Arlan menatap mata sang ayah dengan tatapan memohon. Arlan takut ayahnya itu akan mengatakan apa yang baru saja dialaminya. "Ayah, jangan sampai Nenek sama Bunda tahu." "Kenapa, Dek?" "Bunda sama Nenek pasti sedih. Adek nggak apa-apa, Yah." Devan akhirnya mengangguk setelah mendengar alasan yang dituturkan putranya. "Yah," panggil Arlan. "Iya?" "Adek mau pulang" "Tapi—" "Yah." Devan menghela napas pasrah. "Baiklah" *** Devan menuruti kemauan Arlan untuk dipulangkan dari rumah sakit, dan dua hari kemudian Arlan sudah bisa kembali ke sekolah. Begitu banyak hadiah yang diterimanya baik dari adik kelas maupun anak-anak seangkatan. Kini, kemana-mana Arlan harus mengenakan masker karena sekarang ia lebih rentan terserang infeksi. Arkan asyik memakan cokelat dari salah satu siswi yang

