Setelah mengecup kening Thufail dengan lembut, aku menuruti perintah ibu. Kutarik handuk dari gantungan di balik pintu kamarku dan bersiap mandi. Tapi melihat celana jeans Mas Alif yang tergantung, aku kemudian menariknya juga.
“Iya bersihkan sekalian, biar ga bikin nyamuk,” kata ibu yang melihatku menggantungkan beberapa celana Mas Alif di lenganku.
Tanpa menyahut, aku membawanya ke belakang rumah. Ada sisa pekarangan di belakang bangunan rumah kami, tadinya kami akan menjadikannya dapur dan kamar mandi, tapi karena kekurangan dana, jadi kami hanya membuat kamar mandinya saja sedangkan dapurnya mengambil satu ruang yang sebelumnya akan jadi tempat sholat. Di bagian belakang rumah kami, aku menggunakannya sebagai tempat cuci baju. Mesin cuci, sumur, juga jemuran baju ada di pekarangan yang sudah tertutup pagar bata walaupun belum lagi di cat.
Aku sudah membuka tutup mesin cuci dan memasukkan baju-baju yang kukemasi tadi. Secarik kertas menyembul dari saku celana jeans Mas Alif. Aku akhirnya memeriksa satu-persatu kantung dari setiap celana dan kemeja kami. Termasuk secarik kertas itu. Seperti biasa baik kertas maupun uang yang kutemukan dari baju-baju suamiku kuletakkan di rak atas mesin cuci. Tapi lagi-lagi kertas lusuh itu menjadi menarik seolah-olah tidak ingin aku mengabaikannya.
Aku mendekat, mengambil kertas itu dan meluruskannya. Tanganku sudah tidak lagi bergetar saat membaca “Hotel Favorit” di bagian paling atas struk pembayaran hotel itu. Tapi jantungku seolah masih mudah terkejut ketika mataku mengeja setiap tulisan baik kamar maupun makanan yang tertera beserta harganya.
Seluruh biaya yang dikeluarkannya setara dengan lima kotak s**u formula Thufail. Uang yang kadang dikatakannya tidak ada saat aku meminta. Aku yang rela bekerja demi membantunya, demi mengurangi beban di pundaknya ternyata membuatnya terlena. Kertas ini harusnya bisa menjadi bukti perselingkuhannya, tapi bagaimana aku menyimpannya? Bagaimana caraku mendakwanya suatu hari?
Dengan tergesa, aku kembali ke kamar dan mengambil ponselku. Ibu yang melihatku masih menyandang handuk di pundakku sudah hampir murka jika Thufail tidak menangis lebih dulu.
“Cup nak, uluh, cucunya simbah sudah bangun ya, ayo digendong yo, cup jangan menangis,” hibur ibu.
Di kamar mandi, aku memfoto kertas itu dan menyimpannya di gallery privat. Aku masih memegangi kertas itu. Memandangi dengan hati tak keruan. Tamparan bapak kembali terbayang, jika bapak melihat ulah menantunya, betapa bapak menyesal karena pernah menamparku. Aku keluar dari kamar mandi, dan meletakkan kertas itu lagi di kantung celana Mas Alif.
“Kok ga segera manding to Zi!” ujar ibu.
“Nggih bu, niki lo mbalesi penggawean (membalas pekerjaan),” jawabku berbohong.
“Cepet mandi, keburu terlambat nanti, pekerjaan kan bisa diselesaikan nanti kalau sudah di kantor.”
Ibuku memang orang yang cerewet dan paling peduli tentang kedisiplinan dan etos kerja anak-anaknya. Dari dulu ibu yang paling kekeh, anak perempuannya harus kuliah, anak perempuannya harus bekerja. Bahkan saat Mas Alif sebenarnya menginginkanku untuk menjadi ibu rumah tangga, ibu dengan tegas menolak keinginan Mas Alif.
“Aku, dulu berhemat mati-matian agar dia bisa kuliah dan bekerja, walaupun mungkin pekerjaannya sekarang penghasilannya tidak sebesar penghasilanmu, tapi tetap saja aku bangga melihatnya bekerja. Kalian bertemu setelah masing-masingnya bekerja, harusnya kalian tahu resiko mengenal perempuan karir dan laki-laki pekerja, jangan diubah hanya karena menikah,” begitu dulu nasihat ibu yang gentur kepada kami.
Duh ibu, jika ternyata keinginanmu adalah boomerang bagi rumah tangga anakmu apakah ibu akan mengubah keputusan dan idealisme ibu? Aku memandangi perempuan yang tengah menggendong anakku di pelataran depan.
“Ayo gantian sama Mama,” kata ibu mengajak Thufail untuk mandi.
“Aku berangkat dulu, sarapan Thufail sudah saya siapkan di meja nggih,” pamitku mendekat ke dua orang yang bermain-main air di kamar mandi.
“Iya, sudah berangkat sana, Thufail, salim mama dulu,” ibu menarik tangan kanan Thufail untuk mengulur padaku.
Aku menerima ulurannya dan menciumkan punggung tanganku pada bibir merah mungilnya. Satu napas berat kuhembuskan lagi, sebelum aku melangkah menjauh darinya. Saat aku menoleh ke belakang, kulihat ibu masih menatapku. Tatapan mata kami membuat masing-masing kami salah tingkah. Seperti dua orang yang tertangkap basah, kami sama-sama membuang muka. Mengalihkan pandangan ke arah lain.
Sepanjang jalan, di mataku seolah masih tertempel kertas struk hotel itu. Setiap tulisannya masih bisa kuingat dengan baik, terutama jenis kamar dan nominal yang dikeluarkannya malam itu, malam saat kami bertengkar. Malam yang harusnya menjadi waktu untuk saling mawas diri, ternyata terbuang sia-sia demi sebuah dosa bersama. Dia yang mengkhianatiku, dan malaikat yang melaknatku karena memberinya ruang untuk berzina.
“Tiittttt!!” suara klakson sebuah mobil membuatku menarik tuas rem mendadak.
“Kalau di jalan jangan melamun mbak! Bahaya!!” hardik sang sopir.
“Ah, iya pak maaf,” dengan berkali-kali menundukkan kepalaku sampai masing-masing kami kembali melanjutkan jalan.
Sulit untuk memaksa otakku tetap fokus. Kelebatan bayang-bayang perselingkuhan dan adegan ranjang dengan perempuan yang bahkan tidak terlihat wajahnya terus berseliweran di mataku.
“Ya Allah,” keluhku akhirnya begitu sampai di parkiran kantor.
Dan mungkin responku yang cukup keras, membuat beberapa orang di sekelilingku melihatku. Mereka dengan kepeduliannya bahkan ada yang mendekat untuk bertanya apakah aku baik-baik saja. Meskipun bohong besar, aku pun mengatakan pada mereka bahwa tidak terjadi apa-apa, hanya mengucap syukur saja.
Mereka pun tersenyum mendengar jawabanku. Perempuan-perempuan yang sebagian besar adalah anak buahku memilih berjalan di belakangku. Tidak mendahuluiku yang berjalan lesu.
“Hai, selamat pagi,” suara itu dengan mudah kukenali.
Aku mendongakkan kepalaku dan melihatnya ternyata sedang menyapa teman satu ruangannya. Tetapi saat kami saling bertemu pandang, dia pun tersenyum dan mengedipkan mataku padaku. Aku membalas sapanya dengan senyum dan tundukan hormat.
Langkahnya terlihat begitu bersemangat sehingga membuat tas yang disandangnya berguncang-guncang. Langkahnya yang panjang, membuat jalannya terlihat lebih cepat dari orang-orang di sekitarnya. Ponselku bergetar seiring aku melihatnya memasukkan ponsel dalam saku celananya.
“Kenapa lemes?” pesannya.
Aku membalas pesannya dengan mengirim foto struk yang kutemukan tadi. Aku tahu dia tidak langsung membukanya. Tapi begitu terlihat centang biru di pojok bawah gambar itu, dia segera mengetik pesan balasannya.
“15 menit lagi tangga darurat lantai 2.”
Aku hanya membacanya tanpa membalasnya. Tapi lima belas menit kemudian, kami duduk bersama di anak tangga lantai dua. Sejenak terdiam sebelum aku akhirnya tersedu. Aku menceritakan setiap detail yang dia bicarakan, dia lakukan dan tamparan yang kuterima dari bapak tadi malam.
“Kamu akan memaafkannya lagi?” tanya Edo saat kami sengaja bertemu di tangga darurat.
“Kamu sendiri punya rumah tangga yang tidak akan semudah itu kamu lepaskan bukan?”