POV ZIA - TANGGA DARURAT

1145 Kata
“Istriku tidak berbuat kesalahan, pun aku tidak melakukan apapun denganmu,” jawab Edo. “Jika sebaliknya?” cecarku. “Aku tidak akan mempertahankan hubungan yang toxic Zi,” jawabnya sembari melihat ke arahku. Panggilan nama tanpa embel-embel yank ataupun bu itu membuatku mengingat awal kami membuat kesepakatan. Saat itu kami masih ada di ruangan yang sama, kami masih dalam jabatan yang sama. Seringkali melihatku murung saat hamil, dia memberanikan diri menanyakan keadaanku. “Are you okay Zi?” tanyanya waktu itu. “I’m okay, thank you,” jawabku sembari memaksa sesungging senyum. “It’s okay if you want to share,” katanya sambil berlalu. Saat itu aku masih menahan diri untuk tidak bercerita. Aku ingat pesan bapak tentang aib suami adalah aib istri. Pesan mengena yang membuatku menyimpan banyak keburukan pasanganku seorang diri. Tetapi keadaan semakin tak terkendali saat aku sudah tidak sanggup menahan laraku sendiri. Malam sebelumnya aku menemukan chat antara suamiku dan mantannya, mereka berjanji bertemu pada acara sekolah mereka. Hatiku hancur pada frasa “aku rindu” yang dikirim suamiku untuk perempuan itu. Aku menangis tersedu di tangga darurat saat itu. Tempat yang tidak banyak dilalui orang. Aku menelungkupkan wajahku pada kedua tanganku yang sudah basah oleh air mataku. Tangisanku juga membuat bayi dalam kandunganku ikut terguncang. Entah dia ikut sedih atau pun dia sebenarnya sedang menenangkan aku juga. “Maafkan mama ya nak, maafkan mama,” begitulah isakku. “Zi…,” sebuah panggilan pelan membuatku mengangkat wajahku. Saat itulah Edo berada di hadapanku dan melihatku yang lusuh dengan gamis yang basah oleh air mata. Setelah sejenak saling menatap, Edo melangkah mendekat, turut duduk di sampingku. Entah ragu atau kenapa, tangannya dengan pelan dan sedikit gemetar kemudian menyentuh perutku. Membelainya lembut setelah tahu bahwa aku sama sekali tidak mengelak. “Kasihani anakmu, jangan menyiksa diri begini, kamu bisa cerita padaku kalau mau,” kalimat itu sekali lagi terucap dari mulutnya. Tanpa segan aku menangis kembali. Kali itu tangannya mengusap punggungku dengan pelan. “Suamiku selingkuh.” Meski awalnya berat, tetapi kalimat iku akhirnya terucap. Dan ternyata benar, rasanya seperti sebongkah batu dipindahkan dari atas dadaku. Begitu lega. Begitu ringan. Begitu menenangkan. “Kamu baru mengetahuinya?” “Ya.” “Apakah itu hubungan yang lama atau masih ada?” “Masih ada.” “Sudah menanyakan kebenarannya?” “Aku melihat pesan mesra mereka dengan mataku sendiri.” Edo menghembuskan napasnya berat. Aku tahu tak banyak saran yang bisa dia berikan. Bisa dibilang taka da pertolongan yang bisa dia lakukan. Rumah tangga kami mempunyai wilayah sendiri-sendiri dan kami tidak bisa saling masuk ataupun saling menyampuri. “Jadi kapan kamu akan mengkonfirmasinya?” tanyanya. “Bisakah aku tidak perlu menanyakannya Ed?” tanyaku balik. “Tentu bisa, tapi bukankah itu akan sangat menyiksa, aku tidak tega dengan satu nyawa yang kamu bawa,” jawabnya sembari melirik perut buncitku. “Aku takut kehilangan dia Ed, aku takut saat bayi ini lahir, dia bahkan tidak akan mengenal ayahnya.” Tampak mengerti dengan maksudku, Edo hanya terdiam. Setelah hening sejenak dia pun menatapku. “Kalau nanti kamu ingin berhenti, kamu membalas perasaan sakitmu, aku ada untukmu.” Aku berpaling padanya, mengkonfirmasi kalimat yang sangat terdengar aneh dan begitu menggelikan. Kami sudah sama-sama menikah dan sama-sama saling tahu, lalu apa arti tawarannya? “Hanya jika kamu sudah tidak tahan lagi,” tegasnya. Kemudian dia berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. “Masih bisa kerja atau mau kuantar pulang?” “Kerja,” jawabku. “Ayo kerja dulu, nanti selepas