“Aku berangkat ya bu?” aku menyalami dan mencium tangan ibuku.
“Mama mau berangkat kerja, salim dulu nak,” ibuku mengarahkan tangan kecil bayiku padaku.
Kuraih tangan itu dan kudekatkan pada bibirnya. Mataku melihatku dengan senyum. Aku mencium pipinya. Ibu sudah memandikannya selagi aku berdandan tadi. Aroma bedak dan minyak rambutnya sejenak membuatku enggan meninggalkannya. Sehingga aku menciumnya sekali lagi baru kemudian menyalakan motorku.
Keluar dari halaman rumah yang tersambung antara halamanku dengan ibu aku masih bisa mengatur otakku seperti biasanya saat aku pergi bekerja. Sapaan tetangga satu dua kali juga masih bisa kubalas dengan basa-basi yang rutin antara pertanyaan dan jawaban yang tidak pernah berubah. Tetapi saat mulai keluar dari gang, saat jalan mulai ramai, anehnya fokusku justru terbagi.
“Mengapa dia justru mematikan ponselku? Tidakkah dia ingin tahu isinya? Dia memeriksanya lebih dulu? Tidak, pesan-pesan yang masuk menunjukkan pukul berapa dia mematikannya, itu saat yang sama sewaktu dia meninggalkan rumah.”
Isi otakku saling bertanya dan menjawab hal-hal yang sebenarnya tidak bisa kujaab sendiri dengan pasti. Termasuk dengan bekas cupang yang ada di d**a Mas Alif. Di antara kekalutannya ia datang kepada perempuan lain? Bisakah dia menyembuhkan lukanya dengan berada di pelukan perempuan itu? Siapa perempuan itu? Apakah perempuan yang sama dengan yang sebelumnya atau perempuan lain yang hanya akan diingatnya semalam saja? Apakah dia sengaja membuka bajunya demi menunjukkan bekas ‘noda’ itu atau tidak sengaja?
Jalanan menuju tempat kerjaku tidak dekat, lebih dari 25 km kurasa. Banyak jalan yang kulalui. Mulai dari pedesaan tempatku tinggal, yang masih berselang seling antara pemukiman dan persawahan, hingga melewati kota dengan banyak perkantoran dan pusat perbelanjaan. dan tempat kerjaku ada di area industri di kecamatan berikutnya.
Dengan otak yang penuh, aku beruntung bisa sampai di kantor dengan selamat. Karena rumah yang jauh, aku selalu berusaha berangkat lebih awal, mengantisipasi jalan yang padat di jam-jam berangkat kerja atau anak-anak sekolah. Maka jika aku sampai di kantor saat masih sepi, itu bukan pemandangan yang asing bagiku. Itu juga yang membuat atasanku menganggap aku sebagai karyawan dengan loyalitas tinggi. Ditambah lagi saat pikiranku kalut, rumah tangga yang tidak biasa-biasa saja, aku seringkali memilih lambat pulang. Jabatanku dipromosikan lebih cepat dari rekan-rekan sejawatku.
“Zi!” suara itu membuatku menoleh.
Laki-laki berkemeja di balik jaket kulit yang melekat sempurna di tubuhnya melambai padaku selagi masih berada di dalam mobil. Aku yang tadinya sudah melenggang menuju pintu masuk akhirnya menunggunya mendekat padaku.
“Bagaimana?” tanya Edo.
“Nanti saja,” aku menoleh ke seluruh arah, tidak ingin membuat desas-desus di kantor tempat kami bekerja.
“Aku mengkhawatirkanmu,” katanya.
Aku melihat kejujuran dari pernyataannya. Dia bukan orang yang biasa tampak kumal, tapi pagi ini, dari mataku aku tahu dia kurang tidur, aku juga tahu dia terburu-buru bangun dan bergegas pergi ke kantor.
“Saya baik-baik saja, terima kasih,” jawabku formal.
Kami berjalan beriring menuju ruang resepsionis, lalu berbelok ke deretan ruang kerja kami, kemudian kami berpisah di lorong lainnya. Di ruang kerjaku, ada enam meja kerja bersekat yang berisi lima orang dengan jabatan yang sama. Kami adalah supervisor bagian produksi sebuah pabrik mainan.
Begitu duduk di mejaku, aku menyalakan komputerku. Ada foto pernikahanku dan juga foto Thufail saat berusia 40 hari di desktopnya. Kita bisa bertahan kan? Kata orang-orang lima tahun pertama pernikahan dalah waktu yang terpanjang dan terberat, kita akan melaluinya bertiga bukan?
