POV ZIA - RASA ASING

1765 Kata
Aku datang lebih awal, setibaku di cafe yang disebutkan oleh Edo, aku tetap menunggu di tepian jalan tanpa turun dari motorku. Dua menit dari kedatanganku, mobil avanza hitam Edo sampai. Dia membuka kaca sebelum benar-benar turun dari motornya. "Kok ga masuk dulu yank?" sapanya. "Mau masuk sama kamu," jawabku. Sesungging senyum terlihat dari bibirnya yang bahkan sedang tidak menoleh padaku. Setelah memastikan kaca kembali tertutup. Dia turun dan mengunci mobilnya. Kami masuk bersamaan di cafe kopi dengan beberapa menu makanan ringan. Di meja kasir, Edo mengambil daftar menu dan note pesanan untuk kami bawa ke meja kami. Setelah kami duduk, dia menyodorkan keduanya padaku. "Kamu mau pesan apa?" Tanpa menjawab, aku menerima lembaran menu yang disodorkannya. Memilih makanan apa yang ingin kunikmati sore ini. Aku lalu menuliskan awaken mocha hazelnut, katsu sando dan rocky wafel di nota pesanan. "Kamu mau makan apa?" "Espresso panas dan nasi dori smbal matah," jawabnya tanpa melihat ke menu. Aku menuliskan pesanannya di bawah pesananku. Kemudian dia memintanya kembali untuk membawa ke kasir. Setiap saat selalu begitu di manapun kami makan bersama. "Tell me what happened last night." Tanyanya membuka percakapan begitu dia kembali duduk di kursinya yang menghadap padaku. Kami sering menggunakan bahasa inggris untuk berkomunikasi jika apa yang kami bicarakan tidak ingin diketahui oleh pasangan kami masing. Tapi seiring berjalannya waktu, hanya ada perasaan asyik saja saat melakukannya. "Dia melihat pesanmu meminta fotoku kemarin, lalu mungkin dia melihat beberapa pesan lain di atasnya, dia marah lalu melempar ponselku." "Boleh liat ponselmu?" pintanya. Aku membalik ponselku yang menelungkup di atas meja lalu memberikannya padanya. Dia meraba kerusakan yang ada di layar ponselku. "Setelah melempar?" "Thufail menangis, aku menghampiri anakku dulu, setelah itu dia membawa ponselku. " Mendengar jawabanku. Edo mulai masuk ke sistem dan berbagai aplikasi di dalamnya. "Kenapa?" tanyaku. "Mungkin ada aplikasi penyadap," jawabnya. "Dia sepandai itu, tapi dia tidak akan sepeduli itu," kilahku santai. "Biar kuperiksa dulu." Aku mengijinkannya mengutak atik ponselku. Memeriksa dengan mengirim pesan beberapa kali dari ponselnya ke ponselku. "Tidak ada." Edo mengembalikan ponsel padaku. Aku menerimanya sembari tersenyum kecut. "Iya kan? Dia tidak akan sepeduli itu." "Lalu kenapa harus marah kalau tidak peduli?" "Supaya terlihat ada perlawanan, supaya terlihat aku yang paling bersalah dalam hubungan kami, dari dulu selalu begitu." Tampak Edo menghela napasnya. Banyak hal yang sudah kuceritakan padanya. Dari jawabanku tentu dia tahu akhirnya akan kemana. "Bagaimana dengan Fai, ibu, mereka tahu juga?" "Fai terkejut, dia menangis dan mimpi buruk beberapa saat. Ibu tahu, tadi pagi sudah menegurku. Meminta Mas Alif untuk datang ke rumah bapak." Pesanan kami datang, satu persatu makanan diletakkan di antara kami. Kami menjeda percakapan kami sampai pelayan mengkonfirmasi makanan yang kami pesan. "Terima kasih." Kami mengucapkannya bersamaan kepada pelayan itu sebelum dia menunduk dan berbalik badan. Salah satu yang membuatku akhirnya dekat dengan Edo. Dia mempunyai pemikiran yang tidak jauh berbeda denganku, attitude yang juga pantas di penilaianku dan satu yang sangat aku sukai adalah pengetahuan di atas apa yang aku miliki. "Bagaimana dengan Alif?" "Dia tidak pulang semalam, dia pulang tadi pagi hanya untuk mengemas beberapa seragam kerja dan kaos-kaosnya lalu pergi lagi." "Dia pergi dari rumah?" "Mungkin." Edo menunduk. Tidak menunjukkan rasa senang atau pun sebaliknya. "Aku cuci tangan dulu." Edo berdiri dan mencuci tangannya setelah mencoba makan dengan sendok tapi ternyata tidak begitu nyaman. "Tidak senikmat dengan ini," ungkapnya sambil menunjukkan lima jari tangan kanannya yang sudah bersih dan dengan lengan baju yang tersingsing. Aku membalas kemanjaannya dengan tersenyum. Dia