipis, terlihat dia sedang merendahkannya. “Mantan suamimu?”
“Hanya status saja,” Sisy mengerutkan bibirnya, menatap Damar dengan jijik. “Dia bahkan tidak menyentuh jariku sekali pun, jangan terlalu banyak berpikir!” Setelah itu, Sisy melihat ke arah Damar dan berkata, "Damar, ini pacarku, Dimas.” Dia tersenyum, “Kamu pasti sudah dengar, ‘kan?”
Ya, Damar memang pernah mendengar tentang orang ini. Dimas Candra, putra dari seorang pengusaha kaya terkenal di Kota JC. Bahkan sebelum dia sepenuhnya memegang kendali atas perusahaan ayahnya, nama Dimas sendiri sudah mampu menggetarkan seisi Kota JC. Hanya saja, walau kebanyakan orang di Kota JC tahu reputasinya, tapi bukan reputasi positif yang tersebar di seantero kota.
Damar tidak menyangka pacar baru Sisy adalah pria itu!
Dimas menatap Damar sambil menyeringai, "Terima kasih telah membantuku merawat Sisy selama tiga tahun terakhir."
Sisy melengkungkan bibirnya dengan tidak senang, "Menjagaku? Apa yang bisa dia jaga untukku? Dalam satu bulan bekerja keras, tapi dia hanya bisa mendapatkan kurang lebih dua puluh juta. Beli tas saja tidak bisa! Kamu berkali-kali lipat lebih baik dari dia!"
Sungguh tidak tahu malu!
Damar menundukkan kepalanya, tapi dia tidak bisa berkata apa-apa. Yang bisa dia lakukan adalah menahan emosi sambil mengertakkan giginya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” Sisy mengerutkan kening dan bertanya.
"Ada urusan," jawab Damar dengan tenang.
"Hmm?!" Pada saat ini, Dimas mencibir dan berkata, "Ada urusan? Memangnya kamu bisa masuk pintu ini?”
Baru saja Dimas mengatakan hal tersebut, petugas keamanan segera tersenyum. “Pak Dimas, silakan masuk!” ucapnya seraya mempersilakan pemuda tersebut. Sungguh jauh berbeda pelayanan yang dia tawarkan untuk Damar.
Sisy melirik Damar dengan tatapan menghina. Lalu, dia berjalan masuk ke bank dengan tangan masih menggandeng lengan Dimas.
Saat dirinya melewati Damar, suara Dimas bisa terdengar berucap, "Sisy, mobil mewah itu untukmu, hanya satu miliar. Cukup untuk menunjukkan ketulusanku, ‘kan?” tanyanya. “Aku tak ingin kamu pulang malam setiap hari.”
Mendengar hal ini, Sisy tersenyum manja seraya menganggukkan kepalanya, “Ya.”
Melihat adegan ini, tangan Damar terkepal erat. Dia melirik penjaga keamanan itu dan berjalan menuju pintu masuk lagi.
“Berhenti!” Penjaga keamanan itu melihat ke arah Damar dan mengeluarkan tongkat listrik di tangannya. Dia menunjuk ke arah Damar dan mengancam, “Pergi dari sini! Kamu tidak memenuhi syarat untuk masuk ke dalam tempat ini!”
"Aku benar-benar di sini karena ada urusan!" ulang Damar, tak lagi menggunakan bahasa sopan.
Pada saat ini, di belakang mereka, suara dingin terdengar, “Ada apa?”
Damar menoleh. Di belakangnya, entah sejak kapan, ada wanita tinggi dengan pakaian formal yang melekat di tubuhnya tengah berdiri. Wanita itu menatap Damar dan kemudian ke penjaga keamanan, alisnya sedikit mengerutkan kening.
Pada kemeja wanita cantik itu, terdapat sebuah tanda pengenal yang bertuliskan sebuah nama, “Clara Rusdianto”.
"Orang ini mengatakan dia ada urusan," kata penjaga keamanan sambil menunjuk ke Damar. "Namun, saya curiga dia merencanakan kejahatan, jadi saya tidak membiarkan dia masuk!"
Clara melirik Damar, wajahnya juga menunjukkan sedikit kewaspadaan, tapi dia masih bertanya, "Anda bilang Anda di sini karena ada urusan, benar? Apa Anda ingin melakukan penyetoran, penarikan, atau sesuatu yang lain?" Dia masih mempertahankan sikap profesional.
"Saya ingin periksa saldo," kata Damar jujur.
Petugas keamanan berkata, "Bu Clara, untuk apa masih membuang waktu menanggapinya? Dari pakaiannya saja terlihat dia bukan nasabah kita!”
Clara melotot ke arah penjaga keamanan itu, “Diam!” Dalam hatinya, dia memaki sikap tak profesional penjaga keamanan tersebut. Lalu, dia mengalihkan pandangannya kembali pada Damar, “Untuk periksa saldo, Anda pasti memiliki kartu, benar? Apa bisa tunjukkan pada saya?”
Damar mengangguk, dia mengeluarkan kartu bank berwarna biru kusam dari sakunya. Karena ada debu, dia dengan hati-hati menyekanya di tubuhnya. Namun, alih-alih bersih, kartu bank tersebut malah menjadi lebih kotor. Hal tersebut membuatnya sangat malu dan tersenyum canggung.
Namun, pada saat ini, Clara sama sekali tidak memedulikan betapa kotornya kartu tersebut. Dia terbelalak dan membeku di tempat.
Dengan tergagap, Clara menatap kartu bank itu dan berkata, “B-berlian. Itu kartu berlian!”
Damar terkejut dan berkata dengan curiga di dalam hatinya, "Serius? Jadi, wanita tadi tidak berbohong? Aku dulu orang berada?”
Clara mencoba untuk menenangkan dirinya, tapi napasnya sedikit tersendat. Dengan usaha keras, Clara mencoba menunjukkan sebuah senyum profesional.
“Selamat datang, Pak! Mohon maaf atas pelayanan keamanan kami yang buruk! Saya akan memastikan karyawan kami yang telah menyinggung Anda ini mendapatkan hukuman yang sepantasnya!”
Di samping Clara, wajah penjaga keamanan sekejap memucat.
Tang!
Tongkat di tangan penjaga keamanan itu jatuh ke tanah. Lalu, pria itu membelalak dan menatap Damar dengan terkejut. Dia membungkuk dengan cepat, “S-selamat datang, Pak! S-saya ….”
Meskipun hanya seorang penjaga keamanan, tapi pria itu juga tahu apa maksud sebenarnya dari nasabah kartu berlian. Menghentikan seorang nasabah dengan tingkat yang begitu tinggi, kemungkinan besar dia akan kehilangan pekerjaannya! Tak hanya itu, bisa-bisa dia diberikan hukuman dengan harus membayar ganti rugi karena menyinggung nasabah kartu berlian!
Clara melirik tajam penjaga keamanan tersebut. Namun, dia tahu kalau pelanggan di hadapannya tak mau berurusan panjang lebar dengan seorang penjaga keamanan. Oleh karena itu, dia tersenyum dan berkata, "Silakan Bapak ikut dengan saya! Saya secara pribadi akan melayani Anda!"
Damar sedikit menundukkan kepala, sedikit sungkan dengan perlakuan Clara. Dia pun mengikuti wanita itu dengan kebingungan bercampur keterkejutan. Lebih kaget lagi dirinya ketika Clara mempersilakannya untuk duduk di kursi VIP!
Pada saat itu, tidak ada banyak pelanggan di Bank Royal. Kebetulan, hanya ada Sisy dan Dimas di lobi. Melihat Damar benar-benar bisa masuk dan berjalan menuju kursi VIP, kedua wajah itu menunjukkan ekspresi keheranan.
Dua menit kemudian, semua karyawan dari seluruh bank membuat sensasi. Salah satu dari mereka terlihat sedang menelepon kepala bank cabang itu dengan wajah panik, “Halo, Bu, cabang kita kedatangan nasabah berlian! Tolong segera datang ke sini!”
Sisy dan Dimas mengerutkan kening mendengar hal tersebut. Sisy memandang staf di konter dan bertanya, "Apa level nasabah berlian ini tinggi?"
Wanita di konter tersenyum manis padanya. "Kartu bank kami memiliki sistem penilaian. Misalnya, kartu Tuan Dimas adalah kartu tingkat perak. Itu berarti Pak Dimas memiliki deposit sekitar dua miliar. Untuk kartu emas, maka depositnya sekitar dua puluh miliar. Kartu platinum memiliki deposit dua ratus miliar, dan kartu berlian …,” perkataan wanita itu berhenti seraya dirinya menghela napas. “Kartu berlian paling jarang diterbitkan. Sejak bank didirikan, hanya ada 9 kartu berlian yang diterbitkan. Entah berapa banyak deposit dari kartu tersebut.”
“Apa!?” Sisy tertegun, dan kemudian melihat ke arah kursi VIP dengan takjub!
Damar, seseorang yang tidak memiliki apa pun selain tenaganya yang besar, bisa memiliki kartu berlian?!
"Tidak mungkin!" Sisy berkata kepada wanita di konter dengan kening berkerut. "Orang itu adalah mantan suamiku. Aku tahu persis orang seperti apa dia itu. Dia adalah pekerja migran dan tidak memiliki keterampilan sama sekali. Jangan tertipu olehnya!"
Wanita di konter tersenyum, merasa sedikit aneh dengan betapa besarnya reaksi Sisy. “Jangan-jangan, dia menyesal menceraikan suami yang ternyata kaya?” tebak wanita di konter itu. Namun, dia mempertahankan sikap profesional dan berkata, "Masalah ini bukanlah sesuatu yang dapat saya campuri. Kepala Bank sedang dalam perjalanan, dia akan menerima nasabah itu secara pribadi."
"Sudah, Sisy. Kamu cukup tahu siapa dia sebenarnya. Untuk apa ikut campur begitu jauh?" Dimas memandang ke arah Damar dengan jijik. "Jangan pedulikan dia. Kita tidak mau kencan kita kacau karena dia, ‘kan?"
Sisy mengangguk patuh. Namun, sebelum dia pergi, dia berkata kepada wanita di konter, "Kamu harus memeriksanya dengan hati-hati. Pria itu mungkin pembohong, jangan tertipu olehnya!"
Wanita di konter itu tersenyum dan mengangguk. Lalu, dia membatin, “Ya ampun.”
***
Damar sedang duduk di atas sofa yang sangat nyaman. Di depannya, Clara menyerahkan sebuah tablet dan berkata, "Silakan masukkan kata sandi Anda, dan Anda dapat memeriksa saldo kartu bank Anda!"
Damar menghela napas, lalu memasukkan kata sandi berupa ulang tahunnya, sesuai dengan ucapan wanita di lokasi konstruksi tadi. Kemudian, layar tablet di depan wajahnya sedikit berubah, dan serangkaian angka panjang tercetak di depan matanya!
Bersambung