Damar terlalu malas untuk memedulikan Amelia. Dia mengabaikan wanita itu dan berbalik pergi.
Karena lapar, Damar pun mengunjungi sebuah warung tenda kecil. Dia memesan semangkuk bubur dan mulai makan sambil memeriksa teleponnya.
“Sesuai dugaanku, kamu sungguh di sini.”
Damar mendongak dan menemukan Steven baru saja masuk ke dalam warung. Pria itu duduk di depan Damar dan menatapnya tanpa berkata-kata.
Steven sama sekali tidak terkejut menemukan Damar di warung tenda ini. Hal itu karena Damar memang selalu makan pagi di sini.
“Kamu bukannya pergi kerja malah di sini, untuk apa?” Damar bertanya dengan heran.
“Kamu tidak beri tahu aku apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana mungkin aku bisa kerja dengan tenang?!” Steven geram. “Aku melihat nama dan fotomu di papan pengumuman kantor kemarin, kamu harus tahu betapa mengejutkannya itu bagi diriku. Cepat! Jelaskan apa yang sedang terjadi! Selain itu, jangan lewatkan masalah Didi, aku yakin itu juga ulahmu!”
Didi adalah mandor Damar dan Steven ketika mereka dulu bekerja sebagai pekerja konstruksi. Setelah menyuruh Clara menghadapi pria itu, Damar sama sekali tidak memedulikannya lagi.
“Didi?” Damar memasang wajah bertanya-tanya. “Kenapa dia?”
Steven mengerjapkan matanya, tak menyangka Damar sangat acuh tak acuh dengan apa yang terjadi pada Didi. Paling tidak, setelah apa yang mantan bos mereka itu lakukan, Steven kira Damar akan mengikuti berita yang terjadi padanya, termasuk kejatuhannya.
“Tidakkah kamu tahu bahwa beberapa perusahaan real estat akan menuntutnya? Bahkan setelah menjual semua yang dia miliki, mungkin juga dirinya sendiri, dia tak akan mampu membayar jumlah tuntutannya!” Steven mengambil satu potong cakwe dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sambil mengunyah, dia berkata, “Dia meneleponku kemarin, memintaku untuk menyampaikan permintaan maafnya padamu. Aku tak mengerti, dia tak bilang selama kamu mengizinkannya, maka dia akan bebas dari segala tuntutan.”
Dari cara bicara Steven, Damar bisa melihat temannya itu sama sekali tidak terguncang hebat mengenai perubahan identitasnya. Sikap santai Steven membuat Damar terkekeh, senang.
“Semua masalah yang dia dapatkan sekarang berasal dari kecurangannya di masa lalu. Dia mencari masalah sendiri, tak ada hubungannya denganku,” balas Damar dengan tenang.
Alis kanan Steven meringkuk dan berkata, “Aku tidak datang menemuimu untuk membahas masalah Didi saja, aku ingin tahu tentang keseluruhannya. Apa yang terjadi? Kenapa kamu bisa jadi Direktur Utama PT. Citra Adidaya?”
Damar menghela napas. Selama sesaat, dia terdiam. Setelah berpikir sekian lama, dia akhirnya merasa kalau memberi tahu Steven bukanlah masalah besar.
Temannya itu bisa dipercaya.
“Kau tahu aku kehilangan ingatanku ketika Pak Adrian menemukanku, ‘kan?” tanya Damar.
“Ya.” Steven mengangguk dan berkata, “Lalu?”
Damar melanjutkan, “Intinya, aku adalah seseorang yang sangat kaya. Beberapa hari yang lalu, aku mendapatkan kembali sebagian ingatanku.” Dia tersenyum tipis, terlihat begitu santai dalam berbohong. “Aku teringat dengan sebuah kartu yang kumiliki, dan aku pun menemukan bahwa saldo uang tersebut begitu besar.”
Steven mendengarkan dengan mata tajam, mencoba memastikan kalau temannya itu tak berbohong. “Teruskan,” ucapnya seakan dirinya adalah seorang penyelidik.
“Ya, begitu. Agar keluarga Sisy menyesali perbuatan mereka padaku, aku membeli PT. Citra Adidaya. Dengan demikian, Nessa bisa tahu tentang perubahanku,” jelas Damar singkat.