kembali duduk sedangkan aku mulai menikmati makanan yang kupesan pertama kalinya. "Enak?" tanya Edo. "Not bad," jawabku. Meski ragu, tapi aku menyuapkan sesendok potongan lengkap katsu sando ke mulutnya. Dia mengunyah dan tampak terdiam menikmati sebelum akhirnya bilang. "Lidahku masih asing." Sebenarnya aku juga mengalami hal yang sama. Tapi memang rasa masakan ini tidak buruk. Aku terkejut saat di ujung tangannya yang terdapat sepotong daging dori dan nasi menjulur padaku. Perlahan kudekatkan mulutku. Aku makan dari tangannya. "Bagaimana?" Edo meminta pendapat dariku. "Iya, itu lebih sedap." Kami orang pesisir. Segala ikan laut jelas lebih familiar bagi lidah kami. Saat kami menikmati makanan, Edo sama sekali tidak membahas hal semalam lagi. Entah dia ingin menikmati suasana atau dia sudah mendapatkan informasi yang cukup. Kami justru membicarakan hal-hal yang sedang trending saat ini. Sesekali kami berfoto. Menggunakan ponsel masing-masing lalu menyimpannya di bagian terprivasindari ponselnya. Dari beberapa foto yang kami ambil. Aku hanya menyisakan satu. Membiarkannya ada di galeri. Dia melihat apa yang kulakukan. Ekspresinya datar tapi kemudian tersenyum tipis. "Kamu buru-buru yank?" "Ngga, kenapa?" "Ikut aku ayo!" "Ke mana lagi?" tanyaku. "Ikuti mobilku ya?" "Iya." Setelah kami makanan kami nyaris habis dan hanya menyisakan bagian-bagian yang tidak kami sukai saja, kami pun beranjak pergi. Tetap di kendaraan masing-masing meski punya tujuan yang sama. Seperti kemauannya, aku mengikuti ke mana mobilnya pergi. Meskipun mulai bertanya-tanya, takut dia mengajakku ke hotel atau sejenisnya. Setelah melewati lampu merah, mobilnya berbelok ke arah deretan ruko. Aku memarkir motorku di samping mobilnya. Lalu dia membawaku masuk ke sebuah toko handphone. "Pilih manapun yang kamu suka." "Manapun?" Dia hanya mengangguk. "Tanpa limited?" "Tanpa limited." "Tapi ponselku masih bisa dipakai kok?" "Beli yang baru, masak supervisor layar ponselnya remuk, malu sama anak-anak produksi yang hpnya iphone." "Ga harus iphone juga." "Makanya pilih aja yang kamu mau." Seorang sales lalu menghampiri kami dan mencoba membantu memilihkan ponsel yang kubutuhkan. Dia memperlihatkan beberapa lembar brosur berisi ponsel-ponsel keluaran terbaru. Setelah memilih dan mempertimbangkan harga, aku memilih ponsel android seharga 5 juta. Itu sudah setara dengan ponselku sendiri. Tidak lebih tidak kurang. "Kamu ga pengen yang ini?" tunjuk Edo pada produk Iphone dengan harga sekitar 17 juta. "Terlalu mahal, sayang kalau pecah lagi." "Ya udah terserah kamu." Pelayan menawarkan untuk install sendiri atau diinstalkan. Kulihat jam tanganku dan memastikan aku tidak pulang terlalu malam. Akhirnya kuminta untuk sekalian diinstalkan. "Kemalaman?" tanya Edo. "Tidak." "Kita belum beli apa-apa untuk Fai." "Nanti aku beli sendiri aja, makanan kesukaannya dekat rumah kok," sudah terbayang sekotak bubur instan yang bisa kubeli di waralaba dekat rumah. "Oke." Tidak lama, ponselku baruku sudah siap. Berdalih akan memindah simcardnya sendiri, aku memasukkan ponsel itu ke dalam tasku. "Makasih ya?" "Sama-sama," katanya sambil mengelus kepalaku yang tertutup jilbab. Kemudian kami saling berpisah karena berbeda jalan pulang. Napas yang panjang kuhembuskan agar aku siap untuk kembali ke kenyataanku. Pulang. Saat aku sampai di depan rumah, pintu rumahku dalam keadaan tertutup dengan lampu yang menyala, bukan pemandangan yang asing di mataku. Setelah mematikan mesin motor, aku berjalan ke arah rumah ibu. Rumah lebih sederhana yang ada di samping rumahku. Rumah kami memang di bangun oleh Mas Alif sendiri, tetapi berdiri di atas tanah yang sudah menjadi bagianku, pemberian dari kedua orangtuaku. Dari teras rumah ibu saja sudah terdengar ocehan Thufail yang ceria. Sesekali di selingi suara akung dan mbahbuknya yang bertanya atau sekedar “ngudang(menggoda anak bayi)”. Tanpa mengetuk pintu, aku masuk dan menuju ke ruang tengah. Biasanya ketiganya akan bercanda