"Saya mantan istrinya!" tegas Sandra.
Tidak ada getar suara sedikitpun. Mungkin karena pada akhirnya dia sudah melepas suaminya yg tidak hanya penjudi tetapi juga tukang kawin.
"Lalu kenapa mbak masih di sini? Pantas saja Mas Sahrul ga pernah pulang ke rumah kami, jadi mbak merayunya lagi?!" perempuan itu dengan melotot meneriaki Sandra.
"Ya terserah saya! Saya yang bayar kontrakan kok kamu yang ngatur!!" bentak Sandra tak kalah keras.
Pandangan mataku berpindah ke asal suara yang jauh lebih keras dari lawan bicara dua orang itu. Sempat lupa dengan tujuanku yang hendak pergi dan berpamitan hingga Edo menyenggol jariku.
"Mh, San, saya pergi dulu ya, silakan kalian selesaikan urusan kalian, saran saya, selesaikan di dalam, malu diintip tetangga," kataku yang memang sempat melihat mata-mata di balik tirai rumah masing-masing.
Aku memberikan amplop yang sudah kusiapkan pada Sandra. Kupeluk sebentar dengan memberi ucapan maaf dan pamit. Sandra dengan sigap langsung menyimpan amplop itu di kamar bahkan tanpa mengantarku kembali ke mobil.
Perempuan hamil itu masih berdiri di ambang pintu selagi Sandra terlihat keluar kamar dengan ponsel menempel di telinganya.
"Kembali ke kantor?" tanya Edo.
"Kalau aku minta makan, kamu mau ngasih?"
"Hahahaha!"
Tawa Edo renyah terdengar seperti bentuk kata lain dari,"Iya, tentu saja."
"Menurutmu haruskah kita berhenti bersandiwara Do?" tanyaku.
"Masalahmu sudah selesai?"
"Belum."
"Jadi?"
"Aku takut kita tidak hanya bersandiwara, aku takut kita terlalu dekat dan... nekat."
"Kamu takut aku menghamilimu lalu menghilang seperti suami Sandra?"
"Husst, mulutnya tolong dikendalikan."
Aku diam dan menahan tangan yang hampir menggebrak meja saat pelayan datang membawa dua porsi ramen. Setelah bersamaan mengucapkan terima kasih, kami membuka sumpit dari kemasannya.
Edo mendekatkan saus dan sambal ramen padaku. Sedetik itu, aku merasa laki-laki di dekatku ini adalah tipe yang aku mau. Tindakan kecil tanpa pertanyaan dan tanpa permintaan menjadi nilai lebih jika aku harus membandingkannya dengan pasanganku. Tapi bolehkah membandingkan suami sendiri dengan suami orang? Bagaimana jika aku Sandra? Sesakit apa jika suatu saat menemukan perempuan lain yang meminta tanggung jawab dari perbuatan suamiku? Atau bagaimana jika aku menjadi perempuan tadi? Seperti pertanyaan Edo bahwa bisa saja aku menjadi terlalu nyaman dengan kehadiran Edo. Kebablasan dalam berhubungan tentu bukan hal aneh jika malam ini saja aku sudah mulai membandingkan Edo dan suamiku.
"Kita tidak akan sejauh itu Zie, percayalah."
"Kamu yakin?"
"Aku tidak percaya dengan kendaliku, tapi aku percaya dengan kendalimu."
"Bagaimana dengan pesan yang kukirim padamu tadi?" tanyaku.
"Aku tidak membalasnya kan?" jawabnya dengan pertanyaan juga.
Aku hanya mengangguk dan mulai menyesal mengapa pesan itu terkirim. Rupanya bukan aku yang terkendali tetapi justru dia yang dapat mengendalikan hubungan kami.
"Kenapa Sandra menikahi suaminya?" gumamku.
"Uhuk," Edo tersedak dan mulai terbatuk-batuk.
"Ganteng ngga, kaya ngga, kerja ngga," aku masih terus bergumam selagi Edo meminum teh hangatnya.
"Mungkin dulu baik, mungkin dijodohkan, atau mungkin keduanya pernah tulus."
"Ahhhh, sepertinya aku harus bertanya pada diriku sendiri."
Edo tersenyum sembari menggerakkan sumpit untuk mengambil beberapa utas mie dari mangkoknya. Kedai ramen sedang ramai-ramainya. Hawa dingin malam musim kemarau memang enak jika digunakan untuk menyantap ramen panas. Asap membumbung yang membawa aroma ramen memenuhi ruangan semakin menjadikan malam dingin ini menghangat.
Kami bukan satu-satunya pasangan yang ada di sana. Bahkan bisa jadi kami bukan satu-satunya pasangan yang saling menipu dan berbohong kepada pasangan sah kami.
"Kalau ngantar pulang langsung berani?" tanyaku.
"Harusnya aku yang tanya kaya gitu ke kamu."
"Tolong antar langsung ke rumah ya?"
"Oke."
Tepat setelah aku meletakkan bekas tisu yang mengelap bibirku, ponselku berdering. Ada gambar suamiku di sana.
"Kok belum pulang?" cecarnya.
"Masih makan, habis dari rumah pegawai."
"Ngapain?"
"Nanti aku cerita kalau di rumah."
"Iya, cepat pulang."
Setelah panggilan itu terputus, otakku seketika menjadi lebih jahat dari beberapa menit sebelumnya. Alih-alih pulang lebih cepat sehingga meminta Edo mengantarku pulang, aku justru ingin menunjukkan pada Mas Alif seperti apa orang yang sedang bersiasat dengannya.
"Ayo, katanya pulang?" tawar Edo yang sudah kembali dari meja kasir.
"Kamu beneran ga minat sama ajakanku tadi?" pancingku lagi.
"Ajakan mana? Ke hotel?" tanya Edo dengan memicingkan mata dan seringai kecil, "Pulang? ayo! aku mengajakmu pulang ini."
Dia melanjutkan pertanyaannya untuk mempertegas ajakan mana yang aku maksud. Dadaku berdebar. Kata hotel itu berkali-kali kueja di otakku agar mudah untuk kulontarkan daari mulutku. Tapi rasa kelu yang menjadikan lidahku kaku membuatnya tidak semudah itu terucap.
Melihatku yang terdiam berpikir, Edo mendekat dan merangkul pundakku. Ternyata aku menciut. Gerakanku menghindar dari pelukannya membuatnya tertawa. Tetapi hal itu membuatnya semakin erat memelukku.
"Jangan macam-macam dengan harimau lapar Zi, aku bisa menerkamu sekarang juga."
"Iya? Menakutkan."
Edo tetap merangkulku sampai kami di pintu mobilnya. Dibukakannya pintu untukku, juga menutupnya kembali setelah memastikanku aman. Kami memastikan langsung pulang tanpa mampir-mampir lagi, tetapi aku sudah memintanya untuk bersikap keterlaluan kali ini.
"Ayo Do, pulang!" ajakku.
Edo berdiri, sejenak melihati meja kami sebelum pergi. Mantra selepas makan kami ucapkan hampir bersamaan.
"Sudah? Tidak ada yang ketinggalan?"
Tanpa saling menjawab, kami hanya menggeleng dan tersenyum. Tidak sepertiku yang begitu sering memperhatikan ponsel, Edo terlihat hampir tidak pernah melihat ponselnya. Dia mengawaki percakapan saat kami sudah lama terdiam. Banyak hal menjadi perbincangan, seolah-olah banyak bahan yang sudah dia siapkan untuk menghabiskan waktu denganku. Hingga tanpa terasa, mobilnya sudah berhenti apik di depan rumahku.
"Mampir Do?" tawarku.
"Tadi challenge-nya cuma nganter pulang kan? bukan nganter ke dalam rumah?" kelakarnya.
"Iya, makasih sudah di antar."
"Sampai jumpa besok ya.. sayang."
Aku melotot mendengar panggilannya, tetapi juga tersenyum setelahnya. kulambaikan tanganku mengantar kepergiannya menjauh dari rumahku. Tapi aku masih berdiri, menunggu mobil Edo tak terlihat lagi.
Aku hampir melonjak saat melihat Mas Alif ternyata di depan pintu dengan senyum kecutnya. Kubuang pandanganku dan berlalu melewatinya.
"Kamu memintaku pulang dan ini balasanmu?!" tegurnya.
"Aku tidak sedang membalasmu."
"Itu selingkuhanmu?"
"Kenapa tadi tidak bertanya sendiri?"
"Aku akan bertanya kalau pengecutmu itu berani turun dan berhadapan denganku "
"Kurang kerjaan."
Aku langsung ke kamar mandi dan membiarkan ponselku ada di meja dengan sengaja. Tapi sepertinya perangkapku tidak terpasang apik kali ini. Mas Alif masuk ke kamar tanpa melihat isi ponselku.
Sebaliknya aku segera memeriksa celana dengan bukti struk hotel tadi pagi. Seperti dugaanku, struk itu sudah tidak ada di sana, bahkan celana sudah tercuci dengan bersih.
Dengan handuk yang masih mengeringkan tangan dan rambut aku masuk ke kamar membawa ponselku. Thufail masih bermain-main dengan riang. Aku memeluknya dan menciumnya gemas berkali-kali.
Aku kembali mengunci percakapan antara aku dengan Edo. Masih belum waktunya meledak kalau memang chat yang kujadikan ranjau belum terinjak.
"Tungguin Thufail sebentar ya? Aku mau ke cafe," pamit Mas Alif.
Aku hanya mengangguk tanpa menjawab.