Mengenai kenyataan bahwa dirinya adalah anggota Night Watcher, Damar jelas tidak bisa memberi tahu Steven. Bukan hanya karena tak bisa, melainkan karena khawatir mengetahui hal tersebut akan membahayakan nyawa temannya itu.
“Kau berencana untuk ‘menampar’ mereka!? Menyenangkan!” Steven berseru dengan mata cerah.
Damar tersenyum. “Aku sempat berniat untuk melakukan hal tersebut sebelumnya. Namun, setelah beberapa hari, aku merasa mereka tidak sepenting itu. Kebencian yang kurasakan juga mereda,” jelasnya.
Setelah mendapatkan kembali ingatannya, Damar merasa pandangannya terhadap dunia sedikit berubah. Gabungan ingatan masa lalunya dengan ingatan tiga tahun belakangan ini membuatnya sadar bahwa dirinya … memang tak seharusnya berada di sini sejak awal.
Dan, tidak peduli apa yang telah terjadi, ayah Sisy memang telah menyelamatkan hidup Damar. Walau niat pria itu menyelamatkan dirinya tidak sepenuhnya suci, tapi utang budi tetaplah utang budi. Oleh karena itu, Damar berniat untuk merelakan rumah yang dia beli dengan hasil jerih payahnya, anggap saja itu balas budi terhadap ayah Sisy.
Yah, walau tidak berniat untuk membalas seluruh keluarga Sisy, tapi wanita itu dan ibunya, Amelia, tentu harus sedikit ditindas. Semua kesulitan dan penindasan mereka terhadap Damar tiga tahun belakangan ini tetap menimbulkan kebencian. Damar tidak akan melepaskan mereka begitu saja.
“Lebih baik kamu pergi kerja. Meskipun aku adalah pemilik perusahaan sekarang, tapi tidak baik jika kamu bolos setiap saat,” Damar memperingatkan. “Selagi kamu bekerja, ambil kesempatan untuk belajar keahlian yang diperlukan. Walau aku tak akan memecatmu, tapi bila orang lain menudingmu karena aku terlalu memanjakanmu, kamu sendiri yang akan kerepotan.”
Steven menyeringai mendengar ucapan Damar. “Aku tahu. Tentu saja aku tidak dengan sengaja bolos dari kantor. Aku sudah mengambil cuti,” ucapnya. “Perusahaan sudah mencairkan gajiku sebesar satu miliar.” Steven menyisir rambut, sedikit tak percaya dalam hidupnya dia akan menerima uang sebanyak itu. “Aku sudah menyelesaikan prosedur penanganan medis untuk Jimmy, dan operasi telah dilakukan tadi. Operasinya berhasil.”
Mendengar hal tersebut, Damar menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. Dia menepuk pundak Steven. “Bagus! Ini berita bagus!” Dia berkata dengan semangat, “Kembalilah dan urus anakmu. Ketika dia sadar, segera hubungi aku. Aku ingin menemuinya.”
***
Di depan pintu PT. Citra Adidaya, seorang pria berjas dengan sepatu kulit terlihat mondar-mandir di depan pintu. Kepalanya yang botak menunjukkan usianya yang telah mencapai setengah abad. Pria itu memegang tas kerja di tangan kiri dan sebuah dus berisi botol anggur di tangan kanannya. Wajah pria itu terlihat sangat cemas.
Tak lama, seorang wanita cantik berlari keluar dari perusahaan. Saat melihat pria tersebut, wanita itu bertanya, “Om Heri, kenapa cari aku?”
Ya, pria itu tak lain adalah Heri Sitara, kakak dari Amelia.
Ketika Heri melihat Nessa, senyum muncul di wajahnya. Dia dengan cepat berkata, “Nessa, begini. Om mau bertemu dengan Pak Riki. Sebelumnya, Citra Adidaya yang terus membantu mendistribusikan barang-barang perusahaan Om. Entah apa alasannya, kemarin ada pemberitahuan kalau kerja sama tersebut dihentikan.” Mata pria itu masih memancarkan kekhawatiran. “Om sudah coba cari perusahaan logistik lain, tapi harga yang ditawarkan terlalu tinggi.”
Mendengar hal ini, ekspresi di wajah Nessa sedikit berubah. Dia tiba-tiba teringat kata-kata Damar di hari pria itu kembali untuk mengambil barangnya di rumah Sisy.
“Kau akan menyesal.”
Ucapan Damar terngiang di kepala Nessa.
Bersambung