Arkan menatap nanar makanan lezat yang dihidangkan neneknya. Perutnya mendadak kenyang hanya dengan melihat Arlan dan Gilang. Tawa Arlan menggema setiap kali Gilang menceritakan kisah lucunya di Bandung, dan Arkan sama sekali tidak pernah melihat tawa Arlan selepas itu ketika bersamanya. "Lang, tambah lagi makannya," ujar Arlan. Gilang hanya mengangguk kecil. Arkan melengos. Arlan sama sekali tak memerhatikan dirinya yang sedari tadi bahkan belum menyentuh makanannya. Apa Arlan tidak mengerti bahwa ia juga ingin diperhatikan? "Aa, kenapa makanannya nggak dimakan? Nggak suka? Mau Nenek buatin yang lain?" tanya Salma. Arkan langsung menjadi pusat perhatian, semua yang ada di meja makan menoleh padanya, tidak terkecuali Arlan. "Aa kenapa nggak makan? Aa sakit, ya?" Arlan turut bertanya.

