Kun tak suka melihat pemandangan di depannya Boni yang sepucat hantu dan kedua matanya sembab seperti telah menumpahkan bergalon-galon air mata. Perempuan itu masih tak bicara, es teh plastik yang dibelikan Kun di seberang jalan tadi sudah sepucat dirinya, semua es mencair ditiup pelan-pelan oleh matahari siang.
“Kalau nggak mau bicara, paling nggak diminum tehnya,” tegur Kun.
Mereka menumpang duduk di teras minimarket dua puluh empat jam. Karena Kun terlalu miskin untuk membelikan sebotol air mineral dingin, penjual kopi sepeda yang nongkrong di sepeda jalan menjadi solusi terbaik untuknya.
Akhirnya Boni meminum sedikit teh yang warnanya sudah pirang melalui sedotan. Rasanya tak enak tapi Boni sudah mati rasa.
“Kun?”
“Ya?”
“Kalau aku minta tolong, kamu bakalan mau nggak ya?”
“Mau nggak ya?” Kun membeo.
Boni menangis.
Wanita itu melahap semuanya; air mata, air hidung dan air teh. Kun yang melihatnya tersenyum sekaligus kasihan. Ia akhirnya pindah duduk ke sebelah Boni, meraup tubuhnya ke dalam sebuah dekapan yang nyaman. Orang-orang yang melihat keduanya sudah terlanjur modern untuk menuduh aksi Kun sebagai sebuah ketidaksopanan, jadi, pelukan itu berlangsung selama sepuluh menit tanpa jeda dan tanpa teguran.
Setelah tangisnya mereda, Kun pelan-pelan mulai membujuk wanita itu. “Jadi. Boni kenapa?” katanya sembari mengambil alih teh plastik Boni dan meminum apa yang tersisa.
“Bantu aku culik orang, Kun.”
Kun tersedak, air teh yang belum sempat tertelan menyembur buas dari mulutnya. Ia terbatuk, kerongkongannya terasa macet.
“Ap…apa? Culik? Siapa? Mengapa? Ada apa? Maksudnya?!”
“Bisa tenang nggak? Aku mau cerita dulu.”
Kun geleng-geleng kepala, matanya berkedip-kedip. “Go on…” ia mempersilahkan Boni mempresentasikan proposal asal muasal tema penculikan yang disebutnya tadi.
“Dua minggu lalu aku masih kerja buat Layla.”
“Who’s Layla?”
“Dia cewek yang punya cita-cita jadi artis. Kamu pasti nggak ngikutin Tek Tok, soalnya dia terkenal di sana.”
Kun berdecak. Media sosial di ponselnya sangat dibatasinya, hanya untuk urusan pekerjaan, jadi ketika Boni menyebutkan seseorang sangat terkenal di aplikasi jogat-joget, tentu saja ia tak punya wawasan soal itu.
“Memangnya kamu kerja apa? Tukang megangin kamera? Atau jadi tukang sisir?”
Boni menghela napas sejenak, seolah berat untuk menjawab apa yang ditanyakan Kun. “Aku jadi asistennya.”
“Pembantu?” tanya Kun.
“Asisten.”
“Iya. Pembantu istilah f*******:-nya, asisten istilan Likedin-nya.”
Kedua mata Boni menyipit benci. “Kau memang paling jago membuat orang lain tampak menyedihkan.”
“Lanjut” pinta Kun. Ia tak ingin ada amarah yang meletup sebelum Boni menyelesaikan ceritanya.
“Aku kerja sama dia selama dua bulan. Di bulan ketiga, adikku datang ke rumahnya dan mencuri uangnya.”
“Dimana kau saat itu?”
“Aku lagi di kolam renang. Bantu-bantu Layla yang mau bikin konten putri duyung.”
“Berapa yang dicuri adikmu?”
Bonita hampir menangis lagi saat kenangan buruk itu melintas tiba-tiba. Adiknya yang pura-pura ingin menjemputnya pulang namun sudah tak ada saat jam kerjanya berakhir. Tiga hari kemudian, Layla menyodorkan rekaman cctv dari kamarnya dan meledakkan semua caci maki tepat ke muka Boni. Ia mengancam akan menjebloskan Boni dan adiknya ke penjara jika tidak mengembalikan uang dua ratus juta tersebut dalam jangka waktu tiga hari.
“Uangnya habis?” tanya Kun penasaran.
Boni mengangguk. Air matanya turun lagi. Dari raut wajahnya jelas sekali kalau ia stres berat. “Habis buat judi. Cuma sisa dua ratus ribu, itupun dipakai buat jajan istrinya.”
Kun terdiam, depresi Boni pindah ke kepalanya.
“Orangtuamu nggak punya jalan keluarnya?”
Boni menggeleng. “Papa nggak mau minjemin. Nggak boleh sama istrinya.”
“Ya, kan istrinya ibumu juga.”
“Bukan. Istrinya yang lain.”
Kun menepuk jidatnya tanpa sadar. “Ehem. Kalau begitu, pinjam ke ibumu.”
“Sudah delapan tahun ini aku yang membiayai semua keperluan beliau. Mamaku lumpuh, tak bisa kerja lagi.“ Tangis Bonita menyisakan pipi basah dan tatapan kosong. Semua yang tadinya tak ingin diceritakannya berakhir didengar oleh Kun.
“Kau masih punya saudara yang lain?”
Tiba-tiba Boni menampar daun meja, Kun kaget. “Mereka bukan saudaraku! b******n-b******n itu hanya mau uangku! Tidak akan pernah peduli meskipun aku mati di hadapan mereka!!!”
“Oke, oke. Relax…” Kun meraba-raba bagian meja yang tadi terkena amukan Boni, meminta maaf.
Matahari mulai menggelingsir kearah timur, pertanda waktu siang akan berakhir. Keduanya masih duduk di depan minimarket, mencoba mencari pemecah masalah yang mendera Bonita yang kini menelungkupkan kepalanya di atas meja, rambutnya yang panjang berhasil menyembunyikan semua penderitaannya.
Tapi tidak untuk Kun. Ia tahu kalau wanita itu sedang tidak baik-baik saja. Ada sebuah hal di masa lalu yang menyatukan emosi mereka, hanya saja Kun tidak tahu apa itu.
“Memangnya siapa yang mau diculik?”
Bonita menegakkan kepalanya. Wajahnya masih basah kuyup oleh air mata, tapi kedua matanya tampak menunjukkan secercah cahaya.
“Joey, vokalis Sugar Rush,” katanya dengan penuh semangat.
Sejenak Kun terdiam. Sekilas matanya berkilat marah. Akhirnya dengan dingin ia berkata…
“I’m in.”
*********************************************
“Aku tidak tahu, Boni punya keluarga setoksik itu.”
Bara menatap Kun heran. “Oh ya. Jadi ngapaian aja lo sama dia? Cuma n*****t doang?”
Kun memandang Bara dari atas cangkir kopinya. Keningnya berkerut. “Lo bicara apa sih?”
“Elu, Kun. Dulu sama Bonita pacarannya ngapain aja, kenapa soal keluarganya aja lu nggak tau.”
“Me?” Kun menunjuk dadanya. “Her? Pacaran? Ow pantesan…” Kun mengetuk-ngetuk bibirnya, mencoba menghubungkan satu hal dengan yang lain yang ia rasa ada sangkut pautnya dengan perkataan Bara barusan.
Bara geleng-geleng kepala. “Otak lu nggak sembuh-sembuh kayaknya.”
Kun tertawa. Hari ini adalah hari H untuk mengeksekusi rencana penculikan tersebut. Tadi ia meminta tolong Bara, tetangga sekaligus teman kuliahnya untuk membantu memeriksa VW Kombi kuning milik keluarganya, apakah masih layak atau sudah tak memungkinkan lagi untuk dipakai. Bara yang memang jago otak-atik mesin memastikan kalau mobil itu masih bisa dipakai setelah satu jam berkutat dengan segala macam peralatan mekanik miliknya. Dengan dibantu Kun, mobil itu sekarang sudah berada di carport, mengkilap dan siap untuk dipakai. Selagi menunggu Boni, Kun menawarkan Bara secangkir kopi dan sepiring obrolan.
Boni datang tak lama kemudian. Ia masih tampak kuyu dan layu. Tapi ketika melihat t-shirt kuning Kun dan VW kuning di carport, semangatnya menyala lagi.
“Hai, Bon.” Bara menyapa Boni. Walaupun tak begitu akrab, paling tidak di masa-masa akhir kuliah dulu, Boni pernah membantu Bara dengan tugas akhirnya, ditambah lagi kalau ia tetangga Kun dan pernah menjadi additional player sewaktu Kun manggung di kafe dulu.
Bonita mengangguk dan tersenyum. Ia tampak sudah siap dengan pertempuran hari ini, t-shirt, celana jins dan sepasang sepatu kets. Kun memberikan jempolnya, Boni menggulum senyum namun setelah dipikirkan kembali, nampaknya ada yang salah ketika ia melihat Kun. “Apa nggak terlalu kentara kalau pakai warna kuning,” tunjuknya ke baju Kun.
“Warna kuning warna abadi, Boni. Apa kau lupa Negara kita bewarna kuning selama tiga puluh dua tahun?” Kun jelas tak menangkap maksud dan tujuan Bonita.
“Karena, warna kuning terlalu mencolok untuk sebuah tindakan kriminal, Kun. You know what I mean, he?”
Bara tertawa melihat muka t***l Kun lalu makin terkekeh setelah melihat sahabatnya itu menyadari maksud dari perkataan Bonita dan hal itu makin membuatnya makin tampak bodoh. Lelaki tinggi besar itu langsung masuk ke dalam rumah dan tak perlu lama menunggunya untuk keluar dengan penampilan baru yang nyata-nyata membuat Boni berhenti bernapas untuk sepersekian detik.
He’s always gorgeous. Always.
Semua pas. Dari ujung kepala hingga kakinya yang panjang. Back in black. Dengan senyuman manis serupa malaikat yang baik hati. Rasanya tidak ada yang bisa menandingi Kun. Di hatinya, di dalam pikirannya.
“Jadi, kau tahu rumahku dari siapa? Rasanya aku hanya bilang kalau kita bertemu di rumahku tanpa bilang alamatnya” tanya Kun penasaran, membuat Boni berjengit, lepas dari semua kenangan yang langsung amburadul di dalam otaknya.
Bara berdecak. “Lha. Boni kan sering lu bawa ke sini.”
Kepala Kun teleng ke kanan, semua memorinya meluncur kearah sebaliknya, seperti menolak untuk diingat. “Oh ya?”
Boni melerai semua ingatan Kun yang sempat akan bergandengan tangan. “Sudahlah. Ayo berangkat.”
“Ya,” ucap Bara. “Aku juga harus pulang. Anak-anakku harus diberi makan.” Kemudian ia pamit pulang ke rumah sebelah. Setelahnya Kun dan Boni tinggal berdua di halaman depan, bersiap pergi.
“Mana orangtuamu?”
Kun menggedikkan bahu. “Nggak tahu. Mungkin lagi berenang di Maldives atau ngopi-ngopi di Alpen.” Ia tak terlalu ingat kapan terakhir kedua orangtuanya berada di Indonesia. Masa pensiun bagi Sky dan Gaya adalah masa-masa dimana bisa meninggalkan semua masalah di tanah air, dan Kun termasuk di dalamnya.
Boni mengangguk saja. Kun tampaknya sendirian di Jakarta. “Jadi, apa kamu masih suka nyanyi?”
“Nope. Tapi kalau kau sendiri yang memintanya, mungkin aku akan mempertimbangkannya.”
Tiba-tiba terdengar suara pintu geser mobil tertutup keduanya langsung menoleh dan tak melihat apapun dari kaca jendelanya yang bening. Mungkin angin, pikir mereka dan kembali ke posisi semula. Kun lalu mempersilahkan Boni ke mobil karena ia mau mengunci pintu rumah terlebih dahulu. Sekembalinya ke carport, Boni tampak berkutat dengan sesuatu di balik tubuhnya.
“Sana pulang!”
“Enggak mau! Ikut!”
“Awas ya!”
“Nggak takut! weee”
“Pulang!”
“Enggak!”
Dan sesuatu itu adalah seorang bolah laki-laki yang kini tengah menarik-narik baju Boni.
“Siapa?” tanya Kun.
Boni dan anak itu melihat ke arahnya dan yang pertama kali dirasakan Kun adalah, isi kepalanya bubar dan meninggalkan ruangan kosong yang gelap.
“Anak siapa?” tanya Kun. Suara dan raut wajahnya datar.
Boni lebih pucat dari saat ia bertemu dengan Kun tempo hari. Semua darah lenyap dari wajahnya. Pelan, ia menggeser tubuhnya ke samping, seperti berusaha menyembunyikan si anak dari pandangan Kun.
“Anakku. Nggak tahu juga kenapa ia sampai ada di sini. Kebetulan arah kita sejurusan dengan rumahku, nanti kita drop saja dia di sana,” kata Boni terbata.
“Namamu siapa?” tanya Kun, ia tak peduli dengan Bonita dan malah melihat ke balik punggung Boni untuk bertanya.
Si bocah menatap Kun dengan kedua bola mata bulatnya, ia tak mau melepaskan kontak mata dengan lelaki besar di hadapannya. “Willy. Om siapa?”
“Kun. Kau mau ikut?”
“Jangan!” sela Boni cepat.
“Ayo!”
Sia-sia usaha Boni melarang anaknya untuk ikut, Willy sudah melompat naik dan tak mau lagi turun dari atas mobil. Kun menyalakan mobil lalu meluncur pergi, membawa sepaket ibu dan anak, sebuah misi penculikan dan sebundel rahasia tentang masa lalu dan masa depan.
Separuh perjalanan, Boni masih diam di samping Kun, ia masih marah pada anaknya yang kini tampak asyik melihat ke luar jendela, jelas sangat menikmati perjalanan. Kun sesekali melirik ke spion, ia masih memikirkan soal si anak. Sama seperti Bonita, Willy juga menyentil sesuatu dalam dirinya.
Tiba-tiba Willy berbalik kearah bangku belakang, kepalanya menunduk melihat sesuatu. “Mah, abang ini siapa?”
Boni menoleh kea rah anaknya. “Abang? Abang yang mana?” ia tak melihat siapapun, begitupun Kun yang ikut-ikutan penasaran.
“Ini…”
Sebuah kepala pelan-pelan muncul dari balik sendera kursi tempat Willy duduk. Seorang pemuda duduk dengan santainya di bangku paling belakang dan ia tersenyum pada semua orang.
“Whats up,” sapanya dengan simbol metal dari jari-jarinya.
Kun kaget, napasnya langsung terdengar susah. “Fuck.”
*******************************************************
Rencana tinggal rencana, sekarang Kun tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya degan dua tambahan begundal yang tak sengaja datang dan masuk ke dalam mobilnya. Seharusnya ia mengatakan hal ini kepada Bonita, tapi tak tega karena wanita itu sendiri sudah tampak stres dengan kehadiran anak dan pemuda gondrong tak beraturan seperti si Faizul ini.
“Name’s Pay. Bilang Faizul lagi gue ludahin nih.”
Kun mencoba bersabar. “Jadi, ngapain kamu di sini, Panjul.”
Pay meludah ke tanah.
Mereka sengaja berhenti di pinggir jalan. Bonita berkata kalau ia tak bisa lagi menambah anggota baru dalam perjalanan mereka yang berbahaya dan rahasia. Kun mengalah dan meminggirkan mobil, menyuruh Pay untuk turun dan menginterogasinya.
“This lady,” tunjuknya ke Boni. “Bisa bikin oom main gitar lagi, so…I’m here.”
Kun melirik kearah Boni. “Kamu tadi salah dengar. This lady nanya apa aku masih suka nyinyir bukan nyanyi.”
Boni mengangguk cepat-cepat. Ia melirik jam di peregelangan tangannya, terlihat cemas karena mereka hampir kehabisan waktu. Sebentar lagi Joey akan selesai off air dan menurut Layla, The Sugar Rush akan langsung berangkat ke Surabaya untuk manggung di sana.
Pay menggelengkan kepala. “Hu uh. No. Don’t care.” Dan tanpa sempat dicegah Kun, pemuda dua puluh dua tahun itu masuk kembali ke dalam mobil. Diam membantu di kursi belakang.
“Pas nanti Joey kita serahkan ke penadah, Si Panjul ini kita tinggalin di mobil. Nggak bakalan tahu jaga apa yang kita kerjain,” kata Kun kepada Boni yang masih cemas dan langsung setuju.
Perjalanan mereka lanjutkan. Dengan Boni yang deg-degan Kun yang masih santai serta Willy yang berusaha mengajak si Batu Pay merespon candaannya.
“Bang, kenapa kambing itu bau banget badannya?” tanya Willy.
Pay tak menjawab. Bahkan tak ada ekspresi di wajahnya.
“Soalnya keteknya ada empat, hahaha.”
Selagi Willy tertawa, Pay mengalihkan pandangannya ke luar jendela, seperti ada yang tengah dipikirkannya dan Kun yang melihatnya dari kaca spion jadi bertanya-tanya, apa pemuda itu punya hal busuk yang sedang direncanakannya. Selama dalam perjalanan menuju ke salah satu televisi swasta, semua manusia dewasa tidak bersuara, hanya Willy yang menyanyikan lagu-lagu aneh yang entah pernah ada yang menyanyikannya selain anak itu sendiri.
Kun dan Bonita sudah merancang penculikan tersebut dengan matang. Walaupun tidak sesempurna professional, paling tidak mereka sudah meminimalisir kesalahan yang tidak diperlukan dan itu semua berkat ide Bonita dan film-film kriminal yang ditonton Kun. Hari ini adalah eksekusinya dan keduanya berharap Willy mematuhi ibunya dan Pay…
“Apa? Kenapa gue harus nyetir?” Ia setengah marah setengan penasaran ketika Kun memaksanya masuk ke bangku pengemudi. Sesaat setelah memarkir mobil di belakang gedung televisi tersebut, Kun menyeret Pay turun sedangkan Bonita mengancam willy agar tak kemana-mana selama dua puluh menit ibunya pergi.
“Pilihan lainnya kau harus pergi dari sini,” kata Kun dingin.
Pay yang baru meletakkan sebelah pantatnya di jok, mengangkat kedua tangan. “Okay. gue bantu, jika oom niatnya mau merampok. Tapi ini bukan bank, tapi studio tv, apanya yang mau dirampok, kecuali kalau oom mau ngebom ini gedung.”
“Dengar,” Kun merendahkan suaranya. Sebelum melanjutkan ucapannya, ia terlebih dahulu meminta izin dari Bonita untuk menjelaskan situasi pada Pay. Bagaimanapun, Pay adalah lelaki dewasa, ia tak bisa dibohongi begitu saja seperti Willy.
“Aku dan this lady mau culik orang. Kau bersiap di balik kemudi kalau nanti kami sudah datang dengan…” Kun kesulitan mencari kata yang tepat.
“Si sial,” Pay membantunya.
Kun mengangguk. “Sisa ceritanya nanti, kalau semua sudah aman.”
“Nggak bakalan ada waktu aman. Oom bakalan nyulik orang, remember that.”
Tetapi Kun dan Bonita sudah pergi dan tak lama kemudian keduanya sudah menghilang dari pandangan mata Pay yang kebingungan dengan situasinya sendiri, namun saat melihat ke belakang dan melihat ke dalam mata si anak, Pay jadi teringat akan sesuatu…bukan, akan seseorang. Seseorang yang dikenalnya dan mencoba menghubungkan dengan situasi yang saat ini tengah dihadapinya.
Pay mendesah resah. “It’s not gonna be good.”
***********************************************