POV ZIA - KEGADUHAN

1056 Kata
“Maaf kalau tadi malam kami membuat kegaduhan lagi, tapi Zia masih tanggung jawab saya, ada baiknya bapak jangan ikut campur dulu.” Entah mengapa aku lega ketika mendengar jawabannya. Bisa jadi aku takut Bapak marah atau haruskan kuakui aku juga tidak benar-benar kehilangan dia. Bagaimana pun pernikahan kami telah terjadi, rumah tangga kami telah menghadirkan Thufail yang tidak boleh kehilangan sosok ayah atau pun ibu. Bagiku Thufail harus tumbuh di dalam ‘keluarga cemara’, aku tidak rela dia tumbuh tanpa salah satu dari kami. Meskipun itu artinya masih akan banyak cerita tidak terduga. Seperti kata bapak, di usia pernikahan kami yang baru seumur jagung, rasanya sudah tidak terhitung jari berapa kali kami bertikai. Melihat kekukuhannya menyembunyikan masalah kami, pada akhirnya bapak menyerah. Bapak hanya menekankan nasehat untuk kami berbenah dan tidak lagi-lagi membuat keributan. Kulihat Mas Alif mengangguk sebelum undur diri dari rumah Bapak. “Coba kamu sekarang yang duduk sini Zi,” panggil Bapak. Aku menurut dengan perlahan melepas pegangan tangan Thufail. Menyerahkan pengasuhannya pada Ibu untuk sesaat. Dengan menunduk, aku beringsut duduk ke samping Bapak. “Suamimu diam saja, apakah kamu juga akan diam saja? Bapak lelah dan merasa bersalah Nduk,” tutur Bapak. Semua kesalahan Mas Alif yang sudah dia lakukan padaku sesaat berkelebat, satu persatu dalam slide yang sangat cepat. Tapi yang terucap di mulutku justru sebaliknya. “Bukankah Bapak juga berharap aib Bapak akan disimpan Ibu dengan rapi?” “Kalau begitu tolong jangan buat keributan, kalau tidak bisa bertahan ya sudah lepaskan, toh ya suamimu tidak berkontribusi banyak, kamu masih harus bekerja, tugas rumah semua kamu yang mengemas, Thufail pun sudah nyaman denganmu dan kami, mana dari bagian hidupmu yang harus ada dia?” Aku menghela napas. “Bagaimana jika ternyata putri bapak yang bersalah?” “Apa yang sudah kamu lakukan?” “Aku punya orang lain Pak..,” belum lagi kalimatku selesai sebuah tamparan mendarat di pipiku. “PLAKK!!” “Dan Mas Alif tidak sengaja mengetahuinya,” aku tetap berusaha melanjutkan kata-kataku meskipun terasa panas di pipiku. Seketika ibu memelukku dan meninggalkan cucunya yang tengah bermain. Tapi sang cucu akhirnya menangis saat mendengar isak tangisku dan suara Bapak yang keras. “Bapak tidak pernah mendidik kamu begitu!” Ibu terlihat kebingungan, siapa yang akan dia tenangkan dulu. Hingga pada akhirnya dia memberikan Thufail padaku dan menenangkan Bapak. Dia berusaha mendudukkan dengan menahan tangan dan mengelus dadanya. “Sudah Bapak bilang, kalau ingin cerai bilang! Bilang!!” Aku masih bersimpuh di kaki Bapakku. Bayiku merapatkan tubuhnya padaku, tangannya menggapai-gapai kakiku. Rasanya tubuhku kaku hendak kugerakkan. Hanya air mata yang masih bebas mengalir. Suara keras bapak juga membuat Mas Alif ke rumah itu dan kemudian mendekat padaku. “Sudah malam Pak, kita selesaikan besok lagi.” Setelah mengatakannya, Mas Alif membantuku berdiri, menggendong Thufail dan membawa kami menjauh. Setelah keluar dari rumah Bapak, Mas Alif berjalan lebih dulu. Dia berada di depanku tanpa melambatkan langkahnya. Begitu masuk ke rumah, dia menyerahkan Thufail padaku. “Tidurkan dulu, ini sudah malam,” katanya datar. Aku menggendong Thufail ke kamar, mencoba menidurkan bayi yang masih agak terisak. Aku sendiri rasanya masih begitu sesak. Rasanya masih menangis jika suara bentakan Bapak terlintas di otakku. Seperti rekaman yang diputar berulang-ulang. Selama ini aku gadis