di depan televisi ruang tengah. Benar saja, Thufail dan kakek neneknya sedang bercengkerama di karpet bulu tebal dengan gambar doraemon. Thufail sedang duduk dan memukuli guling doraemon sambil tertawa-tawa. Tanpa sadar, aku juga ikut tersenyum melihat tingkah lucunya. “Assalamu’alaikum,” sapaku begitu ibu sadar dengan kehadiranku. “Loh, Mama sudah pulang, Mama pulang,” ibu menepuk paha Thufail dan menunjuk padaku. Melihat kedatanganku, Thufail memekik senang. Tubuhnya bergoyang-goyang seolah segera ingin menghampiri, menggapaiku. Aku pun mendekat dan berjongkok di dekatnya. Mengambil tangannya untuk bersalim padaku sebelum kemudian menghujani anakku dengan ciuman. “Mbok yo, kalau baru datang itu bersih-bersih dulu sana, main cium-cium ya kecut (bau) ya le (panggilan untuk anak laki-laki)?” goda ibu yang memintaku mandi dulu. “Nggih bu,” sahutku sebelum kemudian berdiri. Sudah hendak melangkah, tetiba bapak menahanku. “Zi,” panggilnya. “Nggih Pak,” sahutku. “Sudah kamu beritahu suamimu?” tanya bapak. Aku melihat ke arah ibu yang keluar dari kamar dengan membawa wadah s**u Thufail. Untung saja ibu tanggap dengan tatapanku. “Sudah ibu tadi pagi yang ngasih tahu Pak,” jawab ibu. “Terus jawab apa Alif?” “Nggih saja,” kata ibu. Bapak menghela napas, kemudian bertanya lagi. “Terus sekarang sudah pulang?” “Belum pak,” jawabku tanpa memberi tahu bahwa Mas Alif pergi membawa beberapa baju. Artinya Mas Alif mungkin tidak pulang untuk beberapa lama. Aku ragu untuk memberitahu Bapak tentang hal ini. Aku takut beliau justru akan datang ke rumah orangtua Mas Alif dan merembuk sendiri apa yang terjadi di antara kami. “Ya sudah, kamu mandi dulu, biar Thufail nanti diantar mbahbuknya.” “Nggih Pak,” jawabku sambil undur diri. Melihat kepergianku, Thufail tampak biasa saja dan tidak tertarik untuk menahanku. Mungkin karena dia sudah terbiasa dengan kepergian kedua orangtuanya. Tapi kalau nenek kakeknya yang pergi dia bisa merengek ingin ikut. Sampai di rumah, aku membersihkan diri dan mengemas rumah ala kadarnya. Ibuk dan Thufail juga sudah bermain di sofa depan TV. “Ibu tadi lihat Alif bawa tas besar Zi, apa dia membawa beberapa baju?” “Iya bu,” jawabku datar. Meskipun hatiku sebenarnya sudah berdebar bukan main. Betapa tidak becusnya ku berumah tangga. Baru seumur jagung saja, kedua orangtuaku sudah sampai harus turun tangan. “Berarti mungkin malam ini tidak pulang?” tanya ibu lagi. “Iya bu.” “Terus rencana kamu apa?” “Besok biar saya yang kerumah ibunya Mas Alif dulu bu, saya ajak Mas Alif pulang.” “Ya sudah kalau kamu sudah ada rencana begitu, jangan ditunda, ibu takut bapakmu sudah ga sabar ngadepi bojomu (suamimu),” kata ibu. Aku hanya mengangguk saja. Setelah selesai, aku menggantikan ibu menjaga Thufail. Seperti kataku, Thufail melihat ibu dengan sedih dan hampir merengek saat neneknya itu akan pulang. Tapi aku lalu mengalihkan perhatiannya. Aku menemani Thufail bermain dan mengajaknya tidur saat jam menunjukkan jam delapan malam. Anak bayiku sudah mulai sering menguap dan minta digendong. Dalam gendonganku, bayi itu segera tertidur. Aku meletakkannya dengan lembut ke tempat tidur. Aku lalu memasukkan motorku ke dalam rumah dan mengambil ponsel yang ada di dalam bagasinya. Dua ponsel. Satu lama dan satu baru. Aku menyalakan ponsel lamaku dulu. Melihat berapa banyak pesan yang masuk. Ternyata hanya beberapa pesan tidak penting, entah dari grup sekolah atau iklan kredit motor. Tidak ada pesan dari Mas Alif. Seserius inikah dia mengabaikanku? Meski ada keinginan untuk tetap berumah tangga, tetapi ada keengganan untuk minta maaf lebih dulu. Apalagi hanya melalui ponsel, rasanya sudah sangat tidak berguna. Aku mengganti kartu di dalam ponsel. Mengaktifkan semua sosial media dan email di ponsel baru. Sedangkan ponsel lama mulai kumatikan dan kusimpan di laci kamarku. Menunggui bayiku yang sudah lelap membuatku juga mengantuk. Akhirnya aku juga tertidur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN