Jarak antara rumahku dengan rumah Mas Alif tidak lebih dari tiga kilometer saja, hanya berselang satu dusun dan masih di desa yang sama. Seperti janjiku pada ibu, hari ini sepulang kerja, aku mampir ke rumah Mas Alif. Aku mendatangi rumah ini bisa dihitung dengan jari bahkan sejak pernikahan kami. Karena itu, bagi ibu Mas Alif, aku adalah menantu emas yang setiap kali datang, pasti ada sesuatu yang spesial.
Sekotak roti yang kubeli di jalan tadi masih tergantung di motor. Aku melepas helm begitu mematikan mesin motorku. Rumah Mas Alif itu kecil tapi bersih dan rindang halamannya. Apak mertuaku suka sekali berkebun. Menanam pohon-pohon yang berbuah dan harus bisa dimakan hasil panennya.
Aku mengambil oleh-oleh untuk mertuaku dan mulai menapaki jalan bebatuan yang ditata rapi. Suara motorku sepertinya cukup keras hingga membuat ibu keluar bahkan sebelum aku mengetuk pintu dan mengucap salam.
“Assalamu’alaikum bu,” aku mencium punggung tangan ibu mertuaku.
Beliau tersenyum dan mengajakku masuk. Di ruang tamu, Mas Alif sedang bermain ponsel sambil duduk dengan dua kaki bersila di sofa. Aku tetap melangkah masuk untuk menyapa bapak mertuaku yang sedang duduk-duduk di dapur menikmati televisi kecilnya.
“Hm, sudah pulang Nduk?” tanya bapak.
“Baru saja pak, monggo (silakan),” aku menghidangkan potongan roti yang sudah kusajikan di piring.
Tanpa berlama-lama, aku lalu kembali ke ruang tamu menemui Mas Alif. Tampaknya suamiku itu baru saja selesai menunaikan sholat. Rambutnya masih tampak sedikit basah, lipatan sarungnya juga masih tampak rapi.
“Mas,” walaupun agak ragu, aku mengambil tangannya dan kucium punggung tangannya.
Mas Alif tampak tidak menolak dengan apa yang kulakukan. Terdengar satu napas berat yang dia luapkan aku lalu duduk di sampingnya. Baru saja melepas tas dari pundakku, Mas Ali sudah bertanya tanpa melihat ke padaku.
“Sudah sholat Ma?”
“Belum.”
“Sholato dulu,” tanpa membantah, aku pergi ke mengambil wudhu.
Aku masuk ke kamarnya. Seperti dugaanku, Mas Alif juga baru selesai sholat pasti. Sajadahnya masih berada di bawah, walaupun biasanya dia pasti menggantungkan sajadahnya selepas sholat. Aku mengambil mukena dari lemari baju. Ada beberapa bajuku di sini, baju Thufail juga, aku merabanya. Masih sangat rapi walaupun sudah lama terlipat tidak terpakai.
Selesai dengan tiga rakaat yang kukerjakan, tiba-tiba ada perasaan masygul. Ada debarang jantung yang tidak menyenangkan. Tidak lambat tetapi juga tidak lebih cepat, anehnya detakan itu membuatku dadaku sedikit sakit. Seperti ada rasa tertekan yang menahanku untuk tetap duduk.
“Gusti, Njenengan (Engkau) yang membawa Mas Alif dalam kehidupan saya, Njenengan juga yang menyatukan kami dalam pernikahan, saya tahu sayalah yang bersalah kali ini, tetapi saya juga akhirnya saya sendiri yang lelah, jadi berikan saya kekuatan, untuk menerima apapun yang Njenengan kersakaken (takdirkan) saya ikhlas.”
Hatiku cukup hampa saat keluar dari kamar dan ternyata Mas Alif sudah tidak ada di ruang tamu. Terpikir bahwa perintahnya padaku hanya untuk memberinya ruang untuk pergi. Aku mengintip ke ruangan lain di belakang rumah, nyatanya tidak ada sosok Mas Alif. Dengan gontai, aku menyambar tasku di sofa dan keluar dari rumah. Ternyata aku melihatnya di bangku panjang dekat pohon kelengkeng.
Aku menghampirinya. Duduk di sebelahnya. Berat untuk mengawalinya tapi aku berusaha membuatnya kembali seperti kata ibu.
“Mas,” panggilku lagi.
“Sudah berapa lama?”
“Empat bulan,” jawabku.
“Sudah ngapain saja?”
“Makan, jalan-jalan, belanja,” aku menjawab dengan agak berpikir, perlukah berbohong atau sebaiknya jujur saja.
“Tidur bareng?” mendengar yang ditanyakannya, dadaku bergemuruh.
“Pernahkah saya tidak pulang Mas?” jawabku dengan menahan marah untuk pertanyaan yang sama.