kerja kita bicara lagi.” Aku menerima uluran tangannya. Seperti saat ini, ketika tangannya menggandeng pergelangan tanganku untuk perlahan menuruni tangga. Baru melepasnya setelah kami keluar dari pintu bertuliskan tangga evakuasi. “Jangan lupa laporan yang kemarin aku minta,” katanya agak keras. “Iya pak.” Kami berpisah seperti dua orang yang tidak punya hubungan. Ah, bukan, kami memang tidak punya hubungan. Aku dan Edo hanya teman. Teman dekat yang saling mengerti. Saking mengertinya sampai kami lebih saling mengenal daripada pasangan kami masing-masing. Aku masuk ke ruanganku. Mengerjakan beberapa lembar laporan dan mengerjakan to-do list yang tertempel di sekat. Otakku baru saja lupa dengan masalahku, saat satu persatu pekerjaan terselesaikan, tiba-tiba terdengar dering ponsel. Foto Mas Alif ada di lingkaran kecil di atas symbol telepon. Aku menggeser symbol telpon yang artinya aku memberi ruang untu kami terhubung. “Assalamu’alaikum Ma,” sapanya. “Walaikumsalam Pa,” jawabku lirih. “Tadi kamu mencuci bajuku?” tanyanya. Aku tahu mungkin sebenarnya dia mengingat struk hotel yang tertinggal di salah satu saku celananya. Tapi karena tidak mungkin bertanya langsung, sehingga dia mengubah pertanyannya. “Belum Pa, aku belum nyuci baju.” “Ah, ya sudah, kalau kamu capek, biar nanti aku saja yang mencuci.” “He.em, jawabku tanpa menolak tawarannya. “Ya sudah, selamat bekerja, nanti lembur atau pulang ontime?” “Ontime, kalau tidak ada halangan.” “Aku akan menunggumu.” “Iya.” Panggilan terputus setelah salam terucap dariku dan terbalas olehnya. Jam kerja tentu saja berbeda. Dia harusnya sudah berada di rumah pukul 15.00 berbeda denganku yang baru keluar dari pabrik malam hari. Jeda waktu itu harusnya digunakannya untuk menghilangkan lelahnya, mengobati rindunya pada anaknya atau pergi dengan teman-temannya. Aku tidak pernah melarangnya dengan itu. Tetapi waktu yang tersisa justru digunakannya untuk bermain api yang membakarku berkali-kali. Struk itu kembali membayang. Dia mungkin akan pulang lebih awal untuk menyelamatkan struk itu dari pandanganku. Padahal aku sudah tahu lebih dulu. Selamatkanlah dirimu lelakiku. Selamatkanlah selagi ada waktu. “Pernah bercinta dengan perempuan lain yank?” Alih-alih mengirimnya ke suamiku, aku justru mengirimnya pada Edo. Aku bahkan rela menunda pekerjaanku hanya untuk menunggunya membalas pesanku itu. Aku mengetuk dua kali setiap layer ponselku mati. Centang biru. “Tidak pernah, kenapa tiba-tiba bertanya begitu?” balasnya. “Pernah ingin mencoba?” “Ada apa?” “Aku ingin membalasnya.” Pesan itu langsung menjadi biru. Tapi tak pernah mendapat balasan bahkan sampai aku menggebrak meja kerjaku. Seluruh mata menatapku. Tapi tidak ada yang berani bertanya. Kekesalanku menjadi wajar saat ada seorang karyawan dilaporkan melakukan penjualan illegal dengan harga murah pada barang non reject. Dan karyawan itu sekarang sedang berada di depanku. “Sejak kapan?” tanyaku datar. “Baru sebulan bu,” jawabnya lirih. “Sebulan? Baru?” bentakku. “Sudah mbak,” halau Andin sembari melirik ponsel pegawaiku yang tertelungkup. “Aku ga peduli sekalipun pembicaraan ini kamu rekam ya! Aku juga bisa membawa rekaman cctv ke polisi dan melaporkanmu pasal pencurian. Apakah perusahaan ini menunggak gajimu? Adakah hakmu yang belum kami tunaikan??!” “Tidak bu.” Kali ini mukanya terlihat cukup kesal bercampur ketakutan. “Kenapa kamu mencuri?” tanya Andin. “Anak saya mau masuk kuliah bu, saya butuh tambahan uang.” Kami segera menjadi tidak berdaya. Pasukan iba menerpa d**a kami bersamaan. Tapi kelakuannya tentu tidak bisa diterima di dunia kerja. Aku menuliskan sebuah memo. “Bawa ini ke Bu Inke!” perintahku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN