Not Now
Boni tidak habis pikir, kenapa ia bisa sampai di sini dan dalam situasi seperti ini. Tadi, Cintya, memberitahunya ada pekerjaan sehari dengan upah lumayan yang disanggupinya langsung tanpa bertanya apa detail pekerjaan yang dimaksud adik iparnya itu. Di sinilah ia sekarang, terkurung di dalam pakaian gorila yang berat dan panasnya bukan main, namun yang paling membuatnya sangat menyesal mengiyakan Cintya adalah, ia harus bertingkah seperti makhluk primata betulan, menggapai-gapai angin dan menepuk-nepuk d**a.
Dilehernya digantung sebuah papan karton bertuliskan “free hugs”. Ia hanya akan berhenti bertingkah gila jika ada orang yang memberikannya sebuah pelukan. Ia tahu, semua pengunjung mall memandanginya sebagai sebuah hiburan dan lelucon. Ada yang berbisik-bisik, namun lebih banyak yang meneriakinya babon. Ingin sekali Boni balas berteriak kalau kostum yang dipakainya adalah representasi dari gorila yang tak punya p****t merah seperti babon, Tapi…sudahlah, bayarannya juga meliputi untuk tidak bicara dengan suara manusia.
Di depannya, dua gadis cantik dan seorang pria tampan, sibuk hilir mudik membagikan brosur dari sebuah organisasi internasional yang bergerak di dalam perlindungan hewan-hewan nyaris punah. Salah satu hewan yang mereka lindungi adalah makhluk-makhluk primata langka dan Boni dipekerjakan dengan iming-iming pahala surga karena telah turut melindungi sesame makhluk Tuhan dan uang, pastinya.
Ada yang menarik-narik tangannya, seorang anak kecil berdiri di dekat kakinya mungkin baru berumur dua atau tiga tahun, diukur dari suaranya yang masih cadel dan keengganan sang ibu yang tak mau repot-repot menjelaskan kostum apa yang dipakai Boni.
“Ayo, Justin. Jangan ganggu oom monkey-nya.” Si Ibu menarik tangan sang anak yang terlihat enggan meninggalkan Boni. Ia hanya bisa melambaikan tangan dan tersenyum sedih. Boni jadi teringat anaknya di rumah.
“Baiklah! Satu jam lagi, aku bisa lepas dari kostum sialan ini!” Boni bertekad setelah melihat jam melalui dinding kaca salah satu restoran fast food yang berada tak jauh di depannya.
Semakin siang, mall semakin ramai. Tampak sejumlah pegawai kantor mulai memenuhi beberapa gerai makanan cepat saji. Sosialita-sosialita ibukota dengan anak dan para baby sitter dan anak-anak manja yang tidak punya kesibukan lain selain menghabiskan uang orangtua mereka. Boni takjub dengan semua yang dilihatnya, karena dari merekalah ia bisa melihat sudut pandang lain dari sebuah kehidupan.
Menjelang menit-menit terakhir tugasnya akan berakhir, Bonita tidak mengharapkan apapun selain melepaskan kostumnya dan meminum sebotol air mineral, tetapi seorang pemuda tanggung yang berdiri seperti orang bodoh di depannya ini sepertinya akan memupus semua yang paling diinginkannya saat itu.
“Nyet! Coba bilang auo…” perintahnya. Gerombolan teman-temannya tertawa di belakang.
Kedua tangan Boni bergerak seperti wiper mobil, ia menolak untuk melakukan apapun dalam usahanya untuk bersikap baik.
“Nyet! Auooo…MONYET!!!”
Boni lagi-lagi bersikap sama. Ia hanya ingin pergi dari tempat itu. Tetapi pemuda itu tetap memaksanya bahkan mulai menyenggolnya hingga ia nyaris terjatuh. Teriakan dan tawa apemuda-pemuda itu sangat mengganggu. Sandy, salah satu SPG pembagi brosur memberikan Boni kode bahwa tugasnya sudah selesai sekaligus mencoba menenangkan anak-anak nakal tersebut. Boni lega, ia sudah akan melangkah pergi ketika kakinya dijegal.
“Auch!” Ia jatuh dengan muka terlebih dahulu menghantam lantai. Nyeri yang terasa tapi kostum itu sangatlah berat, dadanya seperti ditindih puluhan truk. Susah payah ia menaikkan kembali tubuhnya ketika seseorang mendorongnya kembali hingga ia terguling. Belum sempat untuk menarik napas, ada yang menarik kepala gorilanya.
“Monyet! Hahaha.”
Hidupnya tidak bisa dibilang bahagia, tapi rasanya,baru kali ini ia dipermalukan sedemikian rupa. Pipinya panas dan merah dan ia kepengin menangis. Tidak ada yang mendekat menolong, mungkin orang-orang itu menganggapnya bagian dari sebuah pertunjukkan lelucon. Berat rasanya untuk bangkit lagi kepalanya pusing, punggung hampir remuk dan tawa manusia di sekelilingnya belum berhenti.
Sebuah tangan menjulur di depan memberikan bantuan. Diantara air mata yang mulai menggenang, wajah sang malaikat terlihat kabur. Ketika ia menerima kedua tangan yang dipenuhi cahaya itu badannya terasa ringan dan hatinya menghangat. Oh, siapakah gerangan ia?
Sang penolong mengapus air matanya pelan sehingga Boni bisa melihat wajahnya yang sempurna. Ya Tuhan, Engkau begitu baik mengirim malaikat tampan ini kehadapanku. Lihatlah senyumnya yang cemerlang dengan gigi berderet rapi. Rambut ikalnya yang seperti sutra luruh membingkai mukanya yang manis. Mata yang sesempurna semua pria di dalam novel-novel asmara dan…rasanya ia mengenal lelaki ini. Siapa namanya?
KUN
Boni tersuruk dua langkah ke belakang. Matanya terbelalak, mulutnya terbuka, badannya bergetar hebat. Tanpa aba-aba, ia lari tunggang langgang.
Dirasa sudah cukup jauh, barulah ia menghentikan pelariannya dan kebingungan sesaat setelah menyadari ia tak mengenali dimana tempat pemberhentiannya. Wanita itu menyenderkan kepalanya ke dinding, ia mencoba mengatur napasnya yang sesak bukan main. Paru-parunya menyempit dan semua darah ditubuhnya naik beramai-ramai ke kepalanya.
“Bon! Bon!”
Suara yang memanggilnya, lama-lama semakin mendekat dan membuat amarahnya kembali mendidih.
“Gorila, t***l!! Bukan babon!!!”
Ketika menegakkan kembali badannya, di depannya ada sang malaikat pemilik wajah sempurna. Tersenyum diantara napasnya yang tak teratur.
Boni ingin menangis lagi, tapi lelaki itu buru-buru membuka mulutnya.
“Ini memang gorilla.” Tunjuknya ke d**a Boni. “Tapi yang ini, Bonita.” Telunjuknya ada di depan hidung Boni.
Boni urung menangis, dahinya berkerut, mukanya jadi lucu. Apa maksud Kun menunjuk dadanya dan berkata gorilla. Apa ia menyamakan badan besarnay dengan primata itu? Sialan dua belas!
“Siapa…” tanya Boni.
Lelaki itu tersenyum. “Siapa ibu Budi? Jawabannya Nyonya Wati.”
“Maksudku. Kau siapa?”
Tidak ada yang bersuara selepas itu. Kun menelengkan kepalanya, memaksa Boni untuk tetap melakukan kontak mata. Satu seringai terlepas, lelaki itu menjelma menjadi sosok lain yang seingat Boni pernah membuat mabuk kepayang dan menyeretnya ke dalam pusaran api gairah.
Tapi itu dulu. Beberapa tahun yang menurutnya sudah berhasil memupus semua bayangan tentang lelaki ini, dan 99 persen berhasil. Andai saja hari ini bukan hari sialnya, tentu ia bisa menggenapi hingga seratus, tapi Kun ada di hadapannya sekarang, semua usahanya mundur teratur kembali ke angka nol.
“Mulutmu berkata tak tahu tapi matamu bilang I love you.”
“Najis!”
Kun terbahak, Boni memalingkan muka berusaha untuk tidak ikut tertawa. Diperhatikannya sekelilingnya. Mereka berada di bagian belakang sebuah gedung tinggi. Di depannya area parkir yang luas. Mobil berderet rapid an berwarna-warni. Tidak banyak orang di sana dan yang pasti,, seorang Kun mampu menahannya untuk tidak lari lagi.
“Cepat juga larimu. Aku sudah pergi sejauh ini, kau masih bisa mengejarku. Tadi naik ojek apa?” tanya Boni.
Kun menepuk kakinya. “Aku naik kakiku sendiri dank au tak lari jauh. Kau hanya sampai ke parkiran mall belum sampai ke jembatan shidratal muntaha.”
Boni melihat ke semua sisi dan saat sadar kalau ucapan Kun benar, wanita itu mengumpat dan cukup keras untuk didengar.
Selagi pria itu tertawa, Boni bisa melihat-lihat lebih jelas seperti apa Kun yang saat ini berusia tiga puluh tiga. Kapan terakhir mereka bertemu? Tujuh tahun yang lalu? Rasanya tidak banyak berubah. Secara fisik, Kun lebih sedikit lebih berisi tapi tetap proporsional karena badannya yang jangkung. Tapi yang paling menyedot perhatian Boni adalah sinar matanya yang melembut dan senyum yang lebih tulus. Kun tujuh tahun yang lalu menyimpan bara api di matanya dan tak pernah menyembunyikan mulutnya yang sinis.
Fakto usia, mungkin. Pikir Boni. Semakin tua umur seseorang, semakin ia tak ingin mencari masalah dengan orang lain. Hanya ingin hidup tenang dan mati dengan nyaman. Kun yang ditemuinya kembali pada hari ini mungkin sudah sampai pada tahapan berdamai dengan diri sendiri.
“Makin gendut aja, Bon. Masih makan nasi sekalian sama majig jar-nya ya?”
Boni salah. Kun masih sama. Masih kurang ajar mulutnya.
Sembari menyesali dugaannya, Boni berusaha melepaskan kostumnya yang menyusahkan. Selagi berkutat dengan usahanya, Kun ikut membantu, dengan tenaganya yang kuat, baju bulu sialan itu akhirnya bisa lepas dengan mudah. Boni bergumam berterimakasih. Kun mengangguk tersenyum.
“Apa kau haus?”
Kejadian memalukan barusan membuatnya lupa kalau kerongkongannya sekering dompet di akhir bulan. Kun tertawa melihat muka nelangsa wanita itu dan menawarkan diri untuk mencari minum, ia lalu pergi dan meninggalkan Bonita dalam lamunan masa lalu.