Tanpa sadar tanganku mengusap layar monitor seolah sedang meraba awal masalah yang kami miliki. Perkenalan yang singkat, pernikahan yang cepat, apakah juga akan berusia singkat? Ah, tidak boleh!
“Weh, sudah siap kerja nih mbak,” sapa Andin, teman kerjaku.
“Hahaha, bukannya setiap pagi kalau datang juga pasti begini?” jawabku.
Karena kedatangan Andin, aku mengakiri lamunanku. Aku melihat progress pekerjaan yang belum atau harus segera kuselesaikan. Banyak tempelan kertas di sekat mejaku. Note-note yang berfungsi pengingat itu kuambil dan kuremas jika sudah kukerjakan. Menyisakan beberapa yang masih menjadi tugasku.
Kuambil ponsel dan meletakkannya di atas meja. Belum lagi memeriksanya kembali. Andin kembali menegurku.
“Loh, pecah mbak ponselnya?”
“Iya, jatuh tadi malam.”
“Beli atuh, kan bonus produksi habis keluar?” godanya.
“Heleh, itu kan kamu yang ga punya butuhan apa-apa, aku masih ada tanggungan tau,” kilahku.
“Lah, kan suaminya udah PNS, gajinya gede ga tuh?”
“Alhamdulillah, bisa lah kalau untuk beli hp kek gini lagi,” jawabku asal.
“Nah!”
Aku tidak lagi menanggapi jawaban Andin. Cukup diam dan mulai menata prioritas tugas yang harus kukerjakan. Block note kembali kutempel dengan jobdesk baru. Baru kemudian memeriksa ponselku. Tidak ada satupun pesan dari Mas Alif. Tidak ada maaf atau meminta penjelasan lagi. Apakah dia sudah tidak tertarik dengan masalah kami? Mungkinkah dia sudah memutuskan mau dibawa kemana rumah tangga kami?
Pesan-pesan tidak penting kuhapus setelah kujawab, pesan penting kuberi tanda bintang, pesan tentang pekerjaan aku tulis di block note. Biasanya aku akan menautkan perangkat antara ponsel dengan komputerku, tetapi sejak aku ada hubungan dengan Edo, aku menghilangkan kebiasaan itu. Aku tidak ingin skandal kami tercium pada rekan apalagi atasan kami.
“Pulang kerja di Satu Lagi ya?” ajak Edo melalui pesan WA.
“He.em,” ketikku.
“Selamat bekerja!”
“Kamu juga,” setelah itu aku kembali menelengkupkan ponselku di atas meja.
Aku bekerja sesuai dengan tugasku, jika itu artinya aku harus bertemu Edo sebagai atasanku, aku akan bersikap profesional selama kami di kantor. Meskipun hubungan di luar kantor tidak mudah kami terjemahkan.
Aku mengetuk pintu ruangan Edo sebelum mendorong pintunya. Sama seperti ruanganku, di dalam ruang kerjanya juga dia tidak sendiri. Dia bersama dua orang lain yang kebetulan ketiganya laki-laki.
“Maaf pak, saya mau menyampaikan..,” belum lagi kalimatku selesai, Edo sudah menjawab sapaanku.
“Ah, ya silakan,” Edo memintaku duduk di depannya.
Dia tampak memeriksa dokumen yang kuberikan sebelum kemudian menandatanganinya. Setelah itu dia memberikan instruksi baru untuk apa yang harus kulakukan selanjutnya. Termasuk tentang beberapa pegawai produksi yang harus lebih kuawasi hasil produksinya.
“Baik pak,” sahutku sebelum undur diri.
“Tersenyumlah sedikit,” pesan itu tertempel di bawah tandatangannya.
Kuambil dan kuremas sebelum terbuang bersama dengan kertas-kertas penanda lainnya. Meskipun begitu entah mengapa aku kemudian mencoba tersenyum. Senikmat inikah diperhatikan? Atau memang ini hanya bingkai dari hubungan yang rumit dan nyaris terlarang. Dari luarnya tampak indah padahal dalamnya busuk. Ada kenyataan-kenyataan dan konsekuensi yang harus diterima sejak awal. Misalnya tidak bisa saling memiliki atau yang paling sederhana tidak bebas melakukan publikasi.