kesayangan Bapak, jika dibandingkan dengan kakak-kakakku, aku adalah berliannya. Tapi kali ini dia membentakku sangatlah keras. Itu terasa amat menyakitkan. Seiring tenangnya Thufail, aku juga perlahan terlena dan mungkin tertidur sekejap. Setidaknya sampai aku merasa ada yang menyentuhku. Aku terkesiap dan sigap bangkit dari tempat tidur. Masih agak kikuk dan hening saat aku tahu Mas Alif yang ternyata ada di samping tempat tidur. Sempat saling bertatap mata, sebelum kemudian aku kembali ke tempat tidur, kami saling membuang muka. “Kenapa kamu ngomong sama Bapak, padahal aku berniat menutupinya?” tanyanya yang mungkin tahu aku tidak akan kembali tidur. “Aku ingin tahu, bapakku membela anaknya atau membela siapa yang benar.” “Jadi?” “Tindakan bapak sudah benar,” jawabku yang kembali mengundang ingatan saat Bapak menamparku. Rasa panas di pipiku kurasa sudah menghilang, tidak lagi sakit. Biarlah sejenak ini aku tahu reaksi bapak adalah dia akan membela yang benar dan akan memberi hukuman pada yang bersalah. Terlepas apakah itu adalah anaknya sendiri. Suatu saat aku janji, bapak akan tahu bahwa tidak sepenuhnya ini adalah kesalahanku. “Apakah masih sakit,” tangan Mas Alif membelai pipiku, bekas tamparan bapak. Aku menghempas tangannya tanpa memandang padanya. Tapi kemudian dia tetap mendekat. Meski di belakangku hanya tersisa sedikit tempat, Mas Alif tetap merebahkan tubuhnya di sana. Tangannya memeluk pinggangku. “Aku tak percaya kamu melakukannya, kalau kamu membantah hubunganmu, aku akan lebih percaya.” Dia mengucapkannya lirih. Sangat berseberangan dengan apa yang telah dia lakukan waktu itu. Saat dia mempertanyakan keabsahannya sebagai ayah kandung Thufail. Aku hanya bisa berprasangka bahwa dia telah dengan puas melampiaskan amarahnya pada si pembuat ‘noda merah’ di dadanya. Melahirkan rasa bersalah yang membuatnya luluh lagi padaku. Aku hanya terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun. Kupejamkan mataku. Melepas napas sehalus dan seteratus mungkin, berharap dia mengira aku telah pulas tertidur. Aku meragukan aku masih mencintainya, tapi bayi di dekapanku, rasanya terlalu kecil untuk hidup tanpa ayahnya. Karena itu aku hanya ingin semua masalah kami selesai dan tidak terulang. Dan aku masih butuh banyak waktu untuk benar-benar yakin masalah itu telah selesai. Bukan tertimbun. “Maaf, aku menuduhmu kemarin, aku terbawa emosi,” dia mempererat pelukannya. Dalam tidur penyamaranku, aku mendiamkan aksinya. Namun saat nafasnya berhembus terlalu dekat di leherku, aku hanya perempuan yang juga paham dengan sinyal biologis serupa itu. Aku mencoba menahan hasratku. Mencoba mengendalikan nafasku agar tidak terdengar memburu. Semakin menyempurnakan kepura-puraan tidurku. Tetap kupejamkan mataku, bahkan hampir tak bergerak. “Aku tahu kamu belum tertidur,” tuturnya lagi. Kali ini dia menarik tanganku dan mencium punggung tanganku. Harusnya dia yang marah dan aku yang meminta maaf, tetapi mengapa aku yang muak. Aku menarik tanganku dari rayuannya. “Aku lelah, mau tidur.” “Iya, tidur saja, aku yang akan menjaga kalian,” ujarnya tanpa melepas rengkuhannya di pinggangku. Aku menutup mata dan menghempas tangannya dari tubuhku. Di saat yang sama, ponsel baruku menyala. Di tempat yang lebih mudah di jangkaunya daripada jangkauanku. Dia pun segera melihat dan mulai bertanya. “Handphone siapa ini?” tanyanya datar, namun tak lagi semanis sebelumnya. “Handphoneku,” aku menjawab sembari merebut ponsel itu dari tangannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN