Gianna berdiri di sisi sang ibu sambil menggenggam tangan ibunya itu. Sementara di seberang sana, ada Sakha yang tak henti-hentinya memandangi calon istrinya itu. Cantik sekali pikirnya. Kelihatan anggun serta elegan. Benar-benar cocok bila bersanding dengannya. Sambutan pun kini sedang diberikan oleh ayahnya Sakha. Lumayan lama dan malah bercerita panjang lebar seperti tengah mendongeng saja. Tapi ya mau bagaimana. Biarpun ini adalah acara anaknya. Tetapi yang diundang malah kebanyakan teman ayahnya semua. Sedari tadi, ia bahkan hampir jarang melihat lelaki yang seumuran dengan Sakha berada di sini. Rata-rata dari mereka sudah tua. Sudah berumur juga. Gianna mendengarkan dan sepasang matanya sambil jelalatan ke depan. Namun tidak disangka-sangka, sepasang bola matanya itu juga akhirnya