“Kamu tahu hal seperti itu bisa dilakukan kapan saja, tidak harus malam.”
Tuduhannya benar-benar membuat hatiku mendidih. Bagaimana dengan bekas merah di dadanya? Dengan siapa dia melakukannya? Berapa kali? Sejak kapan? Tidak mau bertahan ya sudah. Tidak perlu menanyakan hal yang sekeji itu.
Mas Alif hanya diam dengan pertanyaanku. Aku tahu pertanyaanku sudah menjawab pertanyaannya walaupun sepertinya dia masih punya bantahan untuk jawabanku. Sepertinya dia memilih menahan diri dan diam.
“Mas ingat permintaan ibu kan? Bapak menunggu Mas, silakan selesaikan sebagai laki-laki yang pernah meminta putri dari keluarganya dengan baik-baik, kalau Mas ingin melepas saya, lepaskan juga dengan baik-baik.”
Berat, tidak sesuai dengan apa yang kurencakan tadi. Tapi pertanyaan yang kudengar darinya membuatku jengah dan berubah pikiran padanya.
“Iya nanti aku ke sana.”
“Kalau begitu saya pamit, kasihan Thufail.”
Sekali lagi menyalami tangannya tanpa perlawanan darinya. Aku lalu masuk ke rumah dan mencari kedua mertuaku.
“Lo kok buru-buru nduk?” tanya ibu.
“Kasian Thufail bu.”
“Iya, besok kalau kamu libur ajak main ke sini, kangen ibu.”
“Nggih.”
Aku berpamitan sekali lagi pada suamiku sebelum kemudian memutar motorku dan pergi dari halaman rumahnya. Baru beberapa meter, tangisku pecah kembali. Sesak menyeruak hingga mataku harus membuang cairan-cairan yang membebani pelupuknya. Setelah mencoba menghapus beberapa tetes yang mengalir di pipiku. Aku akhirnya memilih berhenti di daerah persawahan yang sepi, menelungkupkan wajahku pada setir motor dan terisak beberapa menit.
Beberapa tarikan napas kupaksakan untuk mengembalikan ketenanganku. Air mata sudah mampu kubendung. Hanya beberapa ratus meter, aku sudah sampai di rumahku. Semakin pelan laju motorku ketika hampir sampai. Antara sudah siap berhenti tetapi justru belum ingin sampai, motorku akhirnya sampai dan telah berhenti di halaman rumahku. Bersebelahan dengan motor Mas Alif yang rupanya sudah sampai lebih dulu.
Aku melirik sandalnya yang berada di rumah bapak. Aku masuk ke rumahku sendiri. Debaran jantungku meningkat kembali. Apapun yang akan dinasihatkan bapak, aku tahu demi kebaikan rumah tanggaku tetapi kali ini adalah salahku. Akankah Mas Alif mengatakan apa yang sebenarnya pada orangtuaku.
“Kenapa tidak memberi kabar, sudah sampai rumah?” pesan dari Edo juga kuterima setelah aku berganti baju dan siap ke rumah bapak.
“Ada Mas Alif, di rumah bapak.”
Aku sempat menunggu balasannya sebelum yakin dia tidak akan membalas pesanku lagi. aku menghapusnya selagi melangkah ke rumah bapak.
“Zi, Bapak dan suamimu sudah menunggu di rumah,” sambut ibu begitu aku sampai di teras.
Aku menggangguk dan masuk dengan rangkulan ibu. Tanpa mengangkat kepala, aku duduk di samping Mas Alif yang berada di dekat bapak. Ibu membawa Thufail menjauh dari kami.
“Piye le (bagaimana nak), winginane ono opo maneh (kemarin ada apa lagi)?” tanya Bapak.
Debaran jantungku yang belum lagi kembali ke ritme normal justru semakin berdebar dengan pertanyaan bapak. Aku menunggu jawaban Mas Alif. Akankah dia mengatakan keculasanku, yang artinya mungkin akan terjadi perpisahan antara kami. Atau mungkinkah dia masih akan memberi kesempatan pada rumah tangga kami?
“Biasa pak, dalam rumah tangga tidak akan baik-baik saja selamanya,” jawabnya.
“Iya Bapak paham, tapi di usia pernikahan yang harusnya sedang bahagia-bahagianya, tidak sepatutnya begitu sering terjadi pertengkaran, apalagi sampai kamu tidak pulang dua malam, ada apa?”
Aku yang tetap menunduk, kali ini untuk melengkapi rasa bersalahku, mataku memejam. Telingaku merespon gejala suara serendah apapun itu. Termasuk saat bapak menyeruput kopi saat menunggu jawaban menantunya. Sekalinya mataku terbuka, yang kulihat adalah gerak-gerik suamiku, dan berusaha menskenario bagaimana jika dia menjawab apa.