POV ZIA - TUNAI

1006 Kata
Karyawan produksi itu berdiri tanpa membantah. Langkahnya lemah, dan tertunduk. Di ruanganku dia tidak membaca memo yang kuberi, tapi kurasa dia paham jika aku memintanya menemui Inke. "Suaramu terdengar sampai ruanganku," pesan dari Edo kuterima dan langsung terbaca. "Emosiku campur aduk. Maaf." Aku membalas pesannya dan kembali menelungkupkan ponsel yang juga darinya. Dadaku sudah tidak bergemuruh, tetapi perlahan otakku mengirim sinyal bahwa harusnya aku malu dan salah tingkah untuk suaraku yang meledak-ledak tadi. "Ndin?" panggilku pada Andin yang ada di sebelah meja kerjaku. "Aku keterlaluan ya?" "Responnya iya. Biasanya ga pernah kaya gitu, kukira malah Mbak Zia ga bisa marah, bisa juga toh ternyata." "Huhh." Aku menghela napasku dan menarik laci mejaku. Dari dalamnya sebuah flashdisk kuambil. Setelah flashdisk tertancap aku membuka dokumen alamat-alamat karyawan produksi. Kuketik nama karyawan yang baru saja kuminta menghadap personalia. Aku yakin Inke akan memecatnya dengan memo yang tadi kuberikan. Kode 362 yang tertulis pasti tidak mudah dimaafkan. Tapi jika memang sebelumnya prestasinya baik, kukira mungkin hanya akan dipotong saja gajinya. Tak lama ponselku berdering. Nama Inke ada di layarnya tanpa foto profil. "Iya Ke?" sapaku tanpa embel-embel sandang Mbak ataupun Bu. "Sudah cek cctv dan ada bukti?" tanyanya. "Sudah." "Kirimkan filenya padaku." "Baik." Aku mengirimkan link akses cctv yang kuterima dari keamanan padanya. Dia hanya membalas dengan emo jempol. Aku lalu tidak membalasanya lagi. Dan tak lama Inke mengirim file surat pemecatannya ke emailku. Kusandarkan punggungku pada kursi kerjaku. Andin pun menengok ke arahku. "Sudah keluar putusan?" "He.em." "Get the ax?" "Yup." Lalu kami terdiam. Sebagai manusia normal, kami punya rasa empati tentunya. Tetapi sebagai bagian dari korporasi, kami hanya bisa tunduk pada aturan, tidak peduli manusiawi atau tidak. "Pulang kerja temenin jalan ya?" tulis pesanku pada Edo. "Bawa mobilku?" "Ya." "Tumben?" "Aku g tau tempatnya." "Mau ke mana emang?" "Nanti aku kasih tau." "Oke." Kucatat alamat Sandra. Karyawan yang baru saja kupecat secara tidak langsung. Setelahnya aku kembali bekerja seperti biasa. Begitu pabrik mulai sepi, aku keluar kantor dan menunggu Edo di samping mobilnya. Tidak lama hingga dia datang dengan mengayunkan kunci mobilnya. Setelah terdengar suara beep beep dari kunci remote mpbilnya, kunci pintu mobil terbuka dari dalam. Kutarik tuas pintu dan masuk ke mobil. "Mau ke mana?" tanyanya. "Ke ATM terdekat dulu, terus ke toko beras." "Habis itu?" "Udah aku kirim tuh tujuan kita." Dilihatnya alamat di ponselnya. Aku yakin dia asing dengan alamat itu. Tapi tentunya tidak asing dengan daerah itu. "Ke rumah siapa sih?" tanya Edo lagi setelah kami keluar dari kawasan pabrik. "Sandra, yang tadi aku bentak." "Merasa bersalah?" Aku menengok padanya dan mengangguk. Senyum tipis melengkung dari bibirnya tanpa melihatku. Entah apa yang dia pikirkan. Tapi saat ada sebuah toko kelontong dia menghentikan mobilnya. "Tapi aku belum ambil uang," bisikku. "Ambil aja mau yang mana, aku yang bayar." Jawabannya membuatku melotot mempertanyakan kalimatnya. Harusnya dia paham bahwa aku ingin bertanggung jawab dengan tindakanku dan bukannya merepotkannya dengan keputusanku. "Sudah ambil aja, aku gak apa-apa," jawabnya sambil memilih air mineral di atas etalase. Akhirnya menunjuk satu karung beras 10 kg dan si penjual pun memisahkan beras yang aku tunjuk dari tumpukan dagangannya. Edo membayarnya dan mengangkutnya ke dalam mobil. "Kok jadi kamu yang beliin?" tanyaku. "Udah gak apa-apa, anggap saja aku juga bersimpati padanya." "Tetap ke ATM ya? aku mau memberinya sejumlah uang." "Iya." Tak jauh dari toko kelontong tadi ternyata ada sebuah ATM yang kebetulan sama dengan rekening yang aku punya. Edo memilih tetap berada di mobil saat aku turun dan mengambil uang dari tabunganku. Setelah beberapa lembar pecahan limapuluhan ribu keluar, aku menarik dan memindahkannya ke amplop. Aku tahu ini tidak banyak. Untuknya yang kehilangan pekerjaan, untuknya yang baru saja dapat uang pesangon, ini pasti tidak ada artinya. "Assalamualaikum," ucapku sambil mengetuk pintu rumahnya. "Walaikumsalam," jawab seorang anak kecil dari dalam rumah. Tetapi pintu belum juga terbuka sampai kau mengucap salam yang ketiga. Dengan helaan napas, aku berbalik arah dan hendak meninggalkan karung beras itu begitu saja di teras rumah kecilnya. Namun terdengar suara knop pintu terputar. Aku menoleh dan benar saja, Sandra sendiri yang membuka pintu rumahnya. "Boleh saya masuk?" tanyaku. "Silakan." Terlihat matanya sembab sehabis menangis. Hal yang sangat wajar dan kukira aku pun akan begitu jika berada di posisinya. "Apakah ibu akan melaporkan saya ke polisi?" pertanyaannya membuatku mendongak. "Tidak, aku masih berharap kamu bisa menemukan pekerjaan baru dan akan bekerja dengan jujur seperti dulu." "Terima kasih sudah mengasihani saya bu." Kali ini aku melihat sendiri air matanya tumpah dan dia mencoba menahan untuk tidak terdengar terisak. "Kalau boleh saya ikut campur, suamimu kerja apa?" "Kami sudah berpisah bu, saya tidak tahan karena gajinya yang kecil, pas-pasan malah digunakan untuk judi online." "Jadi karena itu juga kamu membiayai anak-anakmu sendiri?" "Iya, bapaknya sudah lama tidak tahu menahu dengan biaya sekolah anaknya, tapi jika anaknya mau keluar dari kampus, bapaknya marah, katanya kapan lagi bisa dapat pacar anak orang kaya kalau tidak di kampus." "Hah?" aku sedikit terkejut dengan jawabannya. Bagaimana seorang ayah bisa berpikir begitu. Sedang anaknya saja juga hanya anak seorang penjudi miskin yang berusaha memperbaiki masa depan keluarganya. "Kalau sekarang sudah pisah dengan bapaknya? Masih mau kuliah?" tanyaku lagi. "Kepalang tanggung bu, sudah semester delapan, tinggal lulusnya. Karena itu saya...," kalimatnya terpotong dan dia pun melirik ke arah dalam di mana anak-anaknya menonton televisi. "Besok mau bilang apa ke anak-anak?" tanyaku. "Saya sudah bilang saya di PHK bersama beberapa karyawan lain." Aku mengangguk. Tentu dia tidak ingin anaknya mengetahui perbuatannya mencuri barang produksi untuk dijual lebih murah. Baru saja aku hendak berpamitan, seorang perempuan dengan rok pendek di atas lutut juga mengetuk pintu rumah Sandra. "Permisi, ini rumah Mas Sahrul?" tanya perempuan itu. "Iya, tapi Mas Sahrul sudah tidak tinggal di sini," jawab Sandra. "Boleh tahu alamatnya yang sekarang mbak?" tanya perempuan itu lagi. "Ga tau Mbak, mbak ini siapa?" "Saya istrinya Mbak, tapi Mas Sahrul sudah sebulan tidak pulang, katanya ini rumah orangtuanya. Mbak saudaranya?" Perempuan itu bertanya tanpa rasa bersalah. Entahlah benar-benar tidak tahu atau sebebarnya pura-pura tidak tahu. Sandra terdiam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun. Seamplop uang di tanganku masih tertahan karena melihat Sandra tertegun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN